Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 11 ~ Kabar Tidak Baik


__ADS_3

Setelah kejadian tadi pagi yang hampir membuat Abrisam kelepasan emosi, pria itu sekarang tengah berada di perusahaan.


"Hanif, berapa lama lagi rapatnya akan selesai?" tanyanya mulai di landa kegelisahan.


"Sebentar lagi selesai, Bos." Jawab Hanif


Abrisam idak lagi berbicara, ia menunggu sampai rapat selesai.


Tepat pukul 02 siang, Abrisam keluar dari ruangan rapat menuju ruangannya. Ia begitu gelisah sejak pagi tadi, entah apa yang pria itu rasakan.


"Hanif, coba kau hubungi orang rumah. Tanyakan keadaan istriku!" Titahnya tidak sabaran


Hanif mengangguk paham kemudian merogoh saku celananya, mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.


Telepon Tersambung.


[Hallo, selamat siang]


"Siang Bibi, apa Bibi di rumah?" tanya Hanif.


[Iya, Den Hanif. Ada perlu apa ya?]


"Aku hanya ingin memastikan, apakah Nyonya Shafia ada di rumah?"


"Hallo Bibi, apa Nyonya Shafia ada di rumah?"


[Maafkan Bibi, Den Hanif. Nyonya Shafia tidak ada di rumah, orang tua Nyonya membawanya pergi tadi setelah makan siang]


"Baik Bibi, terima kasih atas informasinya"


Hanif segera memutuskan sambungan telefon.


"Bagimana, apa istriku berada di rumah Nenek?" tanya Abrisam penasaran.


Hanif bingung bagaimana caranya ia memberi tahu Abrisam, sangat jelas terlihat jika pria itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Hanif," sentak Abrisam kesal.


"Haa,, maaf Bos. Aku tidak sengaja melamun," kaget Hanif langsung tersadar.


"Katakan dimana istriku berada!!" Ulang Abrisam


"Tapi Bos, saya mohon. Berjanjilah jika nanti kau tidak akan marah," pinta Hanif memelas.


Sangat jelas terlihat raut wajah khawatir dan takutnya, Hanif merasa seperti akan mengulang kembali cerita lama.


"Memangnya ada apa?" heran Abrisam.


"Bukankah aku hanya meminta mu untuk mengatakan keadaan istriku?"


Apa sesulit itu permintaannya, sampai-sampai pria yang menjadi Asisten aekaligus orang kepercayaannnya itu tidak bisa menjawab. pikir Abrisam


"Nyonya--, Nyonya ..." Jawab Hanif gugup


"Katakan cepat dimana Shafia, istriku!" Geram Abrisam mulai tersulut emosi.


DEG

__ADS_1


Dalam hati Hanif selalu berdoa, semoga kali ini pria pemarah tersebut tidak akan berulah seperti waktu itu.


Dengan perasaan campur aduk akhirnya Hanif memberanikan diri untuk mengatakannya.


"Nyonya Shafia di bawa pergi oleh kedua rrang tuanya, Bos."


Hanif langsung menundukkan kepalanya takut, saat satu kalimat tersebut lolos keluar dari mulutnya.


Brak..


Prang..


Aarrgghh..


Teriak Abrisam melempar semua barang yang ada di dalam ruangannya.


Ruang kantor milik Abrisam yang mulanya rapih, kini hancur berantakan akibat amukan pria itu.


Hanif yang melihat keadaan Bos nya tidak mampu berkata apa-apa, ia yakin jika saat ini Abrisam tidak bisa di kontrol.


Pria itu keluar ruangan dengan segera menghubungi pihak keluarga, berharap ada yang bisa menenangkan sang Bos.


[Hallo, ada apa Asisten Hanif?]


"Nyonya Besar--, Tuan Abrisam ..."


[Abrisam kenapa?]


"Saya mohon Nyonya cepatlah kemari, Tuan Abrisam mengamuk."


[Apa? Baik saya segera kesana. Awasi anak itu, jangan sampai ia melukai dirinya sendiri]


Usai menghubungi orang rumah, Hanif kembali masuk ke dalam ruangan milik Abrisam.


Semoga Nyonya Ririn cepat sampai. Bathinnya Berharap


.


.


#Rumah Utama


Ririn uring-uringan setelah habis mendapat kabar dari Asisten putranya, wanita itu bergegas naik ke lantai atas menuju kamar menemui sang suami.


"Sayang,,,,"


Teriak Ririn berjalan cepat menuju kamarnya dan Adnan. Hampir saja dia terjatuh jika Adnan tidak dengan cepat menahan tubuhnya.


