Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 52 ~ Tamu


__ADS_3

Jam 5 pagi, Shafia sudah di sibukkan dengan peralatan dapur.


Dia yang mulai hari ini akan melakukan semua tugasnya sebagai seorang istri, menyiapkan bahan makanan untuk sarapan. Meski di larang sekalipun Shafia tetap keukeh ingin turun tangan langsung memasak di dapur.


Sebelumnya sudah ada pelayan yang di tugaskan Abrisam dalam hal memasak, bersih-bersih dan lain sebagainya. Tetapi, jika Shafia sudah masuk dapur jangankan menolak, sekedar membantunya saja jangan harap dia akan mengizinkan.


"Ngga usah, Bibi."


"Shafia bisa kerjain sendiri."


Gadis cantik itu melarang saat seorang wanita berusia sekitar 40 tahun ingin membantunya.


"Nanti Bibi kerjain apa Nyonya? Kan, biasanya itu tugas Bibi." Keluh wanita tersebut menatap sedih kearah Shafia yang tertawa


"Aduh malah di ketawain Bibi, lagi." Rajuknya mendengus kesal tidak terima pekerjaannya di ambil alih majikannya


"Ya elah Bibi, udah tenang ajah Abrisam ngga akan marah kok." Sahut Shafia dengan kekehan


"Terus Bibi kerjain apa dong?" Tanya Bibi lagi karena sejak tadi dia hanya melihat saja


"Liatin Shafia masak aja yaa." Jawab Shafia tertawa geli


"Ngga bisa dong Nyonya. Kan, Bibi di gaji. Masa iya cuma liatin Nyonya masak sih." Keluhnya lagi seakan kehabisan akal bila Shafia sudah masuk dapur


Dari arah tangga Abrisam dapat dengan jelas mendengar perdebatan antara Bibi dan istrinya di dapur, ia yang sengaja turun ke lantai bawah karena mencari keberadaan Shafia tentu sedikit kesal.


"Sha," panggilnya sedikit keras masih berada di atas tangga.


"Di dapur sayang." Sahut Shafia ketika mendengar suaminya memanggil namanya


"Tuh di cariin Tuan kan, lagian Nyonya kenapa harus repot-repot bangun pagi. Udah tahu punya suami ngga bisa di tinggal saat tidur," ledek Sang Bibi menatap gemas kearah Shafia.


"Udah Bibi diam ajah, OK." Jawab gadis itu dengan santainya


Bibi yang mulai pusing akhirnya memilih duduk di kursi yang berdekatan dengan tempat Shafia meracik bumbu masakan.


Dari arah depan terdengar helaan napas kasar yang keluar dari mulut Abrisam, sudah pasti pria tampan itu akan merengek di pagi hari jika tidak mendapati Shafia tidur di sampingnya.


Kedua tangannya melingkar sempurna memeluk erat tubuh istrinya dari belakang, gumaman kecil yang keluar dari mulutnya dapat dengan jelas di dengar Shafia.


Senyum geli menghias di bibir indah kemerahan gadis itu manakala ceruk lehernya menjadi mainan suaminya.


"Ngga malu di lihat Bibi, loh." Ejek Shafia tampa protes dengan kelakuan suaminya


"Biarin, siapa suruh aku di tinggal." Dengus Abrisam menahan kesal sembari mencium area leher istrinya


Shafia yang memang tidak merasakan geli atau sebagainya membiarkan suaminya melakukan apapun yang membuat pria tampan yang masih mengantuk itu merasa nyaman.


Sementara sang Bibi, yang sudah terbiasa melihat sikap manja dari suami majikannya malah tertawa geli, ada rasa haru dan bahagia terpampang jelas di wajahnya. Tugasnya hanya menjaga pasangan suami istri tersebut selama berada jauh dari keluarga.


