
Drama pertengkaran antara Abrisam dan Bibi kembali terulang, kali ini bukan perkara sop Ayam atau rujak.
"Aduh, Tuan muda mau apa lagi?" Tanya Bi Ratni mulai kehilangan akal
Menghadapi Abrisam yang begitu sensitif dan muda mengamuk bukan perkara yang muda, bila keinginannya tidak terpenuhi bisa seharian penuh akan mendiami semua orang termasuk Shafia.
Bi Ratni yang mulai merasa kasihan, mau tidak mau akhirnya mengalah juga demi memenuhi keinginan sang majikan.
"Ok, ok. Bibi buatkan kue nya, tapi Tuan muda jangan ganggu kerjaan Bibi!" Tegasnya melarang Abrisam mengotak atik isi dapur
Pria tampan itu menurut dan memilih duduk diam di salah satu kursi yang terletak samping meja, di atasnya sudah ada berbagai macam bahan untuk membuat kue.
Jika di dapur ada Abrisam yang begitu sibuk mengawasi Bi Ratni membuat kue, lain hal dengan Shafia yang kini tengah asik merubah posisi barang-barang di dalam kamar.
Shafia di bantu oleh beberapa pelayan pria dan wanita untuk merapikan kamar miliknya dengan Abrisam.
Semua pelayan yang bekerja hampir seminggu ini, merupakan orang-orang terpilih yang di pekerjakan sang Nyonya besar Iriana Qiemyl.
"Nah, akhirnya selesai juga pekerjaan kita hari ini." Seru Shafia begitu puas dengan hasil perubahan tata letak semua barang dalam kamar
"Makasih ya semuanya, kalian boleh turun ke bawah."
Shafia meminta semua pelayan kembali ke lantai bawah
.
.
Di dalam dapur, Abrisam begitu bersemagat setelah menunggu hampir satu jam lamanya, akhirnya beberapa macam kue kesukaannya selesai di buat.
"Makasih Bibi." Senang Abrisam memeluk erat Bi Ratni
"Sudah, sebaiknya Tuan bawa semua kue itu ke depan! Dan jangan mengganggu Bibi lagi, makan malam belum siap dan Bibi harus mulai memasak sekarang."
Bibi meminta Abrisam membawa semua kue yang tadi di mintanya untuk Bibi buatkan ke depan.
Dengan tangan penuh toples kue, Abrisam keluar dari dalam dapur menuju ruang tengah. Disana sudah ada sang Nenek tengah menonton sebuah film di layar TV, kedatangan Abrisam mengalihkan fokus wanita baya tersebut.
__ADS_1
"Apa yang kamu bawa itu, Bri?" Tanya sang Nenek penasaran
"Kue, barusan aku minta Bibi buatkan." Jawab Abrisam singkat
Pria tampan yang badannya semakin berisi dan pipinya mulai kelihatan bulat itu, terus mengunyah beberapa macam kue.
Semenjak di ketahui Shafia tengah hamil, bukan gadis itu yang mereka fokuskan melainkan Abrisam dengan berbagai macam keanehannya.
Beruntung mual dan muntah dapat di atasi Abrisam, obatnya cuma satu yaitu Shafia sendiri. Ketika ia mulai muntah-muntah di pagi hari, tempat ternyaman untuk menghilangkan rasa mualnya adalah berada dalam dekapan hangat istrinya.
Lagi asik-asiknya makan, tiba-tiba wajah sang istri melintas di matanya. Sejak tadi Abrisam belum melihat istrinya di manapun, ia lupa segalanya jika sudah berurusan dengan masalah perut.
"Nenek, di mana istriku?" Tanya Abrisam tiba-tiba
"Ada di kamar, barusan para pelayan turun dari lantai atas habis membantunya merapikan kamar." Jawab sang Nenek tanpa mengalihkan fokusnya dari layar TV
Abrisam yang masih belum yakin memilih naik ke lantai atas lengkap dengan toples kue, ia ingin memeriksanya sendiri apa benar istrinya berada di kamar.
Derap langkah kaki yang lumayan cepat menapaki anak tangga satu demi satu sampai ke lantai atas, senyum langsung terukir di bibirnya ketika melihat Shafia yang berjalan keluar dari kamar.
"Sayang," panggilnya dengan nada merengek.
