Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 9 ~ Kakak Sudah Menikah


__ADS_3

Abrisam menghela nafas lelah menyadari siapa yang baru saja datang.


Kenapa anak ini bisa sampai kesini sih? Bathinnya jengkel


Abrisam memperbaiki duduknya, menatap malas si gadis nakal yang kini seakan ingin mencakar wajahnya.


Tadi pagi ia memang sengaja tidak menjemputnya di Bandara.


"Kenapa Kakak tidak jemput Adek di Bandara?" tanya Ariana ketus.


"Bukankah aku sudah meminta Bibi Farah untuk menjemput mu?" tanya balik Abrisam.


"Adek minta Kakak yang jemput bukan Bibi Farah, ya ampun ..." dengus gadis itu kesal.


Abrisam sampai memijit pelipisnya merasa pusing, belum kelar masalah satu kini datang lagi masalah baru.


Jika saja Ariana mau mengerti akan sangat bagus, tapi sekarang malah menambah masalahnya.


"Kakak sibuk sayang, cobalah untuk mengerti." Ucap Abrisam dengan nada pelan


Ariana tetap keukeh pada pendiriannya, baginya bila kemauannya tidak di turuti jangan harap bisa selamat.


"Adek tuh kangen Kakak tahu tidak, apa Kakak tidak punya waktu sedikit saja?" tanya Ariana dengan mata sudah berkaca-kaca.


Gadis itu terbiasa di manjakan Abrisam, itu sebabnya kadang sikap egoisnya sangat besar dan berakhir membuat ulah.


Ya Tuhan, bisakah aku tenang walau hanya sedikit. Bathin Abrisam menjerit


Sadar jika saat ini Ariana tengah merajuk, ia beranjak dari kursi kebesarannya bersiap menyambut gadis manjanya itu.


"Kemarilah!" titah Abrisam sembari merentangkan kedua tangannya.


Ariana berlari pelan langsung berhambur ke dalam pelukan sang kakak.


Rasa rindu yang teramat dalam membuatnya kerap kali bersikap egois dan kekanak-kanakan.


Abrisam merupakan sosok yang sangat dia kagumi, kasih sayang dan perhatian yang di berikan pria itu membuat Ariana semakin bergantung dan sangat manja.


Abrisam mencium lembut pucuk kepala adik manjanya, ia tidak akan bisa marah meski terkadang Ariana sering menguji kesabarannya.


Rasa sayangnya pada gadis itu jauh melebihi apapun.


"Kenapa balik kesini begitu tiba-tiba?" tanya Abrisam setelah mengurai pelukannya.


"Kata Nenek, lusa akan ada acara di Rumah Utama." Jawab Ariana sambil mengunyah buah apel


"Mama sama Papa juga minta Adek balik semalam, memangnya ada acara apa Kak?" lanjutnya bertanya.


Abrisam tidak langsung menjawab, ia bangkit dari sofa lalu melangkah pelan menuju meja kerjanya, perlahan membereskan beberapa dokumen yang belum lama di tanda tangani.


Selesai merapikan semuanya, pria itu meraih jas yang tergantung di sandaran kursi.


"Ayo kembali. Nanti Kakak cerita di mobil," ajak Abrisam bersiap pulang.


"Huu. Baiklah." Seru Ariana ikut melangkah pergi


Pasangan kakak beradik namun tidak sedarah itu berjalan keluar ruangan menuju lift yang langsung terhubung dengan area parkiran. Banyak pasang mata yang menatap dan membicarakan mereka.


Abrisam yang terkenal tidak pernah dekat dengan wanita manapun tentu membuat semua karyawan wanita di perusahaan merasa iri dan cemburu.

__ADS_1


Betapa beruntungnya gadis cantik yang menjadi adik dari pria tampan itu, meski hanya saudara beda orang tua, namun kedekatan keduanya membuat siapa saja merasa iri.


Tring


Pintu lift terbuka, Abrisam dan Ariana melangkah keluar dengan langkah kaki beriringan.


Keduanya berjalan ke arah mobil yang sudah menunggu beberapa menit yang lalu.


Sopir langsung membukakan pintu mobil untuk Abrisam dan Ariana lalu duduk di kursi penumpang.


"Ke Apartement ya, Pak." Ucap Abrisam pada pria itu


"Baik Tuan muda," sahut sang Sopir mulai menyalakan mesin mobil.


Kereta besi tersebut meninggalkan area parkiran.


Selama perjalanan pulang, Ariana tidak henti-hentinya terus mengoceh. Gadis itu berhasil membuat Abrisam semakin pusing saja.


"Berhentilah bicara ini dan itu Ariana, jika tidak Kakak akan mengirim mu kembali lagi ke Amerika."


Kalimat penuh penekanan dan sedikit ancaman itu ternyata mampu membungkam mulut Ariana yang memang sangat susah di atur dan itu hanya berlaku jika bersama Abrisam saja.


