Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 39 ~ Pergi Ke Vila


__ADS_3

Abrisam membawa istrinya masuk ke ruangannya dengan cepat, ia tidak membiarkan Shafia kembali menertawakan sang Asisten.


Hanif yang merasa bingung hanya menuruti isyarat tangan Abrisam yang memintanya untuk lebih dulu masuk ke ruang rapat.


"Bos ada apa ya, kenapa tiba-tiba hari ini terlihat berbeda." Gumamnya di buat penasaran


Hanif kembali lagi masuk ke dalam lift, turun ke bawah menuju sebuah ruangan tempat rapat di adakan.


Sementara di dalam kamar yang berada di ruang kantor, Abrisam terus membujuk istrinya yang tiba-tiba saja tidak ingin di tinggal rapat.


"Ngga mau sayang, pokoknya aku ingin ikut kamu." Keukeh Shafia terus merengek tidk suka di tinggal suaminya


"Hanya sebentar saja sayang, ngga akan lama. OK" Rayu Abrisam tetapi istrinya terus menggelengkan kepala tidak mua


"Ikut." Pinta Shafia terus merengek bagai seorang anak yang takut di tinggal Ayahnya


Abrisam diam sejenak memutar otak sebelum akhirnya mengiyakan keinginan Shafia yang begitu tiba-tiba bermanja padanya.


"Ya sudah boleh, tapi jangan nakal ya." Turut Abrisam langsung di sambut sorak senang dari istrinya


"Let's Go Hubby."


Teriaknya segera menggandeng tangan Abrisam keluar dari kamar, melangkah masuk ke dalam lift yang membawa mereka menuju ruang rapat.


Melihat adanya sedikit keanehan dari istrinya tidak membuat Abrisam merasa curiga, melainkan ia sangat senang kali ini gadis itu lah yang lebih banyak berisiniatif lebih dulu mengungkapkan perasaannya tanpa harus di uji dulu oleh Abrisam.


Terlebih panggilan baru Shafia, membuat pria itu tanpa henti menyunggingkan senyum.


*C*eklek.


Pintu ruang rapat terbuka menampilkan sang Presdir sembari menggandeng seorang gadis cantik yang tersenyum begitu manis kearah mereka.


Semua yang ikut hadir dalam ruangan tersebut menatap Shafia tidak berkedip, aura yang positif dan menenangkan begitu mereka rasakan saat istri cantik sang pemimpin itu juga ikut dalam rapat.


"Benar-benar gadis yang cantik dan mempesona."


"Betapa beruntungnya Presdir menikahi Istri secantik dan seanggun ini."


"Maha karya Tuhan yang luar biasa."


Dan masih banyak lagi pujian yang keluar dari mulut mereka kala melihat Shafia.


Gadis cantik itu selalu menjadi pusat perhatian di mana pun, tidak jarang jika terkadang Abrisam tidak ingin membawa istrinya keluar rumah. Semua mata yang memandang sudah pasti akan memuji kecantikan Shafia.


Eehemm


Deheman keras Abrisam mengalihkan perhatian semua orang yang dengan cepat menundukkan kepala tidak berani lagi menatap bidadari di samping atasan mereka tersebut.


"Hanif, segera mulai rapat!"


Hanif langsung mengiyakan perintah dari Abrisam memulai rapat yang di hadiri oleh petinggi-petinggi perusahaan, semua berjalan dengan lancar tanpa ada kendala atau masukan yang kurang baik.


Rapat yang berlangsung hampir 3 jam itu, tidak membuat Shafia merasa bosan. Istri dari Ceo Qiemyl Mannaf tersebut sejak tadi hanya asik memainkan jemari suaminya yang dia genggam di letakkan di atas paha tanpa ingin di lepas.

__ADS_1


Tanpa ada yang menyadari jika di kursi bagian samping kanan tepat kursi nomor 3 terdapat seseorang yang hampir akan meledak menahan geram dan api cemburu yang siap untuk meledak.


Syukurin, enak ajah mau ikut dalam rapat ini cuma buat godain suami aku. Ini tuh milik aku seutuhnya, jangan harap mau aku kasih sama kamu wahai nenek lampir.


