Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 49 ~ Istrimu Sangat Manis


__ADS_3

Semalam Shafia di buat kewalahan menghadapi suaminya yang begitu buas tanpa lelah terus mengobrak abrik lahan Mahkotanya.


Jangankan untuk bangun dari tempat tidur. Bahkan bergerak pun rasanya seluruh tubuh Shafia remuk tidak bertenaga.


"Dasar suami ngga ada akhlak." Teriak frustasi Shafia merutuk kebodohannya sendiri


Siapa suruh memulai duluan.


"Sshh, aduh. Pinggang ku sakit." Keluh Shafia berusaha bangun


Dari arah pintu, Abrisam tertawa geli melihat keadaan istrinya yang kesulitan sekedar untuk bangun.


"Astaha. Kalau tahu bakal kayal gini,nmending aku ngga usah nikah ajah. Punya suami tahunya cuma enaknya doang, giliran aku kesulitan nahan sakit kayak gini malah main di tinggal pergi."


"Huaa. Ayah, Ibu. Tolong! Shafia mau pulang."


Pecah sudah tawa Abrisam yang sejak tadi di tahannya, ia yang masih beridiri di ambang pintu tidak dapat lagi menahan untuk tidak tertawa.


Padahal sebelum Shafia bangun, pria itu sengaja turun lebih dulu ke lantai bawah. Ia menuju dapur membuatkan sesuatu untuk Shafia, kelakuannya semalam tentu akan berdampak tidak baik bagi istrinya.


Usai membuatkan minuman dan makanan, Abrisam kembali naik ke lantai atas untuk melihat istrinya sudah bangun atau belum. Langkah kakinya langsung terhenti di depan pintu kamar saat mendengar suara Shafia yang berteriak. Karena penasaran akhirnya ia memilih untuk tetap berada di depan pintu kamar tanpa ingin masuk ke dalam. Siapa sangka justru pria tampan itu malah mendengarkan umpatan kekesalan dari mulut istrinya.


"Ngapain berdiri di depan pintu? Senang banget yaa, udah nyiksa aku sampe kayak gini. Kamu malah enak-enakkan keluar kamar ninggalin istri sendiri dengan keadaan seperti ini."


Shafia begitu geram mendengar suara suaminya yang menertawainya, bukannya membantu pria tampan itu malah tertawa tanpa dosa.


"Sshhtt. Ngga usah ngomel pagi-pagi." Sahut Abrisam sudah berada di sisi istri cantiknya itu


Tubuh polos Shafia yang tidak tertutup apa-apa langsung di bawah Abrisam menuju kamar mandi, ia begitu telaten memandikan Shafia yang hanya diam masih merajuk. Meski sudah di rayu sekalipun tetap saja gadis itu memilih mendiami suaminya.


Lima belas menit kemudian Shafia sudah berpakaian menggunakan stelan sederhana, warna bajunya sama persis dengan milik Abrisam.


"Ngapain kita pake baju Couple?" Tanya Shafia menatap bingung suaminya


"Aku akan bawah kamu jalan-jalan hari ini." Jawab Abrisam singkat


"Kamu pikir aku masih sanggup buat jalan." Sungut Shafia menahan kesal


"Kan ada aku, kalau nggabbisa jalan tenang ajah gampang." Balas Abrisam sengaja tidak ingin meneruskan ucapannya


"Gampang katamu?"


"Iya gampang, Sayang. Kalau kamu ngganbisa jalan yaa tinggal aku gendong ajah, beres kan." Kekeh Abrisam menjawab dengan santainya


"Jika kakimu tidak bisa menggapai tanah, maka kakiku lah yang akan menjadi penggantinya. Bukankah tugas ku adalah membuat mu bahagia?"


Shafia yang tersipu malu pura-pura menatap jengah sambil memutar malas kedua bola matanya, dia hanya ingin menutupi rasa yang timbul.


Dalam hati Shafia, seakan ada ribuan kupu-kupu yang berlarian kesana kemari.


"Ngomong yang benar, By."


Gadis cantik yang pipinya sudah merah karena malu itu langsung tersenyum manis, siapa yang takan merasa bahagia jika di perlakukan begitu manis oleh pria yang sangat mencintainya.


"Jangan senyum begitu, Sayang." Ucap Abrisam yang duduk berjongkok di depan Shafia, kedua tangannya bertumpu di atas paha istrinya.


