Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 6 ~ Sebuah Keputusan Yang Sulit


__ADS_3

Faiza Shafia



Merupakan gadis cantik juga manis memiliki mata indah berwana cokelat bening, hidung mancung, memiliki bulu mata lentik tebal dan panjang, bibir mungil kemerahan, tinggi badan 160 cm, berkulit putih bersih dan mulus serta mempunyai postur tubuh yang ideal dan usianya saat ini baru menginjak 18 tahun.


Abrisam Mannaf



Pria tampan yang bertubuh tinggi 185 cm, bermata hitam pekat, postur tubuh sempurna, hidung mancung, berkulit putih, bibir kecil tipis, memiliki rahang tegas, sorot matanya tajam namun sangat mempesona, memiliki alis yang tebal dan usianya saat ini menginjak 25 tahun.


.


.


Shafia langsung bungkam, ketika Iriana angkat bicara menanyakan dimana Abrisam saat ini. Dia bingung bagaimana harus menjawabnya.


Kepergian Abrisam yang mana gadis itu tidak tahu kemana suaminya pergi tentu bingung sendiri. Akibat kelelahan dan rasa kantuk yang teramat besar semalam, membuat Shafia lupa jika suaminya ternyata tidak pulang ke kamar hotel.


"Sha, kok ditanya malah melamun." Tegur Nyonya Iriana melihat cucu menantunya hanya diam.


"Aaa, maaf Nek. Anu, itu Abrisam-- ," jawab Shafia bingung.


"Iya, Abrisam mana? Kok sejak tadi Nenek tidak melihatnya, bahkan waktu sarapan juga tidak ada." Nyonya Iriana kembali menanyakan keberadaan sang cucu


"Semalam kalian berada di kamar kan?" tatapan wanita tua itu mulai curiga.


Shafia yang di tanya bukan menjawab melainkan diam menunduk, ada rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Apa yang harus dia lakukan. *Pikir*nya


Aina merasa kasihan, melihat putrinya hanya diam saja segera dia berpindah tempat duduk di dekat putrinya.


"Shafia kenapa, hmm?" tanyanya mendekati putri semata wayangnya itu, menggenggam lembut jemari lentik gadis manjanya.


"Katakan pada Ibu ada apa!" bisik Aina.


Dari sorot mata Shafia jelas terlihat jika dia sudah pasti tidak tahu di mana Abrisam berada.


Semalam Shafia ketiduran dan dia pikir suaminya sudah lebih dulu keluar kamar hotel waktu pagi tadi.


Suami macam apa yang begitu tega meninggalkan istrinya sendirian di kamar hotel bahkan saat malam pertama mereka.


Benar-benar tidak habis pikir.


"Sudah, tidak usah dijawab." Seru Nyonya Iriana memecah keheningan


"Adnan, coba kamu hubungi anak nakal itu tanyakan dimana ia berada!" titahnya pada sang putra.


"Baik Mih," sahut Adnan cepat.


Pria itu langsung menghubungi putranya dan tepat di dering ketiga sambungan telefon berhasil.


[Ada apa, Pah?]


"Dimana kamu?" tanya Adnan langsung.


[Apartement, Pah.]


"Dengan siapa?" tanya Adnan lagi.


[,,,,,,,,,,,]

__ADS_1


"Bri, ditanyain malah diam" kesal Adnan.


[Ah, iya aku ... Sayang siapa yang telfon?]


Terdengar suara wanita di seberang sana membuat darah Adnan langsung mendidih.


"Abrisam ... apa kau sedang bersama dengan sesesorang?" geram Adnan tangannya mengepal kuat.


[Maaf Pah, nanti aku hubungi lagi]


Tutt.


Sambungan telepon langsung terputus membuat Adnan murka.


"Dasar anak kurang ajar" hardiknya mengagetkan semua orang.


Adnan emosi ketika selesai berbicara dengan putranya.


"Ada apa, Pah? Kenapa kamu tiba-tiba marah begitu?" tanya Ririn kaget.


Sebelumnya wanita itu pergi ke dapur mengambil minum, dia tidak mendengar percakapan dari kedua prianya.


"Apa kamu tidak tahu kemana anak sialan itu pergi?" tanya Adnan.


"Lihat apa yang anak itu lakukan, disini istrinya sedang menunggu tapi anak itu ..." Kilatan emosi benar-benar jelas terlihat di matanya.


"Apa maksud ucapan mu? Kamu berfikir jika aku sengaja menyembunyikan keberadaannya, haa?" berang Ririn ikut emosi.


"Aku memang tahu kelakuan putra ku, tapi bukan berarti aku mendukung apa yang ia lakuan. Memangnya apa yang terjadi? Aku bahkan tidak dengar apa yang kalian bicarakan." Air mata Ririn jatuh mengalir


Suasana ruang tamu semakin tegang, bukan tanpa alasan mengapa Adnan sampai murka.


Itu karena saat tadi ia menghubungi sang putra, volume yang ada di benda pipih miliknya sengaja dibesarkan. Sehingga siapa saja yang ada di ruangan itu sudah pasti ikut mendengarkan.


