
Seminggu setelah Shafia di nyatakan hamil.
Hari ini, merupakan waktu yang di janjikan sang Nyonya besar pada Ririn, Adnan, Arqa dan Aina.
Ke empat orang tersebut harus ikhlas pulang ke negara asal demi mengurus pekerjaan, terlalu lama berada di tempat anak-anak mereka tidak baik.
"Mami tega bangat sih, nyuruh kami pulang hari ini." Keluh Ririn bergelayut manja di lengan sang ibu mertua
"Bukannnya Mami tega sayang, kalau kalian lama-lama disini terus nanti yang ngurusin pekerjaan di sana siapa? Ngga mungkin kan, berkas-berkas yang butuh tanda tangan Adnan kelar gitu ajah." Jelas Nyonya Iriana dengan nada terkesan lembut
Rasa sayang wanita paruh baya itu terhadap Ririn tidak bisa di ragukan lagi, terlebih kehadiran sang menantu menjadi penghibur hatinya selama di rumah utama.
"Mami ikut kami pulang juga yuk! Biar Ririn ngga bosan di rumah, ngga ada Mami rasanya sepi." Pinta Ririn
"Kamu ini sudah besar masih ajah manja, lihat tuh ngga malu apa di perhatikan sama yang masih muda." Kekeh Nyonya Iriana menggoda menantu kesayangannya tersebut
Wajah Ririn memerah menahan malu, sikap manjanya pada sang ibu mertua ternyata di perhatikan putra dan menantunya.
Shafia sampai menahan tawanya agar tidak pecah gara-gara tingkah lucu wanita cantik yang sangat menyayanginya itu.
"Hubby," panggil Shafia pelan pada suaminya.
"Iya sayang ada apa, hmm?" Sahut Abrisam bertanya
"Mama lucu ya kalau lagi manja sama Nenek." Kekeh Shafia berbicara pelan takut di dengar Ririn
"Itu belum seberapa sayang, kalau lagi di rumah utama biasanya Mama akan lebih manja dari ini ke Nenek. Apalagi kalau ada maunya, semua cara akan Mama lakukan demi mendapatkan sesuatu dari Nenek." Balas Abrisam ikut berbicara pelan
Pasangan suami istri tersebut begitu asik membicarakan Ririn, keduanya sampai tidak sadar orang yang di bicarakan ternyata sedang memperhatikan mereka.
Eheem!
Deheman Ririn yang lumayan keras sukses mengalihkan fokus Shafia dan Abrisam, rasa takut dan gugup pun mulai keduanya rasakan.
"By, apa Mama dengar yang kita omongin?" Bisik Shafia pelan di telinga suaminya
"Ngga tahu sayang, kalaupun dengar emang Mama bisa ngapain? Nenek pasti akan belain kita." Jawab Abrisam tertawa
Melihat sang putra dan menantunya masih begitu asik dengan dunia mereka sendiri, sontak Ririn buka suara.
"Kalian lebih milih asik mengobrol dari pada mengantar Mama dan lainnya ke bandara!" Kesal Ririn berlipat ganda
Belum juga hilang rasa kesalnya karena tidak di beri uang jajan lebih dari wanita baya yang di panggilnya Mami, sekarang malah di tambah kekesalannya oleh sang putra dan menantunya.
"Bandara? Ngapain Mama ke bandara?" Tanya Abrisam bingung pasalnya ia sama sekali tidak tahu apa-apa
__ADS_1
"Tanya sendiri noh sama orang yang lagi duduk santai di depan TV!" Jawab Ririn ketus enggan menatap ke arah sang ibu mertua
"Nenek, By. Kata Mama tanya ke Nenek," bisik Shafia.
Dengan langkah pelan Abrisam menghampiri sang Nenek tanpa membawa Shafia ikut serta, gadis itu memilih duduk bersama Ririn yang entah kenapa rasa inginnya terus berada dalam dekapan hangat wanita itu begitu besar.
"Mama bohong kan?" Tanya Shafia berharap yang di katakan Ririn barusan tidak benar
"Mama ngga bohong sayang, ini sudah waktunya kami pulang. Kasihan Papa dan Ayah kalau sampai harus pusing mikirin pekerjaan kantor yang mungkin sudah menumpuk, Mama sama Ibu mau ngga mau harus dengar apa yang di katakan Nenek." Jawab Ririn seraya memberi penjelasan
"Jadi beneran hari ini kalian akan pulang?" Tanya Shafia lagi
"Iya sayang, mau ya ijinin kami pulang." Pinta Ririn berharap gadis kesayangannya itu mau mengerti
Sebelum menjawab Shafia diam sejenak untuk meredam sifat egonya, benar yang di katakan Ibu dari suaminya tersebut.
Jika terus berdiam diri di sini, akibatnya akan sangat fatal terlebih kedua pria yang sangat di sayanginya memiliki tanggung jawab yang besar.
