
Abrisam kembali lagi ke perusahaan karena jam 3 nanti akan ada pertemuan penting, Shafia yang paham tidak protes atau mengeluh. Baginya tidak ada yang lebih lelah dan rela menahan berbagai macam beban selain suaminya.
Ingin rasanya Shafia membantu suaminya di kantor, tetapi mengingat kondisinya yang tengah hamil muda dan belum bisa beraktifitas lebih, mau tidak mau Shafia hanya bisa melihat dan menyemangati suaminya.
Tring
Suara lift terbuka, dengan tidak sabaran Abrisam menggandeng tangan sang istri menuju ruangannya.
Shafia menggelengkan kepalanya melihat perilaku suaminya yang seperti anak kecil, binar bahagia terpancar jelas di mata indahnya begitu bersyukur di berikan suami yang penyayang dan tentunya setia.
Perihal kemana Chayra sekarang? Tanyakan saja pada Shafia, sebab yang lebih tahu dan nekat menentang wanita berhati iblis itu adalah dia.
Usai makan siang, Abrisam istirahat sejenak sambil menunggu waktu beputar. Dua jam lagi ia ada pertemuan yang sangat penting.
Dua jam kemudian, Abrisam bangun dari tidur bersiap menuju salah satu ruangan yang di jadikan sebagai tempat pertemuan di adakan.
"Tetap dalam kamar dan jangan keluar sembarangan, ok!" Pesan Abrisam sebelum keluar dari ruangannya
"Ngga akan lama, kan?" Tanya Shafia memelas
Dia sangat bosan bila di tinggalkan Abrisam terlalu lama.
"Tidak sayang, sebisa mungkin aku akan meminta Hanif mengatur pertemuannya agar tidak memakan waktu lama." Jawab Abrisam menenangkan
Shafia mengangguk paham kemudian mengantar suaminya sampai di depan pintu kamar, dia tidak di izinkan keluar kamar sebelum pria itu kembali.
Satu jam lebih telah berlalu, tapi Abrisam belum juga kembali dari pertemuan. Entah berapa lama lagi waktu yang di butuhkan mengingat Shafia mulai di runduh rasa bosan.
Drrtt drrtt drrtt
Ponsel di atas meja mengalihkan fokus Shafia dari layar komputer suaminya, entah siapa yang menelefon.
Dengan cepat Shafia meraih benda pipi tersebut untuk melihat siapa yang begitu berani mengganggu ketenangannya.
"Nomor tidak di kenal." Gumam Shafia penasaran
Meski ragu Shafia tetap mengangkat telefon dari nomor yang tidak di ketahuinya itu, dia tidak langsung buka suara lebih dulu takut bagaimana kalau itu dari orang yang jahat.
Satu detik sampai lima detik lamanya belum juga ada suara dari seseorang yang menghubungi Shafia.
Merasa bukanlah sesuatu yang penting membuat Shafia ingin memutuskan sambungan telefon, namun suara seseorang yang cukup familiar di indera pendengaran Shafia sedikit memancing rasa penasarannya.
[Hallo]
Terdengar suara berat seorang pria di balik telefon.
[Shafia, ini kamu kan? Apa kamu mendengar suaraku?]
[Aku tahu ini kamu, tolong bicaralah!]
__ADS_1
Hening.
Shafia memilih diam tanpa berniat membalas sapaan dari orang itu, tangannya mengepal kuat dengan napas yang memburu.
Ceklek
Bunyi suara pintu ruangan yang terbuka bertepatan dengan sambungan telefon yang di matikan Shafia secara sepihak.
Senyum manis Abrisam yang pertama kali di lihatnya, tidak tahu setegang apa dirinya saat ini, yang jelas Shafia butuh pelukan dari suaminya.
"Bosan ya aku tinggal lumayan lama?" Tanya Abrisam mulai mendekat kearah meja kerjanya dimana Shafia berada
"Maaf ya, hari ini aku udah dua kali ninggalin kamu lama."
Pria itu merasa bersalah.
Shafia tersenyum hangat tanpa ada niatan untuk marah atau pun protes, dia tahu pekerjaan suaminya bukanlah sesuatu yang mudah.
