
Tepat jam 11 malam, Abrisam baru keluar dari dalam ruangannya di ikuti oleh Hanif.
"Istirahatlah! Besok jam 09 baru ke kantor," ucap Abrisam sebelum berlalu menuju kamar.
Ceklek
Pintu kamar sengaja di buka Abrisam dengan perlahan, ia khawatir bila sang istri tiba-tiba terbangun.
Bibirnya mengukir senyum yang manis kala melihat wajah cantik alami istrinya yang tertidur begitu pulas.
Abrisam segera naik ke atas ranjang setelah mencuci kaki dan tangannya, aroma manis dan menenangkan langsung tercium.
"Wangi bangat sih bidadari, aku." Pujinya seraya menarik pelan tubuh berisi Shafia agar masuk ke dalam pelukannya
"Susah ya Sha, ke halang perut." Kekeh Abrisam merasa kesulitan ketika memeluk tubuh Shafia karena perutnya yang besar
"Tidur ya cantik, jangan bangun tiba-tiba kayak kemarin lagi, Ok."
Ia mencium pucuk kepala sang istri penuh sayang.
Malam yang semakin larut membuat Abrisam cepat terlelap menyusul istrinya ke alam mimpi.
.
.
Masih jam 5 pagi, Shafia bangun lebih dulu tanpa mengganggu tidur suaminya
__ADS_1
Hanya kecupan singkat yang dia berikan di bibir pria itu sebelum beranjak dari tempat tidur.
"Pasti semalam tidur larut malam lagi," gumam Shafia pelan.
Kakinya langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, seperti biasa sebelum sang Bibi bangun dan menyiapkan sarapan, Shafia lebih dulu masuk dapur membuatkan kue kesukaan Abrisam.
Lima belas menit kemudian, Shafia keluar dari kamar menuju lantai bawah, dia turun menggunakan lift yang sengaja di buat Abrisam minggu lalu.
Alasannya cuma satu, sang istri tidak di perbolehkan naik turun tangga apalagi sekarang perut Shafia makin hari semakin membesar.
Tring
Ketika pintu lift terbuka, Shafia di buat kaget dengan kehadiran sang Bibi, rupanya pagi ini dia kalah cepat.
"Selamat pagi Nyonya," sapa Bibi pada Shafia yang berjalan keluar dari lift.
"Pagi juga, Bibi." Sahut Shafia tersenyum manis
Wanita itu tersenyum geli melihat raut wajah penasaran Shafia.
"Bibi mau ke pasar, kebetulan beberapa bahan makanan sudah habis. Sekalian mau beli buah untuk Tuan Abrisam, bisa ngamuk nanti pas lihat isi lemari ngga ada si buah." Terang Bibi Ratni
Shafia mengangguk paham tanpa banyak bertanya, lebih baik dia segera menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue.
"Bibi tinggal ke pasar dulu ya Nyonya, nanti kalau Nyonya besar tanya, bilang ajah Bibi keluar beli bahan-bahan dapur." Pamit Bibi seraya berlalu keluar dari rumah
Mendadak otak Shafia langsung eror.
__ADS_1
"Lah kalau Bibi pergi ke pasar, terus yang nyiapin sarapan siapa dong?" bingung Shafia menggaruk kepalanya tidak gatal.
Baru saja ingin kembali ke lantai atas, suara seorang wanita terdengar dari arah tangga yang berjalan pelan menuju dapur.
"Ada apa sayang?" tanya Nyonya Iriana saat melihat Shafia ingin masuk ke dalam lift.
"Itu Nenek, tadi Bibi izin ke pasar buat beli bahan-bahan dapur yang habis, terus Shafia bingung yang buat sarapannya nanti siapa. Niatnya mau minta tolong Kak Naira bantuin Shafia di dapur, tapi keduluan Nenek." Jawab Shafia tertawa
"Sudah, tidak usah mengganggu Kakak mu itu. Biar Nenek yang nyiapin sarapannya, kamu lanjutkan saja buat kuenya." Ucap Nyonya Iriana mengambil alih pekerjaan Bibi
Shafia tidak berani membantah, dia kembali menyiapkan beberapa bahan untuk membuat kue.
Kedua wanita beda usia tersebut begitu asik memasak di dapur, sampai tidak sadar akan kehadiran Abrisam yang berdiri tepat di ambang pintu masuk dapur.
Aroma masakan dari sang Nenek mampu menyadarkan Abrisam dari alam mimpi, istrinya sengaja tidak menutup pintu dengan rapat.
Alasannya cuma satu, biar Shafia lebih muda membangunkan suaminya tanpa harus naik turun lift antara kamar dan lantai bawah.
"Sayang," bisik Abrisam sudah memeluk erat pinggang istrinya dari belakang.
Shafia yang kaget refleks menjatuhkan garpu yang barusan di ambilnya dari atas meja, hal itu membuat Abrisam cepat-cepat menunduk.
"Itu apa yang jatuh, sayang?" tanya Abrisam polos.
"Pisau mungkin," jawab Shafia asal.
Mendengar jawaban istrinya yang menyebutkan pisau, mata Abrisam langsung terbuka dengan sempurna.
__ADS_1
Ia tahu kalau bidadarinya itu hanya berbohong, mana ada pisau sengaja di jatuhkan.
🍃🍃🍃🍃🍃