
Sudah dua hari berlalu, rumah Abrisam dan Shafia sangat ramai.
Selama datang berkunjung tidak ada satu pun yang sibuk jalan-jalan keluar atau sekedar shoping.
Adanya sang Nyonya Iriana yang juga ikut datang, membuat Ririn dan Aina tidak bisa pergi kemana pun. Berbeda dengan Adnan dan Arqa yang tidak suka keluar rumah apalagi sampai membuat badan mereka sakit semua.
Dan hari ini atau lebih tepatnya dari pagi hari sampai malam, mereka berencana untuk mengadakan pesta kecil-kecilan. Beberapa orang yang bisa di bilang sudah dekat dengan Shafia atau Abrisam, ikut di undang dalam pesta yang mereka adakan.
"Nanti siapa yang keluar untuk belanja semua bahan makanannya?" Tanya Ririn
"Aku takut keluar, kalau sampai nyasar gimana." Sahut Aina menolak
Sedangkan Adnan dan Arqa sudah lari entah kemana saking tidak mau di suruh membeli semua bahan makanan yang di butuhkan istri-istri mereka.
Nyonya Iriana memilih duduk diam sambil menonton film kesukaannya di layar TV, tiba-tiba saja ide cemerlang muncul di otak Ririn.
Tanpa menunggu lama wanita itu naik ke lantai atas, tidak tahu siapa yang jadi korban dua ibu-ibu pembuat keributan setiap hari.
.
.
#Dalam Kamar
Shafia baru saja selesai mengurus suaminya seperti biasa.
Baik Abrisam libur atau pergi bekerja tetap saja gadis itu memanjakan sang suami seperti mengurus bayi.
"Kalau sampai mereka lihat Hubby kayak gini apa ngga malu." Gemas Shafia tertawa geli
Abrisam tidak bergeming, ia begitu asik berlama-lama menyembunyikan wajahnya di balik punggung sang istri.
Posisi Shafia yang berada di atas pangkuannya, memudahkan Abrisam berlama-lama memeluk erat istrinya.
"Udah dong By, kasihan di bawa semua pada nungguin kita." Kesal Shafia mulai tidak nyaman
"Aku masih ngantuk banget, sayang." Sahut Abrisam lemas
"Nanti di sambung lagi ya tidurnya, sekarang kita turun dulu ke bawah. Kasihan Mama dan Ibu kan, ngga bisa nyentuh dapur sekarang." Balas Shafia tanpa sadar menyebut sesuatu
__ADS_1
Abrisam yang penasaran akhirnya meminta istrinya agar mau cerita.
"Kok ngga boleh masuk dapur, alasannya apa? Mustahil banget kan, kalau sampai di bilang ngga bisa masak." Tanyanya sembari tertawa
"Gini. Kemarin kan, yang tinggal di rumah ada Nenek, Mama, Bibi Ratni dan Ibu. Terus, Ayah sama Papa kebetulan lagi beli sesuatu di luar, Bibi lagi masak buat makan siang. Nah, udah jadi kebiasaan Ibu kalau ada yang masak pasti ikut bantuin juga, Mama pun sama ngga mau kalah." Terang Shafia berhenti sejenak
"Tapi. Bibi ngelarang keras mereka buat masuk dapur, tahu sendiri 'kan gimana Bibi. Parahnya lagi, Ibu sama Mama tetap keras kepala dan tidak mau menuruti perkataan Bibi, akhirnya Nenek turun tangan juga sampai di hukum tuh mereka berdua." Lanjutnya sudah tertawa
"Nenek kasih hukuman apa?" Tanya Abrisam lagi
Ia begitu senang jika Shafia banyak bicara, mengingat akhir-akhir ini mood istrinya kurang baik.
"Di kasih hukuman selama di sini ngga boleh masak dan keluar rumah apapun alasannya, aku ajah sampai heran loh pas Bibi cerita masalah kemarin."
"Jadi sekarang kita." Ucap Abrisam terputus
"Iya, kita yang akan keluar belanja semua bahan makanan hari ini." Kata Shafia dengan antusias
"Pergi ke pasar juga?" Tanya Abrisam sedikit tidak nyaman
Salah satu tempat yang paling pria itu benci, pergi ke pasar bukanlah keahliannya.