Akhirnya Shafia dengan ikhlas mengizinkan mereka pulang, dengan syarat setiap hari tidak pernah absen memberi kabar.
Kini Abrisam dan Shafia berada di bandara, mereka mengantar Ririn, Adnan, Arqa dan Aina tanpa adanya sang Nenek ikut serta.
"Hubungi Shafia kalau kalian sudah tiba nanti!" Pinta Shafia pada Adnan dan Ririn
"Papa titip cucu dan anak Papa ya sayang." Kekeh Adnan merasa lucu
"Ish, Papa ada-ada ajah. Pastinya Shafia akan jagain Hubby dan Babynya." Balas Shafia tertawa
Gadis itu beralih menghampiri Arqa dan Aina.
"Ibu dan Ayah jaga kesehatan dengan baik ya! Jangan sampai sakit, Shafia akan khawatir kalau sampai mendengar kalian kenapa-napa." Pesan Shafia seraya memeluk penuh manja Arqa dan Aina
"Siap sayang, palingan juga yang ada Ayah tuh yang susah di kasih tahu." Cebik Aina sengaja memprovokasi putrinya
"Jahat kamu, Naa. Gini-gini aku kalau kerja masih ingat waktu, kamu ajah kali yang malah sibuk nonton TV sampai lupa waktu." Protes Arqa tidak terima
Shafia sampai di buat pusing dengan perdebatan Ayah dan Ibunya, tidak pernah bertengkar tapi masalah adu debat kedua orang tuanya lah juaranya.
"Hubby." Teriak Shafia tidak tahan lagi melihat kelakuan orang tuanya
Abrisam yang kebetulan sedang mengobrol dengan Ririn dan Adnan, sampai di buat kaget mendengar teriakan dari istrinya.
"Sayang," pekiknya segera menghampiri Shafia.
Sementara Arqa dan Aina langsung terdiam saat mendengar putri mereka berteriak sambil memanggil suaminya.
__ADS_1
"Tamatlah riwat kita," gumam Arqa panik.
"Kamu sih dari tadi ngga mau berhenti." Ucap Aina pelan
Wajah khawatir Abrisam begitu jelas ketika sampai di hadapan istrinya, di peluknya penuh sayang sang pujaan hati yang sudah menangis.
"Ssstt, udah sayang tenang ya." Rayu Abrisam berusaha menenangkan istrinya
"Aku tuh kesal By, masa Ayah dan Ibu ngga berhenti juga berdebat." Adu Shafia pada suaminya
"Nanti aku marahi mereka, beraninya bikin bidadari ku ini sampai menangis." Ucap Abrisam dengan nada pura-pura marah
Shafia refleks tertawa ketika mendengar kalimat yang di ucapkan suaminya.
"Ngaur kamu, By. Memangnya berani marahin Ayah sama Ibu?"
"Berani lah sayang, kalau udah kaya gini ceritanya gimana aku ngga marah coba." Jawab Abrisam seakan ia berani
"Udah biarin ajah mereka, lagipula rasa kesal aku langsung hilang pas di peluk Hubby." Selak Shafia seraya tersenyum manis
Melihat raut wajah istrinya yang mulai kembali ceria, Abrisam langsung bernafas lega.
Drama tangisan Shafia yang mengadukan kelakuan orang tuanya pada Abrisam, tidak luput dari pandangan Ririn dan Adnan.
Tidak berselang lama pesawat yang akan membawa kedua pasangan suami istri tersebut dalam waktu lima belas menit lagi akan lepas landas, Shafia melepas kepergian mereka dengan perasaan sedih.
Beberapa pesan yang di berikan ke empat kesayangannya terus melintas di otak Shafia, ada rasa bahagia memiliki orang-orang yang sangat sayang dan mencintanya selama ini.
"Janji ngga akan nangis pas pulang nanti." Goda Abrisam pada istrinya
"Ngapain nangis, kan ada Nenek di rumah. Ada Hubby juga, tadi 'kan mereka udah janji bakal kasih kabar kalau sudah tiba di sana." Sahut Shafia tanpa rasa sedih sama sekali
"Pintar, besok ikut ke kantor ya! Biar ngga bosan di rumah, lagian Nenek belum tentu juga bisa menemani mu setiap saat."
"Siap By, udah lama juga aku ngga ikut Hubby ke kantor."
Perjalanan pulang ke rumah yang memakan waktu setengah jam di gunakan Abrisam untuk terus mengajak istrinya bicara, ada saja obrolan ringan bercampur tidak masuk akal ikut di bahas Abrisam demi menghibur belahan jiwanya.
πππππ
Jangan lupa tinggalkan likeπ
Kalau ngga di like juga ngga masalahπ
Dari kemarin-kemarin kan sama ajah, yang like cuma aku sendiri selaku pembuat karya receh.π΄
__ADS_1