Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 47 ~ Tidak Marah


__ADS_3

Tepat hari ini, Shafia mulai masuk kuliah.


Abrisam yang kebetulan juga akan pergi ke perusahaan memilih untuk mengantar istrinya terlebih dahulu.


"Kok By, yang antar sih? Kan, Zoya sama Vivi bakalan kesini jemput aku." Kesal Shafia yang tidak suka di antar oleh suaminya


"Nurut sama suami atau dapat hukuman!" Tegas Abrisam tidak ingin di bantah


Shafia merenggut kesal menghentakkan kakinya ke lantai, dia tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya. Sedikit-sedikit protes, hanya ke kampus saja maunya ia yang akan mengantarnya.


"Kasian bangat sih, aku. Padahal udah capek-capek dandan biar bisa jalan-jalan bentar bareng Zoya dan Vivi. Ehh, malah di jaga ketat sama Beruang Kutub." Sentaknya tanpa sadar terdengar oleh Abrisam


"Ngumpat terus sayang."


"Kualat sama suami baru tahu rasa."


Shafia terlonjak kaget, mendengar suara suaminya yang berdiri di depan pintu sembari menatap tajam ke arahnya.


"Ehhh, ada suamiku yang tampan. Aku ngga ngomong macam-macam loh, serius deh."


Shafia menyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ketahuan tengah mengumpati suaminya benar-benar memalukan.


Bukan Abrisam namanya kalau tidak pernah tahu tabiat Shafia jika kemauannya tidak akan di turuti.


"Aku belum budek, nih kuping masih bisa dengar sayang. Apalagi kalau mendengar jeritan seseorang jika lagi berada di puncaknya." Balas Abrisam sudah berlari keluar dari kamar sambil tertawa terbahak-bahak


Mata Shafia membulat sempurna mendengar ucapan dari pria tampan itu.


"Abrisam." Teriaknya ikut keluar kamar


Alhasil, aksi kejar-kejaran pun terjadi.


Tidak ada pertengkaran yang terjadi antara keduanya, kadang membuat Shafia merasa nyaman. Memang Abrisam tidak pernah sekalipun berlaku kasar, dan mungkin hanya gadis itu yang akan marah dan mengomel jika ada hal yang tidak disukainya.


Sepuluh menit kemudian, mobil milik Abrisam sudah tiba di kampus.


Banyaknya mahasiswa dan mahasiswi yang kesana kemari membuat pria tampan itu risih menjadi pusat perhatian.


"Aku bilang juga apa, By. Ngga usah di antar segala sampai dalam kampus." Cetus Shafia merenggut kesal


"Diam dan jangan membantah!" Tegas Abrisam bersikap serius membuat Shafia tercengang


"Wahh, ngga benar nih." Gumam gadis itu mentap jengkel kearah suaminya


Sejak masuk kampus pria tampan itu terus menggenggam erat tangannya tanpa peduli jika keduanya menjadi bahan tontonan gratis.


.


.


Tok tok tok


"Masuk!" Sahut seseorang dari dalam ruangan saat Abrisam mengetuk pintu.


Ceklek


Ruangan yang lumayan besar itu terdapat beberapa orang tengah sibuk mengerjakan sesuatu.


Seseorang yang di cari Abrisam langsung bergegas menghampirinya yang masih berdiri di depan pintu bersama Shafia.


"Mari masuk, Tuan Abrisam!" Ucap seorang pria berusia sekitar 45 tahun mempersilahkan mereka untuk masuk


"Tidak perlu Pak Regan, kedatangan saya kemari hanya untuk mengantarkan istri saya masuk kuliah. Ada rapat jam 09 nanti, saya tidak bisa lama-lama di sini." Sahut Abrisam menolak halus ajakan dari orang yang nantinya akan bertanggung jawab mengawasi Shafia selama berada di kampus


"Baiklah kalau begitu, Tuan Abrisam tenang saja. Saya akan mengawasi Istri anda dengan baik."


