Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 37 ~ Jika Kau Tidak Bisa


__ADS_3

Shafia menggeliat kecil kala merasakan sesuatu menyentuh pipinya yang terasa hangat.


"Sayang bangun."


Suara lembut Abrisam mampu membuat gadis itu membuka mata secara perlahan, wajah tampan suaminya lah yang pertama kali di lihat Shafia.


"Bangun yuk, kita pergi makan siang di luar." Ucap Abrisam sudah mengangkat tubuh langsing istrinya ke atas pangkuan


"Ngantuk banget, Bri." Rengek Shafia begitu manja berada di dekapan suaminya


"Nanti lanjutin lagi tidurnya, Ok. Sekarang makan siang dulu, kamu tadi pagi ngga sarapan banyak loh sayang." Abrisam terus merayu agar istrinya itu menurut.


Shafia mendongakkan wajahnya saat mendapat ciuman bertubi-tubi dari Abrisam.


"Tapi gendong ya," pintanya sedikit malu sampai harus menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.


"Siap, Tuan Putri."


"Let's GO."


Abrisam berjalan keluar ruangan dengan menggendong istrinya menuju lift, diana sudah ada Hanif yang menunggu mereka.


Kereta besi tersebut membawa mereka turun ke lantai paling bawah menuju loby parkiran khusus petinggi perusahaan.


Di perjalanan menuju sebuah Restaurant milik seorang gadis cantik yang tidak lain adalah sahabat Shafia.


Di dalam mobil gadis itu kembali lagi menjadikan suaminya sasaran empuk kekesalannya.


"Bri, percaya atau tidak kamu akan lihat bagaimana wanita ular itu hidup segan mati tidak mau." Geram Shafia sudah tidak tahan menghadapi Chayra


"Sabar Sha, beri aku kesempatan untuk menyelesaikan semuanya dengan cepat. Semua perlu waktu sayang."


Sebenarnya Abrisam bingung bagaimana mencari jalan keluar dengan cepat tanpa harus melibatkan istrinya untuk ikut campur.


"Kamu pasti tahu kan, bagaimana murkanya mereka kalau sampai tahu masalah kita. Selama dua bulan ini aku selalu menutup dengan rapat agar keluarga kita ngga ada yang tahu." Desah Shafia yang merasa sangat pusing hari-harinya hanya seputar masalah suaminya


"Terus aku harus bagaimana? Kamu ingin aku melakukan apa?" Tanya Abrisam berusaha menenangkan istrinya


Shafia diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya, memang benar mereka menikah bukan karena atas dasar suka sama suka. Semua berawal karena kegilaan Shafia sendiri sampai membuat Abrisam berlaku nekat bahkan dia sampai tidak percaya akan menikah dan menjadi seorang istri yang sah.


"Apa kamu sungguh-sungguh mencintaiku?"


Sebuah pertanyaan yang mudah namun belum tentu akan jawabannya.


"Kamu masih meragukan ketulusan ku?"

__ADS_1


Abrisam malah balik bertanya membuat Shafia hanya diam dan menunduk seakan apa yang mereka lalui hanya mimpi belaka.


Melihat istrinya memilih diam membuat Abrisam berkali kali membuang napas berat.


"Tidak apa-apa jika kamu masih belum percaya padaku, mungkin semuanya terbilang sangat tiba-tiba. Kamu tahu selama ini aku tidak pernah bisa jauh darimu walau sesaat, dan kamu tentu lebih tahu bagaimana aku."


Abrisam cukup sadar diri dengan hubungan yang mereka jalani sekarang, katakanlah ia egois karena melibatkan seorang gadis cantik yang masih lugu dan polos untuk sebuah masalah pribadi.


Tidak ada lagi obrolan yang berlangsung sampai mobil tiba di Restaurant. Abrisam membiarkan istrinya yang lebih dulu keluar mobil melangkah cepat masuk ke dalam Restaurant.


"Bos jangan terlalu menekan Nyonya, tidak mudah baginya untuk menjadi bagian dari keluarga mu. Kau tentu lebih tahu bagaimana selama ini Nyonya tetap menjaga ketenangan rumah tangga kalian. Saran dari saya, sebaiknya katakan yang sejujurnya pada Nyonya Shafia." Terang Hanif yang begitu prihatin dengan masalah yang menimpa atasan sekaligus sahabatnya itu


"Jika kau tidak bisa, maka jangan ikat istrimu dengan menjadikannya perisai untuk melindungi mu. Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan di lakukan wanita itu, sejauh yang aku pantau Chayra sering bolak balik barada di sekitar perusahaan. Aku harap kedepannya semua akan baik-baik saja."


Hanif memang belum menemukan titik terang yang bisa membuktikan bahwa dalang dari insiden kebakaran beberapa tahun lalu ada sangkutannya dengan Chayra atau tidak. Siapa yang akan mengira jika wanita cantik yang terlihat baik di luar nyatanya menyimpan banyak rahasia.


"Kita bicarakan ini nanti, aku akan masuk ke dalam menyusul istriku."


Abrisam keluar mobil tanpa di ikuti oleh Hanif yang memilih tetap berada di dalam kendaraan beroda empat tersebut.


