
Tepat sepuluh menit yang lalu, Hanif terus saja mengumpat kesal hanya karena pemilik Perusahaan sampai sekarang belum juga muncul.
Namun ternyata dugaan Hanif salah, orang yang di makinya sejak tadi justru saat ini sudah berada tepat di hadapannya.
Entah dari mana datangnya keberanian Hanif yang begitu nekat mengatai Abrisam, padahal pria itu jelas tahu jika Abrisam sampai mendengar ada yang membicarakannya di belakang, bersiap lah menerima konsekuensinya.
"Coba ulangi lagi apa yang barusan kau ucapkan Hanif!" Titah Abrisam yang meminta Asisten nya mengulang kembali kalimat yang telah di dengar olehnya
Hanif menelan salivanya kuat-kuat, rasa sesal kini mulai menyelimuti hatinya. Andai saja ia tidak sembarangan berucap, mungkin sekarang pria itu tengah asik menikmati makan siangnya yang sempat terhenti.
"Apa kau tiba-tiba jadi bisu sampai lupa bagaimana caranya untuk bicara?" Sindir Abrisam saat kembali melihat Hanif masih tetap tidak bergeming.
"Aku rasa kau sudah bosan kerja di samping ku, kalau begitu mengirim mu ke Kantor cabang di Afrika adalah keputusan yang benar." Ancamnya walau sebenarnya Abrisam hanya ingin mengerjai Asisten nya tersebut
Sontak saja Hanif langsung mengangkat kepala yang sebelumnya menunduk, ia tentu takan terima bila harus di pindahkan secara tiba-tiba.
"Kau jangan begitu kejam Bos, aku begini juga karena Bos yang tidak masuk Kantor. Lagi pula aku hanya manusia biasa yang kadang salah dan khilaf." Tolak Hanif tidak terima.
"Mana bisa Bos main pindahin aku begitu saja. Kau akan menyesal jika berani mengirim ku ke Kantor cabang Afrika" Lanjutnya membela diri
Ingin rasanya Abrisam tertawa ketika melihat raut wajah masam Hanif yang begitu lucu, tetapi ia menahannya.
"Kenapa kau tidak suka di sana? Lagi pula Kantor cabang Afrika membutuhkan seorang Manager. Aku rasa akan sangat cocok jika kau yang menjadi Manager nya." Tukas Abrisam masih dengan jahilnya mengerjai Hanif
Ya Tuhan, kenapa kau biarkan pria ini masuk kerja sih. Akan lebih bagus jika ia tidak lagi datang ke kantor. Bathin Hanif mengumpat
Di rasa tidak ada jawaban dari Hanif, Abrisam kembali lagi mengerjainya.
"Aha, jika kau tidak suka pergi ke Kantor Cabang yang berada di Afrika, bagaimana kalau pergi ke Rumah Utama saja untuk memberi makan Kucing Besar?" Tawarnya mengganti pilihan yang lain.
"Bagaimana? Bukankah itu jauh lebih baik, paling tidak kau masih berada di Negara ini."
Panas, cukup sudah Hanif menahan mulutnya untuk tetap tidak berbicara berlebihan, habis sudah batas kesabarannya.
"Hey kau dasar Bos yang tahunya menindas bawahan, aku bersumpah jika nanti kau bertemu dengan Istrimu, jangan coba-coba minta bantuan padaku sebab itu tidak akan terjadi." Dengus Hanif sangat kesal.
"Kau lupa jika saat ini masih harus mencari Nyonya Muda?"
"Aku tidak akan ikut campur dalam masalah mu. URUS SAJA SENDIRI. Huh."
Brakk.
Hanif langsung keluar ruangan menutup pintu dengan keras tanpa peduli pada Abrisam yang menatap tidak percaya akan tingkahnya.
__ADS_1
"Apa itu tadi?"
"Berani-beraninya pria itu memaki balik, apa aku terlalu memanjakannya sampai ia lupa siapa Bos nya?" Abrisam di buat tercengang dengan perilaku asistennya.
"Sepertinya mengirimnya pergi ke Afrika adalah pilihan yang tepat."
.
.
Jangan semena-mena terhadap bawahan mu Bos. Kau sungguh berhati kejam.
