Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 44 ~ Mendapat Hukuman


__ADS_3

Lima hari telah berlalu.


Hari di mana Shafia meminta izin pada Abrisam untuk masuk kuliah berakhir dengan persetujuan pria tampan itu mengiyakan keinginannya.


Abrisam tidak mempermasalahkan kemauan gadis itu, selama istrinya merasa nyaman dan bahagia ia takan melarang apapun yang akan Shafia lakukan.


Masih tersisa dua hari lagi sebelum pergi ke negara tempat di mana Shafia dan kedua sahabatnya kuliah, sisa waktu yang ada justru di gunakan Abrisam untuk menyelesaikan semua masalah di perusahaan sebelum ia kembali lagi ke perusahaan pusat sekaligus menemani Shafia yang juga kuliah di sana.


Beberapa data-data penting sudah di selesaikan, semua yang menyangkut kerja sama dan juga beberapa proyek yang di bangun sudah 90% selesai, tinggal menunggu hari peresmian.


Di ruang makan, sudah ada keluarga besar baik dari pihak Shafia maupun Abrisam untuk sarapan bersama.


Mereka sengaja berkumpul demi memastikan keseriusan Shafia yang katanya ingin lanjut kuliah.


Tidak ada penolakan dari siapa pun, semuanya justru mendukung keinginan gadis cantik itu.


"Kamu udah pikirin matang-matang sayang?" Tanya Aina usai sarapan


Semuanya kini berada di ruang tamu untuk mengobrol hal-hal yang penting, apalagi ini menyangkut menantu dari keluarga Qiemyl.


"Iya Bu, minggu depan sudah harus masuk kuliah." Sahut Shafia menjawab pertanyaan Ibunya


"Yaa, Ibu di tinggal dong." Desah Aina pura-pura merasa sedih


"Ibu jangan gitu. Kan, disana juga Shafia tetap kasih kabar ke Ibu dan Ayah." Protea Shafia tidak suka bila Ibunya memasang tampang wajah sedih


"Sudah, jangan menghasut pikiran putri kita, lagi pula dia sudah dewasa dan juga sudah menikah. Ada suaminya yang akan bertanggung jawab menjaganya." Timpal Arqa mulai angkat bicara


Sementara Nyonya Iriana dan lainnya hanya tersenyum mendengar percakapan mereka.


Ruang tamu di mansion utama itu begitu ramai, jarangnya mereka berkumpul tentu menjadi kesan tersendiri mengingat ini akan menjadi waktu terakhir mereka bersama dengan pasangan suami istri kesayangan dari Nyonya Iriana tersebut. Sang Pemilik Kekuasaan


"Ngga seru lagi dong, kalau nantinya Kakak sudah di sana." Kata Ariana sangat sedih akan di tinggalkan Kakak dan Kakak iparnya tersebut


Semenjak gadis cantik berambut pirang itu tahu kalau Kakaknya sudah menikah dan memiliki istri yang sangat baik hati dan juga cantik. Ariana memilih untuk tinggal di negara asal hanya demi terus menempel pada Shafia.


Akan tetapi, karena tidak ada pekerjaan sama sekali, mau tidak mau Ariana harus mengiyakan permintaan sang Papa untuk membantu mengurus beberapa properti yang sudah berpindah tangan atas namanya.


"Kan bisa datang kesana kalau Adek rindu." Rayu Shafia menenangkan gadis kecil yang terus bermanja padanya meski jarangnya mereka bertemu


"Nanti Kakak ngga bolehin Adek kesana." Adu Ariana yang tahu betul seperti apa kelakuan Abrisam


Shafia langsung menatap tajam kearah suaminya yang ketahuan suka mengancam gadis kecil manja kesayangannya itu.


"By, jangan macam-macam ya. Awas ajah kalau sampai melarang Adek bertemu aku!" Ancam Shafia tidak main-main membuat semua yang berada di ruang tamu ikut tertawa melihat betapa takutnya pria tampan itu pada istrinya.

__ADS_1


"Beraninya cuma main ngadu ajah." Sindir Abrisam tidak terima di salahkan


Ia yang tidak suka waktunya bersama sang istri di ganggu tentu membuatnya tidak segan-segan mengusir siapa saja yang datang bertamu ke rumah hanya untuk bertemu Shafia.


"Ngga boleh gitu, Kak. Lagian Adek ngga bisa jauh dari Shafia." Tegur Ririn membela Ariana


"Abrisam cuma ngga suka waktu bersama istrinya di ganggu Mah, takut nantinya Adek bakal bikin rusuh lagi." Timpal Adnan ikut memanas-manasi


Abrisam yang tidak mampu lagi berdebat memilih duduk di samping Neneknya seraya mengadu.


"Lihatlah Nek, betapa mereka begitu membela gadis nakal itu di bandingkan aku. Sebenarnya aku anak mereka atau bukan sih?" Kesalnya mengadu pada Nyonya Iriana


"Kamu ini sudah dewasa tapi masih begitu manja pada Nenek." Kekeh Nyonya Iriana sembari mengusap lembut kepala Abrisam yang berbaring di atas pangkuannya


Hanya dengan wanita itulah Abrisam akan menurut dan tunduk, semua masalahnya akan di ceritakan pada sang nenek yang tak sekalipun protes.


