
Sudah satu minggu Shafia beradaptasi dengan lingkungan kampus.
Sebuah Universitas yang sangat dia dambakan kini telah menjadi tempatnya untuk menuntut ilmu.
Semua berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun, Abrisam yang selalu setia mendukungnya menjadi alasan Shafia untuk terus berusaha.
Tepat tiga hari yang lalu Abrisam cek out dari hotel dan langsung membawa Shafia tinggal di salah satu properti miliknya. Sebuah rumah yang cukup mewah, memiliki dua lantai dengan halaman yang cukup luas menjadi pilihan Abrisam untuk di jadikan tempat tinggal mereka selama berada di negara asing itu.
Di hari weekend, pasangan suami istri itu memilih untuk tetap berada di rumah. Mereka ingin melewati hari libur dengan bersantai tanpa ada niat untuk keluar sekedar jalan-jalan.
"Sayang."
Posisi Shafia yang berada di dapur terlonjak kaget mendengar teriakan Abrisam yang memanggilnya dari arah lantai atas.
"Sha, baju aku yang warna putih mana?"
Kebiasaan Abrisam yang mulai menjadi sejak bangun tidur kadang membuat Shafia menjadi kesal, entah apa yang membuat pria tampan itu berbuat keributan di pagi hari.
"Sayang ..."
Abrisam terus berteriak memanggil Shafia yang masih sibuk menyiapkan sarapan.
"Astaga itu Beruang Kutub kenapa teriak-teriak sih." Rutuk Shafia mulai kesal aksi masak memasaknya di dapur menjadi terganggu.
"Sha ..."
Lagi-lagi Suaminya memanggil nama Shafia.
Tidak ingin ada keributan di pagi hari, mau tidak mau Shafia menghentikkan pekerjaannya di dapur.
"Iya sebentar." Sahutnya setengah berteriak
Gadis cantik dengan celemek yang masih melekat di badannya, segera naik ke lantai atas menuju kamar.
Langkah kaki Shafia begitu jelas terdengar sampai tepat di depan pintu kamar.
Ceklek
"Sayang." Panggil Abrisam belum menyadari kedatangan istrinya
Ia begitu sibuk menghamburkan beberapa pakaian yang sudah berserakan di mana-mana.
"Ada apa lagi sih?" Sahut Shafia membuat Abrisam tersentak kaget
"Itu, baju aku yang warna putih kamu taruh di mana? Aku nyari dari tadi gak ketemu."
Abrisam menjawab pertanyaan istrinya tanpa menoleh kearah Shafia.
"Di mana ya, Sha? Itu baju kesayangan aku." Lanjutnya masih sibuk mencari tanpa sadar apa yang tengah ia lakukan saat ini membuat sang empu menjadi marah
Shafia yang tidak tahan lagi langsung menghampiri suaminya dan--,
Plak
"Aaw, Sha. Sakit... kenapa aku di pukul sih." Pria tampan itu meringis kesakitan lengannya di geplak oleh Shafia lumayan kuat
"Bagus kamu, hebat bangat ya. Aku cape-cape rapihin semuanya kamu malah buat berantakan." Geram Shafia menatap tajam kearah suaminya
Betapa marahnya dia, saat melihat hampir seisi lemari pakaian di hamburkan Abrisam keluar hanya demi satu baju yang entah di mana tempatnya.
"Tapi kan." Pria tampan yang kedapatan berbuat salah itu tidak berani meneruskan perkataannya
Melihat tatapan tajam Shafia membuat nyalinya menciut.
Abrisam memilih untuk berdiri diam bak patung dengan posisi menundukkan kepalanya seraya memainkan ujung baju Shafia yang sempat-sempatnya di pegang oleh pria itu.
"Tapi apa? Itu baju perasaan kemarin udah kamu pake terus sekarang mau cari sampe berantakin semuanya kaya gini? Astaga By, belum juga selesai lipatan baju yang di cuci kemarin sekarang kamu mau nambah lagi kerjaan aku."
Marah, gadis dengan celemek dan spatula di tangannya itu terus mengomel tanpa henti. Masakannya di dapur belum selesai, dan sekarang suaminya membuat emosinya di pagi hari meluap.