Meski hanya seorang pelayan, namum wanita itu seakan berada di antara kedua anaknya yang sangat menyayanginya. Sudah setahun lamanya dia tinggal bersama mereka, selama itu juga wanita yang biasa di panggil Bi Ratni menjadi bagian dari keluarga kecil yang belum di karuniani anak tersebut.


Ya Allah, betapa beruntungnya aku bisa bertemu dengan mereka.


Tanpa sadar air mata Bi Ratni jatuh menetes, hal itu di sadari Shafia yang tidak sengaja melirik kearahnya.


"Loh kenapa Bibi menangis?" Tanya Shafia heran, membuat Abrisam yang semula bersembunyi di balik ceruk leher istrinya ikut menoleh kearah wanita itu.


Abrisam mengurai pelukannya bertanya melalui sorot mata pada istrinya yang hanya di balas gelengan kepala.


"Bibi ada apa?" Timpal Abrisam langsung mendekati Bi Ratni

__ADS_1


Wanita itu hanya menggeleng tanpa bisa menahan isak tangisnya, membuat Abrisam langsung memeluknya.


"Kalau ada apa-apa ngomong ya Bi, jangan hanya diam ajah." Ucap Abrisam menghapus air mata di wajah Bi Ratni


"Ngga ada Tuan, Nyonya." Sahut Bi Ratni sudah kembali tenang


"Terus kalau ngga ada apa-apa kenapa Bibi menangis? Kami kaget, iya 'kan sayang?" Tanya Abrisam menoleh kearah istrinya


"Benar Bi, apa jangan-jangan tadi Bibi merajuk karena Shafia nolak di bantu saat lagi masak?" Shafia menebak asal, tetapi wanita itu dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Bukan Nyonya." Ralat Bi Ratni cepat


"Terus apa dong?"


Kali ini pasangan suami istri yang kebingungan itu bertanya secara bersamaan.


Bi Ratni membuang napasnya pelan, di tatapnya dengan hangat dua orang yang sudah duduk bersimpuh di bawah kakinya sembari menyentuh lembut kedua tangannya.


"Bibi terharu, selama ini tidak ada yang pernah memperlakukan Bibi layaknya keluarga. Bibi tidak memiliki saudara atau kerabat di luar sana, suami Bibi sudah lama meninggal, dan anak Bibi juga entah pergi kemana. Memiliki dua anak tapi tidak menganggap ibunya ada rasanya sakit sekali, Bibi sangat bersyukur di pertemukan dengan orang baik seperti Tuan dan Nyonya."


Ungkapan hati yang keluar dari mulut Bi Ratni sangat menyayat hati, memang benar yang di katakannya. Ada dua orang anak yang sudah dewasa tapi sampai sekarang tidak pernah mencari tahu dimana Ibu mereka berada, bagaimana kabarnya dan seperti apa kehidupan hari-hari yang di jalaninya.


Shafia dan Abrisam saling pandang seakan paham dengan apa yang di rasakan wanita itu.


"Bibi ngga usah mikirin yang lain, sekarang Bibi punya kita." Ucap Shafia menenangkan seorang ibu yang begitu merindukan anak-anaknya


"Tidak ada yang tahu seperti apa kedepannya nanti, sekarang yang paling penting Bibi harus tetap sehat, kami akan tetap menjadi keluarga Bibi sampai kapan pun." Sambung Abrisam tersenyum hangat


"Sayang Bibi banyak-banyak."


Seru keduanya berhambur ke pelukan wanita itu.


Berada lumayan jauh dari keluarga tentu sangat menyiksa, hadirnya Bi Ratni dalam hidup mereka selama di luar negri sudah pasti sangat membantu meredakan rasa rindu yang kian dalam.


.


.


"Ngga masuk kampus, Sha?" Tanya Abrisam saat istrinya sedang membantunya berganti pakaian


"Jam dua siang, aku mau mampir ke toko buku dulu sebelum ke kampus." Jawab Shafia masih sibuk mengurus suaminya yang sebentar lagi berangkat ke kantor


"Lemas aku, Sha." Adu Abrisam mulai aktif mode manjanya


Jika sudah begini, solusinya cuma satu.


