Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 28 ~ Sini Peluk


__ADS_3

Saat ini seluruh keluarga Qiemyl berada di ruang makan untuk makan malam.


Shafia yang uring-uringan terus saja mengumpat kesal karena sejak tadi gadis itu selalu di uji kesabarannya.


"Bri, ayo turun!" Geramnya memaksa Abrisam keluar kamar


Pria itu tidak bergeming seakan Shafia tidak ada di dekatnya.


"Kamu jangan bikin emosi aku naik, ABRISAM."


Mata Shafia seakan ingin keluar dari tempatnya karena kesal.


"Aku ngga mau makan malam, kamu turun saja sendiri kalau mereka nanya bilang ajah aku sudah tidur." Ucap Abrisam yang langsung membuat Shafia tercengang


Sejak tadi dia berusaha merayu pria itu namun tetap saja tidak berhasil, kali ini habis sudah kesabarannya.


"Kalau kamu masih terus seperti ini, lebih baik aku pulang saja ke rumah orang tuaku."


"Aku capek ngadepin sikap kamu kaya gini tahu ngga."


Usai mengatakan itu Shafia langsung keluar kamar menuju lantai bawah.


Rasa kecewa dan amarahnya jadi satu. Bukan tanpa alasan pasangan suami istri itu berdebat, semua berawal dari kejadian beberapa waktu yang lalu.


#Satu jam yang lalu


Shafia dan Abrisam baru saja selesai menunaikan sholat. Abrisam yang masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Shafia yang tengah asik bermain ponsel.


Hampir dua puluh menit gadis itu berkutat dengan benda pipih tersebut, Abrisam yang terus mengganggunya bahkan tidak bisa mengalihkan perhatian Shafia.


Hal yang paling gadis itu benci ketika dirinya sedang serius jangan coba-coba ada yang mengganggu, Shafia takan segan-segan untuk marah jika kesenangannya terusik.


Hal itu lah yang membuat Abrisam merajuk, padahal hanya masalah sepele saja.


"Abrisam mana sayang?" Tanya Ririn saat melihat Shafia sudah berada di depan meja makan


"Masih di kamar Mah." Jawab sang menantu ikut duduk di samping Ririn


"Kenapa ngga turun bareng kamu? Ini sudah waktunya makan malam loh." Sambung Nyonya Iriana bertanya


"Lagi ngambek Nek, biasalah kalau ngga ke ikut maunya kaya gitu." Sahut Shafia tersenyum kecil


Seluruh anggota keluarga yang berada di meja makan hanya bisa menggelengkan kepala mereka, hal baru yang Abrisam lakukan setelah menikah.

__ADS_1


Tidak ada lagi percakapan yang terjadi, semua makan malam dengan sangat tenang.


Selesai acara makan malam baik Ririn & Adnan maupun anggota keluarga lainnya segera masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


Mereka memang jarang berkumpul walau sekedar basa basi, sibuknya pekerjaan menjadi salah satu faktor cepat lelah dan ingin segera beristirahat.


"Kamu belum masuk kamar, Sha?" Tanya Nyonya Iriana yang timbul dari arah dapur ikut duduk dengan Shafia di sofa ruang tamu yang berhadapan langsung dengan TV.


"Belum ngantuk, Nek." Jawab Shafia singkat


Wanita paruh bayah itu tersenyum, paham akan sikap cucu menantunya.


"Naiklah ke atas temui Abrisam! jangan lupa bawalah makanan untuk suamimu, tidak baik bersikap seperti ini." Ucap wanita tersebut yang tidak ingin ada keributan antara cucu dan cucu menantunya


Shafia menuruti perkataan Nyonya Iriana, sebelum pergi ke kamar gadis itu lebih dulu mengambil makanan untuk dia bawah pada Abrisam.


Ceklek.


Pintu kamar di buka Shafia sedikit keras.


Dari arah tempatnya berada jelas terlihat bayi besar keras kepalanya merenggut kesal di tengah ranjang.


Matanya terus menatap tajam ke arah Shafia yang kini sudah melangkah pelan menuju tempat tidur.


