
Shafia tiba-tiba saja merasakan keram di bagian bawah perutnya, inilah yang akan terjadi jika hati dan pikirannya tidak tenang.
"Aww, sshh."
Dia meringis pelan seraya memegang perut bagian bawah.
Terlalu kesal tidak baik untuk kesehatan tubuhnya, kalau sudah begini mau tidaak mau Shafia mencari suaminya demi meredakan rasa tidak nyaman tersebut.
"Hubby." Teriaknya lumayan kuat
Abrisam yang kebetulan masih berada di dalam ruangannya cepat-cepat menghampiri sang istri di dalam kamar.
"Ada apa sayang?" Tanyanya dengan raut wajah panik
Baru saja ia akan keluar ruangan menuju tempat di adakannya rapat, tetapi mendengar teriakan dari istrinya membuat Abrisam tersentak kaget.
"Sakit, By." Adu Shafia sambil memegang perut bagian bawah
Abrisam yang paham langsung mendekat, di peluknya penuh sayang sembari mengusap lembut perut sang istri.
"Masih sakit?" Tanya Abrisam pelan
"Sedikit, Hubby tuh bikin aku kesal." Jawab Shafia ketus
Ciuman tiba-tiba mendarat sempurna di bibir Shafia yang memerah, dari ciuman berubah menjadi lumMaAtan lembut namun sedikit menuntut.
Tangan Abrisam sudah merambat kemana-mana mencari sesuatu yang paling di sukainya, satu tangan menahan tengkuk sang istri agar ciuman tidak terlepas, sementara tangan lainnya mencari pengait BRA yang di kenakan Shafia.
Nafasnya kian memburu ingin melakukan lebih dari sekedar ciuman, melihat gadis halalnya hanya diam tanpa melakukan perlawanan, membuat Abrisam semakin terpancing insting kelelakiannya.
"Aku menginginkannya sayang." Bisik Abrisam pelan di telinga Shafia
Gadis itu merinding kegelian, merasakan sesuatu menyentuh perutnya.
"Udah sana pergi rapat! Nanti Hubby bisa di marahi Nenek." Usir Shafia dengan nada terkesan halus
Bukannya mendengarkan ucapan istrinya barusan, Abrisam malah kembali menciumnya. MeluUmat benda kenyal kemerahan tersebut penuh damba, ia tidak memberikan waktu istrinya sekedar mengambil napas.
Di rasa pasokan oksigen istrinya mulai menipis baru Abrisam melepas ciumannya, napas Shafia tersengal akibat ulah gila suaminya.
"Jangan macam-macam, By! Bukannya pergi rapat malah main nyosor ajah." Sentak Shafia menatap tajam kearah suaminya
__ADS_1
"Tanggung sayang, ini aku gimana?" Rengek Abrisam merasa tersiksa bagian bawahnya mulai berulah
"Bukan urusan aku, lagian siapa suruh ngga bisa tahan sedikit ajah, udah tahu ada rapat penting malah kebablasan." Jawab Shafia masa bodoh
Dia tidak peduli sesulit apa suaminya menahan hasrat yang tidak terpenuhi, rasa kesalnya masih ada walau tinggal sedikit.
Abrisam yang tidak mendapatkan izin dari istrinya, memilih masuk ke dalam kamar mandi.
Hampir dua jam lamanya Shafia di tinggalkan sendirian dalam kamar, perginya Abrisam menghadiri rapat penting tidak di sangka akan selama ini.
"Bosan dari tadi ngga tahu mau ngapain." Gumam Shafia berbicara pelan
Dia mondar mandir dalam kamar hanya untuk mencari rasa nyaman, keluar ruangan suaminya tidak mungkin.
Hampir setengah jam lamanya Shafia menunggu, akhirnya pintu ruangan terbuka menampakkan sosok yang sedari tadi selalu di sebutnya.
Dengan langkah cepat Abrisam menghampiri istrinya dalam kamar, rasa khawatir karena terlalu lama meninggalkan sang istri membuat Abrisam segera keluar ruangan setelah rapat selesai.
"Sayang, maaf. Tadi rapatnya ada sedikit masalah." Ucap Abrisam penuh sesal
"Kangen, Hubby." Rengek Shafia sudah berhambur ke dalam pelukan suaminya
"Maaf ya, aku ngga tahu kalau ada masalah sedikit, untung ajah ada Hanif yang bisa di andalkan." Sahut Abrisam seraya mengusap lembut punggung gadis halalnya tersebut
Kebetulan jam makan siang sebentar lagi tiba, mengajak sang istri makan siang di luar sekalian jalan-jalan menurut Abrisam ada baiknya.
