
Butuh waktu sekkitar dua puluh menit bagi Ririn untuk bisa sampai di perusahaan milik Abrisam.
Wanita itu pergi sendiri tanpa mengajak Adnan. Rasa kesalnya pada pria itu masih ada, bukannya memberi solusi justru malah menambah masalah.
"Nyonya, kita sudah sampai." Ucap sang sopir ketika mobil sudah terparkir di lobi parkiran perusahaan
"Makasih ya, Pak." Sahut Ririn kemudian keluar mobil
"Apa perlu saya tunggu, Nyonya?"
"Tidak perlu Pak, kembalilah ke rumah. Nanti akan saya hubungi lagi." Jawab Ririn seraya melangkah pergi
Banyak pasang mata yang menatap kagum dan penuh hormat ketika melihat kedatangan Ririn, hal yang jarang sekali terjadi selama mereka bekerja di Perusahaan Abrisam.
Ririn yang notabennya sangat tidak menyukai tempat yang begitu banyak orang, tentu merasa sedikit kurang nyaman.
Ibu satu anak itu masuk kedalam lift yang langsung membawanya ke ruangan milik Abrisam.
.
.
Tring
Pintu terbuka, Ririn berjalan keluar dari lift menuju salah satu ruangan. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu, ada sedikit keraguan hinggap di hatinya. Bagaimana jika dia tidak berhasil membujuk Abrisam, mengingat ini kali kedua putranya bertingkah.
"Masuk ngga Ya?" gumam Ririn bingung.
Tiba-tiba Hanif muncul dari arah lain.
"Nyonya sudah datang?" tanya Hanif merasa lega.
"Aku baru saja sampai, Hanif." Jawab Ririn tersenyum
"Tuan Abrisam berada di dalam, ia terus meneriaki nama Nyonya Shafia." Adu Hanif pada Ririn
"Bahkan sejak tadi beliau belum makan siang, saya bingung harus berbuat apa."
Ririn yang mendengar pun ikut prihatin dengan kondisi putranya.
"Kau diam di Luar, biar saya yang masuk menemui Abrisam." Tukas Ririn kemudian masuk ke dalam ruangan
Ceklek
Pintu terbuka pelan, langkah kaki Ririn mendekat ke arah sofa panjang dimana putranya tengah berbaring.
"Sayang kembalilah, jangan tinggalkan aku."
Kalimat itulah yang Ririn dengar kala kakinya sudah berhenti tepat di samping Abrisam.
Rasa sakit mulai menyelimuti hatinya, bagaimana bisa kejadian itu terulang lagi.
Ririn yang sempat di buat kaget melihat keadaan ruang kantor sangat berantakan, hanya bisa menghela napas panjang.
"Sayang," panggil Ririn begitu lembut.
Wanita itu duduk di sisi sofa tepat di mana Abrisam terbaring tidak berdaya. Rambut acak-acakan, kemeja yang kusut, bahkan wajah yang begitu tampan kini seakan kehilangan sinar cahayanya.
"Abrisam, sayangnya Mama," panggilnya lagi seraya mengusap kepala sang putra.
__ADS_1
Begitu sakit hatinya, jika boleh memilih. Lebih baik Ririn yang menanggung sakit, dia begitu rapuh melihat kondisi putranya yang jauh dari kata baik-baik saja.
"Ini Mama, sayang. Kamu ngga mau lihat Mama, hmm?" ucapnya begitu lirih menahan tangis.
"Maafkan Mama, semua ini terjadi karena Mama."
Ririn menangis, dadanya begitu sesak.
Bukan ini yang di inginkannya. Andai waktu bisa di putar kembali, Ririn hanya ingin yang terbaik untuk putranya.
Abrisam yang merasakan sesuatu jatuh membasahi lengannya, perlahan membuka mata.
Di lihatnya wajah seorang wanita tengah menangis dalam diam tanpa suara keluar dari bibirnya.
"Mama," kaget Abrisam setelah sadar.
"Kenapa Mama bisa di sini?" tanyanya sembari duduk.
Ia bingung melihat sang Mama tiba-tiba berada di dalam ruangan miliknya, bahkan tempat itu sudah sangat hancur berantakan.
Bagaimana jika wanita itu terluka, mengingat keadaan kantor Abrisam di penuhi pecahan kaca yang berserakan di lantai.
"Jangan muat Mama khawatir, sayang." Ucap Ririn dengan nada memohon
"Kamu tahu betapa kagetnya Mama saat mendengar kabar tentang mu? Mama takut Bri, Mama ngga mau kejadian waktu itu terulang lagi."
