Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 62 ~ Makin Sayang


__ADS_3

Mendengar kabar mengenai kehamilan Shafia tentu semua anggota keluarga sangat bahagia, terutama Ririn sebagai satu-satunya wanita yang selalu mendesak Abrisam.


Keinginannya untuk segera memiliki cucu kadang membuat Abrisam sebagai satu-satunya anak yang sangat Ririn banggakan, menjadi kesal dan mudah terpancing emosi.


Abrisam tidak suka di desak hanya masalah anak, baginya kebahagiaan sang istri lebih utama apalagi usia Shafia masih terbilang muda.


Namun siapa sangka justru anugerah dari sang pencipta telah datang lebih cepat, ada nyawa yang kini hidup dalam rahim Shafia.


"Mobil sudah siap, sebaiknya kita berangkat ke rumah sakit sekarang!" Ucap Adnan saat masuk ke dalam rumah


Ada dua buah mobil yang di pakai untuk membawa Shafia ke rumah sakit, hanya untuk melakukan pemeriksaan lebih detail lagi, tapi semuanya bersikeras ingin ikut bersama.


Di satu mobil ada Shafia, Abrisam dan Nyonya Iriana, sementara di mobil lainnya Arqa dan Aina ikut semobil dengan Ririn dan Adnan.


Tidak sampai dua puluh menit, mereka sudah tiba di rumah sakit milik putri Ririn dan Adnan yang beberapa tahun lalu telah tiada. Meski sang pemilik tidak lagi bisa mengelola rumah sakit tersebut, Adnan sudah menyerahkan semuanya pada orang kepercayaan mereka.


Di ruang pemeriksaan sudah ada satu dokter khusus menangani Shafia, dokter yang bernama Alfiah itu sedikit menyingkap kaos lengan panjang yang di kenakan Shafia ke atas. Dia mulai melakukan pemeriksaan menggunakan alat yang tergantung di lehernya.


"Masih sangat kecil ya, sebaiknya tetap menjaga kesehatan dan jangan mudah lelah atau stres, OK!" Jelas Dokter Alfiah


"Usia kehamilan sudah jalan tiga minggu, apa ada keluhan yang Nona muda rasakan?" Lanjutnya bertanya


Dokter wanita tersebut kembali merapikan pakaian bagian atas Shafia setelah pemeriksaan selesai.


"Aku tidak merasakan apa-apa dokter, tapi." Jawab Shafia terputus dan melihat kearah Abrisam yang duduk diam


Sang Dokter paham dengan kode yang di berikan Shafia, ada rasa lucu bercampur gemas kala melihat raut wajah Abrisam yang menahan malu.


"Kenapa melihat ku seperti itu?" Kesal Abrisam tidak tahan


"Ckck. Kamu ini sudah dewasa bahkan sebentar lagi akan punya anak, tapi kelakukan mu masih sama seperti dulu." Kekeh Dokter Alfiah


"Stop Kakak, jangan membuat ku malu di depan istriku." Selak Abrisam menatap tajam kearah wanita tersebut

__ADS_1


"Ayyaa, apa Kakak tidak boleh menggoda mu lagi adik sepupu ku sayang?" Dokter Alfiah sangat senang melihat wajah sang adik sepupu yang memerah menahan malu


Sungguh suatu kabar yang sangat mengejutkan bagi wanita itu, lama tidak berjumpa di sebabkan padatnya kesibukan yang dia miliki sebagai seorang dokter, beberapa kali sering bolak balik di beberapa rumah sakit baik di luar negri maupun dalam negri, membuat Dokter Alfiah ketinggalan berita mengenai pernikahan Abrisam.


"Okok, aku tidak akan menggoda mu lagi." Wanita itu kembali serius


Shafia yang di bantu Abrisam duduk tidak luput dari mata indah Dokter Alfiah, melihat adik yang dulu sangat membenci wanita, saat ini di hadapannya pria tampan itu justru sangat lucu dan menggemaskan.


"Kakak kapan pulang dari Australia?" Tanya Abrisam basa basi


Bohong jika pria itu tidak rindu dengan sosok Kakak yang sangat menyayanginya sedari kecil, jarang bertemu bukan berarti hubungan persaudaraan di antara mereka ikut renggang.


"Minggu lalu, Ayah mu yang meminta ku cepat pulang." Jawab Dokter Alfiah singkat


Shafia yang nampak bingung mencoba bertanya pada suaminya lewat sorot mata.


"Ya ampun, maaf sayang. Jadi lupa kasih tahu kamu siapa wanita menyebalkan ini," ucap Abrisam tertawa.


