Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 43 ~ Yakin Mau Kuliah


__ADS_3

Selesai sarapan, kini pasangan suami istri tersebut memilih untuk tetap berada di dalam kamar.


Keadaan Shafia yang bagai tidak bertenaga akibat ulah suaminya seakan pasrah berbaring di tengah ranjang dengan posisi memeluk pria tampannya.


"By." Panggil Shafia kala merasa begitu nyaman berada dalam dekapan Abrisam


"Hmm, ada apa?" Sahut Abrisam yang tengah asik memainkan salah satu bukit kembar milik istrinya dari balik kaos yang Shafia kenakan


"Aku mau ngomong sesuatu." Jawab Shafia ragu-ragu


Selama ini dia selalu berbicara terus terang pada suaminya tanpa ada yang di tutupi, tetapi untuk kali ini rasanya sedikit berbeda.


Ada sedikit ketakutan timbul di hati Shafia, bagaimana jika Abrisam menolak apa yang akan di katakannya nanti.


"Soal apa?" Tanya Abrisam sudah mengubah posisinya menghadap wajah cantik Shafia yang mendongak sambil menatap kearahnya.


"Tapi janji ya jangan marah." Pinta Shafia seraya memohon


Abrisam yang tidak mengerti hanya tersenyum lalu mencubit gemas pipi istrinya.


"Memangnya apa yang kamu lakukan sampai aku harus marah, hmm?" Tanya Abrisam mulai penasaran dengan apa yang akan di katakan istrinya


Pertanyaan Abrisam belum langsung di jawab Shafia, sekuat tenaga wanita itu mengumpulkan keberaniannya mengingat hal ini mungkin saja akan menjadi masalah.


"Ada apa sayang? Kok malah diam?"


Pria tampan itu begitu tidak sabarnya ingin mendengar apa yang akan di sampaikan oleh wanita halalnya tersebut.


"Aku--, aku." Jawab Shafia seakan sulit mengucapkan satu kalimat saja


"Iya aku apa? kenapa begitu sulit untuk di katakan?" Sosor Abrisam yang sedetik kemudian langsung terdiam mendengar kalimat yang keluar dari mulut istrinya.


"Aku mau kuliah boleh?"


Usai mengatakan keinginannya, Shafia langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Abrisam masih dengan degup jantung yang berdetak sangat kuat, bagaimana jika suaminya akan marah.


Shafia yang tidak berani mengangkat wajah terus menempel, siap mendengarkan jawaban apa yang keluar dari mulut suaminya.


Akan tetapi, yang Shafia tunggu tidak kunjung tiba, selang lima menit Abrisam justru malah bangkit dari tempat tidur setelah mengurai pelukannya pada sang istri yang menatap dengan penuh keheranan.


"By." Panggil Shafia kala melihat suaminya memilih keluar kamar tanpa memberikan jawaban padanya


"Kenapa pergi? Jika kamu tidak mengizinkan, aku pun takan memaksa." Lirihnya menatap sedih punggung Abrisam yang hilang di balik pintu


Shafia memilih berbaring di atas ranjang yang entah mengapa hawanya jadi berbeda tidak seperti biasanya.


Pikirannya melayang jauh membayangkan akan seperti apa kehidupan rumah tangganya ke depan nanti.


"Kalau ngga izinin, kan bisa di bicarakan baik-baik, bukan main pergi begitu ajah."


Apa permintaannya begitu sulit sehingga suaminya tidak menjawab malah pergi meninggalkan segudang tanya di benak wanita cantik bermata indah itu.


Tidak mau banyak berfikir atau berprasangka yang tidak-tidak, Shafia mencoba menutup matanya berharap saat bangun nanti semua akan kembali baik-baik saja.


.


.

__ADS_1


Sementara di ruang tamu.


Setelah keluar dari kamar membiarkan istrinya yang bingung dengan sikapnya, saat ini Abrisam duduk di salah satu sofa single yang terletak di ruang tamu bersama dengan Hanif, beberapa menit yang lalu pria tampan berkacamata itu mendapat perintah untuk mengurus sesuatu.


"Semua sudah beres Bos, para bawahan kita telah bersiap mengawasi 1x24 jam." Lapor Hanif memberitahu keadaan mengenai kemaanan pada Abrisam


"Yang aku minta untuk kau atur dan siapkan bagaimana?" Sahut Abrisam bertanya


"80% sudah selesai tinggal menunggu kesiapan dari Nyonya Muda, ingin berangkat kapan agar semua proses masuk Kuliah bisa cepat di selesaikan." Jelas Hanif kemudian kembali bangkit dari duduknya karena ada yang menelfon


Abrisam yang di tinggalkan memilih untuk duduk bersandar dengan mata yang tertutup.


Pikirannya tertuju pada Shafia yang tiba-tiba di tinggalkan dalam kamar padahal yang ia tahu jika mungkin istrinya akan salah paham lagi.


"Ya ampun dasar bego bangat sih gue."


Abrisam yang sadar telah meninggalkan istrinya di kamar segera menuju lantai atas dengan setengah berlari, langkah kaki panjangnya seakan tidak lagi menapaki anak tangga.


"Sayang."


Teriaknya masih di luar kamar membuat Shafia yang baru saja terlelap ikut terbangun dalam keadaan terkejut.


BRAK


"Sayang ..."


"Shafia ..."


"Sha ..."


