
Dua hari sudah berlalu, di mana Abrisam mengajak Shafia untuk menginap di Hotel.
Selama mereka di sana, tidak ada yang berani mengganggu. Sebab, Abrisam sudah berpesan terlebih dahulu selama mereka libur jangan ada yang mencari.
Abrisam akan membawa Shafia ke kantor, ia melarang gadis itu untuk pergi bekerja padahal jam makan siang masih bisa bertemu.
"Kok aku harus ikut kamu ke kantor?" Tanya Shafia bingung
"Ngga usah kerja lagi, mulai hari ini dan seterusnya kamu akan tetap ikut aku kemana pun." Jawab Abrisam santai
Mendengar jawaban suaminya membuat Shafia tercengang.
"Ngga bisa gitu dong, Bri." Protes Shafia tidak terima
"Aku ngga enak sama Zoya, baru juga belum lama aku kerja bareng dia masa langsung berhenti mendadak sih." Sambungnya dengan nada terdengar sedikit kesal
Abrisam tidak menggubris ucapan Shafia yang masih tetap keukeh pergi kerja, tidak ingin berdebat mau tidak mau gadis itu hanya bisa menurut saja.
Tidak ada gunanya melawan, meski tidak suka Shafia harus mendengarkan apapun yang di katakan suaminya.
Padahal rencananya hari ini, dia dan sahabatnya akan pergi berkunjung ke kafe yang beberapa hari lalu telah resmi di buka. Cabang baru yang nantinya akan di kelola oleh Shafia atas permintaan sahabatnya.
.
.
Saat ini, Shafia sudah berada di Perusahaan.
Beberapa menit yang lalu saat sampai di ruangan Abrisam. Tidak lama Hanif datang menyampaikan jika akan ada rapat sampai sebelum jam makan siang, ada begitu banyak masalah yang harus di bahas saat rapat berlangsung.
Shafia yang di tinggalkan sendirian hanya duduk diam di kursi kebesaran milik Abrisam sambil menonton sebuah film kesukaannya.
Ceklek.
Abrisam masuk ke dalam ruangannya sambil mencari Shafia yang tiba-tiba saja ia rindukan saat rapat sedang berlangsung.
Ia tersenyum bahagia kala melihat Shafia yang begitu serius menonton, masih duduk di kursi kebesaran miliknya dengan posisi membelakangi pintu, gadis itu mungkin tidak mendengar suara pintu yang di buka.
Langkah kaki Abrisam perlahan mendekat ke arah Shafia yang masih belum menyadari kedatangannya.
CUP
Satu kecupan mendarat di pipi kiri Shafia membuat yang di cium menoleh ke arah pria itu.
"Bri, udah selesai rapatnya?" Tanya Shafia menghentikan aktifitasnya menonton
__ADS_1
Shafia merentangkan kedua tangannya menghadap Abrisam yang tersenyum geli, dengan senang hati ia meraih tubuh langsing Shafia agar bisa masuk ke dalam dekapannya.
"Aku kangen." Rengek Shafia begitu manja
Entah mengapa hari ini gadis itu begitu merindukan suaminya, baru saja di tinggal beberapa jam sudah membuatnya jenuh berada dalam ruangan Abrisam sendirian.
"Tumben bangat istri aku manja hari ini." Goda Abrisam sambil menciumi seluruh wajah Shafia, membuat gadis itu tertawa menahan geli.
Puas mengganggu sang istri yang kini sudah beralih duduk di atas pangkuannya dengan posisi saling berhadapan, tangan Abrisam dengan lembut mengusap pipi Shafia yang begitu putih bersih dan halus.
Betapa bersyukurnya ia saat ini bisa mendapatkan seorang Istri yang hampir tidak sekalipun berlaku kasar padanya, gadis cantik yang dulunya begitu benci dan menjauhinya justru sekarang telah menjadi istrinya.
Cukup lama keduanya saling diam dengan perasaan yang sulit di ungkapkan, meski usia pernikahan sudah menginjak satu bulan. Tetapi sampai sekarang Shafia belum pernah mengutarakan perasaannya.
Mungkin gadis itu masih perlu waktu untuk menatah hati dan perasaannya, biarlah semua berjalan dengan perlahan tanpa harus di paksakan.
"Sudah waktunya makan siang, mau keluar cari makan sambil jalan-jalan?" Seru Abrisam mengajak Shafia untuk makan siang di luar
"Boleh juga, sekalian kita jalan-jalan sebentar ya?" Sahut Shafia yang langsung di iyakan Abrisam
Pria itu langsung menggandeng tangan Shafia keluar ruangan menuju lift yang terhubung dengan parkiran.