"Kakak kapan ceritanya sih?" Ariana semakin penasaran tidak peduli sudah sekesal apa sang kakak padanya.


Pertanyaan Ariana barusan sukses membangunkan Abrisam dari tidurnya.


"Astaga ... Kakak capek sayang, kita tetap akan membicarakannya nanti dan bukan sekarang. Paham?" sungguh ia butuh istirahat sekarang.


Mendengar jawaban sang kakak tidak sesuai, Ariana menyebikkan bibirnya kesal namun tidak berani membantah.


Dua puluh menit jarak waktu yang di tempuh selama perjalanan dari kantor menuju Apartement, kini mobil milik Abrisam sudah di tempat tujuan.


Ariana yang masih kesal selama perjalanan tidak mendapat jawaban atas pertanyaanya cepat keluar dari mobil.


"Cih, memang apa salah ku." Cebiknya


Ariana langsung masuk begitu saja kedalam Apartement milik sang kakak.


Sebelumnya dia memang sudah tahu kata sandinya, sehingga memudahkannya datang dan pergi kapan pun sesuka hatinya.


Bukk


Gadis itu membaringkan tubuhnya ke atas sofa panjang, rasa lelah dan kesal bercampur jadi satu, bibirnya tidak berhenti menggerutu.


Ceklek


Pintu terbuka, baru saja masuk Abrisam menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan Ariana yang suka tidur tidak tahu tempat.


"Masuk kamar sana istirahat, jangan tidur di situ."


Ia langsung duduk berhadapan dengan Ariana.


"Tidak mau," sahut si cantik malas.


Gadis itu tentu masih keukeh ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di saat dirinya tidak ada.


Selang beberapa menit mereka saling diam baru akhirnya Abrisam buka suara, menjawab pertanyaan Ariana.


Helaan nafas panjang terdengar.

__ADS_1


"Kakak sudah menikah." Ungkap Abrisam dengan ekspresi datar


"Oh, menikah ..." balas Ariana lelet.


"What. Barusan Kakak bilang apa?" pekiknya merasa pendengarannya mungkin terganggu.


Pengakuan Abrisam barusan membuat Ariana yang awalnya berbaring, seketika duduk menatap bingung pada kakaknya.


"Kakak serius udah nikah?" tanyanya kurang yakin.


Abrisam mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Astaga ... mimpi apa aku semalam bisa dengar kabar kakak nnnnnku yang cuek dan keras kepala ini sudah menikah." Ariana berteriak melompat kegirangan kesana kemari


"Aaa--, pada akhirnya kakak ku menikah juga." Serunya begitu senang kini sang kakak sudah memiliki pasangan hidup


Siapa yang tidak akan senang mendengar kabar ini.


Abrisam memang terkenal tidak pernah dekat dengan wanita manapun, itu sebabnya Ariana sangat heboh sendiri.


"Kakak serius tidak bohong kan?" tuding Ariana mencari kebohongan di wajah pria itu.


Sekali lagi hanya di jawab anggukan kepala dari Abrisam.


"Yes. Akhirnya aku juga punya kakak ipar, yuhu."


Abrisam membiarkan adik manjanya itu menari kegirangan atas dirinya, biarlah ia tidak mau ambil pusing.


Puas mengganggu kakaknya, Ariana bangkit dari sofa hendak menuju kamar.


"Adek ke atas dulu ya, Kak?" pamitnya dengan langkah kaki cepat menaiki tangga menuju lantai dua.


"Hmm, istirahat dan jangan lupa bersihkan dirimu." Jawab Abrisam sebelum sang adik menghilang dari pandangannya


Abrisam duduk bersandar, merebahkan sejenak tubuh lelahnya di sofa panjang.


Akan tetapi, ketenangan yang belum lama ia rasakan itu harus terganggu karna bunyi dering ponsel di saku celananya.


"Siapa yang mengganggu ketenanganku," dengusnya meraih benda pipih tersebut.


"Ada apa lagi?"


[Bos. Kau harus segera kembali lagi ke Hotel sekarang! Nyonya besar mencarimu].


"Lima belas menit lagi aku kesana."


[Baik, Bos].


***


Selesai menerima telefon, pria itu cepat merapikan kembali kemejanya.


"Apa aku tinggalkan saja Ariana disini?" gumamnya pelan bingung sendiri antara mengajak sang adik atau tidak.


Di lihatnya jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul 18:30 malam.


Abrisam tidak ingin mengganggu waktu istirahat sang adik dan memilih pergi tanpa memberi tahu gadis itu.


Sebelum Abrisam keluar Apartemen tidak lupa ia menulis sebuah memo, semoga Ariana bisa melihat isi memo ya sengaja ia tinggalkan.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


Jangan Lupa Like Dan Komennya Yaa


__ADS_2