
"Bos, ada telefon dari kediaman Nona Chayra" bisik pelan Hanif.
Abrisam menoleh dan bertanya. "Ada apa?"
"Wanita itu mengamuk, tadi Bibi mengatakan sejak pagi dia tidak pernah keluar kamar." Jelas Hanif sedikit ragu
Mendengar informasi dari Asistennya dengan cepat Abrisam beranjak dari tempat duduk.
"Sampaikan pada Nenek dan lainnya, aku kembali ke perusahaan. Katakan saja ada urusan yang sangat penting."
Abrisam memberi perintah pada Asistennya sebelum meninggalkan acara
"Baik, Bos."
Usai Hanif menyampaikan pesan dari atasannya pada keluarga Qiemyl terutama Nyonya besar Iriana.
Pria itu bergegas keluar Aula masuk ke dalam lift, langsung menuju parkiran Hotel dimana mobil milik sang Tuan berada.
Tiba di parkiran Hanif masuk ke dalam mobil lalu duduk tepat di kursi kemudi.
"Langsung jalan, Nif!" titah Abrisam setelah asistennya sudah menyalakan mesin mobil.
"Baik, Bos."
Kereta besi tersebut keluar dari area parkiran melaju dengan kecepatan sedang menuju jalan besar.
Kondisi jalan yang sedikit ramai banyak kendaraan berlalu lalang membuat Abrisam sedikit tersulut emosi.
"Apa tidak ada jalan lain, Hanif?" tanya pria itu.
"Tidak ada, Bos. Akan sangat sulit jika harus putar balik lagi, sementara mobil kita berada di tengah-tengah jalan raya." Jawab Hanif melihat tidak ada celah mobil mereka bisa terbebas dari kemacetan
Di kursi bagian belakang Abrisam terus mengumpat kesal segala pikiran negatif mulai menyelimuti pikirannya.
Hampir setengah jam perjalanan akhirnya mobil mereka sudah tiba di sebuah rumah mewah berlantai dua yang cukup besar.
Hanif memarkirkan mobil tepat di halaman luas depan rumah tersebut.
Brak..
Suara pintu mobil yang di tutup keras.
Terlihat Abrisam bergegas keluar dengan tergesa menuju pintu rumah utama.
Benar-benar tidak bisa di percaya. Bathin Hanif menggeleng kepala pelan
Sejujurnya Hanif sendiri sangat kembenci seseorang yang berada di dalam rumah tersebut.
"Jangan coba-coba membodohi Tuan Abrisam lagi, dasar wanita iblis." Gumam Hanif pada akhirnya ikut menyusul sang Bos
Dari arah luar rumah terdengar suara riuh beberapa pelayan.
Hanif melangkah sedikit cepat menuju ruangan dimana sang Bos kini berada.
"Apa yang terjadi, di mana Chayra?" tanya Abrisam baru saja sampai.
Semua pelayan menatap ke arah pria itu.
"Tuan Abrisam, tolong Nona besar!" seru sala satu pelayan mendekat.
"Nona besar tadi pagi mengamuk, dia tidak mau keluar kamar." Jelas Bibi yang merupakan pengasuh Chayra.
Abrisam tidak lagi bertanya, secepat kilat ia berlari ke lantai atas menaiki tangga menuju sebuah kamar.
Sesampainya di lantai atas, pria itu langsung mendobrak pintu kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Brak..
Pintu langsung terbuka lebar.
__ADS_1
Abrisam di buat terkejut dengan keadaan kamar yang jauh dari kata baik.
"Apa yang kau lakukan, Chayra?" teriak Abrisam menggelegar.
Ia begitu syok melihat kondisi Chayra yang justru ingin mengakhiri hidupnya dengan mengiris pergelangan tangan menggunakan pecahan kaca.
Plak
Secepatnya Abrisam menepis benda tajam yang di genggam Chayra.
Apa wanita itu sudah gila? Pikirnya.
"Lepas Abrisam, biarkan aku mati saja." Teriak histeris Chayra memukul lengan Abrisam yang berhasil menahan kedua tangannya
Wanita itu memang berniat mengakhiri hidupnya.
Siapa yang akan menerima kenyataan pahit yang menyadarkannya beberapa waktu lalu.
"Apa kau sudah tidak waras, haa?" berang Abrisam menatap tajam adik sepupu dari wanita yang dulu pernah bersamanya itu.
"Kau ingin mengakhiri hidupmu dengan cara bodoh seperti itu?" bentaknya mulai kehilangan kesabaran.
Sungguh Abrisam di buat pusing dengan tingkah konyol Chayra.
Inilah yang selalu ia pendam selama ini, menjalani hidup yang di liputi bayang-bayang masa lalu terutama wanita yang ada kaitannya dengan mantan kekasih.
Chayra menatap penuh kebencian pada pria yang dulunya merupakan calon kakak iparnya tersebut, hatinya mendadak sesak merasakan sakit.
"Kau tega Abrisam, beraninya kau menikah dengan perempuan lain." Ucapnya marah
"Apa kurangnya aku? Selama ini aku selalu berada di samping mu, tapi mengapa malah orang lain yang justru menjadi pasangan mu?" suara isak tangis mulai terdengar keluar dari bibirnya.