.


.


Usai mengobrol setelah sarapan selesai tadi pagi, siangnya Abrisam meminta izin pada Shafia dan keluarganya untuk keluar sebentar, alasannya ada sesuatu yang penting harus di kerjakan.


Sampai makan malam tiba pria tampan itu belum juga kembali, bahkan makan siang pun ia tidak pulang.


"Ponselnya ngga aktif, Nek. Tadi siang cuma kirim pesan, katanya bakal pulang terlambat. Ngga tahu kalau jam berapa." Jawab Shafia jujur apa adanya


"Ya sudah, kembalilah ke kamar! Nenek akan coba hubungi bahawan Abrisam untuk menanyakan keberadaanya."


"Baiklah, Nek. Kalau gitu Shafia pamit balik ke kamar dulum." Pamit gadis itu yang hanya di balas anggukan kepala oleh Nyonya Iriana


Shafia berlalu keluar dari kamar menuju kamar Abrisam yang terletak di lantai atas.


Saat di perjalanan menuju kamar, tanpa sengaja gadis itu bertemu dengan Asisten Hanif yang berpapasan baru akan masuk ke salah satu kamar sedikit jauh dari kamar Abrisam.


"Loh Asisten Hanif." Kaget Shafia kemudian mencari sosok lain yang tidak di lihatnya


"Abrisam mana? Kenapa hanya kamu yang kembali?" Sambungnya menanyakan keberadaan suaminya.


Hanif yang baru akan membuka pintu langsung berhenti di depan pintu kamar guna menjawab pertanyaan Nyonya Mudanya tersebut.


"Bos masih disana." Jawab Hanif singkat namun membuat Shafia bingung


"Di sana--, disana mana maksud mu?" Tanya Shafia lagi


Hanif bingung bagaimana caranya menjelaskan pada Istri dari Bosnya itu. Daripada kena masalah lebih baik ia menjawab seadanya.

__ADS_1


"Bos ngga izinin saya untuk memberi tahu, maaf Nyonya."


Usai mengatakan itu, Hanif bergegas masuk ke dalam kamar meninggalkan Shafia yang melongo penuh keheranan.


"Issh. Ngga Asisten, ngga Bosnya sama saja." Kesal Shafia ikut masuk ke dalam kamar dengan perasaan jengkel


Di dalam kamar, gadis itu memilih merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang terletak di samping tempat tidur.


Shafia langsung menyalakan TV dan menonton beberapa film kesukaannya, tidak adanya Ariana yang pergi keluar menghadiri pesta ulang tahun temannya membuat Shafia merasa kesepian dan bosan berdiam diri di kamar.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tetapi pria tampan yang di tunggunya sedari tadi tidak kunjung pulang.


Hal itu membuat Shafia kesal dan mengomel tanpa henti sampai terdengar ada suara beriton dari arah pintu kamar, membuatnya sontak terdiam.


"Wahh, udah berani ya ngatain suami di belakang." Todong Abrisam yang berjalan pelan mendekati sofa panjang, dimana ada Shafia disana tertangkap basah ketahuan mengumpat.


"Bagusnya di kasih hukuman apa ya." Lanjutnya semakin dekat bahkan kini sudah duduk di atas karpet menghadap Shafia yang terdiam kaku


Glek


Gadis itu menelan ludah kuat-kuat menahan geli saat merasakan tangan suaminya sudah berada di balik pakaian bagian atas.


"By, jangan." Cegah Shafia memohon sambil menahan tangan suaminya yang mulai bergerak nakal


"Siapa yang menyuruh mu untuk mengatai suami di belakang, hmm?" TanyanAbrisam bertanya melepas tangannya yang masih berada di salah satu bukit kembar milik istrinya


Sementara Shafia berusaha menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan suara enah, karena merasakan geli dan juga tidak nyaman.


"Ampun By. Aku janji ngga bakalan ngatain By, lagi di belakang." Mohon Shafia menyesal telah berbuat salah


Shafia tidak kuasa menahan gejolak yang timbul dari dalam dirinya, kelakuan Abrisam yang mulai menyusuri leher jenjang miliknya dengan ciuman panas serta hembusan napas yang berat tidak mampu menahan mulut Shafia untuk tidak mengeluarkan suara.


"Jangan By." Tolak Shafia menahan suaminya yang sudah memberikan tanda-tanda kepemilikan di area leher dan juga area dada


"Sudah aku bilang bukan, jika kedapatan kamu mengatai ku di belakang, maka hukumannya tanggung sendiri." Tegas Abrisam tidak menuruti perkataan Istrinya


Malam itu tejadi lagi hubungan suami istri yang mungkin akan membuat gadis cantik bermata indah tersebut akan kesulitan berjalan pada besok pagi.


Bukan Abrisam namanya jika tidak memiliki trik licik untuk menjebak Istrinya. Ia yang sengaja bersembunyi di salah satu tiang dekat tangga melarang Hanif untuk memberitahu keberadaannya saat Shafia bertanya.


Beruntung pria tampan berkaca mata itu bisa di ajak kerja sama, sehingga apa yang ingin ia dengar dari mulut istrinya kala mengumpat kesal berakhir dengan mendapat hukuman sesuai keinginannya.


Benar-benar licik!!!!🙄🙄


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2