Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 65


__ADS_3

Berbulan-bulan telah berlalu.


Kini usia kehamilan Shafia menginjak lima bulan.


Abrisam yang mengalami morning sickness kurang lebih tiga bulan pun, sekarang lebih banyak makan dan mudah mengantuk.


Shafia merenggut kesal kala tahu suaminya belum juga bangun. Semalam melakukan aktifitas yang menyenangkan sampai tiga kali membuat Abrisam lelah dan baru tidur menjelang pagi.


"Ya ampun, Hubby. Cepetan bangun! Nanti kesiangan berangkat ke kantor." Pekiknya mulai kehilangan akal


Berkali-kali di bangunkan tetap saja suaminya enggan membuka mata.


Seketika ide jahil mulai muncul di otak Shafia, apa yang di carinya akhirnya ketemu juga.


"Jangan salahin aku kalau pas bangun nanti terjadi sesuatu." Gumam pelan Shafia seraya melakukan apa yang barusan terlintas di otaknya


Tidak butuh waktu lama hasil perbuatan tangan jahil Shafia akhirnya selesai, dengan perlahan dia berlalu masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan diri.


Lima belas menit kemudian Shafia keluar dari kamar lengkap dengan pakaian rumahan, hari ini dia takan ikut bersama suaminya ke kantor.


Rasa bosan yang mudah melandanya lebih memilih tetap berada di rumah bersama dengan Nyonya Iriana.


"Abrisam belum bangun juga?" Tanya wanita baya tersebut saat melihat Shafia tiba di ruang makan


"Belum Nek, ngga tahu deh. Dari tadi susah banget di bangunin. Padahal hari ini masuk kantor, mana Shafia lupa nanya jadwal Hubby hari ini." Jawab gadis itu setengah merenggut


"Ya sudah, kita sarapan lebih dulu saja. Nanti Abrisam coba Nenek bangunin siapa tahu anaknya ngga ngamuk lagi kaya kemarin." Kekeh Nyonya Iriana


Kedua wanita beda usia itu akhirnya sarapan pagi tanpa adanya Abrisam, padahal jika pria tampan itu sudah berada di ruang makan, apapun hidangan yang tersaji di atas meja akan di makannya tanpa ada yang tersisa.


Usai sarapan Shafia membantu sebentar sang Bibi sebelum dia kembali lagi ke kamar, Nyonya Iriana yang ikut membangunkan Abrisam pun nyatanya tidak membuahkan hasil, sang cucu sangat sulit di bangunkan.


Shafia yang berjalan melewati ruang tengah sempat menyapa wanita baya tersebut sebelum dia naik ke lantai atas menuju kamar.


Ceklek


Shafia masuk ke dalam kamar langsung melirik kearah ranjang, dia menghela napas panjang seraya melangkah pelan sampai ke sisi ranjang.

__ADS_1


"Benar-benar ya, lihat saja apa yang akan aku lakukan." Kesal Shafia berlalu masuk dalam kamar mandi


Gadis itu kembali dengan gayung berisi air dingin, dan--


Byurrr


Tanpa perasaan kasihan, Shafia mengguyur tubuh telanjang bagian atas suaminya menggunakan air tersebut.


"Hujan, hujan. Sayang bangun kamar kita kemasukan air," pekik Abrisam langsung tersadar dari tidurnya.


Ia bangkit dari ranjang dengan wajah yang panik, kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya.


"Ya ampun, istri aku mana?" Kaget Abrisam mencari kesana kemari keberadaan Shafia


Pria itu belum menyadari posisi Shafia yang berdiri tepat di belakangnya, terlalu panik membuat Abrisam linglung.


Saat langkah kakinya mulai mendekati pintu kamar, tiba-tiba suara seorang gadis yang di cari tengah memanggilnya.


"Mau kemana By? Kamar mandinya berada di sini bukan di luar." Teriak Shafia yang berusaha menahan diri agar tidak tertawa


Abrisam segera membalikkan tubuh mencari keberadaan istrinya, bukankah tadi ia tidak melihat sang istri di dalam kamar? Lalu dari mana istrinya muncul? Pikir Abrisam menatap keheranan


Rasa takut ketika bangun tidak mendapati Shafia dalam kamar membuat hati dan pikiran Abrisam kacau, belum lagi melihat keadaan kamar yang baik-baik saja tetapi kenapa tadi ia merasakan ada air mengguyur tubuhnya.


