Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 46 ~ Rasanya Di Abaikan


__ADS_3

Malam telah tiba.


Kini Abrisam dan Shafia sudah rapi dan bersiap untuk makan malam di luar.


Vivi dan Zoya yang belum lama di beri tahu sudah sampai lebih dulu di salah satu Rerstaurant lumayan dekat dengan Apartement mereka.


Pasangan suami istri tersebut keluar lift langsung menuju lobi dimana sudah ada mobil yang menunggu.


Kereta besi itu melesat keluar parkiran menuju Restaurant dengan kecepatan sedang, banyaknya pengendara yang melewati jalur pintas kadang membuat Abrisam mulai kesal.


"Apa tidak ada jalan lain yang bisa mereka gunakan selain membuat kemacetan di sini?"


Pria tampan itu akan mudah marah jika waktunya terhambat.


"Udah ihh, marah-marah mulu deh perasaan dari tadi."


Shafia yang duduk diam sejak tadi paling tidk suka melihat suaminya yang mulai terpancing emosinya meski hanya pada hal-hal yang kecil.


"Sini, sini peluk aku ajah. OK. Jangan marah-marah mulu." Pinta gadis itu meraih tubuh kekar Abrisam untuk di peluk


Shafia mengusap pelan punggung lebar suaminya yang terbalut kaos, dia tahu apa yang membuat suaminya sampai mudah sekali emosi.


Gini amat sih punya suami tampan kaya raya tapi banyak ujiannya.


Desah Shafia berbicara dalam hati.


.


.


#Di Restaurant


Beberapa menit yang lalu, usai makan malam Abrisam meminta izin pada Shafia untuk keluar sebentar dengan Hanif.


Entah apa yang akan kedua pria tampan itu lakukan yang pasti Shafia tidak mau ambil pusing.


"Sha, kamu ngga takut biarin tuh laki keluar mulu?" Tanya Vivi merasa heran dengan sikap Shafia yang seakan tidak peduli pada suaminya


"Iya Sha, yakin benar kamu ijinin si beruang kutub keluar sembarangan tanpa tahu kemana perginya." Timpal Zoya yang ikut berbicara


Mendapat pertanyaan dari kedua sahabatnya membuat Shafia sampai membuang napas kasar.


"Yakin ngga yakin, ya aku harus sebisa mungkin untuk percaya. Kalian berdua pasti tahu kan, seperti apa latar belakang keluarganya. Hal-hal seperti ini jelas bukan hak aku buat ikut campur." Jawab Shafia yang sejujurnya dia juga belum tahu pasti perihal latar belakang dari suaminya sendiri


"Kamu harus hati-hati Sha, bukannya kita berprasangka buruk atau gimana yaa, cuma alangkah baiknya kalau kamu cari tahu lebih detail lagi mengenai suamimu sekarang." Tutur Vivi memberi saran yang juga ikut di setujui oleh Zoya


"Benar banget Sha, bukannya sampai detik ini tuh Nenek lampir belum juga di singkirin laki mu kan?" Tanya Zoya langsung di iyakan Shafia


"Aku heran ajah sama pemikiran Abrisam yang sulit di tebak, masa iya cuma nyingkirin tuh Nenek lampir ngga kelar-kelar juga." Kesal Vivi tidak habis pikir dengan suami dari sahabatnya tersebut


"Hadeh, yang kalian ajah sebagai sahabat ku merasa aneh dengan Abrisam. Gimana dengan aku coba, yang jelas-jelas istrinya." Kata Shafia membenarkan ucapan kedua sahabatnya


"Tau aah, ngga usah bahas soal Abrisam. Mending kita ngobrol hal lain ajah." Lanjutnya mengalihkan topik pembicaraan agar kedua sahabatnya itu tidak lagi banyak bertanya lebih jauh.l


Hampir tiga jam lamanya, Shafia dan kedua sahabatnya berbincang.


