Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 19 ~ Sisi Lain


__ADS_3

Usai makan malam. Shafia mengajak Abrisam pergi ke halaman samping rumah.


Di sana terdapat sebuah tempat yang cocok untuk bersantai di malam hari.


"Nyamannya." Ucap Shafia yang duduk bersandar di salah satu kursi santai samping kolam


Gadis itu menutup matanya sejenak, menghirup udara segar di malam hari.


Lima menit kemudian matanya perlahan terbuka.


"Bukankah malam ini sangat indah?" Tanya Shafia sembari menatap langit biru tampak tidak ada satupun bintang di sana


Untuk beberapa saat mereka terdiam, menikmati suasana malam hari yang sebenarnya terasa hampa, tetapi keduanya menolak untuk terus terang.


"Kau tahu. Sebenarnya aku masih belum terima akan pernikahan ini. Sesuatu yang tidak pernah sekalipun terlintas di pikiran ku, nyatanya justru sekarang malah terjadi."


"Aku bukan gadis yang sempurna, juga bukan dari keluarga yang berada. Aku hidup dengan serba cukup, banyaknya masalah yang datang kadang membuat ku harus berusaha lebih dewasa. Berusaha agar bisa mandiri, menahan semua rasa sakit dan lelah sendiri."


Shafia menghentikan sejenak ucapannya, ada rasa sesak dalam dadanya namun berusaha dia tahan.


"Awalnya aku hanya berharap jika suatu saat nanti semua perjuangan ku selama ini akan membuahkan hasil. Cukup melihat Ayah dan Ibu tersenyum bahagia sudah membuat ku sangat bersyukur."


"Betapa beruntungnya mereka yang masih bisa bersenang-senang menjalani hidup layaknya anak gadis pada umumnya."


Ada genangan air di ujung matanya.


"Kau tahu. Selama ini, aku berusaha untuk diam tanpa membantah. Mengikuti semua jalan cerita mu yang entah sampai kapan akan berakhir, bohong jika aku tidak merasa marah. Aku juga seorang wanita, yang memiliki hati dan perasaan."


"Sampai kapan aku begini Abrisam? Katakan padaku!"


Pecah, tangis Shafia akhirnya pecah sudah.


Dia yang di kenal sebagai sosok gadis yang kuat dan tegar, nyatanya menjadi lemah di hadapan seorang pria yang berstatuskan suaminya.


Sebenarnya. Shafia tidak ingin membahas masalah ini, namun hatinya tidak bisa di bohongi. Mungkin bisa di bilang dua bulan adalah waktu yang singkat baginya dapat mengenal Abrisam lebih jauh.


Akan tetapi, karna sikapnya yang mudah peka dan tersentuh mampu membuat jarak keduanya perlahan mulai hilang.


"Aku lelah. Berapa kali aku katakan padamu jangan melangkah lebih jauh lagi, jika tidak ingin ada yang tersakiti.


"Aku berusaha menghindar bahkan sampai harus bersembunyi tapi nyatanya apa? Kau masih saja nekat mencariku, parahnya lagi sampai harus memaksa untuk menikah."

__ADS_1


"Apa sebenarnya mau mu, haa? Jawab!"


Shafia benar-benar kehilangan akal sehatnya, dia sunggu tidak peduli jika ada yang tanpa sengaja mendengar apa saja yang di ucapkannya.


Melihat betapa tersiksanya gadis cantik yang berada di hadapannya, dengan cepat Abrisam meraih tubuh bergetar Shafia agar masuk dalam pelukannya.


"Maaf--, maafkan aku." Lirihnya penuh sesal


"Aku tahu yang aku lakukan salah. Aku tahu jika semua ini pasti akan membuat mu kecewa. Tapi aku sungguh mencintaimu, jangan paksa aku untuk menyerah. Karna semua itu takan mampu ku lakukan." Mohon Abrisam masih terus memeluk erat Shafia


Sekuat apapun gadis itu ingin melepaskan diri, tetap saja tidak bisa.


.


.


Cukup lama keduanya terdiam masih dengan posisi yang sama.


Shafia dengan rasa lelah di hatinya dan Abrisam masih tetap memeluk erat dirinya.