Entah asli atau hanya karena ingin mendapatkan simpati dari Abrisam.
Abrisam tidak lagi mengatakan apapun, ia hanya berusaha menenangkan Chayra.
Sungguh, kejadian ini merupakan sebuah masalah yang sangat besar.
Aku harap gadis itu tidak kabur lagi. Bathin Abrisam sedikit khawatir
.
.
Hampir satu jam lamanya Abrisam menenangkan Chayra yang terus saja mengoceh tanpa henti, kini wanita itu mulai tenang.
Beruntung semua pelayan dengan cepat merapikan kembali kamar yang seperti kapal pecah tersebut, semuanya di ganti dengan yang baru sehingga wanita itu bisa kembali istirahat dengan nyaman dalam kamarnya.
"Tidurlah!" titah Abrisam enggan menatap wajah sembab Chayra.
"Jangan pergi, tetaplah di sini." Pinta wanita itu memohon
Abrisam menghela nafas lelah. "Tidurlah! Aku akan tetap di sini."
Setelah Chayra tertidur baru Abrisam keluar kamar menemui semua penghuni rumah, ia akan menanyakan perihal kekacauan yang terjadi.
"Benar-benar membuatku marah," gumamnya pelan.
Kepalanya benar-benar sakit bila harus meladeni tingkah gila Chayra.
Selang lima menit kemudian, semua pelayan sudah berkumpul, ada Hanif yang baru saja kembali dari Hotel juga ikut bergabung.
Beberapa waktu lalu pria itu harus kembali lagi ke hotel sebab menerima panggilan dari Nyonya besar.
Wanita tua itu jelas tidak mudah di bodohi dan Hanif lah yang selalu menjadi perantara Nyonya Iriana dengan Abrisam.
Jangan katakan apapun pada Abrisam perihal saya memanggil mu datang kemari, Hanif.
Itulah permintaan dari Nyonya Iriana sebelum Hanif meninggalkan Hotel.
__ADS_1
Benar-benar keluarga yang rumit. Pikir Hanif
.
.
Kembali lagi pada Abrisam.
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?" tanyanya masih dalam kondisi tenang.
Akan sangat fatal bila kemarahannya langsung keluar.
Semuanya terlihat bungkam tidak ada yang berani angkat bicara kembali membuat Abrisam geram.
"Mau mengatakannya atau jangan salahkan aku melakukan sesuatu?" ancamnya kemudian.
Tampak jelas pelayan-pelayan itu ketakutan mendengar ancaman tidak main-main dari Abrisam.
Tiba-tiba sala satu dari mereka mengangkat wajah dan langsung buka suara.
"Maaf Tuan. Tadi saya tidak sengaja melihat Nona Besar menerima sebuah paket yang entah apa isinya," jawabnya terjeda tidak berani menatap wajah marah Abrisam.
"Waktu itu Nona besar melihat isi dalam paket kemudian tidak berselang lama beliau sudah berlari ke dalam kamar dan tidak lagi keluar." Pelayan itu merasakan gugup yang luar biasa
"Lanjutkan!" titah Abrisam.
"Awalnya saya tidak menghiraukan gelagat Nona besar, tapi saya bergegas langsung naik ke lantai atas takut jika Nona besar nekat melakukan sesuatu. Nyatanya malah justru terjadi masalah seperti ini."
Abrisam hanya menyimak setiap penjelasan dari pelayan itu sebab ia mulai merasakan pusing dan sakit kepala tidak mampu lagi berkata apa-apa.
Di dekatnya sang Asisten terus memperhatikan.
"Bos. Kau baik-baik saja?" tanya Hanif khawatir.
Abrisam mengangkat satu tangan sebagai kode.
"Kita harus kembali ke perusahaan, Nif. Masih ada beberapa dokumen penting yang belum aku tanda tangani." Ucapnya pelan
.
.
Abrisam telah sampai di kantor bersama Hanif.
Sebelum meninggalkan kediaman Chayra, kembalinya mereka ke perusahaan sempat terjadi masalah mengingat wanita itu tidak mau di tinggal.
Bahkan Chayra sempat berulah, beruntung Abrisam memiliki banyak cara untuk membujuknya.
Tok tok tok
Terdengar bunyi suara ketukan pintu ruangan.
"Masuk!" sahut Abrisam.
Pria itu masih fokus menatap layar komputer tanpa melihat siapa yang datang.
Ceklek
Pintu di buka perlahan menampakan sosok yang sejak tadi pagi terus menghubungi Abrisam.
Akan tetapi, pria itu tidak menghiraukannya sama sekali.
Sorot mata gadis itu menatap tajam ke arah Abrisam, sangat jelas rasa kesal dan marahnya berkumpul jadi satu.
"Kakak jahat, kenapa aku telfon dari tadi tidak di angkat?"
🍃🍃🍃🍃🍃
Hay,, Hay,,,
__ADS_1
Jangn Lupa Like Dan Komennya Yaa..😉