Mata indahnya menatap intes wajah cantik pemilik hatinya tersebut.


"Memangnya kenapa?" Tanya Shafia bingung


Bukankah selama ini pria tampan itu paling menyukai saat Shafia sedang tersenyum.


"Karena ..."


Abrisam menarik sedikit tubuh istrinya agar bisa sejajar, posisi Shafia yang setengah membungkuk bisa dengan jelas merasakan hembusan napas suaminya.


"By ..." Shafia tersenyum sambil menahan geli karena ulah dari suaminya


"Ssshhtt, udah di bilang jangan senyum!"


"Lah kok malah salah lagi, By ngga suka?" Tanya Shafia bingung


"Iya aku ngga suka."


"Lah alasannya apa?" Tanya Shafia lagi

__ADS_1


"Ngga senyum ajah udah manis bangat, kalau senyum lagi bisa bahaya."


"Bahaya kenapa?" Shafia bingung dengan ucapan pria tampan tersebut.


"Pokoknya ngga boleh senyum!" Tegas Abrisam bangkit dari duduk


Ia berjalan lebih dulu di depan Shafia sambil menggenggam jemari gadis halalnya yang mengekor di belakang


Shafia yang masih keukeh ingin tahu alasan pria tampan itu terus merayunya agar mau berkata jujur.


"Ngga kasih tahu aku ngganmau jalan-jalan." Ancam Shafia membuat langkah kaki Abrisam terhenti.


Ia membalikkan tubuhnya menghadap Shafia yang merenggut.


"Kamu tahu sayang, perbedaan kamu sama gula?" Tanya Abrisam di balas gelengan kepala istrinya.


"Kalau gula manisnya kadang pas kadang ngga, sedangkan kamu ngga senyum ajahnudah manis, pas senyum manisnya malah kelewatan."


"Emang begitu?"


"Iya sayang, nih buktinya. Karena kamu senyum tadi sampai semut ajah ngikut." Kekeh Abrisam sudah berlari keluar rumah lebih dulu.


Shafia yang melihat arah mata suaminya saat menunjukkan letak hewan kecil tersebut, matanya langsung membulat sempurna.


"Aarrgh, kok ada banyak semut sih."


Gadis cantik juga manis itu kaget saat melihat ada beberapa ekor semut berjalan di atas bahu kanannya.


Entah dari mana datangnya hewan kecil itu membuat Shafia merasa geli segera melepaskan sweter yang di kenakannya.


.


.


Abrisam terus merayu Shafia saat mobil sudah tiba di taman besar, yang terletak di pusat kota.


"Sayang kok diam sih?"


"Ayo ngomong dong!"


Shafia seakan menjadi tuli tidak mendengarkan bujuk rayu suaminya, bayangan semut yang menempel di pakainnya saja masih melekat jelas di benaknya.


"Aku mana tahu kalau kamu fobia sama semut, ampe jerit-jerit kayak gitu." Ucap Abrisam jujur


"Tapi udah lama liat semutnya di baju aku malah ngga bilang." Sungut Shafia kesal


"Lah, aku juga baru liat Sha, sumpah aku ngga bohong. Kan, aku bilang juga apa, jangan senyum." Elaknya membela diri


"Masalah senyum atau ngga dengan semut apa coba?" Tanya Shafia serius


Abrisam tersenyum geli melihat wajah kesal Shafia namun terkesan sangat imut.


"Semut ajah tahu sayang, mana yang manis dan mana yang kelewatan manisnya. Meski gula itu manis, tapi kalau lihat kamu yang senyum manisnya lebih, udah pasti semut milih yang manisnya banyak dari pada gula dong."


Gadis cantik itu memutar malas kedua bola matanya.


"Aau aah, ngomong sama kamu ngga akan ada serius-seriusnya." Cetus Shafia bangkit dari duduk menuju salah satu gerobak yang menjual aneka macam kue dan minuman


Abrisam yang melihat istrinya menghampiri salah satu penjual cemilan tersebut makin menjadi.


"Sayang ngapain di situ?" Tanyanya setengah berteriak


Shafia yang masih kesal tidak menatap suaminya


"Mau belilah masa mau jualan." Sahutnya begitu acuh


"Jangan beli sayang, ngga boleh!"


