
Seminggu berlalu hubungan Shafia dan Abrisam mulai membaik, perlahan Shafia menerima pernikahannya yang memang itu berawal dari kegilaannya sendiri.
Dan hari ini adalah akhir pekan. Abrisam mengajak Shafia pergi ke Kediaman Utama menemui sang Nenek.
"Kamu yakin Nenek ngga bakalan marah?" Tanya Abrisam khawatir
Masih sangat jelas tersimpan di ingatannya bagaimana waktu itu Neneknya sangat marah besar ketika tahu jika selama ini Abrisam dekat dengan wanita lain selain Shafia.
Wanita tua itu benar-benar murka, ingin rasanya sang Nenek menemui Chayra untuk meminta wanita itu berhenti mendekati cucunya. Tetapi masalahnya tidak segampang itu.
"Marah pun tetap kita harus temui Nenek. Ngga mungkin kan, membiarkan masalah ini berlarut-larut." Jawab Shafia masih keukeh menemui wanita tua tersebut
Perjalanan yang memakan waktu hampir dua puluh menit itu di gunakan Shafia hanya untuk terus menenangkan Abrisam.
"Ayo turun!" Ajak Shafia saat mobil sudah sampai di halaman rumah kediaman utama
Dari arah jauh sudah terlihat beberapa anggota keluarga menyambut kedatangan pasangan suami istri tersebut.
"Abrisam ayo cepat turun, ngga enak sama mereka udah nunggu kita." Kesal Shafia menarik paksa lengan suaminya
Pria itu pasrah ikut keluar mobil bersama Shafia, semenjak kepergian istrinya yang mendadak membuat Abrisam tidak lagi menginjakkan kakinya di kediaman utama tersebut, murkanya sang Nenek menjadi alasana pria itu tidak pernah lagi datang kemari.
Shafia berjalan sambil menggenggam tangan Abrisam, langkah kaki keduanya terhenti tepat di depan keluarga besar Qiemyl.
"Assalamualaikum." Ucap Shafia memeberi salam tanpa melepaskan gengangan tangan suaminya
"Waalaikumsalam." Sahut semuanya bersamaan
Keduanya ikut masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu di mana sudah ada nyonya Qiemyl tengah duduk sembari membaca sebuah majalah terbaru.
Shafia mengajak Abrisam untuk duduk di sofa panjang langsung berhadapan dengan wanita itu.
"Duduk di sini ya, aku mau berbicara dengan Nenek sebentar." Bujuk Shafia mengelus pelan lengan Abrisam kemudian mencium pipi kiri pria itu
Abrisam menurut saja apa yang gadis itu katakan, rasa takut dan gugup yang sejak tadi ia rasakan perlahan mulai hilang.
"Ngga usah buka mulut kalau nantinya Nenek marah, biar aku yang bicara. Ok, Handsome." Kekeh Shafia
__ADS_1
Gadis itu berjalan mendekat kearah Nyonya Qiemyl.
Dia sudah tahu apa yang harus di lakukan, baginya Nenek Abrisam adalah wanita yang sangat baik. Wanita tua itu hanya akan marah saat itu saja.
"Hallo Nenek, apa kabar?" Sapa Shafia sudah duduk di samping Nyonya Iriana
"Huh."
Rupanya Nenek Abrisam tengah merajuk, apa karena kepergiannya begitu tiba-tiba sehingga membuat wanitu itu tidak mau bicara.
"Haha, Nenek jangan marah ya. Kata Ayah kalau kelamaan marah bisa bikin wajah cepat keriput loh." Ujar Shafia pura-pura cemberut
Mata wanita paruh baya tersebut membulat sempurna kala mendengar perkataan cucu menantunya barusan, dia tidak ingin wajahnya langsung keriput hanya karena keseringan marah.
"Mana ada, Nenek tidak marah tuh." Elak Nyonya Iriana yang langsung mengubah mimik wajahnya
"Benarkah Nenek tidak marah?" Goda Shafia sambil menaik turunkan kedua alisnya
"Nenek tidak marah cuma kesal saja." Jawab Wanita itu.
