Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 23 ~ Surat Perjanjian


__ADS_3

Hampir setengah jam, pasangan suami istri itu diam tanpa sepata kata apapun.


Kedatangan Abrisam yang mendadak tentu membuat mereka sangat terkejut.


Kini keduanya tahu mengapa semalam Shafia tidak pulang ke rumah, alasannya sudah pasti karena pria yang sedang duduk diam di depan mereka sekarang.


"Rupanya kamu berani juga datang kesini." Sindir Aina menatap tajam Abrisam.


"Kamu pikir dengan kamu datang kesini sudah bisa membuat aku memafkan mu." Lanjutnya begitu ketus


Abrisam hanya diam mendengarkan, ia tahu jika mungkin mertuanya itu sangat marah padanya.


"Di mana Shafia?" Tanya Arqa mulai angkat bicara


Pria itu tidak marah, selama ini ia diam bukan karna tidak tahu apapun.


Dua hari yang lalu, Arqa menerima informasi dari bawahannya dan mengatakan jika ternyata menantunya itu tidak masuk kantor semenjak istrinya membawa paksa putri mereka satu-satunya.


Arqa tahu kemungkinan Abrisam frustasi ketika tahu gadis yang baru di nikahinya mendadak hilang tanpa berita.


"Shafia ada di kamar Pa-paman." Jawab Abrisam gugup


Arqa mengerutkan dahinya mendengar jawaban menantunya itu.


"Kamu sebut aku apa tadi? Paman?" Tanya Arqa lagi yang merasa aneh di panggil dengan sebutan lain.


"Haa, lalu aku harus panggil apa?" Tanya Abrisam polos


Hal itu tentu membuat Arqa dan Aina langsung tertawa.


Betapa lucunya ekspresi bingung Abrisam, rupanya menantu mereka itu benar-benar sangat lugu.


Yah. Sekesal apapun Aina pada Abrisam, jika wanita itu sudah melihat wajah menantunya yang begitu menggemaskan bagaimana Aina bisa marah.


"Aku bukan Paman mu, seharusnya kamu memanggil ku dengan sebutan Ayah." Jawab Arqa membenarkan panggilan Abrisam padanya


Abrisam masih sangat kaku, hal yang baru pertama kali baginya berhadapan langsung dengan orang tua gadis yang ia nikahi.


"Baik Pam--, ehh. Ayah" Sahut Abrisam sedikit malu


"Jangan terlalu kaku begitu, aku takan memakan mu."


Tanpa mereka sadari jika ada seorang wanita yang tengah merenggut kesal.


"Huh,,, apa di sini hanya ada suami ku. Bahkan kau tidak menyapa ku juga?" Cebik Aina pura-pura marah


Abrisam sontak menoleh ke arah wanita cantik itu.


Ia mengusap tengkuknya sedikit tidak enak.


"Maaf I-Ibu. Bukan maksud ku tidak menyapa mu, aku hanya masih belum terbiasa saja." Tutur Abrisam jujur


Sebenarnya Aina tidak benar-benar marah pada menantunya. Dia hanya ingin menguji sampai di mana ketulusan suami dari putrinya itu.


Perginya Shafia sudah bisa membuktikan betapa seriusnya menantunya tersebut pada anak gadisnya. Jangan kira hanya Arqa saja yang memata matai Abrisam, justru Aina jauh lebih dulu mengawasi gerak gerik menantunya itu.

__ADS_1


Sejauh ini Aina sudah yakin jika pilihannya mungkin sudah benar, mengikhlaskan putri semata wayangnya menikah dengan pria dari keluarga Qiemyl.


Aku harap kamu benar-benar tulus pada putri ku, nak. Bathin Aina berdo'a


Lumayan lama Aina dan Arqa berbincang dengan Abrisam, bahkan pesta yang akan mereka hadiri pun tidak lagi di hiraukan.


"Sayang, yakin kita ngga ikut hadir?" Tanya Aina memastikan


"Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah mengirim pesan pada Bram." Jawab Arqa santai


Niat hati akan keluar menghadiri acara penyambutan pun di urungkan hanya karna kedatangan sang menantu.


