Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 61 ~ Hamil


__ADS_3

Pagi telah tiba.


Shafia sengaja bangun di jam 5 untuk menyiapkan sarapan, dia ikut di bantu sang Bibi yang kebetulan sudah bangun.


Satu jam kemudian beberapa makanan tersusun rapih di atas meja makan.


Tepat jam 6:30, Shafia kembali naik ke lantai atas menuju kamar untuk membangunkan Abrisam.


Ceklek


Pintu kamar di buka Shafia perlahan, langkah kakinya mengayun pelan kearah tempat tidur dimana sang suami masih meringkuk di balik selimut tebal.


"By, bangun yuk, udah pagi." Bisik pelan Shafia di telinga suaminya


Abrisam menggeliat kecil, matanya seakan berat untuk di buka. Rasa kantuk dan lelah akibat terlalu banyak makan, menjadikan pria tampan itu malas bangun pagi.


"Hubby, ayo bangun! Bentar lagi mau jam 7, bangun By."


Shafia sengaja membangunkan suaminya pagi-pagi, dia ingin pada saat Bibi Farah datang melakukan pemeriksaan, Abrisam sudah dalam keadaan rapih dan wangi.


"Ya Allah, susah banget sih di bangunin pagi-pagi. Kalau ngga bangun juga aku tinggal ya!" Kesal Shafia setengah mengancam


Mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan istrinya, sukses menyadarkan Abrisam dari rasa kantuk yang teramat berat.


"Kamu mau kemana? Aku ikut!" Panik Abrisam segera bangun dari tempat tidur


"Mau ke Apartement Vivi dan Zoya, punya suami di bangunin susahnya minta ampun bikin aku pusing." Jawab Shafia asal saking kesalnya


Mendengar jawaban yang keluar dari mulut istrinya, cepat-cepat Abrisam bangkit dari tempat tidur melangkah masuk ke dalam kamar mandi, tidak lupa dengan Shafia yang sudah berada dalam gendongannya.


"Enak ajah main tinggalin aku, kemana pun kamu pergi aku harus ikut." Protes Abrisam tanpa sadar malah di tertawakan istrinya


Kini pasangan suami istri tersebut sudah berada dalam kamar mandi, tidak ada hal lebih yang mereka lakukan selain mandi bersama.


Dua puluh menit kemudian, keduanya keluar dari kamar menuju ruang makan untuk sarapan.


Semua anggota keluarga sudah duduk di kursi masing-masing, tinggal menunggu Shafia dan Abrisam untuk mulai sarapan.


Sarapan pagi berlangsung dengan tenang tanpa di selingi obrolan ringan, hanya terdengar suara sendok dan garpu menyentuh piring.


Selesai sarapan. Baik Ririn, Aina dan Nyonya Iriana menuju ruang tengah untuk bersantai. Sementara Adnan dan Arqa pergi keluar rumah menuju tempat yang biasa mereka datangi, dimana lagi kalau bukan halaman samping rumah.


Di dapur Abrisam masih setia duduk menunggu di meja makan, Shafia bersikeras ikut membantu sang Bibi mencuci piring kotor meski wanita tersebut melarangnnya.

__ADS_1


"Udah beres semuanya?" Tanya Abrisam setelah melihat sang istri berjalan menghampirinya


"Hmm. Kok aku mudah capek ya, By? Padahal cuma bantuin Bibi nyuci piring doang." Keluh Shafia yang kini sudah duduk di pangkuan Abrisam


"Tadi juga Bibi bilang ngga usah ikut beresin, tapi sayang ngga mau dengar sih." Gemas Abrisam sembari mengelus pelan pundak sang bidadari yang kelelahan


Hampir lima belas menit lamanya Shafia duduk dengan nyaman di atas pangkuan suaminya, kenyamannya terganggu ketika Bibi mengatakan ada seseorang yang sangat penting datang mencari Shafia dan Abrisam.


"Orangnya di mana, Bi?" Tanya pria itu langsung


"Ada di ruang tamu sedang mengobrol dengan Nyonya besar." Jawab Bibi seadanya


Shafia tahu siapa tamu yang di maksud Bibi, dengan cepat dia menarik lengan Abrisam menuju ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu, senyum Shafia langsung mengembang melihat siapa yang sedang duduk santai di dekat Nyonya Iriana.


"Bibi Farah," jerit Shafia berlari kearah wanita cantik yang siap menyambut pelukan gadis itu.


Wanita berparas cantik yang berprofesi sebagai Dokter tersebut, hampir saja kehilangan keseimbangan karena ulah Shafia.


