
Hari-hari yang Abrisam lewati semakin membuatnya jauh lebih semangat dan bahagia setiap detiknya.
Kehadiran si kembar mampu merubah suasana rumah yang semula hanya di tinggali Nyonya Iriana, Shafia, Abrisam dan Bibi. Kini tampak semakin ramai semenjak kedua bayi tampan nan menggemaskan itu ada.
Semua anggota keluarga besar Qiemyl dan Mannaf secara bergantian datang mengunjungi rumah pasangan suami istri tersebut dengan membawa banyak hadiah buat si kembar.
Baik Abrisam maupun Shafia hanya melihat apa yang mereka lakukan terhadap kedua putra mereka, terlebih menantu kesayangan Mama Ririn tersebut masih perlu banyak istirahat sesuai anjuran dari Dokter yang sebelumnya menangani proses persalinan Shafia.
Pihak keluarga hanya akan memberikan si kembar pada wanita itu jika sudah waktunya minum ASI, selebihnya yang Shafia lakukan hanya jadi penonton sewaktu kedua putranya menjadi bahan rebutan.
Si kembar yang baru satu minggu lahir ke dunia tersebut, memiliki nama yang sangat mudah di ingat oleh semua anggota keluarga.
Si sulung bernama Zahran Qiemyl Mannaf dan si bungsu bernama Zayyan Qiemyl Mannaf.
Nama yang sengaja Abrisam siapkan jika bayi yang lahir adalah laki-laki, sementara untuk nama bayi perempuan juga sudah ia siapkan. Hanya saja belum waktunya Shafia melahirkan bayi perempuan sesuai harapan pria itu dulu, sebelum pikirannya berubah saat melihat tubuh lemah istrinya terbaring di atas brankar dalam keadaan koma.
Keinginan yang hanya akan jadi cerita tanpa berniat ingin meminta Shafia kembali hamil, sebab Abrisam tidak lagi mau berada di posisi yang sama.
"Ngga apa-apa kalau cuma anak laki-laki ajah?" goda wanita cantik itu pada suaminya yang fokus memperhatikan si kembar dari arah jauh.
__ADS_1
Abrisam menoleh kearah istrinya seraya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku masih trauma lihat kamu terbaring koma di rumah sakit, sayang." Jawabnya lirih dengan mata tampak berkaca-kaca
"Lagi pula adanya si kembar udah cukup kok."
Shafia langsung memeluk penuh sayang tubuh kekar pria kesayangannya itu sembari menenangkan.
"Kalau di kasih tetap terima ya, By?" rayunya masih berharap akan ada kesempatan untuk hamil lagi.
"Ngga mau, aku ngga suka lihat kamu tidur lama-lama." Tolak Abrisam tegas tidak mau di bantah
Abrisam langsung menjauhkan diri sepanjang satu meter dari istrinya yang tertawa lepas.
Bagaimana mungkin wanita itu masih berharap akan hamil lagi setelah apa yang pernah dia alami sebelumnya hampir membuat Abrisam kehilangan sisi kewarasannya saking merasa takut akan kehilangan dirinya.
Shafia tidak tahu bagaimana keadaan suaminya kala itu, melihatnya terbaring koma di rumah sakit selama beberapa hari. Nyatanya menyimpan rasa trauma yang mendalam, bahkan Abrisam sampai berjanji tidak mau lagi wanita itu hamil apapun alasannya.
"Si kembar udah cukup, sayang." Tegas pria itu masih tetap pada keputusannya
__ADS_1
"Kalau kamu tetap ngga nurut juga, aku hukum ngga boleh tidur sambil peluk atau apapun itu."
Shafia membulatkan kedua matanya dengan sempurna mendengar kalimat ancaman dari Abrisam, mana bisa dia tidur tanpa memeluk suaminya tersebut.
Sungguh hanya membayangkannya saja wanita itu tidak sanggup, apalagi jika semua itu menjadi kenyataan.
"Hubby ngancam aku gitu?" tanyanya yang mendapat anggukan kepala dari Abrisam.
"Jahat banget sih, masa aku ngga di bolehin peluk Hubby?"
"Itu hukumannya kalau Ummi masih keras kepala pengen hamil lagi." Sahut Abrisam santai
"Habby tega," ketus Shafia menatap malas kearah suaminya yang tersenyum.
"Bukan tega istriku sayang," gemas Abrisam langsung menarik tubuh langsing istrinya masuk ke dalam pelukan.
"Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, mengertilah. Hmm!"
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1