
Dua hari telah berlalu.
Kini tiba waktunya bagi Shafia untuk berangkat menuju Negara seberang bersama dengan Abrisam yang juga berpindah tempat kerja di perusahaan bagian pusat.
Semua keluarga ikut mengantar pasangan suami istri tersebut menuju bandara, beberapa pesan dan masukan di terima Shafia dan Abrisam sebelum mereka berangkat dari Rumah utama.
Tiga mobil sedan mewah dan empat mobil lainnya ikut mengantar Shafia dan Abrisam. Keamanan yang selalu menjadi pusat utama bagi Nyonya Iriana tidak membiarkan kendala apapun menghambat perjalanan cucunya dan cucu menantunya.
Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di bandara. Shafia keluar dari mobil bersama dengan Arqa dan Aina, sementara Abrisam ikut semobil dengan Adnan dan Ririn juga Nyonya Iriana.
Drama perpisahan pun terjadi, tidak ada yang tidak menangis haru mengantar kepergian Shafia yang menjadi kesayangan di keluarga Qiemyl dan Mannaf..
Semua yang ikut mengantar saling melepas pelukan perpisahan dengan Shafia.
"Ingat untuk tetap sholat, jadilah istri yang baik untuk suamimu." Pesan Arqa mengingatkan putrinya
"Jangan lupa hubungi Ibu dan Ayah jika sudah tiba di sana." Sambung Aina ikut berpesan
"Iya Ibu, Ayah. Setelah sampai pasti Shafia akan kasih kabar." Sahut Shafia tersenyum
Dalam hatinya ada sedikit ketidakrelaan kala harus berpisah jauh dengan orang tuanya.
"Ayah sama Ibu juga harus tetap jaga kesehatan, jangan terlalu merindukan Shafia. Nanti disana ngga fokus lagi buat kuliah." Sambungnya balik berpesan pada Arqa dan Aina yang hanya di balas dengan anggukan kepala
Sementara Abrisam pun juga sama, pria tampan itu mendapat berbagai macam pesan dan ancaman yang di berikan oleh orang tuanya juga sang Nenek.
Tidk ada yang berani di bantah Abrisam kalah mendapat ancaman telak dari keluarganya untuk tidak berbuat hal-hal yang buruk terhadap Shafia.
Ia hanya diam mendengarkan namun fokusnya terus berada pada gadis cantik yang begitu mempesona dengan pakaian yang tidk seperti biasanya.
"Benar-benar gadis yang sangat cantik." Gumam Abrisam namun masih bisa di dengar oleh orang tuanya dan juga sang Nenek
Adnan dan Ririn saling pandang kemudian tersenyum, betapa bahagianya mereka saat melihat raut wajah sang putra begitu bersinar tidak lagi ada cahaya gelap seperti dulu.
"Putra kita sudah mendapatkan kebahagiaannya, Pah." Bisik Ririn terharu
Kini pangeran kecilnya sudah lebih baik, tidak lagi murung seperti dulu.
"Hmm, kamu benar sayang. Adanya Shafia di sampingnya bisa mengalihkan sisi dingin dan kejamnya. Anak itu masih saja gila seperti dulu, jika bukan Shafia istrinya. Tidak tahu lagi bagaimana nasib para karyawan di perusahaan."
Adnan masih sangat marah ketika mendengar kabar kekacauan di Prusahaan akibat ulah Abrisam, ia yang hanya memantau saja tanpa ikut campur harus turut serta menangani masalah.
__ADS_1
Kepergian seorang wanita yang hanya menipu putranya membuat beberapa karyawan hampir kehilangan pekerjaan.
"Semoga saja kejadian waktu itu takan terulang lagi." Ucap Adnan penuh harap
"Apa Shafia benar-benar dapat di andalkan?" Sambungnya sedikit bergumam namun masih bisa di dengar oleh sang istri
Ririn menatap jengah kearah suaminya, selalu saja berprasangka buruk terhadap Shafia yang masih belum percaya jika menantunya itu dapat di andalkan.
"Kamu pikir menantu ku bodoh apa?" Sentak Ririn sangat geram bahkan sampai menginjak kaki suaminya
"Aww, sakit sayang. Kenapa kaki ku di injak?" Ringis Adnan menahan sakit di kakinya
"Kamu meragukan menantu ku lagi?" Sarkas Ririn membela Shafia
"Mana ada sayang. Tadi aku kan, cuma asal bicara saja." Elak Adnan berbohong karena memang jujur ia tidk yakin apakah menantunya itu mampu bertahan atau tidak
"Itu--, itu matamu saja sudah bisa di baca kalau kamu masih belum yakin dengan pilihan ku." Todong Ririn pada suaminya yang masih juga meragukan menantu pilihannya
Adnan yang tidak mau berdebat memilih diam mendengarkan pujaan hatinya menwgomel tanpa henti.