Abrisam terus diam membiarkan istrinya mengomel, salahnya yang tidak hati-hati. Ia baru ingat kalau apa yang di carinya sejak tadi sudah di pakai kemarin. Betapa bodohnya Abrisam sudah membangunkan singa betina yang tertidur.
Mampus Kau, Abrisam.
Hampir sepuluh menit Shafia memarahi suaminya, di rasa sudah cukup baru dia berhenti.
"Dengar tidak apa yang aku bilang?" Sentak Shafia di akhir omelannya
__ADS_1
"Iya, maaf. aku janji ngga ulangin lagi."
Abrisam menjawab tanpa sekalipun berani menatap mata istrinya.
Kasihan juga kalau memarahi suami sendiri, tetapi kalau tidak di ingatin mana tahu gimana rasanya jadi seorang wanita.
"Tadi aku bilang apa?" Tanya Shafia mulai menguji suaminya apakah dengar yang di katakannya atau tidak.
"Ngga boleh berantakin lemari pakaian."
"Terus apa lagi?" Shafia mencoba untuk tidak tertawa.
"Nyarinya yang benar."
"Hhm, lalu?"
Ya Tuhan betapa menggemaskannya suami ku ini.
"Kalau ngga ketemu tanya istri dulu."
"Habis itu?" Sungguh Shafia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, namun tetap coba di tahannya.
"Ngga boleh teriak-teriak."
"Yang terakhir?" Shafia bertanya untuk yang terakhir, kasihan juga kalau marahnya lama-lama.
"Rapihin kembali sendiri apa yang aku buat jadi berantakan."
Gadis cantik itu tersenyum geli melihat tampang menggemaskan suaminya ketika di marahi, ingin rasanya Shafia mencium habis wajah tampan pria pemilik hatinya itu. Tapi semua di tahannya, jika tidak di kasih tahu akan keterusan seperti itu.
"Ya sudah, pokoknya kamu jangan turun ke bawah sebelum semuanya beres. PAHAM?"
Abrisam menganggukan kepalanya namun sesekali memperlihatkan wajah menggemaskan, membuat Shafia yang sejak tadi diam tidak tahan lagi untuk tidak menciumnya.
Alhasil pria tampan yang hanya diam pasrah itu membiarkan wajahnya menjadi sasaran kegemasan Shafia yang tanpa henti menciumi seluruh bagian wajahnya, bahkan bibirnya pun tidak luput dari gigitan gemas istrinya.
"Imut banget sih, suami aku."
Puas mencium habis suaminya, Shafia yang semula tanpa henti mengomel langsung berlalu pergi meninggalkan Abrisam di dalam kamar, masih dengan keadaan lemari pakaian yang berhamburan keluar semua isinya.
Ia mulai membereskan satu persatu hasil perbuatannya.
Hampir satu jam, Abrisam berkutat dengan isi lemari. Ia tersenyum cerah saat melihat bidadari cantiknya memasuki kamar dengan sesuatu di tangannya.
"Udah semuanya?" Tanya Shafia sambil memeriksa keadaan lemari pakaian yang ternyata sudah rapih
Senyum manis langsung terukir indah di bibirnya.
"Nah kalau begini kan, adem. Aku jadi ngga harus ngomel-ngomel terus tiap hari cuma gara-gara ulah seseorang." Sambungnya dengan sindiran halus kearah Abrisam
Shafia sengaja membawakan sarapan suaminya ke kamar, dia tidak setega itu melihat betapa lelahnya suaminya kala harus membagi waktu antara pekerjaan dengan dirinya.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, sebelumnya Abrisam mengajak istrinya untuk makan malam di luar.
Ia ingin membuat Shafia senyaman mungkin selama berada jauh dari orang tua dan juga keluarganya, satu-satunya menantu perempuan yang menjadi kesayangan bagi sang Nenek tentu harus di jaga dengan baik.
Beruntung akhir-akhir ini tidak ada kabar yang mengkhawatirkan mengenai Chayra yang masih berada di negara itu.
Ceklek
Pria tampan itu menoleh kearah pintu kamar mandi yang terbuka, wajah cantik dan putih istrinya lah pertama kali di lihat Abrisam.
Shafia yang sadar tengah di tatap pura-pura acuh dan memilih duduk di sofa sambil menonton TV.
"Sayang."
Panggilan suaminya di abaikan gadis itu.