Abrisam hanya mengangguk paham, ia kembali menghadap Shafia yang hanya diam menatap bingung ke arahnya.

__ADS_1


"Kenapa bengong sayang?"


Shafia hanya menggelengkan kepala ketika di tanya.


"Jangan bertanya dulu, aku harus segera ke Kantor. Hubungi aku jika ada apa-apa."


Abrisam berpesan pada istrinya sebelum berpamitan, di ciuminya kening dan kedua pipi Shafia yang hanya diam tanpa suara.


Gadis itu hanya mengangguk, sorot matanya seakan meminta penjelasan.


"Jangan menatap ku seperti itu sayang. Tidak ada apa-apa, ini adalah Pak Regan, selaku pembimbing mu nanti selama di sini. Nanti Kamu juga bisa memanggilnya Paman jika berada di luar kampus."


"Paman?" Sahut Shafia bingung


"Iya sayang, beliau adalah kerabat jauh Papa yang bertugas di sini." Jawab Abrisam menjelaskan


Shafia yang memang belum paham tidak lagi banyak bertanya.


Sepeninggalan Abrisam, tidak lama kemudian kedua anak gadis yang di tunggu kedatangannya akhirnya tiba.


Shafia yang kebetulan sudah masuk lebih dulu di ruangan memilih membaca buku yang beberapa waktu lalu di belinya.


Doorrr ...


Suara Vivi dan Zoya mengagetkannya.


"Serius amat sih Neng, lagi baca apa?" Heran Vivi bertanya


"Kamu kayak ngga tahu ajah, Vi. Kelakuan Shafia, kalau bukan baca buku paling juga baca novel sama komik." Timpal Zoya menjawab pertanyaan sahabatnya


"Aku bosan." Ungkap Shafia berkata jujur


"Bosan kenapa lagi? Bukannya semalam senang banget, kenapa pagi ini lain lagi." Tanya Vivi


"Tau nih, baru juga hari pertama masuk kuliah masa udah ngga ada semangat-semangatnya sama sekali." Cebik Zoya merasa ada yang aneh dengan tingkah sahabat satunya itu.


Shafia yang sedikit tidak nyaman memilih untuk diam meski kedua sahabatnya itu terus bertanya.


Sejak keluar dari ruangan, Shafia tidak banyak bicara atau sekedar basa basi.


Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, bahkan panggilan telefon dan pesan dari suaminya pun di abaikan.


Ngga mungkin kalau sampai yang di bilang Paman benar adanya kan?


Shafia teringat perkataan dari Tuan Regan manakala pria itu menyampaikan perihal siapa sebenarnya Abrisam.


Entah benar atau tidak, untuk sekarang berpura-pura tidak mengerti adalah solusi paling benar.


"Sha, beneran kamu gak apa-apa?" Tanya Zoya merasa ada yang tidak beres dengan gadis itu


"Iya Sha, jangan bikin kita berdua khawatir. Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita, iya ngga Zo?" Timpal Vivi yang langsung di benarkan Zoya


"Aku ngga apa-apa kok, cuma ada masalah sedikit ajah. Biasalah mood kadang suka berubah-ubah."


Shafia tidak ingin melibatkan para sahabatnya dalam masalah ini, biarlah dia mencari tahu sendiri.


"Eeh, gimana kalau aku ikut kalian ke Apartement, bentar lagi jam pulang. Aku bosan nungguin Abrisam sendirian di hotel."


Shafia berencana untuk tidak kembali dulu ke hotel, sebab pikirannya masih sedikit kacau.


Dengan berada di dekat sahabat-sahabatnya setidaknya bisa menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang mulai menyelimuti otaknya.


"BOLEH BANGET ..." Sahut keduanya berbarengan di barengi gelak tawa


.


.

__ADS_1


Tepat pukul 01 siang, jam pulang kuliah akhirnya tiba.


Shafia yang akan ikut ke tempat kedua sahabatnya begitu antusias. Beberapa menit yang lalu Shafia juga sudah mengirim pesan pada Abrisam, tapi belum mendapat balasan. Mungkin suaminya lagi sibuk.