"Kangen Bibi Farah banyak banyak." Bisik Shafia pelan


"Bibi juga kangen sayang, udah lama banget ngga ketemu. Terakhir ketemu pas bulan lalu ya, kalau ngga salah." Sahut Dokter Farah tersenyum manis


Sejak tadi melihat kedekatan istrinya dengan seorang Dokter wanita tersebut, Abrisam hanya diam mengamati interaksi di antara mereka.


Ada seulas senyum terukir indah di wajah cantik Dokter Farah, setelah mendengar cerita Shafia perihal keanehan suaminya.


"Shafia ikut Bibi ke kamar yuk!" Ajak Dokter Farah kemudian bangkit dari tempat duduk


"Mau ngapain? Bukannya yang harus di periksa itu, Hubby?" Tanya Shafia bingung


"Ikut saja dulu, nanti baru Bibi kasih tahu hasilnya." Rayu Dokter Farah tersenyum gemas melihat kepolosan Shafia


Si cantik yang tidak mengerti apa-apa, akhirnya menuruti permintaan Dokter Farah.


Keduanya langsung naik ke lantai atas meninggalkan semua orang yang berkumpul di ruang tamu, baik Ririn dan Aina tidak henti menanyakan perihal Shafia pada Abrisam.


"Mama sama Ibu tanya ke aku, terus aku mau nanya ke siapa?" Kesal Abrisam tidak tahu apa-apa tapi selalu di desak oleh sang Mama dan Ibu mertuanya


Rasa penasaran mulai menyelimuti otak Abrisam, tidak ingin menerka-nerka ia memilih ikut menyusul sang istri ke kamar.


.

__ADS_1


.


Di dalam kamar, Dokter Farah meminta Shafia untuk masuk ke dalam kamar mandi, dia juga memberikan sebuah alat yang baru pertama kali di lihat Shafia.


"Bibi, ini gimana cara menggunakannya?" Tanya Shafia kelewatan polos


Dokter Farah sampai menepuk pelan dahinya, tidak percaya gadis cantik yang sudah menikah bahkan juga sudah melakukan hubungan suami istri itu, nyatanya tidak tahu bagaimana cara menggunakan alat tersebut.


"Buka pintunya! Bibi bantu kamu." Sahut Dokter Farah dari luar kamar mandi


Masuknya Dokter Farah ke dalam kamar mandi bertepatan dengan masuknya Abrisam ke dalam kamar.


Pria itu mencari-cari keberadaan istrinya dan Dokter Farah yang katanya pergi ke kamar, ia edarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar tapi tidak menemukan keberadaan mereka.


Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu yang terbuka, Dokter Farah keluar lebih dulu di ikuti Shafia yang mengekor di belakang.


Abrisam langsung bernapas lega setelah melihat istrinya keluar dari dalam kamar mandi, dengan cepat ia menghampiri Shafia.


"Ada apa sayang? Kenapa kalian masuk kamar mandi bersamaan?" Tanya Abrisam keheranan


"Tanya Bibi Farah sana! Aku cuma ikut ajah apa yang di katakan Bibi Farah." Jawab Shafia jujur


Mata Abrisam melirik ke arah Dokter Farah untuk meminta sebuah penjelasan, belum sempat wanita itu mengatakannya, tiba-tiba pintu kamar kembali terbuka memperlihatkan semua anggota keluarga yang ikut di buat penasaran.


Mereka juga meminta Dokter Farah agar menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan keadaan tenang akhirnya wanita itu mulai menjelaskan semuanya.


"Begini, tujuan saya membawa Shafia ke kamar guna melakukan tes. Saya ingin memastikan apakah perkiraan saya benar atau bisa saja salah."


"Maksudnya bagaimana?" Tanya Ririn bingung


"Sepertinya Shafia sudah berbadan dua." Jawab Dokter Farah tersenyum geli


"Hamil maksudnya?" Tanya Aina memastikan


"Iya, itu perkiraan dari saya. Di tambah hasil tes kehamilan yang di gunakan Shafia memperlihatkan dua garis merah, saran dari saya untuk lebih jelasnya ada baiknya kembali melakukan pemeriksaan di rumah sakit." Jawab Dokter Farah sembari menjelaskan


Abrisam kaget bercampur haru mendengar kabar kehamilan istrinya, entah ia harus bahagia atau sedih mengingat selama ini dalam pikirannya sama sekali tidak memikirkan soal anak.


Usia Shafia yang terbilang masih sangat muda menjadikan Abrisam lebih ekstra hati-hati dalam menjaga kesehatan istrinya.


Tangis bahagia dan ucap syukur memenuhi kamar pasangan suami istri yang baru saja mendapatkan anugerah terindah dari sang kuasa.


Mereka akan membawa Shafia ke rumah sakit untuk memeriksakan kembali kehamilannya.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2