Pria tampan itu terus memanggil bagai anak kecil yang kehilangan Ibunya, sedangkan istrinya hanya melongo dengan tatapan bingung melihat keanehan Abrisam.


"STOP!"


Mendengar Shafia yang menyahut namun dengan tatapan tajam kearahnya, sontak membuat Abrisam menutup rapat mulutnya menggunakan tangan.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Tidak bisakah sebelum masuk ketuk pintu dulu? Kamu membuat jantung ku serasa ingin keluar dari tempatnya."


Wanita cantik bermata indah itu begitu kesal melihat kelakuan suaminya, baru saja ingin tidur malah di kejutkan dengan keusilan pria tampan yang hanya menyengir saat di marahi.


Abrisam tiba-tiba memeluk Shafia yang masih mengomel tanpa henti.


"Yaa maaf Sha, tadi aku kaget tadi pas ninggalin kamu sendirian di kamar. Aku baru ingat setelah Hanif pergi keluar." Kekeh Abrisam merasa bersalah telah meninggalkan wanita halalnya itu sendirian di dalam kamar


Shafia yang kaget hanya menatap kesal suaminya.


"Maaf Bee, sumpah tadi itu aku nggankonsen soal permintaan kamu yang tiba-tiba." Ucapnya jujur penuh sesal


"Ngga apa-apa udah TERBIASA." Balas Shafia menekan kata di akhir kalimatnya


Betapa kagetnya wanita itu yang baru saja tidur harus terbangun, alhasil kepalanya sedikit pusing.


Hampir sepuluh menit keduanya saling diam, Abrisam yang perasa tentu lebih baik buka suara dari pada diam takan menyelesaikan masalah.


"Itu, kamu serius?" Tanyanya mulai membahas masalah yang di katakan istrinya

__ADS_1


"Yang mana yaa, aku lupa soalnya?" Sahut Shafia balik bertanya, dia pura-pura lupa dengan apa yang di katakan beberapa waktu yang lalu.


"Ish, soal itu loh, beneran kamu serius?"


Inilah yang Abrisam tidak suka jika sedang berbicara serius, karena yang ada Shafia malah pura-pura tidak tahu apapun.


"Aku ngga ingat lagi, lupa kalau tadi ngomong apa." Elak Shafia tidak lagi mau membahas soal Kuliahnya


Bahkan wanuta itu sudah membalikkan tubuhnya membelakangi Abrisam.


"Ya ampun Sha, gitu ajah udah ngambek. Lagian aku kan, ngga sengaja." Cetus Abrisam mulai kesal karena baru kali ini Shafia tidak ingin jujur


"Kenapa, ngga suka? Makanya kalau istri lagi cerita itu di dengerin sampai tuntas, bukan malah main pergi ajah kayak tukang ojek." Sentak Shafia tidak kalah sama kesalnya


Abrisam yang tahu salah memilih diam mendengarkan omelan istrinya, ia akan menjadi pendengar yang baik bila wanita halalnya mengeluarkan semua keluh kesah dari dalam hatinya.


Melihat tidak ada lagi unek-unek yang keluar dari mulut Shafia, baru Abrisam mulai berani angkat bicara.


"Sekarang aku serius mau nanya."


"Yakin pengen kuliah?"


Abrisam menanyakan keseriusan istrinya yang mungkin sudah lama ingin di katakan, tetapi karena adanya sedikit masalah sehingga istri cantiknya itu enggan untuk berterus terang.


"Emangnya boleh?" Sahut Shafia yang balik bertanya


"Kan, aku nanya Sayang." Gemas Abrisam rasanya ingin sekali menggigit pipi istrinya tersebut


"Yakin mau kuliah?" Tambahnya lagi


Shafia tidak bersuara, diq hanya menganggukan kepalanya pertanda mau.


"By, kasih izin?" Tanya Shafia memastikan


"Iya."


"Gak marah?"


"Buat apa marah sih sayang, kalau mau lanjut kuliah kan tinggal masuk ajah." Sahut Abrisam tanpa menoleh


Pria tampan itu sedang sibuk bersembunyi di balik ceruk leher istrinya.


"Kalau mau kita bisa langsung kesana minggu ini, Hanif sudah mengatur semuanya." Sambungnya lagi


"Asisten Hanif yang atur semuanya?"


"Hmm,, nanti kita tinggal berangkat. Sekalian ikut sertakan kedua sahabat mu itu."


"Tumben ngga protes kalau mereka berdua ikut aku, bukannya kemarin-kemarin ngga ngebolehin buat ketemuan sama mereka." Sindir Shafia yang ingat bagaimana sikap Abrisam melarangnya untuk sekedar bertemu dengan kedua sahabatnya


"Aku ngga sejahat itu Sha, gini-gini juga suami kamu. Jangan mengungkit yang sudah terjadi." Sahut Abrisam mulai bangkit dari tempat tidur


"Ada alasannya kenapa aku melarang kamu untuk keluar rumah sembarangan, dan kamu tahu betul itu."


Bukannya Abrisam membatasi kebebasan Shafia, yang ia utamakan adalah keselamatan istrinya. Ia tahu betul senekat apa Chayra jika sudah pernah berurusan dengannya, terlebih lagi istrinya itu pernah melabrak wanita cantik yang berprofesi sebagai model tersebut.


Siapa yang akan tahu bila tiba-tiba saja Chayra akan berlaku nekat dan menyebabkan Shafia celaka.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


Like & Komennya janga lupa..🤗🤗


__ADS_2