
Ruangan yang semula berantakan dengan cepat di minta Abrisam pada bagian kebersihan untuk menata kembali semua barang-barang yang di hamburkan istrinya.
Di depannya tengah duduk seorang wanita dengan rambut acak-acakan dan--, entahlah sangat sulit mendeskripsikan kronologi perang yang terjadi.
Mereka duduk berhadapan dengan meja panjang yang menjadi pembatas.
Sejak masuk Hanif tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Haha, aduh Bos. Sumpah aku ngga kuat lagi, itu ya ampun. Bagaimana bisa wajah Nona Chayra jadi seperti itu?" Tawa Hanif pecah melihat keadaan Chayra yang jauh dari kata baik-baik saja.
Rambut pendek sebelah, alis hilang sebelah, bulu mata palsu yang rontok, Eyeliner yang belepotan sampai ke bawah mata, bibir yang hanya ada lipstik separuh, dan yang paling membuat Hanif tidak berhenti tertawa adalah bagian gigi depan Chayra hilang.
"Nona Chayra, apa gigi palsumu telah jatuh?" Tanya Hanif masih tertawa terbahak bahak
Seorang wanita yang masih berusia 24 tahun nyatanya tidak menjamin giginya tidak akan ompong, jika bagian dalam yang jatuh tidak apa-apa, tapi ini bagian depan yang biasa orang bilang gigi kelinci, dan anehnya wanita itu tidak sadar sama sekali. Apa jadinya jika dua gigi bagian atas dan paling depan tidak ada.
Mungkin Hanif tidak akan tertawa jika wanita itu menutup mulutnya, tapi ini sejak Abrisam datang Chayra tidak henti-hentinya tersenyum manis sambil memperlihatkan deretan giginya yang tanpa wanita itu sadari sejak tadi Abrisam berusaha menahan diri agar tidak ikut tertawa.
"Ehemmm--,"
"Chayra apa kamu tidak ingin ke toliet dulu?" Tanya Abrisam berusaha meredam tawanya
Wanita itu malah menggeleng cepat, masih keukeh duduk manis di hadapan pria tampan milik Shafia.
"Hehe, aku tahu kalau aku cantik Risam. Tidak perlu kamu menatapku seperti itu." Jawab Chayra yang malah menyengir sampai gigi ompong bagian depannya terlihat sempurna.
Dengan PD-nya wanita itu mengedipkan matanya mencoba untuk terlihat manis.
"Mampus."
Teriak Hanif sudah berlari keluar ruangan meninggalkan tiga orang yang masih saling duduk berhadapan.
Sepeninggalan Hanif, suasana di dalam ruangan masih sama.
Chayra belum menyadari keadaan dirinya yang membuat orang akan menertawainya jika berani keluar ruangan dengan modelan seperti itu.
"Kamu apakan wanita itu, sayang?" Bisik Abrisam tepat di telinga istrinya
Shafia bukan menjawab pertanyaan suaminya, gadis itu memilih merangkak naik ke atas pangkuan Abrisam lalu duduk membelakangi Chayra yang sudah menatap tajam kearahnya.
__ADS_1
"Aku lelah," rengek Shafia dengan sangat manja.
Kedua tangannya memeluk posesif leher Abrisam sambil membenamkan wajahnya di balik ceruk leher pria itu.
"Jangan nakal sayang, pertanyaan aku belum di jawab loh." Rayu Abrisam membelai lembut rambut panjang istrinya
Gadis itu mencium lembut bagian leher Abrisam yang putih bersih, Shafia sengaja memainkan hidungnya di sana.
Melihat tatapan murka Chayra, sudah pasti jika istrinya sengaja melakukan semua itu.
Puas bermain-main di area leher suaminya, Shafia membalikkan badan menghadap kearah wanita yang sudah terbakar api cemburu.
"Ohh, jadi yang Hanif katakan ada tamu yang datang ke kantor suamiku itu ternyata kamu." Ejek Shafia menatap malas Chayra
"Kamu jangan senang dulu Shafia, takan aku maafkan apa yang terjadi saat ini." Gumam Chayra berbicara menggunakan isyarat bibir agar Abrisam tidak dapat mendengarnya
Dia akan membuat perhitungan dengan Shafia suatu saat nanti, apa yang terjadi sekarang akan di ingatnya sampai kapan pun.
