
Sejak Shafia di nyatakan hamil dan harus banyak istirahat di rumah, Abrisam sengaja meminta cuti dari kampus istrinya mulai dari cuti hamil sampai akan melahirkan.
Tentu semua tugas dan beberapa M.K yang masih harus di ikuti Shafia, sudah ada dua anak gadis kesayangannya yang begitu setia membantu.
Seperti hari ini, Abrisam sengaja tidak masuk kantor demi menemani sang istri tercinta.
Beberapa menit yang lalu, salah satu sahabat Shafia menghubunginya lewat sambungan telefon, mengatakan selesai makan siang nanti dua anak gadis yang merupakan sahabat istrinya tersebut akan datang ke rumah.
Betapa hebohnya Shafia kala mengetahui akan ada kunjungan dari kedua sahabatnya yang kebetulan hampir satu bulan terakhir ini mereka tidak lagi saling bertemu.
Shafia begitu cerewet meminta beberapa pelayan di rumah untuk menyiapkan makanan. Sudah ada berbagai macam aneka kue dan cemilan lengkap dengan minuman kaleng tersedia di atas meja ruang tamu.
Melihat bagaimana antusiasnya sang istri menyambut kedatangan Vivi dan Zoya, ada kebahagiaan tersendiri dalam hati Abrisam.
"Jangan gerak berlebihan sayang, kamu lagi hamil besar loh." Tegur Abrisam cepat meraih tubuh berisi Shafia agar kembali duduk
"Aku tuh udah lama nggak nyiapin kayak gini, By." Sahut Shafia pelan sembari menyandarkan punggungnya di dada bidang Abrisam
Memiliki berat badan yang dua kali lipat lebih besar dari wanita hamil biasanya, sering membuat Shafia kesulitan bila tanpa sengaja bergerak lebih seperti sekarang.
__ADS_1
"Kalau nggak nyaman bilang ya, aku takut kamu kenapa-napa, sayang." Abrisam sebenarnya khawatir akan kondisi sang istri
Inilah yang tidak di sukai pria tampan itu, sengaja menunda ingin mempunyai anak di usia pernikahan yang terbilang masih baru, tidak terpikirkan Abrisam jika harus membuat Shafia segera hamil.
Belum lagi usia sang istri masih sangat mudah dan rentan terkena masalah bila kesiapan untuk mempunyai anak masih lah abu-abu.
Akan tetapi, perkiraan Abrisam justru meleset jauh dari apa yang ia bayangkan. Shafia justru lebih antusias di bandingkan dirinya ketika mengetahui ada benih cinta hasil kerja keras sang suami hidup di dalam rahimnya.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah menjadi satu-satunya alasan aku masih bertahan hidup. Entah bagaimana jadinya bila aku tanpa mu, pertemuan kita yang terbilang aneh dan singkat justru membawa ku sampai di titik terakhir yaitu mencintaimu dan menyayangi mu sampai maut memisahkan kita."
"Aku tidak menuntut apapun darimu, karena yang aku tahu sekarang ini hanya kamu lah tempat aku pulang dan menceritakan semuanya."
Abrisam mengeluarkan semua isi hatinya, mengatakan jika hanya akan ada satu Shafia di dalam hidupnya dan selamanya akan hanya ada Shafia.
Betapa beruntungnya gadis itu mendapatkan pendamping hidup yang begitu tulus mencintainya tanpa syarat.
Air mata Shafia jatuh mengalir tidak dapat menahan rasa harunya, kini yang dia inginkan hanya satu.
Tetap bersama dan terus berjuang memperbaiki hidup meski terkadang berbagai macam rintangan sudah Shafia lalui.
__ADS_1
"Tuh kan, Hubby nakal deh. Aku jadi nangis," protes Shafia malu karena berhasil di buat menangis.
Abrisam tertawa pelan lalu menghujani seluruh bagian wajah sang istri dengan ciuman bertubi-tubi penuh kasih sayang.
"Kalau kayak gini aku malah pengen makan kamu, sayang," bisik Abrisam pelan tepat di telinga Shafia.
Betapa gugupnya gadis itu merasakan tangan jahil milik Abrisam mulai menjalar kemana-mana.
Hanya dalam hitungan detik, tubuh berisi dan lumayan berat Shafia terangkat ke atas.
"Eh, mau kemana?" paniknya mulai waspada melihat tatapan mata suaminya dari arah dekat seperti itu.
Abrisam tersenyum menyeringai, masih ada sisa waktu yang cukup untuknya mengganggu Shafia.
"Aku ingin bersenang-senang," bisiknya pelan seraya menggigit telinga sang istri gemas.
Shafia hanya bisa pasrah, meladeni tingkah suaminya yang semakin hari semakin bertambah nafsu biRraHinya.
"Padahal masih siang loh, By."
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