"Abrisam. Ayah dan Ibu tidak akan marah asal kamu mau menceritakan kejadian yang sebenarnya." Ucap Arqa meminta sebuah penjelasan


"Sebaiknya semua tidak seperti yang kami pikirkan." Sambung Aina tegas


Berkali-kali Abrisam menarik nafas guna mengatur detak jantungnya yang sejak tadi memompa sangat cepat, ia mulai bicara saat sudah kembali normal.


"Baiklah aku akan mengatakan semuanya tanpa ada yang di sembunyikan." Jawabnya mantap


Pria itu mulai menceritakan semuanya dari awal mula pertemuannya dengan Shafia, kesepakatan keluarganya dengan menjadikan Shafia sebagai istrinya, sampai pada masalah yang tengah pria itu hadapi ikut di katakannya.


Mungkin ada benarnya bagi Abrisam mengungkapkan siapa dirinya dan apa masalah yang menimpanya, sebab menyimpan beban sendiri belum tentu meringankan pikirannya.


.


.


Hampir tiga puluh menit pasangan suami istri itu mendengarkan cerita menantunya.


"Jadi maksud kamu ada kejanggalan mengenai insiden waktu itu?" Tanya Arqa memastikan


"Aku belum bisa memprediksinya, tapi satu hal yang pasti aku sangat membutuhkan Shafia tetap berada di samping ku." Sahut Abrisam sedikit memohon


"Bagaimana jika nanti ada hal yang tidak menguntungkan bagi putriku?" Tanya Aina serius


Pria itu diam sejenak, seolah memutar memori otaknya untuk berfikir.


"Akan aku pikirkan caranya untuk kedepan nanti, aku hanya berharap kalian bisa melindungi Shafia dengan baik. Mungkin kedepannya akan ada sedikit masalah, tapi sebisa mungkin aku berusaha mencegahnya."


Arqa dan Aina saling pandang, mereka juga bingung harus apa.


Jika memang akan ada masalah semoga tidak mempengaruhi hubungan rumah tangga Shafia.


"Baik, kami setuju. Tapi kami juga akan membuat perjanjian dengan kamu!" Ujar Arqa tersenyum penuh arti


"Perjanjian apa?"


Sunghuh Abrisam penasaran apa yang akan Arqa lakukan.


Di lihatnya sang mertua berdiri dan berjalan ke sebuah nakas samping ruang tamu.


Arqa mengambil sesuatu dari sana. Pria itu kembali duduk setelah menemukan yang di cari.


"Ini adalah surat perjanjian." Ucapnya seraya memberikan sebuah map pada Abrisam

__ADS_1


Dalam map tersebut, terdapat beberapa lembar kertas berisi perjanjian setelah ia menikah dengan Shafia.


Ada lebih dari sepuluh syarat tercantum di kertas tersebut.


##


Surat Perjanjian :



Bertanggung jawab mengambil alih tugas menjaga Shafia


Tidak di perbolehkan marah atau berlaku kasar


Siap jadi Imam dan Pemimpin Keluarga yang baik


Tidak menyimpan rahasia apapun dari pihak keluarga


Mampu bersikap tegas dan dewasa


Jadikan Istri sebagai prioritas utama


Setiap seminggu sekali wajib menginap di Rumah mertua


Apabila ada masalah suami di larang keras membawa masalah keluar rumah.


Di larang membawa wanita lain ke dalam rumah


Menjaga jarak dengan orang-orang yang tidak penting.


Selalu siap apabila di perlukan.


--



##


Abrisam terus saja membaca satu persatu syarat yang tertulis.


"Di larang poligami dan terakhir secepatnya bisa memberikan cucu." Ucapnya dengan kedua mata membulat sempurna


Tenggorakannya sedikit tercekat karena kaget.


"Ingat. kamu harus mengikuti semua yang tertera di kertas itu." Tegas Arqa tanpa basa basi


"Sayang. Sejak kapan kamu membuat surat perjanjian tersebut?" Tanya Aina penasaran


Yang di tanya malah tertawa. Arqa teringat akan kegilaannya membuat syarat yang harus di patuhi oleh menantunya tersebut.


Sebagai seorang ayah. Tugasnya melindungi Shafia dari pria yang tidak baik memang tidak ada salahnya.


Jadi, memberikan surat perjanjian pada Abrisam, menurutnya bukan sesuatu yang berlebihan.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2