"Tante lagi ngomong apa ya? Kok Shafia ngga dengar." Aju gadis itu sengaja memancing emosi Chayra
"Sstt, jangan nakal sayang." Bisik Abrisam pelan seraya mencium punggung putih mulus istrinya
"Chayra sebaiknya kamu pergilah ke kamar mandi, kamu takan mungkin keluar dengan keadaan seperti itu kan?"
Pria tampan yang masih memiliki hati nurani itu akhirnya mulai bicara serius, rasa kasihan saat melihat kondisi adik dari mantan kekasihnya itu seakan tidak tega bila Chayra keluar tanpa merapikan penampilannya.
"Aku baik-baik saja Risam." Keukeh Chayra tidak ingin dengar ucapan pria itu
"Lebih baik kamu periksa dulu!" Tegas Abrisam mulai malas jika ucapannya tidak di dengar
"Tapi--,"
"Pergi sana ke kamar mandi!" Bentak Abrisam tidak tahan lagi membuat Shafia yang semula diam sambil memainkan jemarinya ikut tersentak kaget
"By?" Rengeknya manja
"Maaf sayang, aku hanya kesal saja." Sahut Abrisam meminta maaf
Sementara Chayra sudah lebih dulu pergi ke kamar mandi yang berada di ruangan sekertaris, wanita itu tentu mendengarkan apa yang di katakan Abrisam.
__ADS_1
Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, dan--,
"Aarrggh, Shafia. Apa yang kamu lakukan dengan wajahku?"
Teriakan keras Chayra langsung menggema ke seluruh ruangan termasuk ruang kantor Abrisam yang sengaja tidak di tutup.
Di dalam kamar Shafia tidak lagi membendung untuk tidak tertawa. Rasa puas di hatinya karena sudah berhasil mengerjai wanita itu sangat jelas terlihat.
"Itu cuma setengah ajah yang aku ilangin."
"Besok-besok mungkin sampai rambut bagian bawah aku pangkas habis."
Shafia masa bodoh ketika melihat suaminya berlari keluar kamar menuju ruangan sekertaris, takut jika wanita itu akan menjambak habis Sekertaris nya yang tidak tahu apa-apa.
"Eeehh, kamu kalau mau teriak jangan di sini."
"Pergi sana di hutan, biar sekalian jumpa fans sama hewan-hewan yang ada di sana."
Shela di buat kaget dengan kehadiran seorang wanita di dalam ruangan miliknya, entah apa yang akan terjadi andai wanita itu tidak datang dengan cepat.
Abrisam yang kebetulan baru tiba di ruangan milik Sekertaris nya, sampai harus menahan kesal melihat hampir saja Chayra menyerang Shela dengan vas bunga.
"Apa-apaan kamu, Chayra." Teriaknya menepis kasar tangan wanita itu
Ia tidak menyangka bila Chayra akan nekat berlaku kasar pada orang lain yang tidak ada sangkutannya.
"Dia duluan yang meneriaki ku," bela Chayra tidak ingin di salahkan.
"Aku berteriak padamu juga ada alasannya maimunah. Lihatlah apa yang sudah kamu lakukan pada ruangan ku! Apakah ini yang kamu bilang tidak melakukan apa-apa?" Geram Shela menatap tajam kearah Chayra
Semua barang kesayangannya hancur tidak tersisa. Ingin rasanya Shela menangis sejadi-jadinya. Tetapi, malu sama umur yang tidak muda lagi.
Perginya Chayra setelah merapikan diri, membuat Shela bernapas lega.
"Yah lembur lagi deh," gumamnya lesuh menatap seluruh ruangan yang hancur berantakan.
"Jangan sentuh apapun! Biarkan bagian bersih-bersih yang akan merapikannya kembali." Cegah Hanif menarik keluar Shela dari dalam ruangannya
Hanif di beri tugas untuk mengantar pulang Sekertaris kesayangan Abrisam dan Shafia, entah kemana perginya pasangan suami istri tersebut. Yang jelas hanya Hanif sebagai orang kepercayaan yang lebih tahu.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