"Bosan sih ngga, By. Cuma--," Jawabnya terputus
Dia kembali mengingat suara tidak asing yang barusan menghubunginya lewat telefon, apa sebaiknya dia jujur saja pada suaminya? Pikir Shafia
Tau aaa, lebih baik aku kasih tahu Hubby. Bisa bahaya kalau sampai orang itu tiba-tiba saja muncul. Desis Shafia berbicara dalam hati
Melihat istrinya hanya diam saja, Abrisam mulai mendekatkan wajahnya ingin menciumnya.
CUP
"Iiih, Hubby nakal deh." Rengek Shafia menyembunyikan wajahnya di balik buku yang sempat di ambilnya
Tawa Abrisam menggema di dalam ruangan yang hanya ada ia dan sang istri, ada perasaan bahagia ketika lelahnya langsung hilang saat melihat wajah istrinya memerah karena malu.
"Sayangnya, Hubby." Panggil Abrisam dengan nada terkesan menggoda
"Emang Sayang?" Sahut Shafia tanpa berani melihat wajah suaminya
"Cintanya, Hubby." Panggil Abrisam lagi seraya berusaha menahan diri agar tidak tertawa
"Cinta? Apa itu sesuatu yang bisa di makan?" Sahut Shafia dengan hati yang tidak karuan
Seketika ide jahil muncul di otak Abrisam yang begitu ingin menggoda istri kecilnya.
"Istriku sayang."
"Bidadari cantik ku."
"Cahaya hidupku."
"Cintaku."
__ADS_1
Abrisam menahan geli dengan ucapannya sendiri, perlahan tangannya menyingkirkan sebuah buku yang masih setia menutupi wajah istrinya.
Ia sangat yakin sekarang kedua pipi istrinya sudah memerah bak tomat, tetapi itulah yang Abrisam inginkan.
Shafia menahan nafas ketika buku yang di genggamnya sudah berpindah ke tangan suaminya, tidak berani membuka mata sebab yang dia tahu sekarang ini wajah pria itu sudah berada tepat di depan wajahnya.
"Hubby cium ya kalau matanya ngga di buka." Gertak Abrisam sukses membuat mata indah istrinya terbuka
CUP
"Hubby." Kaget Shafia
CUP
"Ish, mulutnya bisa diam ngga!" Gemas Shafia rasanya ingin sekali menggigit pipi berisi suaminya
Bukannya menurut, Abrisam malah mencium seluruh wajah istrinya tanpa ampun.
"Sayangnya, Hubby."
"Cintanya, Hubby."
Mulut Abrisam tidak pernah bosan mengungkapkan perasaannya tanpa malu.
Tidak lama lagi usia pernikahan mereka menginjak dua tahun, masih belum percaya dengan garis takdir yang sang pencipta berikan.
Di saat ada begitu banyak masalah datang menghampiri, namun tidak membuat kepercayaan mereka goyah.
"Pulang yuk." Ajak Abrisam sembari merapikan kembali kancing baju bagian atas istrinya
"Mau mampir sebentar di taman kota atau langsung pulang ke rumah?" Lanjutnya sembari bertanya
"Kita langsung pulang ajah." Jawab Shafia singkat
Sebelum keluar ruangan, Abrisam lebih dulu merapikan kamar dan meja kerjanya.
"Ayo sayang." Ajak Abrisam kemudian keluar dari ruangan
Di depan lift yang terbuka, sudah ada Hanif sengaja menunggu mereka.
"Langsung pulang Bos?" Tanya Hanif saat mereka sudah berada dalam lift
"Hmm, kamu ikut saja ke rumah! Tadi Nenek telefon meminta mu untuk makan malam bersama." Jawab Abrisam tanpa menoleh
"Dengan senang hati, Bos. Kebetulan ada yang ingin saya sampaikan pada Bos, soal keberadaan orang-orang yang selama ini berada di balik insiden waktu itu." Seru Hanif tidak lupa meberitahukan sesuatu
Abrisam menanggapinya dengan anggukan kepala, ia tidak ingin istrinya banyak bertanya.
Saat tiba di lobi parkiran, Hanif membukakan pintu bagian belakang untuk Abrisam dan Shafia. Meski sudah di tolak ia tetap melakukan apa yang menurutnya benar.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