
Cukup lama Abrisam melamun, mengulang kembali ingatannya di saat pertama kalinya Ia bertemu dengan Shafia.
Sebuah kalimat yang tidak sengaja di ucapkan gadis itu justru malah membawa Abrisam semakin dekat dengan Shafia.
Ucapan sembarangan yang di lontarkan gadis berusia 17 tahun yang tidak lama lagi mencapai usia 18 tahun itu, justru menjadi awal dari masalahnya.
Abrisam yang di kenal tidak dekat dengan wanita manapun tentu menggeparkan semua kaum wanita yang begitu ramai mengejarnya bahkan ada juga yang pernah ingin tidur dengannya.
Akan tetapi, mengingat sikap Abrisam yang dingin dan kejam tentu hal semacam itu tidak berguna.
Jika bukan karna Shafia sendiri yang cari gara-gara pada pria itu, mana mungkin sampai terjadi pernikahan yang begitu tiba-tiba.
Ibarat kata, sudah jatuh ketimpah tangga juga.
Shafia kena batunya karna asal bicara.
.
.
Jam menunjukkan pukul 02:00 siang.
Abrisam yang masih berada dalam ruangan miliknya masih sibuk mengecek dan menandatangani beberapa dokumen penting yang menumpuk selama ia tidak masuk kantor.
Beruntung Hanif tetap setia berada di sampingnya, sehingga memudahkan Abrisam dengan cepat menyelesaikan pekerjaan yang terbilang tidak sedikit.
"Hanif," panggil pria itu.
"Saya, Bos." Sahut sang Asisten.
"Apa ada kendala Bos?" Tanya Hanif langsung pada intinya
Abrisam menggelengkan kepala tidak.
"Semua aman, tinggal minta Shela menyusun kembali dengan rapih." Tukasnya sembari menyerahkan beberapa Map yang selesai ia periksa
"Apa ada lagi yang lain, Bos?" Tanya Hanif lagi
"Tidak ada. Sebaliknya kita akan pulang sekarang!" Jawab Abrisam bangkit dari kursi kebesarannya dan berlalu keluar ruangan
Hanif mengikutinya dari belakang, ia akan ke ruangan Sekertaris Shela lebih dulu kemudian langsung pergi.
Usai menyerahkan berkas yang di minta Abrisam agar di susun rapi oleh Sekertaris nya. Hanif dan Abrisam bergegas menuju lift yang langsung membawa mereka ke area parkiran khusus petinggi perusahaan.
Tring
__ADS_1
Pintu lift terbuka. Hanif dan Abrisam berjalan menuju sebuah mobil sedan warna hitam.
Mereka masuk ke dalam mobil, tanpa menunggu sang Sopir membukakan pintu. Bukan tanpa alasan Abrisam melarang, ia lebih suka terlihat sederhana dan biasa saja tanpa harus selalu menjadi pusat perhatian.
"Kita akan kemana Tuan?" Tanya Pak Sopir yang duduk di balik kemudi.
"Restaurant Zofia." Sahut Abrisam cepat
Mobil segera di jalankan keluar parkiran menuju jalan besar.
Suasana jalanan yang lumayan padat pengendara tentu sedikit memakan waktu. Tetapi untuk kali ini saja Abrisam berusaha tetap tenang dan sabar, jika ia sampai kesal hanya karna macet, bisa-bisa niatnya takan tersampaikan.
Sekotar dua puluh lima menit perjalanan, akhirnya mobil tiba juga di sebuah Restaurant yang cukup ramai pengunjung yang datang.
Dari dalam mobil, sepasang mata terus menatap lekat ke arah sebuah tempat di mana ada seorang gadis tengah sibuk melayani beberapa orang yang ingin memesan makanan.
Aku merindukan mu, kucing kecil.
Sebuah ungkapan perasaan yang hanya bisa Abrisam ucapkan dalam hati.
"Bos, apa perlu kita turun?" Tanya Hanif yang hanya di balas gelengan kepala dari Abrisam
"Tunggu sampai dia selesai melayani pengunjung baru kita turun." Jawabnya
"Baik Bos."
Mulai dari memperhatikan Shafia, tersenyum sendiri bahkan sampai berbicara sendiri. Semua tingkah laku Abrisam tidak luput dari mata Hanif yang sejak tadi melihat.
Bos ngga mungkin sampai stres kan, selama Nyonya Muda pergi tanpa kabar.