Shafia berbicara dalam hati, matanya terus menatap dengan gelagat seperti mengejek kearah Chayra sembari tersenyum menyeringai.


Gadis itu seakan memberi tahu jika miliknya hanya akan tetap menjadi miliknya.


Sedangkan Chayra yang duduk di kursi ketiga dekat Ayahnya merasa panas dengan emosi yang memuncak, betapa geramnya dia ketika melihat Shafia yang menatap seperti memperingatkannya jika Abrisam bukanlah sesuatu yang mudah untuk dia sentuh.


Dasar gadis kecil sialan, lihat saja sampai kapan kamu akan merasa bahagia.


Geram Chayra mengumpat dalam hati namun matanya masih fokus menatap kearah Abrisam yang diam saja tangannya jadi mainkan istrinya.


Seharusnya dia yang berada di sana, memperlihatkan pada semua orang jika dirinya lah yang lebih pantas bersanding dengan Abrisam, bukan gadis kecil yang tak tahu bibit bebet dan bobotnya.


Rapat berakhir tepat makan siang tiba, semua yang berada di dalam ruangan langsung bergegas keluar setelah mendapat perintah dari Hanif yang di beri tugas oleh Abrisam mengatur semua yang di bahas selama rapat berlangsung.


"Bos, kau ingin makan siang di mana?" Tanya Hanif setelah semuanya keluar


Akan tetapi, belum sempat Abrisam menjawab tiba-tiba saja terdengar suara dari arah pintu.


"Risam, makan siang di luar yuk. Tadi Ayah meminta ku untuk mengajak mu pergi makan siang bersama di Restaurant miliknya yang dulu kamu lah yang memberikan nama Restaurant itu menggunakan nama ku." Ajak Chayra kembali masuk sengaja mengungkit masa lalu


Niat hati ingin menghampiri Abrisam, tetapi dengan cepat pria itu di tarik oleh Shafia sampai kembali duduk.


Kesempatan itu tidak di sia-sia kan Shafia yang ikut duduk di atas pangkuan suaminya sambil memeluk posesif.


Sorot matanya menatap tajam ke arah Abrisam seakan mengartikan *Jangan coba-coba menerima ajakannya atau kamu akan tahu akibatnya*


Posisi Shafia yang membelakangi pintu, membuat Chayra tidak dapat melihat apa yang tengah mereka berdua lakukan.


"Sayang, taukah kamu apa akibatnya bertingkah seperti ini." Bisik Abrisam begitu menggelitik telinga istrinya


"Kamu milik ku, jangan macam-macam Hubby." Tekan Shafia sedikit mengancam bahkan jemarinya mencengkram kuat jas yang pria itu kenakan


"Aku ngga suka ada wanita ular itu di sekitar mu." Lanjutnya tidak suka


"Jadi ini alasan mu begitu keras kepala ingin ikut dengan ku ke ruang rapat, hmm?" Tanya Abrisam hanya di balas gerakkan alis istrinya yang terangkat ke atas


Sedetik kemudian sebuah ciuman mendarat sempurna di bibir ranum Shafia yang sempat kaget mendapat serangan secara tiba-tiba.


Dia biarkan bibir suaminya masih setia menempel tanpa mau di lepas, lama-lama ciuman tersebut berubah menjadi luMaAtan kecil yang membuat Shafia sedikit menNdEsah akibat tangan Abrisam yang begitu jahilnya meremas salah satu bukit kembar miliknya.


Abrisam melepas ciumannya dengan tatapan menyeringai ke arah sang istri yang tersengal.


"Kamu akan membayar lebih atas apa yang terjadi saat ini."


DEG


Matilah, apa yang barusan di lakukan oleh Shafia justru malah memancing sesuatu yang telah lama di pendam oleh suaminya.


Chayra yang tidak tahu apa yang sedang di lakukan oleh pasangan suami istri itu hanya diam berdiri di depan pintu, setelah mendapat peringatan dari Hanif untuk tidak melangkah lebih dekat lagi ke arah Bosnya.

