
Shafia bingung harus bagaimana. Di satu sisi dia sangat membenci hubungan yang di jalani karna paksaan, namun di sisi lain dia juga bukan anak yang durhaka pada kedua orang tuanya.
Apa yang harus aku lakukan? Bathinnya berkecamuk
Usai berbicara empat mata dengan Nyonya Iriana beberapa waktu lalu, Shafia kembali bergabung dengan kedua orang tuanya beserta anggota keluarga yang lain.
Gadis itu sangat pandai menyimpan rahasia, bahkan Arqa juga Aina yang penasaran tidak mendapat jawaban apapun keluar dari mulutnya.
"Tidak ada apa-apa Ayah, Ibu."
Hanya kalimat itu yang selalu Shafia katakan.
Pasangan suami istri tersebut tidak lagi bertanya apapun, jika Shafia saja tidak mau mengatakannya untuk apa mereka mencari tahu.
Pertemuan keluarga berakhir dengan makan siang terlebih dahulu. Kini Arqa, Aina dan Shafia pamit untuk pulang ke rumah.
Shafia yang masih ingin bersama dengan orang tuanya tentu mendapat izin dari keluarga Qiemyl, dengan catatan nanti malam gadis itu harus kembali lagi ke Rumah Utama.
Akan tetapi, wanita cantik yang merupakan Ibu kandung Shafia jelas tidak terima.
"Maaf atas sikap putra kami, Nyonya Aina." Ucap Ririn meminta maaf
Aina menatap sinis ke arah istri Adnan tersebut.
"Aku takan bertanya apapun soal anak kalian, tapi satu hal yang harus kalian tahu!" balas Aina terjeda.
Dadanya terasa sesak tidak mengerti dengan keluarga besar itu.
"Jika aku tahu putri ku sampai di sakiti. Aku tidak akan segan mengambil kembali dia dari kalian." Tegas Aina tidak main-main
Sedangkan Adnan hanya bisa menghela napas panjang, mendengar ancaman keras dari seorang ibu yang tidak ingin anaknya terluka.
Sebagai pria, ia juga bingung sebenarnya apa yang terjadi. Ketidak tahuannya akan masalah yang menimpa putranya tentu mengundang rasa ingin tahu.
Karena sering dinas keluar Kota sudah pasti pria itu ketinggalan berita, dan semua karna istrinya yang sangat pandai menyimpan rahasia.
"Anda tidak usah khawatir Nyonya Aina. Kami pasti akan menjaga Shafia dengan baik," Adnan meyakinkan ibu kadung Shafia tersebut.
"Sayang tenanglah, biarkan putri kita yang menentukan semuanya. Kamu tahu seperti apa Shafia kita kan, sayang?" rayu Arqa mencoba membujuk sang istri.
Sebenarnya Arqa sangat marah, bagaimana tidak. Pernikahan yang belum ada sehari kini harus berhadapan dengan kenyataan yang entah bagaimana ceritanya.
Aina menatap jengkel ke arah suaminya dengan marah.
"Lancar mulut mu berkata untuk tenang, aku ini seorang ibu dan ibu manapun tidak akan pernah rela bila anaknya di sakiti." Ucap Aina sengaja mengeraskan suaranya
"Aku akan membawa kembali putriku sekarang! Jangan mencoba untuk menjemputnya."
Secepat kilat wanita itu berbalik badan tidak peduli tatapan banyak mata melihatnya.
Semua yang mendengar ikut tercengang, bahkan Arqa sendiri pun kehabisan kata-kata membujuk istrinya.
Jika sudah begini jangan harap wanita itu akan luluh.
"Ibu ... bukannya tadi Ibu sudah setuju akan menginzinkan Shafia balik lagi kesini?" keluh Shafia yang bergelayut manja di lengan Aina.
"Tidak jadi. Ibu tarik kembali kata-kata Ibu, kamu harus nurut sama Ibu!" ketus Aina tidak ingin perkataannya di bantah.
__ADS_1
"Ayo pulang!!"
Shafia hanya pasrah lengannya di gandeng paksa oleh ibunya, tidak ada gunanya melawan.
Singa betina itu sudah mengamuk.
Keduanya berjalan keluar rumah dengan langkah kaki sedikit cepat, Aina tidak peduli dengan Arqa yang sedari tadi terus memanggilnya.
Masa bodoh jika pemilik rumah akan tersinggung, yang Aina tahu saat ini putrinya akan tetap dia bawah pulang.
Perginya keluarga Shafia, kini hanya tinggal Ririn dan Adnan.
Beruntung Nyonya Iriana tidak ada karena sebelum Shafia dan orang tuanya pulang, wanita tersebut pergi menemui seseorang di luar.
