
Tepat jam 04:00 sore.
Shafia selesai bekerja. Dia memang sudah janji tidak akan bekerja sampai malam. Mengingat statusnya yang bukan lagi seorang gadis yang belum menikah, tentu tanggung jawabnya sebagai istri lebih utama sekarang.
"Nanti ada yang jemput kamu, Sha?" Tanya Zoya
"Iya, Abrisam mau jemput katanya." Jawab Shafia singkat.
"Tapi perasaan aku ngga enak Zoo." Keluhnya merasa sedikit gelisa
"Kenapa? Bukannya kamu senang udah ketemu sama Abrisam?" Tanya Zoya bingung
Sahabat Shafia itu merasa sedikit aneh.
"Aku takut bangat Zoo, kemarin aku ngga pulang ke rumah." Adu Shafia bicara jujur
"Memangnya kemarin nginap di mana?"
"Aku ikut Abrisam pulang ke rumahnya, kebetulan rumah itu baru kelar beberapa hari lalu saat aku ngha ada. Dan parahnya lagi kepergian ku malah menimbulkan masalah besar." Jelas Shafia sesekali membuang napas kasar
"Terus kamu ngga kasih tahu Paman dan Bibi?" Tanya Zoya lagi yang langsung di balas anggukan kepala oleh Shafia.
"Wahh, parah. Udah tahu mereka akan marah kenapa juga kamu ngga kasih kabar sih?"
Zoya benar-benar sangat gemas pada Shafia.
"Terus akunharus gimana dong Zoo? Sumpah, aku takut kalau mereka marah."
Shafia bingung harus bilang apa nanti saat bertemu dengan Ayah dan Ibunya, mengingat ini kali pertama gadis itu melakukan kesalahan.
"Hadapin aja Sha! Lari ngga bakalan dapat apa-apa yang ada kamu malah kena amukan keluarga suami mu juga." Saran Zoya
"Huhh, apes benar dah hidup aku. Kalau bukan karena nih mulut bisa di ajak kompromi, mungkin waktu itu aku ngga akan ketemu Abrisam lagi." Sesal Shafia teringat kejadian saat di New York
"Aarrgh, mau gila rasanya." Teriaknya lumayan kuat
"Percuma kamu koar-koar, ngga bakal balik lagi ke kejadian semula. Udah jadi takdir kamu harus bertemu dengan pria itu. Lagi pula Abrisam kan, tampan dan juga kaya lagi. Siapa sih yang ngga mau punya suami macam laki kamu. Kalau masih ngga mau juga, mending kasih ke aku. Lumayan buat nambah koleksi." Ucap Zoya meralat perkataan Shafia
Kedua bola mata gadis itu membulat sempurna.
"Enak ajah kalau ngomong ngga pernah benar, jaga tuh mata Zoo. Bisa-bisanya suami ku mau kamu embat juga." Sungut Shafia kesal
"Makanya jangan banyak mikir yang aneh-aneh."
Sebenarnya Zoya hanya bercanda saja, gadis itu sengaja bicara begitu karna tidak sengaja matanya menangkap sosok yang Zoya tahu itu siapa.
Dia hanya menggoda Shafia.
Sha--, Sha. Udah jadi suami mu tapi masih ajah ada yang mau merebutnya. Gumamnya bebicara dalam hati
Zoya bukannya tidak tahu perihal Shafia yang pergi tiba-tiba tanpa ada berita.
__ADS_1
Zoya merupakan sahabat terdekat Shafia, semua yang menyangkut gadis itu sudah pasti Zoya juga tahu.
Deheman seseorang mengalihkan perhatian Shafia yang masih terus berbicara, gadis itu memutar tubuhnya kebelakang untuk melihat siapa orang itu.
DEG
"Abrisam, sejak kapan kamu di situ?" Tanya Shafia kaget
Pria itu berjalan ke arahnya.
"Sepuluh menit yang lalu." Jawabnya santai
Shafia melongo mendengar jawaban suaminya. Matanya langsung menatap tajam sahabatnya seakan bertanya mengapa tidak bilang jika ternyata suaminya sudah tiba.
