Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 38 ~ Asisten Hanif


__ADS_3

Drrtt ... drrtt


Getar ponsel terus berbunyi di atas nakas samping tempat tidur, Abrisam yang lebih dulu bangun langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dua menit kemudian benda pipih tersebut kembali bergetar membuat Shafia ikut terbangun, tangannya meraba-raba mencari letak ponsel yang tersimpan.


"Hallo."


[Hallo Nyonya, apa Bos sudah bangun?]


"Hmm, Abrisam masih di kamar mandi. Ada perlu apa Asisten Hanif?"


[Baiklah Nyonya, tidak ada. Saya hanya ingin memastikan jika Bos berada di rumah atau tidak]


"Ia tidak pergi kemanapun sejak kembali dari Restaurant kemarin."


[Benarkah? Kalau begitu saya tutup telefonnya Nyonya]


Shafia mengumpulkan semua kesadarannya setelah habis menerima telefon dari Hanif, dia ikut bangun bersandar di kepala ranjang.


Otaknya memutar waktu dari kembalinya mereka dari Restaurant milik sahabatnya sampai pulang ke rumah, seingat Shafia jika suaminya tidak sekalipun keluar rumah setelah makan malam usai.


*C*eklek.


Pintu kamar mandi yang sudah terbuka tidak mengalihkan Shafia yang sedang melamun, langkah panjang Abrisam mulai mendekat ke arah ranjang dengan keadaan hanya memakai handuk sebatas pinggang.


Sedangkan rambutnya terlihat masih basah, ada tetesan-tetesan kecil yang di biarkannya jatuh dan membasahi lantai.


"Apa yang membuat Asisten Hanif menanyakan perihal keberadaan Abrisam?" Gumam Shafia pelan namun masih bisa di dengar oleh suaminya


"Apa mungkin semalam ia pergi keluar, tapi untuk apa? Ish, ngapain juga aku mikirin sesuatu yang ngga penting."


"Tapi kok aku malah penasaran sih, pria itu ngga keluar tanpa sepengatahuan aku kan?"


Shafia seolah-olah bagai seorang istri yang diam-diam di selingkuhi oleh suaminya tanpa di ketahui, pikirannya melayang entah kemana membayangkan bagaimana jika suaminya benar-benar bermain api.


CUP


Satu kecupan mendarat di pipi kiri Shafia yang ikut tersentak kaget melihat suaminya sudah berada di dekatnya dengan keadaan yang membuat otak Shafia ternoda.


"Kamu."


CUP


Satu kecupan lagi mendarat di pipi kirinya.


"Ihh, Abr-- hmppt."


Sebuah ciuman mendadak ikut mendarat di bibir ranum Shafia yang tidak sempat protes.

__ADS_1


LuMaAtan yang begitu lembut di berikan suaminya yang entah mengapa kali ini rasanya sungguh berbeda dari biasanya.


Ciuaman yang awalnya biasa berubah menjadi ciuman panas membuat Abrisam tidak mampu mengendalikan dirinya, perlahan tangannya menyusuri leher jenjang istrinya kemudian turun ke bagian belakang memeluk erat pinggang Shafia tanpa melepaskan ciuman mereka.


Puas menikmati manisnya madu dari benda kenyal milik istrinya, kini ciumannya mulai turun ke area leher dan dada sampai meninggalkan beberapa jejak kemerahan yang entah sejak kapan ia mulai berani melakukannya.


Abrisam hanya mengikuti nalurinya saja, cukup lama ia bermain di area leher dan bagian dada atas Shafia tanpa menyentuh kedua bukit kembar milik istrinya, ia kembali mEluUmat lembut bibir ranum yang menjadi candu baginya.


Shafia yang mulai merasakan sudah hampir kehabisan nafas akibat kenakalan suaminya, berusaha melepaskan diri dengan memukul sedikit kuat lengan Abrisam.


Nafasnya tersengal saat pria itu sudah melepas ciuman mereka yang seakan ia tidak terima dengan perbuatan gadis itu.


"Jahat bangat sih Sha, kualat kamu sama suami." Ketus Abrisam meringis kesakitan akibat mendapat pukulan bahkan gigitan kuat di bibirnya yang mungkin saja sudah berdarah


"Kamu yang gila, mau bikin aku cepat mati kerana kehabisan napas, iya." Sahut Shafia tidak kala merasa kesal


"Tapi jangan di gigit juga kan, sakit Sayang." Protesnya yang mulai bersikap manja tidak peduli jika sejak tadi ia belum memakai pakaian sama sekali, bahkan handuk yang di lilitkan hanya sebatas pinggang hampir saja melorot jika tidak di tahan olehnya.


Shafia merasa pusing menghadapi bayi besar yang begitu manja dan mulai akan protes jika dirinya berlaku kasar atau sejenisnya.


"Udah ngga usah manja, lagian tuh mulut kalau mau nyium kira-kira dong. Emang kamu pikir enak apa ngga bisa napas." Cetus Shafia tidak terima jika setiap kali suaminya melakukan ciuman selalu saja dia lah yang akan di salahkan


"Perasaan kita bukan pertama kali deh ngelakuin ini, kok masih ngga bisa juga atur napas. Masa iya aku harus ajarin terus." Heran Abrisam yang tidak habis pikir kenapa istrinya masih juga sangat polos dalam hal begituan


"Tau aah, minggir aku mau mandi."


Shafia berjalan masuk ke dalam kamar mandi membiarkan suaminya yang melongo tidak percaya.


Sementara di dalam kamar mandi Shafia tidak henti-hentinya mengumpat kesal melihat hasil maha karya suaminya di balik kaca besar yang menempel.