"Kau milikku, istriku. Sampai kapan pun takan aku biarkan kau lepas dariku, jangan pernah mencoba untuk pergi." Tekan Abrisam dengan tegas


DEG


Abrisam langsung terdiam, ketika pertanyaan Shafia barusan bagai sebuah pisau tajam yang menghujam jantungnya.


"Sayang--, jangan lagi." Pintanya memohon


Ia cukup lelah jika harus berdebat dengan Shafia, jelas-jelas gadis itu tahu siapa sebenarnya yang di maksud.


Shafia merenggut kesal, melepas paksa pelukan tangan Abrisam dari tubuhnya.


"Aku memberimu waktu satu bulan. Jika dalam sebulan kau masih belum juga menyingkirkan wanita ular itu, jangan harap aku akan memberikan hak mu."


Shafia memberikan kesempatan pada Abrisam untuk mengurus masalahnya sendiri, dia takan ikut campur.


Shafia akan mulai bertindak jika nanti Abrisam gagal membuat wanita itu pergi.


"Sayang, mana bisa hanya dalam sebulan aku harus menyelesaikan semuanya." Keluh Abrisam mulai protes


"Apa? Kau tidak bisa melakukannya?" Tanya Shafia geram

__ADS_1


"Jangan lupa Abrisam, kau masih ingat bukan kalimat yang pernah aku ucapkan waktu itu?" imbuhnya mengingatkan.


##


Jangan samakan aku dengan wanita-wanita lain di luar sana, yang hanya diam pasrah saat miliknya di sentuh orang lain. Jika masih dalam hubungan kekasih mungkin aku akan diam saja, tapi ini beda Abrisam. Kita sudah menikah, Aku sudah jadi istrimu dan kau jadi suamiku. Hubungan Antara dua insan yang berbeda jenis, di satukan dalam ikatan tali pernikahan, dua hati yang di jadikan satu rasa, dua jiwa yang di satukan menjadi kita.


Mungkin di luar sana mereka hanya akan duduk diam ketika tahu ada wanita lain mencoba masuk dalam rumah tangga mereka. Tapi tidak dengan aku, lamanya sebuah hubungan kedekatan yang di jalin walau hanya dalam bentuk pertemanan takan menjamin kebahagiaan.


Singkatnya pertemuan yang terjalin menjadi satu ikatan suami istri jauh lebih murni Abrisam. Kau boleh saja timbul rasa suka pada wanita lain, tapi satu hal yang perlu kau ingat.


Jangan harap aku hanya akan menunggu di tempat dengan mencari bukti atas kejahatan mu, diam membisu sampai membiarkan hubungan kalian berlarut-larut, diam tanpa bertanya dan bertindak, diam tanpa membalas atau melawan..


Kau Salah jika berfikir aku akan seperti itu. Pernikahan hanya sekali bagiku, mencintai sekali, menyukai sekali, dan menyayangi cukup hanya sekali.


***


Abrisam menelan kasar salivanya.


Perkataan Shafia ada benarnya. Istri mana yang rela bila suaminya memiliki wanita lain di luar sana.


Mampus kau, Abrisam. Kali ini gadis yang kau nilai bukanlah bidadari berhati lembut. Melainkan Malaikat yang selalu siap mencabut nyawa mu kapan saja.


Pria itu bergidik ngeri kala membayangkan sesuatu.


Di rasa jika kini Shafia mulai tenang, Abrisam mengajak istrinya tersebut agar segera masuk kedalam rumah.


"Sha, masuk ke dalam yuk!" Ajaknya


"Hmm."


Shafia bangkit dari tempat duduk, berjalan masuk kedalam rumah di ikuti oleh Abrisam.


Keduanya langsung naik ke lantai atas menuju kamar, Shafia yang lelah akibat banyak bicara memilih membaringkan tubuhnya di tengah kasur setelah sebelumnya sudah membasuh wajahnya dan menyikat gigi.


Sementara Abrisam berbeda, pria itu masih duduk bersandar di sofa panjang tepat di samping tempat tidur.


Ingatannya kembali merekam ucapan yang di lontarkan Shafia, hal yang baru kali ini ia tahu jika sisi lain gadis itu ternyata sangat ganas.


Bisakah ia menepati janji yang di berikan Shafia dalam sebulan.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2