Benar-benar sahabat ngga ada akhlak. Pikir Shafia
"Kok melamun sayang?" Tegur Abrisam menyentuh pelan pipi kanan istrinya
Gadis itu langsung tersadar.
"Haa, aku ngga melamun kok. Tadi cuma kaget ajah tiba-tiba kamu udah ada di belakang." Elaknya tidak mau jujur
Abrisam dan Zoya tertawa bersama melihat raut wajah panik Shafia yang sangat lucu.
"Udah sana pulang." Usir Zoya tidak tahan
"Wah, kebangatan bangat jadi sahabat main ngusir ajah." Protes Shafia tidak terima
Zoya hanya mengangguk, gadis itu masih saja menggoda Shafia yang entah sudah sekesal apa sahabatnya itu.
"Kenapa aku di tarik sih? Tuh anak harus di kasih pelajaran biar tahu rasa." Dengus Shafia kesal
Saat ini keduanya sudah berada dalam mobil Abrisam.
Kereta besi itu sudah keluar dari area Restaurant.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membela jalan raya yang lumayan ramai kendaraan belalu lalang, mengingat ini sudah jam keluar Kantor, sudah bisa di pastikan semacet apa.
Selama perjalanan, tidak ada obrolan sama sekali yang terjadi. Shafia rupanya tertidur.
Abrisam yang tahu jika mungkin gadis itu kelelahan membiarkannya tidur dengan posisi duduk di atas pangkuannya. Hal yang baru saja jadi perdebatan keduanya sebab Shafia tidak mau, namun akhirnya menurut juga.
"Kalau tenang begini kan enak." Gumam Abrisam pelan
Dua puluh menit kemudian, akhirnya mobil sampai juga di kediaman keluarga Arqa.
Usai memarkirkan mobil di garasi, Abrisam keluar berjalan sedikit cepat menuju pintu utama bangunan mewah tersebut.
"Assalamualaikum." Ucapnya memberi salam
Bunyi suara bel terdengar.
__ADS_1
Dari arah dalam seseorang menjawab salam.
Ceklek
"Maaf dengan siapa?" Tanya seorang pelayan yang membukakan pintu untuk Abrisam
"Saya Abrisam. Apa Tuan Arqa dan Nyonya Aina ada di dalam?" tanya pria itu balik.
"Ya Ampun, Aden toh. Mari masuk Den! Loh Ini Nona Shafia kenapa?"
Pelayan itu bingung ketika melihat majikannya berada di gendongan Abrisam.
"Ngga apa-apa Bibi, ini tadi Shafia ketiduran di mobil." Jawab Abrisam berjalan masuk ke dalam rumah
Ia langsung membawa istrinya ke kamar yang sebelumnya sudah di beri tahu pelayan tadi.
Sementara di sebuah kamar terdapat Arqa dan Aina yang kebetulan sudah rapih.
Hari ini, mereka akan menghadiri acara penyambutan salah satu sahabat Arqa.
Tok tok tok
"Masuk!" Ucap Aina dari dalam kamar
"Siapa sayang?" Tanya Arqa saat pria itu keluar dari ruangan pakaian
Aina menggeleng tidak tahu.
Pintu di buka sedikit lebar menampilkan sosok seorang wanita tua berusia 40 tahun.
"Maaf Nyonya, itu di bawah ada Suami, Nona Shafia."
Arqa dan Aina saling pandang.
"Maksud Bibi adalah cucu Nyonya Qiemyl?" Tanya Aina langsung di iyakan wanita itu
"Bagaimana bisa anak itu datang kemari? Sayang. Sebaiknya kita turun dan melihatnya." Kaget Arqa langsung keluar kamar bersama Aina
Pria itu merasa sedikit aneh, bagaimana bisa menantunya tiba-tiba sudah ada di kediamannya.
Dari arah tangga langsung bisa di lihat sosok pria yang sedang duduk dengan posisi membelakangi tangga, siapa lagi kalau bukan Abrisam.
Pria itu langsung turun ke lantai bawah setelah mengantar Shafia ke kamar.
"Abrisam, kau kah itu?"
🍃🍃🍃🍃🍃
Jangan Lupa Gays😉😉😉
Semoga masih ada yang suka dengan cerita Abrisam dan Shafia.
__ADS_1