Pecah sudah tangis Ririn, sekuat apapun dia mencoba menahannya tetap saja akan keluar.
Abrisam yang sadar langsung mendekap tubuh bergetar Mamanya, ia begitu menyayangi wanita itu.
"Aku ngga apa-apa, Mah." Ucapnya menenangkan sang Mama
"Udah dong Mah, jangan menangis lagi." Pintanya pada sang Mama
Ririn yang mulai tenang segera menghampus air matanya.
"Mama takut Bri, Mama ngga mau kamu kenapa-napa." Ujarnya enggan melepas pelukannya dari sang putra
Abrisam membiarkan sang Mama meluapkan semua rasa yang mengganjal hati wanita itu, ia tahu betapa terlukanya sang Mama kala mendengar dan melihat kondisinya sekarang.
Di rasa mulai tenang, Ririn bangkit mengubah posisi duduknya berhadapan dengan Abrisam.
"Aku mau nanya boleh?" ucap Abrisam yang langsung di mengerti Mamanya.
"Mama tahu apa yang kamu maksud," jawab wanita itu mencoba tersenyum.
Dia menghela nafas pelan sebelum lanjut bicara.
"Kabar mengenai Shafia benar adanya, kedua orang tuanya membawa pulang istrimu." Jelas Ririn pada putranya
"Kenapa Mama tidak menahannya agar tidak ikut?" Abrisam kembali bertanya.
Butuh beberapa menit bagi Ririn baru bisa menjawab.
"Sayang dengarkan Mama! Kamu mau tahu kenapa mereka membawa Shafia pergi?" tanya Ririn yang di balas anggukan oleh Abrisam.
Wanita itu diam sejenak. Dia pun bingung harus dari mana memulai cerita, apa ucapannya nanti tidak akan menyakiti perasaan putranya.
"Bri, sebelumnya Mama mau tanya sesutu boleh?"
__ADS_1
Abrisam hanya menganggukan kembali kepalanya, ia begitu lelah sekarang.
"Tadi pagi kamu bersama siapa di Apartement?"
Pertanyaan itu pun lolos dari mulut Ririn. Biarlah dia ingin tahu kejadian yang sebenarnya.
DEG
Yang di tanya bukannya Menjawab.
Abrisam begitu takut jika alasan kepergian Shafia justru ada kaitannya dengan masalah tadi pagi.
"Mamah kok nanya begitu. Kan, semalam aku bilang ke Mama kalau Ariana nginap di Apartemnt. Tentu aku sama Ariana semalam," jawabnya namun sangat jelas raut wajah gelisahnya.
"Jangan bohong sama Mama," tegas Ririn menatap serius putranya.
"Apa wanita itu datang menemui mu, Bri?" tanyanya lagi.
Pertanyaan Ririn tepat sasaran melihat kebungkaman Abrisam.
Ya Tuhan, apa yang telah terjadi. Bathinnya tidak percaya
Riri langsung bangkit dari duduk bersiap untuk pergi.
Abrisam yang sadar akhirnya buka suara.
"Mama mau kemana?"
Ririn tidak menjawab pertanyaan putranya, percuma dia berbicara. Rasa lelah dan pusing mulai di rasakannya.
"Mama kok diam? Katakan lah sesuatu," desak Abrisam yang bingung akan perubahan sikap Sang Mama
Akan Tetapi, Ririn masih keukeh tidak mau buka suara, diamnya menyimpan tanda tanya besar di benak Abrisam.
"Kamu Bikin Mama Kecewa Abrisam."
DEG
Perkataan Ririn menampar keras wajah Abrisam.
Kali ini ia tidak akan mengelak lagi. Hanya ada satu jawaban mengapa wanitu itu sampai mengeluarkan kalimat seperti itu.
"Mah, jangan bilang kalau." Tebak Abrisam dengan cepat langsung di iyakan sang Mama
Ngga mungkin, Mamanya pasti berbohong. Pikir Abrisam
Siapa sangka tindakannya tadi pagi justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Lemas sudah seluruh tubuh Abrisam, jika benar yang ia pikirkan. Berarti kejadian tadi pagi sudah di ketahui Shafua.
Apa mungkin kedua mertuanya pergi membawa istrinya jauh? Apa yang harus Abrisam lakukan.
"Maafkan Abrisam, Mah. Tolong bawa Kembali Shafia, istriku."
πππππ
Jangan Lupa...
Minta Like Dan Komennya..
__ADS_1
Yuk Ramaikanπ€π€