Bahkan Nyonya Iriana yang sejak tadi menyaksikan drama perdebatan mereka tidak ambil pusing dan memilih pergi menemui Shafia yang masih begitu nyaman berada dalam dekapan Ayahnya.
"Ayah jangan nakal ya. Jagain ibu selagi Shafia ngga ada." Pesannya lagi pada Arqa yang masih setia memeluk erat dirinya
Dari kejauhan, Nyonya Iriana berjalan mendekat menghampiri mereka. Senyum hangat wanita tua itu membuat hati Shafia merasa nyaman. Bahkan tanpa sadar air matanya ikut menetes kala mengingat akan lama untuk dapat bertemu lagi.
"Nenek."
Gadis cantik itu berhambur ke pelukan Nyonya Iriana yang menyambut hangat dekapannya.
"Jaga dirimu baik-baik. Masih ingat kan, apa yang Nenek katakan padamu waktu itu?" Tanya Nyonya Iriana pada cucu menantunya tersebut.
Shafia hanya mengangguk paham, semua pesan dan beberapa kalimat yang di ucapkan sang Nenek di simak dengan baik oleh gadis itu.
.
.
Pesawat yang membawa Abrisam dan Shafia sudah lepas landas, semua anggota keluarga yang mengantar mereka ke bandara langsung pulang ke rumah.
Tidak ada yang membuat Shafia gelisah. Adanya Abrisam di sampingnya membuat hati dan pikirannya merasa nyaman dan tenang.
__ADS_1
Penerbangan yang memakan waktu hampir 3 jam, di gunakan Shafia untuk istirahat. Rasa lelah dan kantuk yang begitu kuat tidak mampu lagi di tahannya, Abrisam yang duduk di samping istrinya memilih untuk membaca buku.
Sementara di kursi bagian belakang terdapat dua anak gadis yang juga ikut serta dalam penerbangan Shafia.
Siapa lagi kalau bukan kedua sahabatnya yang begitu asik berbisik sambil sesekali menoleh kearah kursi bagian depan di mana ada sahabat mereka tengah terlelap.
"Enak benar dah jadi Shafia, kemana-mana ada yang nemenin." Ucap Vivi merasa sedikit iri
"Kalau lo mau kan, tinggal iyain ajah noh ajakan si bambang Andre." Sahut Zoya menimpali ucapan sahabatnya
"Ckck. Lo benar-benar ya, suka banget jodohin gue sama tuh Om Duda. Ya kali gue mau sama tuh duda beranak dua." Cebik Vivi tidak terima salah satu sahabatnya mulai mengejeknya
Mereka berdebat tanpa mengeluarkan suara yang keras, ada saja kelakuan kedua anak gadis kesayangn Shafia itu.
.
.
#New York
Di bandara sudah ada dua mobil yang menunggu kedatangan Abrisam, Shafia dan kedua sahabatnya.
Kereta besi yang menjadi kendaraan mereka yang akan menuju hotel itu melesat dengan kecepatan sedang.
Hampir lima belas menit perjalanan, kini mobil yang di tumpangi Shafia dan Abrisam sudah tiba di lobi parkiran hotel, sementara kedua sahabat Shafia memilih untuk pergi ke Apartement yang sudah di sewa Vivi beberapa waktu lalu.
"Kenapa harus ke hotel sih, By? Kan, ada banyak tempat lain yang boleh di sewa."
Shafia paling tidak menyukai bila suaminya itu mulai melakukan sesuatu sesuka hatinya, termasuk menginap di hotel.
"Aku tidak mau ada yang ganggu Sayang." Sahut Abrisam ikut meringsek ke tengah kasur mulai mengganggu istrinya
"Tuh tangan di jaga By! Ya elah, baru juga nyampe main nyosor ajah," kesal Shafia menepis halus tangan Abrisam yang berusaha masuk ke djaalam pakaian bagian atas miliknya
"By, awas!" Geramnya mulai risih
"Tanggung sayang, udah ngga bisa mundur." Kekeh Abrisam mulai mencium area leher jenjang Shafia yang meNdEesah kecil
Hari yang masih siang itu mereka gunakan untuk istirahat di dalam kamar hotel sambil menunggu waktu makan malam.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Like & Komennya jangan lupa..😁