"Sha ..." Lagi-lagi Abrisam memanggilnya.
"Ya Ampun Faiza Shafia."
Betapa kesalnya pria tampan itu yang mulai di acuhkan istrinya.
__ADS_1
Abrisam bangkit dari atas ranjang melangkah pelan menuju sofa, dan--;
Buukk.
"Apaan sih By, gangguin orang lagi nonton." Shafia kaget karena pelukan yang tiba-tiba dari suaminya
Bukan pelukan melainkan tubuh Abrisam yang sengaja menindih tubuhnya lah membuat gadis itu kesulitan bergerak.
"Minggir ngga!" Permintaanya tidak di turuti
"Berat By, ngapain harus badan aku yang di tindih sih." Kesalnya mulai merasakan sesak napas
"Aku ngga berat sayang." Elak Suaminya enggan bangkit dari atas tubuh Shafia
"Kamu tuh badannya gede dan berat, aku mana kuat." Protes Shafia masih berusaha menyingkirkan tubuh suaminya
"Kuat sayang. Apalagi kalau ..."
Mata Shafia membulat sempurna dengan mulut yang di tutupnya rapat.
Ya Ampun sudah bangun.
Benar-benar bikin pusing, sesuatu yang tertidur ternyata sudah bangun.
Shafia yang panik berusaha mendorong tubuh suaminya untuk menyingkir.
"Bangun By, bisa mati aku nahan sesak." Wajahnya memerah karena malu, belum juga apa-apa sudah bangun.
"Aku bilang ngga mau yaa ngga." Tolak Abrisam malah lebih menghimpit tubuh istrinya
"Uhuk-uhuk, ABRISAM."
Teriak Shafia menggigit keras telinga suaminya agar bangun.
Napasnya tersengal akibat sesak, Abrisam yang menahan sakit merenggut kemudian melangkah pergi menuju tempat tidur.
Pria tampan yang merajuk itu meninggalkan Shafia yang menatap heran kearahnya, wajah masam suaminya begitu jelas terlihat.
"Ya ampun, aku salah lagi." Desah Shafia kembali salah, sudah tahu suaminya mudah merajuk.
Shafia ikut bangkit dari sofa menyusul suaminya ke tempat tidur.
"By ..." Panggilnya sudah duduk di sisi Abrisam
"Maaf, lagian ngapain sih, By. Kaya gitu tadi? Udah tahu aku napasnya susah kalau Habby main nyosor begitu."
Pria tampan yang masih merajuk itu memilih diam dengan menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
Ide jahil seketika muncul di otak Shafia, perlahan gadis itu masuk ke dalam selimut yang masih menutupi tubuh suaminya.
"Hhmmpp."
Mulut Abrisam langsung di bungkam Shafia dengan ciuman. Tangannya yang nakal meremas sesuatu di bawah sana yang masih terhalang pakaian.
Napasnya menyapu hangat permukaan kulit leher Abrisam yang menahan untuk tidak meNdEeSah.
"Sa--, sayang jangan." Mohon Abrisam menahan tangan Shafia yang mulai menyusup masuk ke dalam kaos yang ia kenakan
"Ckck. Lihatlah wajah pasrah mu ini suamiku." Ucap Shafia tersenyum jahil
Gadis itu sengaja menggoda suaminya yang masih merajuk, tetapi siapa sangka justru respon tubuh pria itu sangat cepat.
"****, benar-benar gadis yang nakal."
Shafia yang kaget tubuhnya di tarik dan berpindah posisi sontak menelan ludahnya kuat-kuat.
"Haha, By." Shafia mulai panik karena ulahnya sendiri
"Kamu yang memulai duluan sayang." Ucap Abrisam tersenyum menyeringai
Ia yang berusaha untuk tidak menerkam Shafia malam ini justru terpancing karena ulah kejahilan gadis itu sendiri.
"Jangan salahkan aku bila menghukum mu sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur keesokan paginya." Lanjutnya mulai melakukan sesuatu pada tubuh indah istrinya
Sungguh sial, bukan Abrisam namanya jika mau berhenti menyentuh istrinya meski Shafia berulang kali memohon karena lelah. Sudah tahu kalau suaminya tidak boleh di pancing, tetap saja Shafia menggodanya.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1