
Shafia kembali ke kamar setelah Nyonya Iriana ijin keluar rumah sebentar dengan di temani Abrsiam.
Ceklek
Pintu kamar di bukanya perlahan, rasa lelah dan kantuk mulai memanggilnya agar berbaring di atas tempat tidur dan istirahat.
Selesai membasuh muka dan kedua kakinya baru lah ibu hamil tersebut naik ke atas ranjang king size dengan seprei bermotif bunga mawar.
Nyaman dan tenang mulai Shafia rasakan kala tubuhnya sudah berbaring sempurna dalam posisi menyamping.
"Susah juga ya kalu tidur terlentang," kekehnya sembari mengelus pelan perutnya yang semakin besar.
"Sehat-sehat ya di dalam sana," bisiknya pelan.
Ada binar bahagia terpancar jelas dari wajah cantik alaminya.
Panggilan alam mulai menggoda Shafia, perlahan mata indahnya tertutup sambil di temani alunan musik pengantar tidur.
.
.
Sementara di tempat lain.
__ADS_1
Seorang wanita dalam balutan dress ketat nan pendek hanya sebatas satu jengkal dari lututnya, terlihat sedang asik menikmati secangkir teh hangat dengan di temani oleh suara musik.
Sudah begitu lama dia berdiam diri di tempat yang jauh dari kata jalan-jalan, menghamburkan uang dan semua yang bersangkutan dengan kemewahan.
Dia adalah Chayra, selama ini menghilang dengan tiba-tiba tanpa ada yang tahu kemana perginya kecuali satu orang.
"Cih, gadis itu ternyata mampu membuat seorang Chayra takluk dengan hanya sekalli ancaman." Cebik wanita itu sembari memperhatikan foto gadis cantik dengan perut yang mulai membesar
Itu adalah foto milik Shafia yang di ambil beberapa hari yang lalu oleh seseorang dan di kirimkan pada Chayra.
"Tidak aku sangka pada akhirnya aku kalah dengan permainan ku sendiri," gumam Chayra menatap lurus keluar jendela kamar miliknya.
Ingatan mengenai masa lalu kembali terlintas di kepalanya, semua yang terjadi baik di sengaja maupun tidak nyatanya berada dalam memori otaknya.
Tidak pernah Chayra sadari jika selama ini orang-orang yang begitu dia sayangi hanya menjadikannya batu loncatan, belum lagi memintanya agar masuk ke dalam keluarga Mannaf untuk mengambil posisi sebagai Nyonya Muda.
Beruntung hal itu tidak terjadi sampai detik ini, terlebih sudah ada sosok gadis cantik yang baik hati dan penuh kasih sayang menjadi istri sekaligus bagian dari keluarga Mannaf tersebut.
Dengan begitu tidak ada lagi yang berani memaksanya untuk masuk ke dalam keluarga itu dan membuat mereka hancur berkeping-keping.
"Semoga pernikahan kalian selalu di limpahkan kebahagiaan dan keberkahan yang melimpah."
Chayra berdo'a dengan penuh ketulusan hati untuk pasangan suami istri yang dulunya sempat di buatnya nyaris berantakan hanya karena ketamakan dari orang lain.
__ADS_1
Baru sekarang dia menyadari jika menghancurkan hubungan orang lain belum tentu di kemudian hari tidak akan berbalik dan terjadi padanya andai bertemu dengan orang yang tepat.
.
.
Selama perjalanan pulang ke rumah, senyum Abrisam tidak pernah lepas dari wajah tampan miliknya.
Sedari satu jam yang lalu, ada begitu banyak aneka jenis makanan dan berbagai jajanan pinggir jalan sudah berjejer indah di kursi bagian penumpang.
Nyonya Iriana yang melihat betapa bahagianya sang cucu ketika membeli semua makanan tersebut sampai tertawa geli, dia sungguh tidak percaya dengan porsi makan Abrisam.
"Pipi kamu udah makin bulat, Bri." Kekehnya sembari memperhatikan bagaimana perubahan drastis Abrisam selama cucu menantunya di nyatakan hamil
"Nenek hanya ingin hubungan kalian baik-baik saja tanpa ada lagi bayang-bayang masa lalu," imbuhnya.
Wanita baya itu, snagat lega mengetahui jika sosok cantik yang hampir membuat rumah tangga Abrisam dan Shafia mengalami keretakan, tidak lagi menampakkan batang hidungnya.
Bahkan kabar yang dia terima lewat orang keprcayaan, mengatakan jika sekarang wanita cantik bernama Chayra tersebut, memilih tinggal jauh dari orang-orang yang hanya ingin memanfaatkannya.
Dan semua berkat bantuan Shafia yang ternyata diam-diam memiliki rencananya sendiri, tanpa melibatkan siapa pun termasuk Abrisam.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1