#Apartement


Sesampainya di Apartement, ketiga gadis itu memilih untuk istirahat sebentar.


Baik Vivi maupun Zoya tidak ada yang berani bertanya pada Shafia, mereka akan memilih diam jika gadis itu tidak mau bicara.


"Siapa yang telefon, Sha?" Tanya Zoya ketika mereka sedang berada di ruang tamu.


"Abrisam." Jawab Shafia malas


Membuat kedua gadis itu hanya bisa saling pandang.


"Aku balik ya, kayaknya Abrisam sudah sampai." Sambungnya berpamitan


"Ya sudah, hubungi kita kalau ada apa-apa ya!" Pesan Vivi hanya di balas anggukan kepala gadis itu


Selama perjalanan menuju hotel, Shafia terus menutup rapat mulutnya.


Abrisam yang heran selalu bertanya, tetapi tidak mendapat respon sama sekali.


Bahkan, Hanif yang berada di kursi depan samping sopir memilih untuk tidak ikut campur masalah Bosnya.


Cih, palingan juga **N**yonya Muda sedang kesal.


Pria tampan berkaca mata itu sesekali melirik kearah belakang lewat kaca, senyum mengejek terukir jelas di wajahnya.


Rupanya ada juga hari di mana bukan Bosnya yang biasanya mendiamkan sang Nyonya Muda, melainkan pria tampan itu lah yang sekarang justru di diamkan oleh gadis itu.


#Kamar Hotel


Sepulang dari kantor dan menjemput Istrinya, kini Abrisam di buat uring uringan oleh gadis itu yang belum juga mau berbicara padanya.


"Sayang."


"Ya ampun, dari tadi di tanyain malah diam mulu."


"Kamu kenapa, Sha? Kalau ada apa-apa ngomong sama aku. Kan, aku bingung kalau kamu diam begini."


Hampir berjam-jam lamanya Abrisam terus berusaha mengajak istrinya untuk bicara, tetapi Shafia justru menolak untuk buka suara.


Semua rayuan dan keisengan di buat Abrisam agar Shafia mau berbicara..


"Berhenti, By. Ampun, jangan sentuh bagian itu." Teriak Shafia menahan geli tubuhnya menjadi sasaran kejahilan Abrisam


"Ampun, By. Aku ngga kuat," Shafia terus memohon agar suaminya mau berhenti menggelitiknya.


Lima menit kemudian pria tampan itu akhirnya berhenti, rasanya sungguh menyakitkan bila tiba-tiba di diamkan oleh orang yang sangat di cintainya.


"Jangan diam seperti ini lagi, aku ngga suka." Pinta Abrisam dengan tatapan sedih


"Maaf--, maaf atas apa yang telah aku lakukan. Jika ada yang membuat mu tidak nyaman katakan saja, bukankah masalah kemarin aku telah berkata jujur."


Matanya sudah berkaca-kaca pertanda betapa sakitnya di diamkan tanpa tahu apa sebabnya, bahkan saat di kantor Abrisam tidak lagi fokus bekerja.


Ya Tuhan, betapa berdosanya aku yang telah membuat pria di hadapan ku ini menangis.


Tanpa menunggu lama Shafia memeluk erat tubuh gemetar suaminya yang menahan tangis.


Ada rasa sesak dalam hatinya saat melihat betapa rapuhnya pria yang begitu menciantainya tanpa merasa bosan.


"Aku tidak marah, By. Hanya saja ada sedikit kurang nyaman dalam hatiku." Ucap Shafia berterus terang


Kedua tangannya menangkup wajah sang suami yang masih terisak, inikah pria tampan yang dingin dan keras kepada semua orang?

__ADS_1


Nyatanya di depan Shafia, ia begitu rapuh dan mudah tersentuh. Rasa sayang dan cintanya telah mengalahkan sikap ego yang mendarah daging.


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2