"Kangen," rengek manja Abrisam di dalam pelukan Shafia.
"Baru juga di tinggal sebentar masa udah kangen sih, By." Heran gadis itu yang begitu gemas pada suaminya
Shafia mencium habis seluruh wajah suaminya saking gemas, pipi yang mulai kelihatan bulat sangat imut dan lucu menurutnya.
"Ikut Ummi masuk kamar!" Sambung Shafia menarik lengan suaminya kembali masuk ke dalam kamar
Saat masuk kamar mata Abrisam menatap tidak percaya dengan apa yang terjadi, semuanya telah berubah total termsuk tata letak tempat tidur yang lebih terasa nyaman menurut pria itu.
"Kamarnya di rombak lagi sayang?" Tanya Abrisam setelah masuk ke dalam kamar mandi
Jemari lentik Shafia dengan cekatan membuka satu persatu pakaian yang di kenakan suaminya, terbiasa mengurus Abrisam mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi menjadi kesenangan tersendiri bagi Shafia.
"Iya, habisnya aku mau suasana yang baru. Lagi pengen ajah beres-beres kamar mumpung sekarang 'kan sudah ada beberapa pelayan yang di pekerjakan Nenek, jadi aku makin gampang rubah posisi semua isi kamar." Jawab Shafia senang
__ADS_1
Hampir satu jam lamanya Shafia berada dalam kamar mandi membantu Abrisam membersihkan diri, tidak lupa dia juga ikut mandi bersama mengingat sebentar lagi waktu Maghrib akan tiba.
Usai membersihkan diri, Shafia kembali membantu suaminya berganti pakaian. Tidak ada bau-bau wewangian yang di semprotkan Shafia, itu akan mengundang rasa mual Abrisam.
"Beres, sekarang tinggal nunggu waktu sholat." Kekeh Shafia
Abrisam memilih duduk di tepi ranjang setelah mengambil wudhu, ia menunggu sang istri yang baru saja selesai berganti pakaian dan pergi mengambil wudhu.
Lima menit kemudian mereka mulai melaksanakan ibadah dengan Abrisam sebagai Imam nya.
Shafia mencium takzim tangan suaminya begitu juga dengan Abrisam yang mencium sayang kening bidadari hatinya.
Tepat makan malam tiba, Shafia dan Abrisam baru keluar dari kamar menuju ruang makan di lantai bawah.
Sudah ada sang Nyonya besar menunggu kedatangan cucu dan cucu menantunya.
Sampai di ruang makan, mata Abrisam langsung berbinar melihat banyak makanan kesukaannya tersaji di atas meja makan.
"By, mau makan apa dulu? Nanti aku ambilkan." Tanya Shafia seraya mengambil piring milik suaminya
"Apa ajah sayang, perut aku ngga sabar pengen di isi." Kekeh Abrisam sebenarnya bingung mau makan apa saking banyaknya makanan
Beberapa lauk dan sayuran sudah terisi di piring lengkap dengan nasi, Shafia langsung meletakkan piring berisi makanan tersebut di depan suaminya.
Makan malam berlangsung dengan di selingi obrolan ringan, sebagai penutup Nyonya Iriana meminta Bi Ratni menyiapkan puding buah dan satu bola cake lengkap dengan jus buah.
Semua langsung di bawah Abrisam ke ruang tengah untuk ia nikmati sendiri, padahal barusan habis makan nasi dengan berbagai macam lauk.
"Shafia, apa Abrisam tadi siang meminta Bibi membuatkan kue?" Tanya Nyonya Iriana seraya memperhatikan cucunya
"Iya, Nenek. Bahkan kata Bibi besok minta di buatkan lagi yang banyak." Jawab Shafia tertawa
Gadis itu sangat bahagia melihat betapa lahapnya suaminya memakan apapun yang di buat Bibi, tidak jarang saat semua orang sedang tidur Abrisam malah keluar dari kamar dan membangunkan Bi Ratni.
Semua hanya demi sesuatu yang ingin ia makan, dan seperti sekarang ini Abrisam yang sibuk mengunyah tidak peduli jika ia sedang menjadi bahan tontonan gratis para pelayan termasuk Bibi, Nyonya Iriana dan Shafia.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Like dan Komennya yuk ramaikan.🙏