"Ayok! Kebetulan aku pengen bangat jajan di luar, kita pergi ke tempat yang waktu itu boleh?" Seru Shafia begitu antusias
"Boleh dong sayang, tapi janji jangan lari-lari. OK!" Abrisam tersenyum bahagia
"Siap Hubby." Kekeh Shafia
Sebelum pergi Abrisam mengambil jaket warna hitam di dalam lemari untuk ia kenakan, tidak lupa dengan sang istri.
Keduanya berjalan keluar dari ruangan beriringan, lift langsung membawa mereka sampai ke lobi parkiran.
Tring
Saat keluar dari lift, beberapa karyawan menyapa Shafia yang notabennya sudah terkenal di perusahaan milik Abrisam.
Semua karyawan tahu bagaimana galaknya Shafia ketika dulu Chayra nekat datang ke kantor, aksi bar-bar yang di tunjukkan Shafia tersebar sampai ke semua bagian departemen.
__ADS_1
Tidak heran bila nama Shafia terus di sebut para karyawan di kantor, baik yang baru masuk kerja maupun sudah lama mengabdikan diri di perusahaan milik Abrisam tersebut.
Hanya butuh waktu lima belas menit mobil Abrisam memasuki area jajanan pinggir jalan, ia menghentikan kendaraannya tepat di samping kedai kopi.
"Ingat tadi udah janji loh, ngga akan lari-lari." Ulang Abrisam mengingatkan istrinya
"Iya Hubby, sayang. Takut bangat deh kalau aku lari-lari, lagian beli makanannya bareng By, juga." Shafia menatap malas suaminya
Melihat raut wajah masam istrinya, dengan cepat Abrisam mencuri ciuman atau lebih tepatnya sedikit memberi lum matan lum matan kecil.
Di rasa istrinya mulai tenang kembali baru Abrisam melepas ciumannya, hanya itu cara meluluhkan hati gadis cantik kesayangannya itu.
Shafia keluar dari mobil setelah Abrisam membukakan pintu bagian samping kemudi, senyum manis tidak lepas dari bibir indahnya.
"Aku tuh jadi ingat pertama kali kita datang kesini." Tutur Shafia tanpa menghilangkan senyumannya
"Hubby masih ingat kan?" Lanjutnya bertanya pada Abrisam
"Hmm, ingat bangat malah. Apalagi pas ada seorang istri yang begitu cemburu lihat suaminya banyak yang mengagumi." Jawab Abrisam sengaja menggoda istrinya
Pipi Shafia memerah karena malu, kenapa harus bagian itu yang di ingat suaminya. Padahal ada banyak yang bisa di bahas, tidak harus bagian itu juga.
"Tau aaa, Hubby mah suka gitu. Senang bangat deh godain istri yang mudah cemburu." Cebik Shafia dengan bibir yang mengerucut
"Jangan di gituin sayang, kalau ada yang lihat bahaya." Protes Abrisam sengaja menyentil pelan bibir mungil istrinya
"Apaan sih, By." Sentak Shafia tidak terima
Abrisam tertawa pelan melihat raut wajah kesal istrinya yang menggemaskan, berkali-kali di ciuminya pipi Shafia yang sedikit berisi.
Beberapa jajanan pinggir jalan sudah di beli Shafia, tidak lupa Abrisam juga ikut membeli beberapa macam makanan kesukaannya.
Hampir setiap tenda di masuki keduanya hanya untuk mencari sesuatu, di rasa sudah cukup akhirnya Shafia meminta Abrisam untuk pulang.
"Banyak bangat yang di beli Hubby, udah kayak mau jualan ajah." Kekeh Shafia keheranan melihat beberapa kantong plastik penuh makanan milik suaminya
"Kalau ngga habis kan, bisa di kasih ke Hanif dan lainnya." Balas Abrisam santai
Shafia memukul pelan lengan suaminya, merasa tidak terima dengan jawaban yang pria itu lontarkan.
"Kalau mau ngasih itu yang belum di sentuh bukan sisa dari kita makan." Protesnya menegur sang suami
__ADS_1
Yang di tegur hanya tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
🍃🍃🍃🍃🍃