"Iya, Hubby sayang. Ngga usah manja dan cepat turun ke bawah, jangan tunggu Mama yang dobrak pintu kamar kita." Jawab Shafia langsung menarik lengan suaminya keluar dari kamar
Untung sayang dan cinta. Gumam Abrisam dalam hati
Saat di tangga, Shafia melihat Mama Ririn hendak naik ke lantai atas.
"Loh, Mama mau kemana?" Tanya Shafia bingung
"Eh, kalian ternyata sudah mau turun ya. Mama kira tadi masih tidur, jadi Mama rencananya mau manggil kalian turun ke bawah." Jawab Ririn tersenyum manis
Abrisam yang paham akan maksud dan tujuan Mamanya itu, dengan cepat menarik Shafia turun menuju garasi.
Teriakan Mama Ririn tidak di hiraukannya, sementara Shafia hanya bisa membuang napas pelan melihat kekesalan suaminya pada Mama Ririn.
"Udah dong By, jangan kesal lagi." Pinta Shafia menenangkan Abrisam
"Gimana ngga kesal, sayang. Asal kamu tahu ajah ya, Mama pergi ke kamar kita itu bukan hanya sekedar minta keluar belanja, tapi ada maksud lain juga." Jelas Abrisam jujur
__ADS_1
Shafia hanya tersenyum mendengar perkataan yang keluar dari mulut suaminya, tanpa di jelaskan pun dia tahu kemana topik pembicaraan suaminya.
"Mungkin udah pengen banget kali By, gendong cucu." Kekeh Shafia seakan tanpa beban
"Tapi aku masih ingin berdua sama kamu, sayang." Keluh Abrisam memang belum kepikiran untuk memiliki anak
Pertanyaan sang Mama dua hari lalu setelah sampai dari bandara, masih begitu kental di ingatan Abrisam.
Akan tetapi, ia justru tidak mau sampai terburu-buru sebab usia Shafia baru saja 19 tahun. Ada rasa khawatir dalam hatinya bila membayangkan sang istri hamil di usia terbilang muda.
.
.
Semua bahan makanan yang di butuhkan sudah selesai di beli Shafia dan Abrisam, keduanya langsung pulang ke rumah tanpa mampir di suatu tempat sekedar bersantai sejenak.
Sampai di rumah semua barang belanjaan di bawa masuk oleh Adnan dan Arqa yang kebetulan berada di halaman depan rumah.
Kedatangan Shafia yang masuk ke dapur langsung di sambut sang Bibi, hanya dua wanita itulah yang akan memasak di dapur.
Menjelang sore semua tamu undangan sudah berdatangan, beberapa dari mereka membawa hadiah untuk Abrisam dan Shafia.
Suasana pesta yang lumayan ramai mampu menjadikan rumah pasangan suami istri tersebut di penuhi canda tawa, semua menikmati pesta dengan tenang.
Keseruan keluarga yang datang berkunjung, menjadi pengobat rindu Shafia dan Abrisam.
"Aku bahagia, By." Ucap Shafia terharu
"Aku juga, sayang." Sahut Abrisam memeluk erat sang istri
Entah sampai jam berapa pesta yang berlangsung dari sore tersebut, banyaknya tamu undangan yang datang meramaikan membuat mereka lupa jika malam semakin larut.
Tepat jam 11 malam, semua orang baru masuk ke dalam kamar masing-masing.
"Pasti besok Nenek marah-marah lagi." Kekeh Shafia sudah membayangkan bagaimana Nyonya Iriana ketika marah
"Kan, yang keras kepala Mama dan Ibu. Jadi biarkan saja kalau sampai mereka kena omel lagi." Sahut Abrisam ikut berbaring di samping istrinya
Keduanya masih mengobrol sampai larut malam, rasa kantuk yang tidak bisa di tahan lagi akhirnya membuat pasangan suami istri tersebut langsung terlelap terbuai mimpi.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃
Jangan lupa tinggalkan likenya juga ya.