Lalu bagaimana dengan Shafia?


Gadis itu bahkan tidak sekalipun mengangkat wajahnya yang menunduk sejak Adnan berbicara dengan Abrisam. Semua mata tertuju padanya, melihat Shafia yang masih sangat polos dan lugu itu sungguh kasihan.


"Adnan tenanglah! Jangan kamu memarahi istrimu seperti itu," tegur Nyonya Iriana tidak suka.


"Dia tidak tahu kemana anak itu pergi, jangan kamu berprasangka buruk padanya apalagi sampai meninggikan nada bicaramu."


Adnan langsung terdiam tidak lagi marah. Ia salah sudah memarahi istrinya sendiri, pria itu langsung memeluk sang istri yang kini menangis pilu.


"Maafkan aku," sesalnya memeluk erat Ririn.


"Tidak apa-apa, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi aku mohon jangan sakiti anak kita," jawab Ririn lirih.


"Aku akan mendengarkan mu, hanya kali ini saja Ririn. Hanya kali ini," tegas Adnan menekan Kalimat terakhirnya.


Ririn yang tahu jika suaminya benar-benar telah habis kesabarannya hanya diam. Katakan saja dia egois, tapi jika anaknya di sakiti jelas saja dia tidak akan tinggal diam.


"Shafia, kamu baik-baik saja?" tanya Nyonya Iriana melihat Shafia yang diam menunduk.


Wanita tua itu mengusap lembut lengan Shafia membuat gadis manis itu tersentak kaget merasakan lengannya disentuh.


"Aaa, aku baik-baik saja. Nenek tidak usah khawatir," jawab Shafia tersenyum walau hati dan pikirannya entah kemana.


Nyonya Iriana berpikir mungkin sekarang waktu yang pas untuk membicarakan bagaimana kelanjutan hubungan cucunya dan cucu menantunya.


Tidak baik jika nantinya malah hanya akan semakin rumit. Pikir wanita itu


"Ada yang mau Nenek bicarakan dengan mu," ucap pelan Nyonya Iriana.

__ADS_1


"Soal apa, Nek?" tanya Shafia sedikit ragu.


"Tidak disini," Nyonya Iriana bangkit dari sofa di ikuti Shafia.


Mereka berjalan menaiki tangga menuju sebuah ruangan pribadi yang berada di lantai atas.


Sementara yang lain fokus pada kegiatan masing-masing. Mengobrol, bermain ponsel dan ada juga yang menonton TV.


Mereka tidak mau ikut campur soal hubungan yang terjalin secara tiba-tiba tersebut.


"Apa yang mau Nyonya Iriana bicarakan dengan Shafia, sayang?" tanya Aina pada Arqa.


"Tidak tahu, mungkin sesuatu yang sangat penting." Jawab Arqa


"Sayang, apa yang akan Mami lakukan?" tanya Ririn juga pada suaminya.


"Jangan bertanya, bahkan aku pun tidak tahu jalan pikiran Mami" balas Adnan tidak mau ambil pusing.


Kedua pasangan suami istri tersebut hanya menerka-nerka, apa kira-kira yang akan di bicarakan wanita tua itu pada Shafia.


.


.


Shafia dan Nyonya Iriana kini berada di salah satu ruangan pribadi, atau lebih tepatnya kamar tidur wanita paruh baya itu.


Nyonya Iriana sengaja membawa Shafia agar menjauh dari anggota keluarganya, dia hanya ingin membicarakan hal penting berdua saja dengan gadis itu.


Shafia duduk di sofa panjang, ada rasa gugup dan takut. Namun meski begitu, dia memberanikan diri untuk memulai percakapan lebih dulu.


"Ada apa, Nek?" tanyanya langsung.


Melihat gadis itu sepertinya sangat penasaran, Nyonya Iriana sampai tertawa.


"Kamu tidak mau mengatakannya padaku, hmm?" ucap wanita tua itu.


Shafia yang tidak mengerti menatap bingung padanya.


"Apa yang mau di katakan, Nek?" tanyanya polos.


"Kamu pasti sudah tahu mengenai cucuku, jadi langsung saja pada intinya" terang Nyonya Iriana.


Hening.


Shafia tidak langsung menjawab, apa keputusannya sudah benar? Menerima pernikahan ini tanpa berfikir kedepanannya akan bagaimana.


Untuk pertama kalinya gadis itu di hadapkan dengan kenyataan hidup yang tidak pernah sekalipun dia bayangkan. Haruskah dia terima atau menyerah?


"Apa pendapat ku sangat di perlukan?" tanya Shafia.


"Kamu harus mengambil keputusan sayang," jawab Nyonya Iriana tersenyum.


"Bisakah aku memilih?" tanya Shafia lagi.


"Semua ada dalam genggaman mu."


Benar. Shafia sendiri lah yang harus memutuskan apa akan lanjut atau mundur.


Sebuah keputusan yang sulit. Pikirnya


"Baiklah. Akan aku coba walaupun aku tidak yakin."


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan kasih hadiahnyaπŸ™πŸ™


__ADS_2