"Jangan bermain api, Risam. Jika kau tidak takut terbakar. Aku masih ragu apa kau benar-benar mencintai Shafia atau tidak."


Hanif bergumam kecil setelah melihat tubuh tegak Abrisam masuk ke dalam Restaurant.


.


.


Zoya yang mengetahui Shafia akan datang begitu bahagia saat melihat sahabatnya berjalan masuk dengan langkah tergesa mencari keberadaannya.


"OMG. Shafia sayang, i miss you so much." Teriaknya sudah berlari bersiap memeluk Shafia


"Sumpah demi apa, akhirnya kamu ingat juga sama aku." Sindir Zoya setelah melepas pelukannya pada gadis itu


"Sorry Zoo, kamu 'kan tahu gimana protektifnya Abrisam yang ngelarang aku buat kerja lagi." Sahut Shafia lesuh


"Sstt, udah ngga usah di bahas. Kamu bisa kesini ajah udah keajaiban yang luar biasa." Kekeh sang sahabat membuat Shafia ikut tertawa seakan beban yang ada di hatinya hilang seketika


Melihat Abrisam yang baru datang membuat Zoya berhenti untuk bicara banyak, sebenarnya ada yang ingin dia katakan pada Shafia mengenai masalah kuliah. Sulitnya untuk bertemu kadang membuat Zoya merasa jengkel dengan sifat suami dari sahabatnya itu.


Makan siang berlangsung singkat karena Abrisam harus segera balik lagi ke perusahaan, adanya rapat dadakan membuatnya harus rela membiarkan Shafia tetap tinggal di Restaurant bersama sahabatnya.


"Janji jangan pergi kemana-mana sebelum aku datang untuk menjemput mu." Pesan Abrisam pada sang istri sebelum masuk ke dalam mobil


"Hmm, aku takan pergi kemanapun. Lagi pula ada Zoya dan sebentar lagi Vivi akan tiba." Sahut Shafia masih berada dalam dekapan Abrisam yang tiba-tiba saja memeluknya

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu aku kembali."


Sebelum pergi seperti biasanya Abrisam akan mencium habis wajah istrinya tanpa ampun, bibir ranum Shafia juga tidak luput dari ciumannya yang malah sekarang sudah tidak tahu tempat lagi jika ingin melakukan adegan romantis tanpa peduli akan ada yang merasa iri dan cemburu.


Shafia yang pasrah saja hanya membiarkan suaminya melakukan semua itu, baginya asalkan bukan dengan wanita lain.


Selang beberapa menit gadis manis berlesung pipi tiba di Restaurant, kedatangannya sudah di sambut heboh oleh Shafia dan Zoya.


"Vivi, kangen banget." Teriak keduanya saat gadis itu mendekat


"Ckck, kalian benar-benar ngganada kerjaan ya. Untung akku sayang, kalau ngga mana mau akku rela bolak balik New York cuma buat surat keringanan buat kalian." Cebik Vivi tidak terima karena kedua sahabatnya yang belum bisa mengikuti tes masuk Universitas malah membuatnya pusing mengurus surat perjanjian dan meminta waktu selama sebulan


"Kamu yang terbaik pokoknya, yang penting 'kan kita berdua udah ikut tes yang lain Vi. Sisanya juga mungkin cuma hal-hal yang tidak terlalu penting. Aku juga begini karena Shafia nih."


Zoya mendapat tatapan tajam dari Shafia karena seakan dia lah yang bersalah.


"Jangan salahin aku lah, mana aku tahu kalau tesnya di majuin. Kan, bulan lalu katanya di pending dulu, terus tiba-tiba ada pemberitahuan lagi aku ngga tahu." Elak Shafia membela diri


"Duh ngga usah pada main nyalahin, yang penting sekarang kalian berdua harus siap-siap minggu depan kita mulai berangkat."


"What," Pekik Shafia dan Zoya bersamaan.


Perkataan Vivi membuat kedua gadis cantik itu kaget.


"Wah parah kamu, masa iya minggu depan sih." Shafia kalang kabut mengingat sampai sekarang masalah dia akan kuliah belum juga di bicarakan dengan Abrisam


"Biasa ajah napa sih Sha?" Sentak Vivi memutar bola matanya malas


Sedangkan Zoya malah di buat curiga dengan gerak gerik Shafia.


"Sha, jangan bilang kalau kamu--" Tebaknya yang dengan cepat di balas anggukan kepala oleh gadis itu


Vivi yang sadar akan arah pertanyaan Zoya pun ikut tercengang dengan jawaban yang di berikan oleh Shafia.


"Tuh kan jangan bikin aku esmosi tingkat tinggi ya kalian berdua, kalau sampai kita ngga masuk juga minggu depan. Bisa-bisa nama kita akan di coret dari daftar mahasiswa baru, Maimunah." Protes Vivi mulai jengah


Shafia hanya menyengir kuda mendengar sahabatnya yang ikut protes.


"Entar aku omongin deh sama suami aku, semoga ajah di izinin. OK." Shafia mencoba untuk mencairkan suasana


Obrolan ketiga gadis tersebut mulai mengarah ke pembahasan lain, Zoya dan Vivi yang paham akan kondisi Shafia mencoba untuk memaklumi.


🍃🍃🍃🍃🍃


Like & Komennya di tunggu😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2