"Kamu kenapa teriak-teriak sayang?" tanya Adnan saat istrinya sudah dalam dekapannya.


"Abrisam--, putra kita, Pah." Ucap Ririn begitu Panik


"Tenanglah sayang, tarik nafas buang dengan perlahan."


Ririn mulai melakukan yang Adnan katakan, di rasa wanita itu mulai tenang. Adnan dengan pelan berbicara.


"Coba ceritakan apa ysng terjadi pada Abrisam," pintanya pada sang istri.

__ADS_1


Ririn menormalkan detak jantungnya yang sempat syok akibat mendengar kabar mengenai putranya, di rasa normal dia mulai berbicara.


"Asisten Hanif tadi menghubungi ku, anak itu mengatakan jika saat ini putra kita tengah mengamuk." Jawab Ririn memberi tahu soal kondisi Abrisam


"Mengamuk?" ulang Adnan merasa bingung.


"Untuk apa anak itu bertingkah bodoh seperti Itu?" sambungnya tanpa merasa khawatir.


Plak.


"Aww, sakit sayang. Kenapa kamu tiba-tiba memukul ku?" keluh Adnan menatap tidak percaya akan tindakan istrinya.


"Jangan lupa itu anak mu juga, apa kamu tidak merasa kasihan padanya?" ketus Ririn kesal.


"Terus mau kamu apa?" tanya Adnan polos seakan tidak paham maksud istrinya.


Kedua mata Ririn membulat sempurna mendengar kalimat Adnan barusan, apa pria ini benar-benar suaminya? Bagaimana bisa ia malah bertanya apa mau Ririn.


"Suamiku, apa perlu aku mencuci otak mu itu?" geram Ririn menatap tajam suaminya.


Bukannya Adnan tidak tahu apa maksud perkataan istrinya, ia hanya tidak mau ikut campur dalam urusan putra mereka.


"Sayang, percuma kita menemui Abrisam. Kamu tahu betul seperti apa sifatnya, pergi membujuknya tidak akan mendapatkan hasil apapun." Jelas Adnan


"Apa kamu lupa kejadian waktu itu? Dimana Abrisam begitu gila nya ingin menghancurkan Rumah Utama hanya karena seorang wanita. Bahkan anak itu tidak segan-segan membunuh orang."


Masih sangat jelas tersimpan di ingatan Adnan, bagaimana keras kepalanya Abrisam saat melindungi seorang wanita yang bahkan tidak sama sekali mencintai putranya. Abrisam yang dulunya begitu polos dan lugu harus tertipu dengan rubah licik itu.


"ADNAN..." teriak Ririn karena sejak tadi suaminya malah melamun.


"Apa yang kamu lamunkan?" tanyanya saat Adnan sudah sadar.


"Tidak ada, hanya teringat sesuatu." Kilah Adnan


"Apa kita hubungi Shafia saja, mungkin gadis itu bisa membantu." Tawarnya pada Ririn


"Kamu tidak tahu Adnan, kenapa Abrisam tiba-tiba saja menggila. Alasannya hanya satu," ucap Ririn terputus.


Dia tidak salah .enebak, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Alasannya apa?" tanya Adnan penasaran.


"Sayang, kalau bicara itu jangan setengah-setengah, bukannya tinggal kasih tahu Shafia saja soal Abrisam. Lalu apa yang harus kita tunggu?" sambungnya.


Ya Tuhan, berikanlah hamba kesabaran dalam menghadapi sifat suami hamba. Bathin Ririn meminta


"Kamu itu Yaa. Benar-benar bodoh atau gimana sih, masa sama anak sendiri saja tidak memahaminya sama sekali. Dasar suami ngga pekaan." Ketus Ririn


"Kamu mau menghubungi Shafia buat apa, ha? Sementara alasan anak itu berulah karena gadis itu. Percuma di kasih tahu, Shafia ngga bakalan datang."


Ririn berlalu keluar kamar meninggalkan Adnan sendirian, bisa-bisa wanita itu mati tiba-tiba akibat kesal.


Biarlah dia pergi sendiri menemui putranya.


Abrisam butuh di tenangkan, dan sebagai seorang ibu. Tugas Ririn adalah mencegah putranya agar tidak melakukan hal-hal buruk.


Semua di luar kendalinya, tidak menyangka akan jadi seperti ini.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


Jangan Lupa Like & Komennya Yaa🤗🤗🤗


__ADS_2