Sampai di hadapan sang istri, tanpa sengaja mata Abrisam menangkap satu benda yang di pegang istrinya. Sadar kalau ia sudah di permainkan, tanpa aba-aba tubuh berisi Shafia sudah berada dalam gendongan pria itu.


"Kyaa, Hubby mau ngapain? Cepat turunkan aku!" Kaget Shafia yang sadar tubuhnya terangkat ke atas


"Kualat sayang, bangunin suami pakai di siram air dingin segala mana muka aku udah kayak badut." Sahut Abrisam tidak menggubris rengekan istrinya


"Salah Hubby, kenapa di bangunin susahnya minta ampun. Masih untung aku siram pakai air, coba kalau aku main tinggalin Hubby terus ngga kasih kabar. Mau?" Selak Shafia membela diri


Telinga Abrisam memanas ketika mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan istrinya, setiap kali mereka bertengkar selalu itu yang akan menjadi senjata sang istri untuk mengancamnya.


"Hari ini kamu harus ikut aku ke kantor! Tidak ada penolakan, temani aku sampai lembur." Kesal Abrisam dengan nada terkesan dingin


Shafia sampai menelan salivanya kuat-kuat, bayangan akan di kurung dalam kamar pribadi yang berada di dalam ruangan suaminya mulai terlintas di otaknya.

__ADS_1


"Jangan macam-macam, By! Tega banget, aku lagi hamil begini malah di kurung." Ketusnya menatap jengkel Abrisam


Padahal rencananya hari ini Shafia akan berkunjung ke Apartement Zoya dan Vivi, lama tidak berjumpa membuat mereka di liputi kerinduan yang mendalam. Terlebih sekarang Shafia sedang hamil, sedikit sulit bagi mereka mempunyai waktu sekedar jalan-jalan.


.


.


Abrisam turun ke lantai bawah bersama Shafia setelah perdebatan yang lumayan menguras emosi, penolakan Shafia tidak ingin ikut ke kantor mendapat penolakan keras dari Abrisam.


"Mau ke kantor, Bri?" Tanya Nyonya Iriana ketika sang cucu dan cucu menantu melewati ruang tengah


"Iya Nek, aku mau bawah Shafia juga. Nenek ngga apa-apa kan, di rumah?" Jawab Abrisam balik bertanya


"Tidak apa-apa, lagian di rumah ada banyak pelayan." Sahut wanita baya tersebut


Abrisam lebih dulu berpamitan di ikuti Shafia yang enggan meninggalkan rumah, apa yang gadis itu rencanakan gagal total hanya gara-gara suaminya.


Sepanjang perjalanan menuju perusahaan, Abrisam terus mangajak Shafia mengobrol. Tetapi, istrinya memilih bungkam tanpa ada niat membalas.


Sudah pasti sampai kantor nanti Abrisam akan pusing sendiri, belum lagi jam 10 nanti ia ada rapat penting.


Tring


Pintu lift yang terbuka menampilkan pasangan suami istri yang saling diam, Shafia berjalan masuk lebih dulu ke dalam ruangan suaminya.


Tujuan utamanya adalah kamar, Shafia butuh istirahat sekarang. Rasa kesal tidak mendapat izin membuatnya berniat akan mendiamkan suaminya.


"Huh, lihat saja nanti. Jangan harap aku mau bicara, susah payah cari waktu biar bisa ketemu kedua sahabatku malah di rusak."


"Iihh, tukar suami boleh ngga sih? Kalau tiap hari aku kayak gini, lama-lama bisa kumat sakit jiwa ku."


Umpatan kekesalan dan omelan terus Shafia lontarkan, tidak peduli akan di dengar Abrisam atau tidak.


Dari arah luar kamar Abrisam hanya geleng-geleng kepala menyikapi tingkah gadis halalnya tersebut.


"Rasa sayang ku terhadap mu terlalu besar istriku, sayang. Apa yang akan kamu lakukan tidak mempengaruhi akal sehat ku." Gumam Abrisam pelan sambil tertawa

__ADS_1


Biarlah istrinya meluapkan semua yang tersimpan dalam hatinya.


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2