Obrolan yang hanya seputar cerita mengenai keseharian mereka sampai masalah masuk kuliah tidak luput dari topik pembahasan.


Tin ... tin


Bunyi klakson mobil milik Abrisam terdengar cukup keras, membuat ketiga gadis yang asik bercanda harus terhenti.

__ADS_1


"Kayaknya udah datang tuh pawangnya." Goda Vivi sambil melirik kearah Shafia yang tersenyum simpul


"Ckck. Kalau aku tahu bakal pisah tempat tinggal kayak gini. Mending minggu lalu aku bawa kabur ajah nih istri orang." Timpal Zoya ikut menggoda Shafia


"Jangan lagi deh kalian berdua. Aku balik duluan yaa. Insha Allah kalau di izinin besok aku mampir ke Apartement, OK."


Shafia berpamitan dengan kedua sahabatnya sebelum keluar dari Restaurant.


Suasana yang masih lumayan ramai pengunjung membuat Vivi dan Zoya enggan pulang ke Apartement.


Keduanya memilih untuk berpindah tempat duduk di salah satu ruangan yang biasa di gunakan untuk sekedar menghibur diri dengan bernyanyi.


.


.


Sejak pulang dari Restaurant, sangat jelas terlihat sikap Abrisam berubah tidak seperti biasanya, Shafia dapat merasakan jika saat ini suaminya sedang dalam kondisi tidak ingin di ganggu.


Tidak mau ambil pusing Shafia memilih untuk istirahat lebih dulu, rasa lelah dan kantuk mulai melanda seakan menggodanya untuk segera menuju alam mimpi.


Di balkon Abrisam duduk pada salah satu kursi panjang menghadap ke sekeliling kota, susana malam yang cukup dingin dan sunyi dapat pria itu rasakan.


#Flashback On


Hanif buru-buru menemui Abrisam yang kebetulan baru saja selesai membayar tagihan makanan.


"Bos ada kabar buruk." Ucap Hanif memberi tahu


"Ada apa lagi, Han?" Tanya Abrisam langsung


"Gawat Bos, mata-mata kita memberikan informasi jika sekarang Nona Chayra terlihat ada di negara ini." Jawab Hanif menyampaikan informasi yang belum lama ia dapatkan


"Kamu jangan bercanda Hanif, bagaimana mungkin wanita itu bisa sampai kemari." Elak Abrisam tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan Asistennya


"Sialan, mengapa wanita itu bisa datang. Kamu tunggu di sini, aku akan menemmui Shafia untuk meminta izin keluar sebentar."


Abrisam bergegas menuju meja makan tempat di mana istrinya berada.


Kedua pria tampan tersebut sudah memasuki pusat perbelanjaan mencari keberadaan Chayra yang kabarnya telah berada di negara itu.


"Itu Bos, sepertinya Nona Chayra baru saja habis shoping." Tunjuk Hanif kearah toko pakaian tidak jauh dari tempat mereka berada


Sialnya wanita itu sudah melihat keberadaan Abrisam yang baru saja akan melangkah pergi.


"Abrisam."


Teriak Chayra begitu bahagia bisa bertemu dengan pria tampan yang sudah beristri.


"OMG, Risam. Serius kamu beneran ada di negara ini. Aaa, aku senang banget akhirnya bisa ketemu kamu juga."


Chayra yang berusaha meraih tubuh Abrisam untuk di peluknya dengan cepat di halangi oleh Hanif.


"Jaga tindakan mu, Nona Chayra. Jangan lupa pria yang ada di hadapan mu saat ini sudah mempunyai seorang istri. Aku rasa anda tahu betul batasannya bukan?" Geram Hanif sangat risih berada di dekat Chayra


Bahkan tangannya yang tidak sengaja menyentuh wanita itu langsung di bersihkan menggunakan sapu tangan.