Hanif bergidik ngeri kala melihat Abrisam yang sejak tadi berbicara dan senyum-senyum sendiri.
Hampir satu jam lamanya, mobil yang di tumpangi Abrisam dan Hanif berada di depan halaman Restaurant, beruntung tidak ada yang menegur padahal sudah ada tempat parkir di sediakan.
Selang sepuluh menit, Restaurant mulai sepi pengunjung. Gadis manis yang sedari tadi di lihat Abrisam pun kini tengah asik duduk mengobrol dengan seorang gadis yang seumuran.
"Kita masuk ke dalam." Titah Abrisam keluar mobil bersaaman dengan Hanif
"Kau yakin Bos, akan kesana bertemu Nyonya?" Tanya Hanif kembali memastikan
Abrisam hanya diam masih setia menatap sang Istri yang begitu ia rindukan.
"Yakin atau tidak lebih baik di hadapi." Jawabnya sedikit kaku
Ada ketakutan tersendiri dalam hati Abrisam, bagaimana jika gadis itu malah menghindar.
__ADS_1
Tanpa sadar langkah kakinya terus berjalan masuk ke dalam Restaurant. Abrisam sontak berhenti saat di lihatnya gadis itu ternyata sudah menatap ke arahnya.
Lututnya merasakan gemetar, degup jantung yang mulanya normal kini mulai berdetak tidak karuan. Ia terus saja memohon dalam hati semoga gadis itu tidak pergi lagi menghindarinya.
Tidak kuasa menahan gejolak di dada, Abrisam kembali memutar tubuhnya menuju pintu keluar. Sangat sesak yang ia rasakan, begitu malu bila harus tetap nekat mendekat ke arah Shafia.
Ingatannya kembali berputar saat di mana kejadian waktu itu. Di mana Chayra dengan lancangnya menemui Abrisam di Apartement. Bahkan penjelasannya pun sampai detik ini tidak di terima oleh keluarganya.
Jika keluarganya saja tidak percaya lalu bagaimana dengan gadis itu? Mungkin istrinya pun akan sama, malah pergi dan menjauhinya.
Sementara Hanif yang masih setia menemani pria itu ikut merasakan hal yang sama, ia tahu betul seperti apa karakter Abrisam.
"Ayo kembali Hanif." Seru pria itu melangkah keluar dari Restaurant
Hanif tidak langsung pergi, ia masih melihat sekilas ke arah Shafia yang rupanya masih setia menatap ke arah Abrisam.
Tidak mau menunggu lagi, Hanif ikut melangkah pergi. Namun belum sempat ia menyusul Abrisam yang lebih dulu keluar, langkah kakinya justru di dahului oleh seseorang yang berlari pelan.
"Apa kau masih seorang pria?"
"Bahkan kau lupa siapa istrimu."
Terdengar suara perempuan yang mengucapkan kalimat sindiran sambil berteriak.
"Apa aku salah dengar?" Gumam Hanif penasaran kemudian segera keluar Restaurant menuju mobil
Dari arah jauh, jelas terlihat ada seseorang berdiri lumayan dekat dari posisi Abrisam yang ingin masuk mobil.
Di rasa kenal siapa orang itu membuat Hanif sontak tertawa.
"Haha,, Bos. Sepertinya kau akan dalam masalah lagi, kenapa juga kau pergi begitu saja tanpa berbicara dengan Nyonya Muda."
Hanif membiarkan pasangan suami istri itu menyelesaikan masalah mereka, ia takan ikut campur.
Pria itu sangat tahu siapa Shafia, itu sebabnya akan lebih baik jika menghindar. Pikirnya
.
.
Abrisam yang baru saja ingin masuk kedalam mobil tentu kaget ketika mendengar suara teriakan yang pastinya ia hapal itu suara siapa.
"Kenapa kau pergi begitu saja tanpa menghampiri ku lebih dulu?" Tanya Shafia saat keduanya kini saling berhadapan
Abrisam masih tidak bergeming, jantungnya sempat terhenti berdetak meski hanya sedetik, ia bingung harus bagaimana.
__ADS_1
Beginilah Abrisam. Ia akan bingung harus apa jika sudah berhadapan dengan Shafia, apalagi saat ini gadis itu sepertinya menahan amarah yang cukup besar.
🍃🍃🍃🍃🍃