__ADS_1


Kenapa harus ada hari ini sih dalam hidup ku.


Hanif sungguh kesal rapat hari ini harus di hadiri oleh orang-orang penjilat dan bermuka dua, salah satunya sudah pasti Chayra.


"Risam ayolah, kamu ngganakan membuat Ayah sampai kecewa kan?"


Chayra terus merayu suami dari gadis cantik namun sangat galak itu, dia tidak peduli melihat tatapan tajam Shafia yang ingin menelannya hidup-hidup.


Cih, hanya seorang gadis kecil ingin bersaing dengan ku.


Baru saja Chayra akan kembali mendekat, namun sesuatu tiba-tiba saja melayang ke arahnya, dan--


"Aww, sakit." Adunya merasakan lengan bagian kanannya begitu perih


"Kamu." Geram Chayra saat melihat ada memar kemerahan di lengannya


Siapa lagi kalau bukan ulah dari Shafia, padahal suaminya sudah berusaha menahan tetap saja kena juga kan.


"Berani-beraninya kamu melempar ku dengan gelas kaca." Teriak Chayra tidak tahan masih berusaha mendekati Shafia tapi lebih dulu di hadang oleh Hanif


"Jangan berulah di sini Nona Chayra, apa kamu ingin membuat malu Ayah mu?"


Hanif sungguh pusing menghadapi seseorang yang selalu itu saja tidak pernah ada orang lain lagi.


"Kenapa ngga suka? Atau mau lagi, ha?" Tanya Shafia balik menantang Chayra


Abrisam hanya tertawa geli di balik punggung istrinya yang ia jadikan pelindung, tangannya melingkar posesif di perut Shafia tidak ingin di lepaskan.


"Kamu jangan keterlaluan Shafia, mentang-mentang menjadi istri dari Abrisam bukan berarti kamu seenaknya." Chayra masih keukeh untuk mengajak pria tampan milik orang lain


"Ckck, kamu pikir aku bodoh mau memberikan izin suamiku agar mau makan siang dengan mu dan juga Ayah mu." Cibir Shafia tidak kala pedas


"Dengar baik-baik wahai Nona Chayra yang terhormat, harus kamu catat dengan benar. Semua yang bersangkutan dengan Abrisam berada dalam jangkauan ku, dan tanpa izin dariku juga jangankan kamu yang mengajak, jika ada orang lain yang ingin agar suamiku mengiyakan permintaan mereka, selain bukan aku yang memutuskan maka jangan harap untuk membawanya pergi!" Tegas Shafia dengan penuh penekanan


Chayra hanya melongo tidak percaya mendengar kalimat pedas yang keluar dari mulut Shafia.


"Enak bangat ya kalian, aku yang capek-capek ngurusin kaya bayi tiap hari, malah main sosor ajah kaya ayam kelaparan. Orang tuh suami tiap saat selalu aku yang perhatiin seenak jidat kalian minta di temani. Uueekk"


Shafia memperagakan seperti ingin muntah di hadapan Chayra, membuat wanita itu menahan geram.


Tawa Abrisam dan Hanif ikut pecah mendengar ungkapan hati dari gadis kecil yang tidak sudi miliknya di sentuh orang lain, bahkan Chayra pun langsung melengos pergi dengan perasaan dongkol tanpa permisi meninggalkan ketiga manusia yang tertawa tanpa dosa.


"Dasar istri kecil yang nakal." Gemas Abrisam mencium habis wajah istrinya tanpa ampun


"Hanif." Panggilnya pada sang Asisten setelah puas mencium istrinya yang hanya diam di balik ceruk leher menutupi wajahnya yang merah karena malu


"Iya Bos." Sahut Hanif masih setia berdiri di ambang pintu dengan posisi membelakangi mereka


"Siapkan mobil! Kita akan pergi ke Vila." Titah Abrisam yang dengan cepat di iyakan Asistennya


Abrisam menggendong istrinya ala bridal style keluar ruangan ikut mengekor di belakang Hanif yang tengah berbicara dengan seseorang lewat telefon.


Malam ini mungkin akan terjadi sesuatu.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2