
Shafia akhirnya sudah di perbolehkan pulang setelah mengahabiskan sisa infus.
Betapa bahagianya wanita itu melihat si kembar begitu lahap menyusu secara bergantian hingga terlelap.
Di dalam mobil yang Abrisam bawa dalam kecepataan sedang, terdapat Nyonya Iriana beserta sang menantu yang ikut membantu Shafia menggendong si kembar usai di beri ASI.
Kedua wanita beda usia tersebut, mengucap syukur akhirnya bisa kembali melihat senyum Shafia juga candaannya yang begitu senang menggoda Abrisam.
"Hubby ngga cukuran ya, udah kayak Om Om." Kekeh wanita itu meledek suaminya yang merenggut kesal
"Ngga mandi juga ternyata," selidiknya melihat baju yang Abrisam kenakan masih sama seperti awal masuk ke dalam ruangan bersalin.
Bayangkan saja sudah berapa hari pria itu tidak mandi apalagi mengganti pakaiannya.
"Iiuww, jorok ya cucu kesayangan Mami." Kekeh Ririn seraya bergidik ngeri membayangkan putranya tidak mandi sudah tiga hari
Abrisam yang merasa tersindir jelas tidak terima.
"Enak ajah ngga mandi, aku ada mandi kok." Bantahnya melirik tajam sang mama
"Baju kayak gini ada banyak, ngga hanya satu."
"Benarkah?" tanya Shafia tidak percaya.
__ADS_1
"Iya sayang, kalau ngga percaya tanya ajah sama Hanif!"
Abrisam tentu sangat geram bila teringat kelakuan jahil sang Asisten beberapa hari yang lalu sebelum masuk ke dalam ruangan bersalin untuk menemani istrinya melahirkan.
Bagaimana ia tidak marah campur kesal, menyadari tingkat kebodohan Hanif datang ke rumah sakit sembari membawa pakaiannya yang nyaris sama semua mulai dari warna dan bentuknya tidak jauh berbeda.
Itu sebabnya, Shafia mengira Abrisam tidak pernah mandi selama berada di rumah sakit menemaninya.
"Kamu pikir pihak rumah sakit mau ijinin aku jagain kamu tanpa mandi lebih dulu," cebik Abrisam menatap malas kearah istrinya yang tertawa.
"Cuma semalam aku lupa ganti baju, sayang. Kalau mandi tanya ajah ke Papa, biar kamu percaya."
"Ngga perlu. Aku hanya bercanda, By." Kekeh Shafia mengusap pelan lengan kiri suaminya agar kembali tenang
Padatnya jalan raya karena macet, kadang menguji kesabaran Abrisam yang mudah bosan ingin segera tiba di rumah.
Adapun si kembar justru terlelap begitu nyenyaknya usai di susui, keduanya tampak tenang berada dalam gendongan Mama Ririn dan Nyonya Iriana.
.
.
Kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya mobil Abrisam tiba di rumah yang ia tempati bersama Shafia hampir dua tahun lamanya.
__ADS_1
Pria itu turun lebih dulu membukakan pintu bagian belakang dimana si kembar ada bersama Nyonya Iriana dan Mama Ririn masih dalam keadaan terlelap.
"Makasih Apih," seru Mama Ririn seraya tertawa geli memperagakan suara anak kecil.
Shafia hendak turun dari mobil, tetapi langsung di cegah suaminya dengan maksud biarkan pria itu yang membukakan pintu.
"Aku mau turun, By." Kekehnya merasa gemas
"Ngga boleh turun sendiri, biar aku yang buka pintunya." Sahut Abrisam tersenyum manis
Ia beralih kearah pintu samping kemudi guna membukakan pintu untuk istrinya.
"Silahkan Ibunda Ratu."
"Terima kasih suamiku."
Keduanya berjalan beriringan saling bergandengan tangan masuk ke dalam rumah menyusul Nyonya Iriana dan Mama Ririn.
Suasana heboh mulai terdengar kala pasangan suami istri tersebut memasuki ruang tengah, dimana semua anggota keluarga sudah berkumpul mengerumuni si kembar.
"Anak kita jadi rebutan ya, By." Kekeh Shafia merasa lucu kedua putranya jadi bahan rebutan
"Ngga apa-apa, asal bukan kamu yang jadi rebutan si kembar."
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