"Aku ngga lapar." Sahut Abrisam malas


"Ngga baik loh nolak istri yang mau cari pahala, entar kualat baru tahu rasa." Sindir Shafia tanpa dosa


"Kualat mana yang lebih mentingin baca novel ketimbang perhatiin suami sendiri?" Balas Abrisam tidak mau kalah ikut menyindir


Shafia hanya menyengir, hal baru yang mungkin akan sering dia lakukan yaitu membuat suaminya kesal.


Beruntung Abrisam merupakan sosok yang suka mengalah, sekesal apapun ia takan sampai hati menyakiti perasaan Shafia.


"Ya udah jangan ngambek lagi, kan tadi aku sudah minta maaf." Rayu Shafia seraya memainkan jari-jari Abrisam yang menurutnya sangat halus dan lembut padahal ia seorang pria


"Sini peluk." Pinta bayi besar tersebut dengan cepat meraih tubuh langsing sang istri tercinta


Di ciumnya pucuk kepala Shafia berkali-kali dengan tangan yang lebih erat memeluk gadis kesayangannya.


Biarlah untuk saat ini semua berjalan sesuai kehendak sang pencipta. Abrisam belum memberi tahu kabar mengenai wanita yang beberapa hari lalu telah di minta Shafia untuk menyelesaikan masalah antara mereka, tetapi nyatanya malah timbul masalah baru yang mengakibatkan Abrisam harus di buat pusing.


Entah apa yang terjadi hingga ia belum juga mendapat jalan keluar dan titik terang akan masalah tersebut.

__ADS_1


Apa yang harus aku katakan padanya jika tanpa sengaja gadis ini justru tiba-tiba mengungkit masalah ini.


Abrisam hanya mampu berbicara dalam hati, ia di landa rasa bersalah yang teramat dalam pada istrinya.


"Ish, kok malah ngelamun sih." Dengus Shafia yang sadar pria itu sedang melamunkan sesuatu


"Maaf sayang." Kekeh Abrisam yang sadar sedang di tatap istrinya


"Aku ingin makan tapi kamu yang suapin ya." Pintanya mengalihkan pikiran Shafia yang mungkin ingin tahu apa yang sedang ia pikirkan.


"Kamu lagi lamunin apa? Kok kayak ada sesuatu gitu." Tanya Shafia penuh selidik, sorot matanya seakan meminta sebuah penjelasan dari Abrisam.


"Ngga mikirin apa-apa sayang." Jawab Abrisam meyakinkan


Shafia tidak lagi bertanya meski hatinya ingin sekali tahu apa yang sedang pria itu pikirkan.


Aku harap bukan sesuatu yang akan membuat hubungan kita yang jadi taruhannya.


Bathin Shafia berharap apa yang di khawatirkannya tidak terjadi.


Usai menyuapi Abrisam makan, Shafia keluar kamar menuju dapur untuk membersihkan tempat makan bekas suaminya.


Jam yang sudah menunjukkan angka 10 itu tidak membuat Shafia langsung kembali ke kamar setelah dia kembali dari dapur.


Shafia memilih duduk di sofa ruang tamu, begitu banyak yang melintas di pikirannya saat ini.


Apa yang harus aku lakukan Ya Allah? Bagaimana jika nyatanya wanita itu justru malah lebih nekat lagi, apa begitu sulit bagi Abrisam membuat wanita tersebut pergi jauh dan tidak lagi mengganggu rumah tangga kami.


Shafia terus mendesah pasrah dengan helaan nafas yang tidak beraturan, apa mungkin pilihannya kali ini sudah benar? Bagaimana jika nanti justru masalahnya lebih besar dan pernikahannya yang akan jadi sasaran utama.


"Aku ngga mungkin hanya diam saja tanpa melakukan apapun." Gumamnya berbicara sendiri


"Ish. Emang ngga ada urat malunya ya tuh orang, kalau begini 'kan makin runyam ceritanya. Bisa-bisa suamiku mau di embat juga, ngga enak juga nih mulut kalau sampai sebut tuh orang wanita ngga benar."


Tidak ingin berdebat dengan pikirannya, mau tidak mau Shafia kembali masuk ke dalam kamar.


Biarlah besok hari baru dia berpikir lagi. Mungkin saja akan ada petunjuk yang bisa gadis itu dapatkan.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Baru bisa up lagiπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


Jangan pernah bosan aa mampir di lapak Author..πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


Like & Komennya yuk ramaikan.πŸ˜‰


__ADS_2