"Ya ampun ini gimana nutupinnya coba, banyak banget merah merahnya."


"Entar kalau ada yang curiga gimana, Iishh. Dasar suami ngga ada akhlak."


Gadis itu masuk ke dalam bathup dengan perasaan dongkol dan kesal akibat ulah Abrisam yang lupa bagaimana caranya menahan diri. Meski tidak sampai berbuat lebih jauh, tetapi sama saja bukan.


Hatcchiiuu


Di ruang ganti Abrisam tiba-tiba saja bersin.


"Wah, pasti ini kerjaan istriku yang suka mengumpat di belakang. Ngga takut apa kena kualat ngatain suami sendiri." Gumamnya berbicara sendiri


Entah sejak kapan ikatan keduanya begitu kuat seakan segala sesuatu yang terjadi akan dengan mudah di ketahui.


Hal-hal kecil yang hanya di pahami oleh keduanya kadang kala tidak bisa di mengerti oleh orang lain.


Baik Abrisam maupun Shafia akan bisa merasakan jika salah satu di antara mereka ada yang terjadi sesuatu. Ikatan bathin yang mulai terhubung satu sama lain meski pernikahan yang di jalani masih sangat baru, mungkin karena Shafia memiliki kepekaan yang kuat sehingga timbulnya ikatan dengan Abrisam yang sangat perasa mampu menjadikan mereka berdua sebagai satu.


Seperti biasanya usai sarapan dan lain sebagainya, Shafia ikut bersama suaminya ke perusahaan.

__ADS_1


Selama perjalanan menuju kantor selalu saja ada yang membuat gadis itu tertawa menahan geli dan lucu, beberapa kali suaminya menjadi sasaran kegemasannya yang entah sedang melakukan apa.


"Ya ampun perut aku sakit banget." Adu Shafia tanpa henti terus tertawa sesuatu yang lucu sedang di lihatnya


"Sayang dosa loh kalau ngetawain orang." Ucap Abrisam menegur istrinya


"Duh sumpah aku ngga kuat lagi nahan ketawa, kok bisa sih sayang."


Shafia belum bisa meredakan tawanya sampai harus di cium tiba-tiba oleh suaminya, kalau tidak begitu akan tertawa seharian tanpa dosa.


"Udah ya jangan tertawa lagi, nanti kamu sakit perut sayang." Rayu Abrisam membelai lembut surai panjang istrinya yang di biarkan tergerai sampai sebatas pinggang


Lima menit kemudian tawa Shafia mulai reda meski sesekali akan pecah jika tidak di bekap oleh suaminya dengan ciuman tanpa henti.


Gadis itu benar-benar ternodai otak dan akal sehatnya, belum juga dia menanyakan perihal mengenai pertanyaan Hanif tadi pagi, kini malah Shafia menerima sebuah insformasi yang cukup membuat perutnya seperti di kocok akibat terus tertawa.


"Astaga suamiku sayang, segitu terobsesinya kah dia sampai orang lain pun di kira kamu."


"Benar-benar asisten yang setia sampai mati, saking sayangnya sampai lupa mengenali wajah Bosnya sendiri."


"Ini tuh kalau sampai tersebar keluar bisa-bisa yang ada Asisten Hanif bakal ngamuk ngga sih."


Shafia terus berbicara yang dengan setianya di dengar oleh suaminya.


Abrisam hanya tersenyum bahagia melihat betapa senangnya sang istri akhirnya bisa tertawa lepas seakan tidak ada beban di hatinya. Hanya dengan hal kecil saja istrinya bisa bahagia.


"Udah ketawanya?" Tanya Abrisam menggoda istrinya yang tidak lagi tertawa


"Udah dong, rasanya beban di otak dan hatiku lepas semuanya." Kekeh Shafia begitu nyamannya bisa terlepas dari beban masalah yang mereka hadapi


"Ngga mikirin yang aneh-aneh lagi kan, soal suami kamu sendiri?" Ejek Abrisam membuat mata Shafia melotot sempurna.


"Apaan sih Bri, mana ada aku mikirin kayak gitu. Kalau pun ada ya wajar dong istri mewanti wanti suaminya yang mungkin saja di senggol pelakor di luar sana. Iya kan, Paman?" Sahut Shafia tanpa dosa bahkan sopir yang mengantar mereka pun hanya bisa pasrah di jadikan tameng oleh Nyonya Muda menantu dari Qiemyl dan Mannaf tersebut.


Mobil sudah masuk ke loby parkiran perusahaan, seperti biasanya Abrisam akan membukakan pintu untuk istrinya.


"Terima kasih suamiku, sayang."


Shafia menerima uluran tangan suaminya keluar dari dalam mobil.


Beberapa staf kebersihan yang lewat tidak bisa menyembunyikan senyum mereka karena melihat kedekatan pasangan suami istri tersebut.


Keduanya sudah masuk ke dalam lift yang langsung membawa mereka menuju ruangan sang Presdir Mannaf di lantai paling atas.


*T*ring


Ketika pintu lift sudah terbuka, Abrisam dan Shafia yang keluar dengan melangkah pelan menuju ruang kantor, bertepatan dengan keluarnya Asisten Hanif dari dalam ruang Sekertaris membuat Shafia yang baru akan di sembunyikan wajahnya oleh Abrisam, justru sudah melihat ke arah pria tampan berkaca mata dengan lesung pipi di sebelah kirinya dengan mulut menganga yang siap untuk kembali tertawa.


"Sayang, jangan lagi."

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2