Beberapa anggota keluarga yang lain sudah kembali ke rumah masing-masing, sehingga waktu Aina mengamuk hanya ada beberapa pelayan yang tanpa sengaja ikut menyaksikan tingkah konyol ibu Shafia tersebut.
"Sayang, apa aku salah?" tanya Ririn lirih.
Terdengar isak tangis dari mulutnya, mungkin dia salah telah membujuk sang mertua agar mau membantunya mencarikan seorang gadis yang akan menikah dengan putranya.
Ririn hanya ingin anaknya terlepas dari masalah, tetapi mungkin sangat mustahil untuk dilakukan.
"Sudahlah jangan menangis, kamu juga seorang ibu bukan? Setiap ibu pasti akan marah jika tahu anaknya malah di perlakukan tidak baik." Jawab Adnan menenangkan
"Aku takan bertanya padamu atau anak kita, bagiku kalian jauh lebih paham akan sikapku selama ini. Aku harap semua baik-baik saja Ririn," lanjutnya penuh penekanan.
Keduanya kembali masuk kedalam Mansion setelah Adnan berhasil menenangkan Ririn.
.
.
Mereka membawa Shafia ke Kota kelahiran Aina yang jaraknya lumayan jauh dari jangkauan keluarga Qiemyl.
Saat ini, Aina tidak mau mengambil resiko. Niat hati akan meninggalkan putrinya pada keluarga itu malah di urungkan, biarlah dia di sebut ibu yang egois.
Sepanjang perjalanan terjadi perdebatan antara Arqa dan Aina tidak membuat wanita itu luluh atau merasa takut.
"Percuma kamu menasehati ku, Arqa. Sekali aku bilang tidak jawabannya tetap tidak." Kesal Aina tidak suka
"Tapi tidak begini juga caranya sayang, kita akan kena masalah yang besar jika membawa Shafia pergi jauh." Sahut Arqa terus merayu.
Wanita itu menatap tajam ke arah suaminya.
"Aku lebih tahu apa yang terbaik untuk putriku, Arqa. Ingat itu!"
Aina tetaplah Aina, tidak ada yang bisa membantah perkataannya.
Sementara di kursi belakang, Shafia hanya diam membisu. Tidak ada suara penolakan yang keluar dari mulut gadis itu.
Kali ini biarlah dia mengikuti keinginan hati ibunya.
Maafkan aku, Abrisam. Bathinya
.
.
__ADS_1
#Flashback
Sebelum acara Akad Nikah selesai
*P*rang...
*P*rang...
Suara pecahan barang berserakan di mana-mana.
Ruangan yang awalnya begitu indah dan rapih, kini hancur berantakan tidaak berbentuk.
"Kamu tega Abrisam." Teriak histeris seorang wanita dari dalam kamar.
Aaarrgghh ...
"Brengsek."
Wanita itu menangis sejadi-jadinya.
Pria yang sangat di dambakannya selama ini telah menikah dengan orang lain.
Selama ini, dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk bisa bersanding dengan pria pujaannya, tapi apa yang dia dapat?
"Kamu milikku, Abrisam ... hanya milikku."
"Lihat saja nanti, tidak akan aku biarkan kamu hidup bahagia dengan gadis pilihan mu itu Abrisam."
"Aku akan melakukan apa saja untuk memisahkan kalian."
Kilatan emosi sangat jelas terlihat dari sorot mata tajamnya.
Lima tahun bukan waktu yang singkat baginya, demi bisa menjadi satu-satunya wanita yang berada di samping Abrisam. Apapun akan dia lakukan, bahkan jika harus membunuh sekalipun dia tidak akan pernah takut. Baginya yang sudah menjadi targetnya akan tetap menjadi miliknya.
Para pelayan yang ada di kediaman wanita itu panik setenga mati, mereka bahkan tidak ada yang berani mendekati kamarnya.
"Apa yang harus kita lakukan Bibi?" tanya salah seorang pelayan panik.
"Akan sangat bahaya jika membiarkan Nona Besar di dalam," sambung yang lainnya.
"Jangan mengambil ieputusan yang kalian sendiri tidak tahu apa akibatnya," jawab seorang wanita berumur hampir 40 tahun tersebut.
Dia merupakan ibu asuh dari wanita yang sedang mengamuk di dalam kamar.
"Coba hubungi Tuan Abrisam saja, Bibi."
"Iya benar, siapa tahu saat Tuan Abrisam datang Nona Besar kembali tenang."
Mereka mencoba memberi solusi, mungkin saja ada jalan keluarnya.
"Baiklah. Akan aku coba menghubungi Tuan Abrisam, semoga saja beliau tidak sibuk.
Tanpa mereka tahu jika sekarang pria itu tengah melangsungkan Akad Nikah yang mungkin masih berlanjut.
πππππ
Yuhuuuuu...
__ADS_1
Jangan Lupa Dukung Author Yaaπππ
Minta Like Dan Komennyaπ€