"Iya, iya, aku ikut kamu ke kantor." Cebik Shafia menatap malas ke arah suaminya


"Uuhhh, istri siapa sih ini jadi pengen cium sepuasnya." Kekeh Abrisam mulai melayangkan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah cantik alami milik istrinya.


Beberapa waktu yang lalu Shafia di beri kabar oleh Hanif jika di perusahaan suaminya ada tamu yang datang, pria itu tidak mengatakan siapa orangnya membuat Shafia penasaran.


Lamunan gadis itu buyar saat suaminya dengan jahil mengecup lembut bagian dadanya yang terekpos akibat ulah pria itu.


Di dalam mobil saja tetap ada yang akan di lakukan Abrisam, bermain-main di area favorit milik sang istri sudah menjadi candu baginya. Dua buah gunung kembar yang padat dan berisi takan pernah puas ia singgahi.


"Jangan buat di area yang bisa di lihat orang." Ancam Shafia menatap tajam suaminya tersebut


"Tapi aku pengen Sha, rasanya kurang kalau cuma bagian tersembunyi yang ada tandanya." Kekeh Abrisam tidak peduli, ia malah melakukan apapun yang di sukainya.


Gadis cantik itu menNdEesah pelan.

__ADS_1


"Huhh, kalau gini caranya gimana mau selingkuh coba." Ucapnya lantang membuat Abrisam refleks menatap tajam seakan ingin menelan hidup-hidup istrinya


"Ngomong apa tadi? Siapa yang mau selingkuh?" Cerca Abrisam menindih tubuh langsing Shafia yang duduk di sampingnya


"Ingat tempat sayang, lihat tuh. Paman dari tadi nahan napas mulu." Tunjuk Shafia kearah depan sang sopir


.


.


Tring


Gelak tawa Shafia menggema saat lift yang mereka naiki telah sampai di lantai paling atas di mana ruang kantor Abrisam berada.


"Udah dong sayang, nanti kamu sakit perut loh." Rayu Abrisam berusaha meredam tawa istrinya


Hanif yang sudah menunggu kelihatan panik dan gelisah.


Mampus gue, kenapa Nyonya bisa ikut kemari juga sih.


Rutuk Hanif berbicara dalam hati. Ia lupa jika istri Bosnya tidak mudah di kelabui.


"Eehh, Hanif ada apa?" Tanya Shafia heran melihat Asisten dari suaminya mondar mandir di depan pintu ruangan


Hanif yang gelagapan di buat bingung seakan lupa caranya berbicara.


"Apaan sih ngga jelas banget." Shafia memilih masuk lebih dulu kedalam ruangan milik suaminya


"Nyonya jangan mas--"


"Sukkk .." Pria tampan berkaca mata itu tidak bisa mencegah Shafia


"Aduh Bos, kenapa Nyonya di bawah juga sih." Kesalnya menghampiri Abrisam yang berjalan pelan


"Memangnya ada apa lagi?" Tanya Abrisam datar


"Anu, Bos itu--," Hanif bingung bagaimana menjawabnya


"Ada apa?" Ulang Abrisam lagi


"Aduh, itu Bos, anu itu--,"


Prang


Brakk


"Astagfirullah."


"Waduh, Bos ada perang dunia ketiga."


"Ayo masuk, Bos."


"Singa betina ngamuk Bos. Eh salah, maksud aku itu Nyonya Shafia lagi ngamuk."


Hanif dengan cepat menarik lengan Abrisam masuk ke dalam ruangan.


DEG


Langkah kaki keduanya langsung terhenti saat melihat betapa hancurnya seisi ruangan akibat ulah seseorang.


Baik Abrisam maupun Hanif ikut tercengang dengan mata membulat sempurna, tidak percaya ruangan yang semula rapih kini hancur berantakan.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2