"Sudahlah jangan mengganggu Nenek, kamu kenapa baru datang kemari?" Lanjutnya mengganti topik pembicaraan
Dari wajah Nyonya Iriana, jelas kelihatan ada raut marah, kesal, kasihan dan juga sayang. Biar bagaimana pun dia tidak berhak ikut campur masalah cucunya, kadang kala wanita itu bisa kelepasan hanya karena tidak ingin terjadi sesuatu mengenai hubungan cucunya dan cucu menantunya.
"Nenek jangan marah pada Abrisam ya, biarkan itu jadi urusan Shafia dengannya." Mohon Shafia dengan nada memelas
"Jika itu yang kamu inginkan Nenek bisa apa." Jawab Nyonya Iriana menuruti ucapan cucu menantunya tersebut
Shafia merasa senang mendengar jawaban wanita itu yang membiarkannya mengatasi masalah rumah tangganya sendiri.
Semua anggota keluarga Qiemyl tidak lagi menyalahkan Abrisam, mereka langsung meminta maaf pada pria itu terutama sang Nenek yang begitu teramat sangat menyayanginya.
Hari libur kali ini, di isi Shafia dengan berkumpul bersama keluarga besar suaminya. Rasa nyaman dan aman di rasakannya semenjak menikah dengan Abrisam.
Semua keluarga pria itu menyambut Shafia dengan tangan terbuka tanpa peduli dengan latar belakangnya.
Kebahagiaan dan kehangatan keluarga tersebut tanpa mereka sadari suatu hari nanti akan ada badai yang datang menghampiri, entah itu hanya sekedar lewat saja atau justru malah menghancurkan, yang jelas tidak akan ada bencana yang datang jika bukan dari mereka sendiri.
__ADS_1
.
.
Hari semakin sore, niat awal hanya datang berkunjung malah harus menginap.
Nyonya Iriana meminta Shafia untuk tinggal semalam, wanita itu ingin membicarakan banyak hal dengan Shafia.
Ceklek.
Pintu kamar di buka sedikit pelan oleh Shafia, dia langsung masuk ke dalam kamar di mana suaminya berada.
Rasa sayang yang mulai timbul di hatinya semakin besar semenjak Abrisam mulai terbuka dan mau menjadikan Shafia satu-satunya orang yang pria itu percaya.
Setiap kesulitan suaminya tidak luput dari pantauan Shafia, bahkan wanita yang di kabarkan semakin gencar mendekati suaminya pun menjadi pusat utama gadis itu.
Betapa murkanya dia kala tahu jika selama satu minggu ini Chayra dengan berani selalu datang ke perusahaan milik suaminya. Ingin sekali Shafia mendatangi wanita tidak tahu malu itu, namun semua dia tahan.
Ada saatnya bagi Shafia berhadapan langsung dengan Chayra.
Saat ini jam menunjukkan pukul 5 sore, artinya waktu Maghrib segera tiba. Shafia berniat akan membangunkan Abrisam yang tertidur setelah lelah bermain dengan para keponakannya.
"Sayangnya aku masih tidur rupanya." Gumam Shafia duduk di sisi ranjang menatap wajah damai suaminya.
Di usapnya dengan sangat lembut pipi Abrisam guna membangunkannya.
"Hey, bangun udah sore, By." Bisik Shafia di dekat telinga sang suami
Abrisam menggeliat enggan untuk membuka matanya, membuat Shafia gemes ingin menggigit telinganya.
Sesuatu pun akhirnya terjadi.
"Aw, sayang jangan di gigit, sakit." Keluh Abrisam karena nyatanya gadis itu benar-benar menggigitnya
"Makanya bangun." Dengus Shafia sambil menarik paksa lengan suaminya
Abrisam hanya bisa pasrah tanpa melawan, niat hati ingin mengerjai istrinya malah justru ia lah yang di kerjai.
__ADS_1
Pria itu segera bangun mengikuti langkah kaki Shafia menuju kamar mandi, di rasa Abrisam sudah sadar baru gadis itu keluar namun sebelumnya Shafia mengancam jika pria itu tidak cepat mandi jangan salahkan dia kalau nantinya akan melakukan hal yang tidak ingin sekalipun Abrisam harapkan akan Shafia lakukan.
🍃🍃🍃🍃🍃