Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 73


__ADS_3

Tidak terasa acara tujuh bulanan Shafia berjalan dengan lancar, semua anggota keluarga beserta anak yatim banyak melantunkan doa untuk keselamatan ibu dan anak tersebut sampai waktu melahirkan.


Perut Shafia yang kian membesar sedikit membuat ibu hamil tersebut kesulitan bergerak kesana kemari jika tidak di bantu Abrisam atau kedua sahabatnya yang memilih tinggal bersamanya dengan alasan memudahkan wanita itu belajar agar tidak ketinggalan meski cuti hamil sampai lahiran.


Baik Zoya maupun Vivi hanya ingin mengadakan wisuda bersama Shafia, keduanya nekat menjadi Dosen dadakan hanya untuk menerangkan setiap materi dari kampus.


Seperti hari ini, usai mengadakan doa syukuran. Rencananya Shafia akan mengikuti ujian dadakan tanpa persiapan, namun tetap di bantu oleh kedua sahabatnya.


"Aku ngakak boleh ngga sih?" kekeh Zoya menatap lucu kearah ibu hamil tersebut.


"Perut dah gede begitu masih ajah niat ikut ujian online," timpal Vivi sudah tertawa.


Siapa yang tidak merasa lucu dan geli sendiri, melihat istri kesayangan Tuan Abrisam Mannaf tengah duduk di sofa single lengkap dengan beberapa bantal menganjal punggungnya sembari menatap kearah layar laptop.


Beberapa Dosen membantu proses lancarnya ujian yang Shafia lakukan meski ada tawa geli bercampur rasa bangga dari mereka saking tidak percaya dengan mahasiswi yang satu ini.


Dalam keadaan hamil pun, nyatanya tidak membuat semangat Shafia berkurang. Ada saja tingkah randomnya selama ujian berlangsung, termasuk menggoda Dosen pria yang masih lajang belum menemukan jodoh yang cocok karena terlalu sibuk menekuni pekerjaannya.


[Udah selesai, Fia?]


[Dia kan, anak yang pintar]


[Fia makin cantik ya pas lagi hamil]


Ada tiga Dosen tanpa henti mengganggu konsentrasi Shafia ketika mengisi soal ujian, membuat wanita itu hanya bisa menghela nafas panjang.


"Kak Alfi ngga bosan ya sendirian mulu? Pasangannya udah lari duluan ya?"

__ADS_1


Pertanyaan jebakan dari Shafia berhasil membungkam mulut salah satu Dosen pria muda yang semula tertawa.


"Kenapa diam ajah, Kak?"


"Oh, Fia tahu. Apa karena lamaran Kak Alfi belum di terima Zoya?"


Shafia tidak habis akal menggoda Dosen pria itu sampai mengumpat kesal.


Beruntung ujiannya sudah selesai. Jika tidak, sudah di pastikan akan ada pengulangan bagi si ibu hamil karena membuat sang Dosen tidak nyaman.


[Untung kamu pintar, Fia. Kalau ngga ...]


Ketus Dosen bernama Alfi sembari menatap tajam kearah layar laptop, dimana wajah tanpa dosa Shafia masih terlihat disana.


"Zoya, coba lihat Kak Alfi ngamuk!" teriak wanita itu dengan tawa penuh kemenangan.


Sehingga mereka tidak bisa melihat kelakuan Shafia pada saat mengganggu Dosen Alfi.


"Ngapain Kak Alfi?" tanya Zoya baru datang dari arah dapur seraya membawa beberapa cemilan kesukaan sahabatnya tersebut.


"Lihat ajah sendiri," jawab Shafia memilih bangkit dari sofa menuju tempat dimana suami tercintanya berada.


Abrisam menggeleng pelan dengan bibir tersenyum sangat manis.


"Nakal banget sih," gemasnya mencium habis seluruh wajah Shafia tanpa henti.


"Ampun, Hubby." Pekik sang istri meminta di lepaskan

__ADS_1


Sementara Zoya mulai duduk di sofa yang barusan sahabatnya tempati.


Ada binar bahagia terukir jelas di wajah tampan Dosen Alfi melihat gadis pujaannya terpampang di layar sembari menatapnya penuh selidik.


"Kakak ngapain lagi?" tanya Zoya keheranan.


"Ujiannya udah selesai loh, kenapa belum di matiin?"


Gadis itu menodong Dosen Alfi dengan pertanyaan.


[Kangen lihat wajah masam dan suaramu yang selalu ketus padaku]


Kedua bola mata Zoya membulat sempurna dengan mulut yang menganga lumayan lebar.


"Wah, jangan aneh-aneh ya Dosen Alfi yang terhormat." Kesalnya hanya di balas tawa kecil di seberang sana


Shafia hanya mendengarkan Zoya berbicara dengan seorang pria tampan yang masih mengharapkan lamarannya di terima.


Berbeda dengan Vivi yang fokus menonton TV bersama Nyonya Iriana di ruang keluarga.


"Hubby," panggil Shafia pada suaminya.


Abrisam menoleh kearah samping, dimana istri cantiknya itu berada.


"Apa sayang?" tanyanya sembari mencium sebelah pipi Shafia yang cekikikan.


"Kayaknya Zoya bakal berjodoh dengan Kak Alfi, secara mereka tuh dari segi manapun cocok banget." Jawab Shafia tertawa geli mendapati raut wajah masam Zoya seakan ingin menelan hidup-hidup pria tampan yang berbicara dengannya tersebut

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2