"Aku mau beli." Keukeh Shafia tidaak mau mendengarkan


"Gak boleh, sayang!"


"Issh, kamu tuh kenapa lagi sih?" Kesal Shafia mulai terpancing emosi


Bukannya menjawab Abrisam malah mendekat kearah penjual yang sedang membuatkan cemilan pesanan istrinya.

__ADS_1


"Bu, itu yang di taru apa?" Tanya Abrisam serius


"Oh ini?" Tanya Wanita itu hanya di balas anggukan kepala Abrisam


"Campurannya susu, cokelat, meses warna warni, madu, gula pasir, sama tambahan beberapa toping lainnya." Jelas si ibu penjual


"Memangnya kenapa, Nak?" Lanjutnya bertanya


Abrisam yang tercengang menggeleng tidak, ia tatap wajah istrinya yang tertawa.


"Jangan di pakai semua Bu." Cegah Abrisam saat wanita itu ingin memasukan bahan yang tadi di ucapkannya


"Kan biar makin enak By." Balas Shafia bantu menjawab


"Ngga boleh Bu. Jangan di campur semuanya ya." Pria tampan itu tetap keukeh pada permintaannya


"Tapi istrimu yang minta anak muda."


"Jangan, Bu." Tolak Abrisam tegas


"Lah, kenapa?" Wanita itu di buat bingung, baru kali ini ada pelanggan yang permintaannya aneh.


Abrisam mulai mendekatinya seraya berbisik.


"Menurut Ibu, istri aku manis tidak?" Tanya Abrisam serius


"Iya,napalagi kalau lagi senyum." Jawab wanita itu berkata jujur


"Nah, itu Ibu tahu kalau istri ku,nmanis." Kekeh Abrisam masih berbisik


"Terus apa hubungnnya dengan cemilan ini anak tampan?" Wanita itu sampai harus mencubit gemas pipi Abrisam yang menyengir, dia tentu sudah kenal siapa pria tampan itu.


"Ibu tahu kan,nkalau dia manis?" Tanya Abrisam


"Hhm, iya."


"Ibu juga tahu kalau cemilan ini semuanya manis?" Tanyanya lagi


"Betul."


"Nah, kira-kira kalau istriku yang manis terus makan lagi cemilan yang manis ini, hasilnya gimana?"


Wanita itu diam sejenak mencerna ucapan Abrisam barusan, lima detik kemudian dia tertawa membuat Shafia yang duduk diam menatap keheranan.


Keduanya tertawa seakan habis melihat sesuatu yang lucu.


"Kamu ngga pernah berubah, anak muda." Ucap wanita yang biasa di panggil Ibu Santi tersebut


"Tapi beneran manis kan, Bu?" Tanya Abrisam lagi


"Iya--, iya. Istrimu sangat manis. Bahkan Ibu saja suka melihat dia tersenyum."


Obrolan keduanya tidak berlangsung lama, mengingat hari sudah siang.


"Kalau gitu Risam pamit dulu ya, Bu. Mau ajak Shafia jalan-jalan dulu." Abrisam berpamitan


"Ya sudah, ingat apa yang Ibu bilang tadi. Jangan sakiti hati istrimu apapun alasannya." Pesan Bu Santi pada Abrisam


"Siap, Bu. Risam pergi dulu. Assalamualaikum."


Tidak lupa ia mencium punggung tangan wanita itu sebelum akhirnya menghampiri istrinya yang duduk santai di salah satu bangku panjang.


Puas mengelilingi taman, Shafia meminta untuk pergi ke pantai menikmati senja di sore hari. Jam yang sudah lewat waktu Ashar tentu sedikit menghambat perjalanan mereka, kemacetan yang terjadi di jalan raya sedikit memakan waktu.


Dua puluh menit kemudian mobil sedan warna hitam milik Abrisam terparkir sempurna di pinggir jalan, ia mengajak Shafia memasuki jalan setapak yang khusus pejalan kaki.


"Wahh, ramai juga ya By." Ucap Shafia saat mereka sudah sampai di pantai



"Iya sayang, kita akan menikmati senja sore hari sebelum kembali ke rumah." Sahut Abrisam mendudukkan istrinya di salah satu kursi panjang berhadapan langsung dengan pantai.


Mereka akan bersantai sejenak sambil menunggu matahari terbenam indah.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Like Komennya jangan lupa..


__ADS_2