Keduanya langsung masuk ke dalam mobil yang siap membawa mereka menuju sebuah Restaurant lumayan jauh dari Perusahaan.
Abrisam yang begitu asik mengganggu Shafia tidak sadar jika kini mobil sudah berhenti di halaman parkiran.
"Terima kasih Paman," sahut Abrisam yang turun lebih dulu membukakan pintu untuk Shafia.
"Terima kasih, suamiku." Ucap Shafia sambil meraih tangan Abrisam keluar dari dalam mobil
Mereka masuk ke dalam Restaurant langsung di sambut dengan ramah beberapa pelayan yang berjejer rapih melihat kedatangan sang Presdir.
"Selamat siang Pak Presdir." Sapa semua pelayan yang ada
"Siang, tidak perlu menyambut ku seperti itu. Kalian tetaplah bekerja seperti biasa." Sahut Abrisam mengatakan pada mereka untuk kembali melakukan aktifitas masing-masing
Semuanya mengangguk paham kemudian kembali bekerja.
Shafia duduk di salah satu meja makan seperti biasa posisinya berada di samping jendela, beberapa menu makanan dan dua buah minuman sudah di pesan oleh Abrisam.
Sepuluh menit kemudian semua makanan sudah tersaji di atas meja, keduanya makan dengan tenang tanpa di barengi obrolan apapun.
Usai makan siang. Abrisam membawa Shafia menuju salah satu Mall terbesar di pusat kota, gadis itu terlihat sangat bahagia bisa keluar meski hanya sekedar jalan-jalan.
Sudah beberapa toko yang di lewati namun tidak ada satu pun yang ingin di beli Shafia membuat Abrisam merasa heran.
__ADS_1
"Yakin ngga mau beli sesuatu?" Tanya Abrisam lagi mengingat hampir semua yang di perlukan semua wanita sudah mereka lewati namun tidak ada yang Shafia inginkan.
"Ngga, aku cuma mau jalan-jalan ajah Bri. Lagi pula di rumah masih banyak, yang belum sempat di pakai juga ada. Masih tersusun rapi di dalam lemari." Jawab Shafia jujur membuat Abrisam hanya bisa menggelangkan kepala
"Ckck, di luar sana banyak wanita yang suka berbelanja, tapi giliran Istri sendiri yang di ajak belanja ngga ada yang mau di beli." Heran Abrisam namun juga merasa sangat beruntung memiliki istri yang tidak banyak menuntut.
Bisa di bilang orang tua Shafia juga merupakan salah satu keluarga yang berada, memiliki perusahaan cukup besar dengan beberapa aset yang tidak sedikit nilainya.
Akan tetapi, meski Shafia memiliki semuanya tidak membuat gadis itu menjadi sombong.
.
.
Tepat jam 3, Abrisam kembali ke Perusahaan.
Pria itu tidak mengizinkan Shafia yang memohon untuk pergi ke Restaurant di mana istrinya bekerja. Sikap keras kepala Abrisam tidak terbantahkan, jika sudah berkata tidak maka jawabannya tetap akan sama.
"Jangan berulah sayang, aku melakukan semua ini demi dirimu juga. Lebih baik kamu duduk diam dan jangan membantah." Tegas Abrisam tetap melarang istrinya untuk pergi
"Tapi kan ..."
CUP
Shafia tak melanjutkan kalimatnya kala bibir Abrisam menyentuh lembut bibirnya, rasa hangat menjalar di seluruh tubuh gadis itu.
Cukup lama Abrisam mendiamkan bibirnya tetap menempel pada benda kenyal milik Shafia, di rasa gadis itu hanya diam saja. Ia memberanikan diri melUmaAt lembut benda kenyal tersebut.
Cukup lama mereka melakukan hal yang baru pertama kali di lakukan selama menikah. Di rasa Shafia seakan kehabisan nafas baru Abrisam melepas ciumannya.
Sangat jelas terlihat rona wajah Shafia yang memerah karena malu, nafasnya tersengal-sengal akibat kelakuan pria itu.
"Aku Mencintaimu."
Sebuah kalimat yang tidak bosan-bosannya terucap dari mulut Abrisam.
Bohong jika Shafia tidak merasa sangat bahagia selalu di perlakukan dengan istimewa dari pria yang menjadi suaminya.
Ingin rasanya Shafia membalas pernyataan cinta suaminya, tetapi sekarang belum waktunya.
Maafkan aku, suamiku. Mungkin aku adalah satu-satunya wanita yang sangat egois, tidak pernah balik membalas perasaan yang selalu kau ungkapkan.
Shafia hanya mampu berbicara dalam hati berharap semua masalah yang datang menghampiri rumah tangga mereka bisa mendapat jalan keluar dengan cepat.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1