"Kamu." Kesal Chayra ingin melawan tapi tidak bisa


"Tugasku sudah jelas menjaga suami dari Nyonya Muda Shafia, jika anda ingin mendekatinya maka lewati dulu diriku." Ucap Hanif tidak kalah ketus


Abrisam yang melihat perdebatan kedua anak manusia itu hanya tersenyum geli tanpa membela salah satunya, otaknya hanya di penuhi oleh wajah Shafia yang tersenyum begitu manis.

__ADS_1


"Risam, kamu begitu tega padaku. Taukah kamu betapa aku sangat merindukan mu."


Chayra mulai mengeluarkan sikap lugunya berharap Abrisam mau berbicara dengannya.


Drama tangisan kepura-puraan mulai di lakoninya guna mendapatkan perhatian pria tampan itu.


"Hanif, hubungi istriku. Katakan padanya kalau kita akan pulang terlambat." Titah Abrisam pada Asistennya yang dengan cepat di kerjakan pria itu


"Dan untuk kamu, kita pergi ke suatu tempat. Ada yang ingin aku katakan padamu." Sambungnya menatap kearah Chayra yang terlihat sangat senang


Waktu yang di berikan Shafia di gunakan Abrisam dengan baik, entah apa yang akan ia katakan pada wanita itu.


Mengingat sudah selama apa Chayra terus menempel padanya, bahkan Chayra takan segan mengungkit mantan kekasihnya yang merupakan Kakak kandung Chayra sendiri. Senjata yang membuatnya tidak bisa berlaku lebih.


#Flashback Off.


.


.


"By ..."


"Sayang ..."


"Abrisam ..."


Shafia terus memanggil suaminya saat terbangun dan kaget tidak mendapati pria itu.


"HUBBYYY ..."


Abrisam yang sadar dari lamunannya bergegas kembali masuk ke dalam kamar.


Teriakan sang istri begitu menggema seisi kamar.


"Abrisam ..." Teriak Shafia lagi begitu kesal sampai tidak sadar dia sudah menangis


"Iya sayang, kenapa teriak-teriak sih." Sahut Abrisam sudah berada tepat di sisi tempat tidur sambil mendekap tubuh istrinya


"Di panggil kok ngga nyahut. Kan, aku takut." Omel Shafia memukul pelan lengan Abrisam yang hanya tertawa geli


"Kan, tadi aku lagi di balkon sayang." Jawab pria tampan itu menenangkan Shafia yang mulai terisak


Shafia yang di buat kesal memang sejak pulang dari makan malam berusah untuk tidak mengomel.


"Kalau ada apa-apa cerita ke aku, By. Bukan malah diamin aku. Kamu tahu ngga, rasanya di abaikan itu gimana? Selama perjalanan pulang dari Restaurant sampai rumah aku di cuekin, kalau kamu ngga ngomong gimana otakku mau berpikir jernih." Sentak Gadis itu mengeluarkan isi hatinya


"By, jahat."


Shafia paling benci jika Abrisam mulai mendiamkannya, hal yang tidak di sukainya sejak mereka menikah.


Timbulnya sifat posesif dan sensitif yang mulai melekat di dalam dirinya, terkadang membuat Abrisam harus ekstra sabar.


"Maaf, sayang. Aku janji ngga akan ulangi lagi. OK," rayu Abrisam menyesali perbuatannya yang sudah mengabaikan Shafia.


"Sudah yaa, jangan menangis lagi. Sekarang kita tidur, besok baru aku ceritakan semuanya."


Pria tampan itu terus merayu sang istri agar mau kembali tidur, di ciuminya pucuk kepala Shafia dengan penuh perasaan sayang.


Umur Shafia yang baru 18 tahun tentu masih sangat labil dan mudah kesal.


Hampir lewat tengah malam, baru Abrisam bisa tertidur menyusul istrinya yang beberapa waktu lalu mulai terlelap menuju alam mimpi.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2