"Perkenalkan, ini tuh namanya Kak Alfiah. Satu-satunya putri tunggal dari Paman Endra dan Bibi Airin, juga merupakan kepercayaan Papa sebagai pemimpin rumah sakit." Jelas Abrisam memberi tahu siapa Dokter Alfiah


Abrisam tersenyum menyeringai ketika istrinya tanpa sadar membuka aib sang Kakak sepupu, ia bagai mendapat angin segar akhirnya ada yang membalas wanita cantik tersebut.


"Jangan dengarkan apa yang Nenek katakan! Mereka hanya tahu menguak keburukan ku, padahal aku ini anak yang baik dan penurut." Selak Dokter Alfiah tidak terima namanya sudah buruk di mata sang adik ipar


"Haa, apa Nenek berbohong, By? Bukannya Nenek sendiri paling anti yang namanya tidak berkata jujur." Heran Shafia mencari kebenaran lewat suaminya


"Maafkan aku, Kak. Tadi aku hanya mengatakan apa yang waktu itu Nenek ceritakan, aku mana tahu kalau semuanya bohong atau benar." Lanjutnya malah meminta maaf


Dokter Alfiah tersenyum hangat campur gemas melihat betapa polosnya istri dari sang adik, sudah lama dia tidak lagi merasakan sebahagia dan setenang ini.


"Aku hanya bercanda, semua yang sering Nenek ceritakan tentang ku benar adanya. Tidak ada yang mampu menandingi kenakalan ku dulu, Abrisam pun tidak senakal diriku."


"Oh Iya sampai lupa, di usia kehamilan mu yang terbilang sangat muda ini, kurangi aktifitas berlebih, dan untuk Abrisam selamat berjuang. Kamu akan merasakan morning sickness kurang lebih selama tiga bulan, jangan sampai menangis dan mengamuk malu sama istri." Lanjutnya menjelaskan

__ADS_1


Obrolan ringan di antara mereka harus berakhir dengan cepat, padatnya jadwal Dokkter Alfiah sampai tidak memiliki waktu sekedar istirahat sejenak.


Perginya wanita itu ke ruang bersalin, tidak berselang lama Abrisam dan Shafia keluar dari dalam ruangan menghampiri semua orang di ruang tunggu.


Berbagai pertanyaan di lontarkan ketiga wanita beda usia pada Shafia dan Abrisam, mendengar penjelasan Abrisam soal usia kandungan Shafia.


Sang Nyonya besar memutuskan untuk tetap tinggal di New York, menemani cucu dan cucu menantu. Keputusannya sudah bulat, itu artinya yang kembali pulang ke negara asal hanya Ririn, Adnan, Arqa dan Aina.


Dengan syarat, setiap dua bulan sekali mereka akan datang berkunjung melihat perkembangan kehamilan Shafia. Ada perasaan tidak rela bersemayam dalam hati Arqa dan Aina, memiliki putri semata wayang tentu membuat mereka khawatir dan ingin berada di dekat Shafia.


Akan tetapi, ada perusahaan dan usaha kecil-kecilan yang harus di perhatikan, mau tidak mau pasangan suami istri tersebut harus pulang.


.


.


Sepulang dari rumah sakit, usai makan malam dan mengobrol sedikit di ruang tengah, jam 10 malam semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing termasuk Shafia dan Abrisam.


Keduanya sudah berbaring di atas ranjang dengan posisi saling memeluk, rasa bahagia dan tidak percaya masih Abrisam rasakan.


"Makasih ya sayang, tetap bertahan sampai detik ini." Ucap Abrisam sangat bersyukur memiliki istri yang begitu sabar dan setia


"Justru aku yang harusnya bilang terima kasih, By. Di saat masalah semakin hari kian menumpuk, By tetap menjadikan ku rumah untuk pulang. Aku tahu di luar sana wanita itu masih terus berusaha mendekati mu, tetapi aku yakin semarah dan selelah apapun Hubby, tidak pernah meladeninya di luar sana." Ralat Shafia yang masih tetap percaya dengan suaminya


"Jadi makin sayang dan cinta aku nya kalau begini, punya istri cantik dan sedewasa ini 'kan sayang kalau tidak di tengokin." Kekeh Abrisam mulai sembarangan menyentuh bagian tubuh istrinya


"Hubby mau ngapain?" Tanya Shafia bingung bercampur panik


"Sstt, diam ajah. Cukup nikmati dan jangan banyak protes, paham!"


Malam yang awalnya begitu dingin berubah menjadi panas, kelakuan Abrisam yang mulai mencari kenikmatan pada istrinya bukan lagi hal yang baru.


Ada saja alasan Abrisam di berikan pada istrinya bila ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan, kalimat dosa kalau nolak permintaan suami selalu menjadi senjata ampuh pria tersebut.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2