Abrisam terlonjak kaget ketika mendengar suara teriakan dari balik pintu ruangan miliknya.
Rupanya Hanif tidak benar-benar pergi. Pria itu masih setia berdiri di depan pintu meski emosinya sudah hampir meledak.
Semenit kemudian pintu di buka kembali, menampakkan Hanif dengan wajah yang sudah pasti seperti apa kesalnya pria itu.
Abrisam yang melihatnya tidak mengatakan apapun, ia biarkan Asistennya berulah.
Hanif berjalan mendekat ke arah Abrisam, bohong jika ia tidak merindukan Bos nya tersebut.
Greb
Sebuah pelukan tiba-tiba saja di terima Abrisam, terasa tubuh Hanif sedikit bergetar.
"Apa aku begitu tidak berguna sampai kau harus rela mogok kerja, biasanya juga kau tidak begitu." Lanjutnya bicara setelah melepas pelukannya dari Abrisam
Tidak sampai di situ saja, Hanif memutar-mutar tubuh Abrisam guna mengecek apa ada yang terluka atau kurang.
Di rasa tidak ada apa-apa, Hanif baru melepaskan Abrisam yang melongo.
"Aman Bos, tidak kurang satu pun." Kekeh Hanif lega
Abrisam berdecak kesal. "Memangnya kau pikir aku akan bertingkah bodoh, Cih."
"Eeits, jangan lupa Bos. Bukankah kau yang memberi ku izin untuk tetap berada di dekat mu kapan pun itu? Jadi aku harus tetap berada di sisimu." Balas Hanif membela diri
"Tapi kau benar baik-baik saja kan, Bos?"
Penyakit khawatir Hanif mulai muncul, begitulah ia memperlakukan Abrisam. Sekesal apapun Hanif akan tetap peduli pada Bos nya.
"Baik, kau tidak perlu khawatir." Jawab Abrisam serius
__ADS_1
Hanif masih mencari kebohongan di wajah Bos nya, tetapi sepertinya ia terlalu berlebihan.
Cukup lama mereka terdiam sampai Hanif teringat akan sesutu.
"Bos, aku ingin memberi tahu sesuatu." Ucapnya sedikit ragu
"Tentang apa?" tanya Abrisam penasaran.
"Bos sungguh ingin tahu?" Hanif mala balik bertanya.
"Sebaiknya Aku mengirim mu ke Afrika saja," dengus Abrisam mulai kesal.
Hanif tertawa melihat raut wajah masam pria itu.
"Sabar bos, kau akan cepat tua jika terus-terusan marah"
"KAU ..."
"Okok. Akan aku sampaikan."
"Begini Bos, kemarin aku mendapat kabar dari seorang mata-mata yang mengawasi Kediaman Tuan Arqa. Sepertinya mereka telah kembali setelah pergi entah kemana waktu itu." Jelas Hanif
"Apa kau yakin jika mereka sudah kembali?" tanya Abrisam belum percaya.
"Aku yakin Bos. Ini ada laporan yang aku terima dari mereka," jawab Hanif seraya memperlihatkan sebuah foto yang terkirim melalui aplikasi pesan dalam ponselnya
Dengan cepat Abrisam meraih ponsel milik Hanif untuk di lihatnya.
DEG
Jantung Abrisam berdetak sangat cepat, rasa sesak dalam dadanya mulai pria itu rasakan.
Benarkah informasi yang di berikan Hanif? Apa ini termasuk kabar baik atau justru malah kabar buruk bagi Abrisam.
"Apakah ini istri ku, Hanif?" Lirihnya bertanya.
Hanif hanya menganggukan kepalanya pertanda benar.
"Apa aku begitu buruk sampai gadis yang aku cintai pergi tanpa memberi kabar sama sekali, apa begitu sulit bagi ku menjalani hidup layaknya seperti sepasang suami istri lainnya." Tutur Abrisam yang tanpa sadar matanya sudah berair
"Kapan aku bisa bahagia, Hanif? Katakan pada ku bagaimana caranya agar wanita itu mau berhenti?"
Diam. Yang Hanif lakukan hanya diam tanpa mengeluarkan sepata kata pun. Ia juga bingung bagaimana harus berbicara.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃
Minta Like & Komennya yaaa😊😊😊