
Setelah kemarin Shafia kembali dari kota kelahiran ibunya.
Tepat hari ini, dia mulai masuk kerja di salah satu Restaurant milik sahabatnya. Niat hati ingin melanjutkan pendidikan pupus sudah, padahal rencananya bulan depan Shafia harus mulai masuk Kuliah.
Akan tetapi, semua tinggal cerita. Bagaimana pun gadis itu sudah menikah belum tentu suaminya akan menyetujui permintaan Shafia.
"Kenapa ngga kerja di kantor Ayah saja, sayang?" tanya Arqa saat ketiganya sudah berada di meja makan untuk sarapan.
Shafia tersenyum sambil menatap ke arah Arqa.
"Aku lebih suka kerja di Restaurant Ayah, lagi pula tempat aku kerja sekarang milik Zoya salah satu sahabat ku" Jawabnya menolak halus permintaan Arqa
"Terserah kamu, Ayah hanya ingin yang terbaik buat mu." Sahut Arqa mengalah
Tidak ada lagi percakapan antara Anak dan Ayah itu, sampai sarapan selesai. Barulah Shafia pamit lebih dulu pada Arqa dan Aina mengingat hari ini gadis itu tidak ingin telat di hari pertamanya masuk kerja.
"Shafia berangkat ya Bu, Ayah." Pamitnya sembari mencium takzim punggung tangan pasangan suami istri tersebut
"Yakin ngga mau Ayah antar?" tanya Arqa memastikan.
"Kan biar sekalian jalannya searah, sayang" sambungnya.
"Ngg usah Ayah, lagi pula Vivi nanti jemput kok." Tolak Shafia halus
Tin tin ...
Bunyi klakson sebuah mobil terdengar dari arah depan.
"Kayaknya Vivi udah sampai." Tebak Shafia mendengar deru suara mobil yang berhenti di depan rumahnyaa.
"Ayah, Ibu. Shafia jalan ya, Assalamualaikum." Pamitnya sembari mengucap salam kemudian berlalu masuk kedalam mobil
"Waalaikumsalam." Balas Arqa dan Aina berbarengan.
"Hati-hati di jalan sayang, semangat kerjanya." Pesan Aina sebelum mobil yang di tumpangi Shafia pergi meninggalkan pekarangan rumah
Selepas kepergian Shafia, tidak lama juga Arqa pamit pada istrinya untuk berangkat ke Kantor.
"Aku berangkat kerja ya, sayang." Pamit Arqa mencium kening Aina.
"Jangan banyak pikiran, biarkan Shafia yang menentukan langkahnya kedepan."
Aina hanya mengangguk paham.
"Hati-hati di jalan Mas, kabari aku kalau sudah sampai Kantor." Pintanya sebelum Arqa masuk ke dalam mobil
"Iya sayang, kalau begitu aku jalan sekarang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Arqa masuk kedalam mobil usai mencium kening istrinya.
.
.
#Di Restaurant
Saat ini. Shafia sudah berada di tempat kerjanya, kebetulan dia dan salah satu sahabatnya tengah sibuk melayani para pengunjung yang lumayan ramai.
"Kamu ngga capek kan, Sha?" tanya Zoya ketika keduanya tengah berada di ruangan pribadi milik gadis itu.
"Ngga sih, malah lebih ke senang ajah bisa kerja bareng kamu. Jadi aku ngga perlu repot-repot nyari kerjaan lagi," jawab Shafia tertawa.
"Ckck. Giliran yang beginian senangnya ngga ketulungan." Ejek Zoya ikut tertawa
"Lah emang benar kan? Lagian juga kamu buka nih Restaurant pake nama aku," balas Shafia balik mengejek.
Zoya memutar kedua bola matanya malas.
"Aku kalah kalau berdebat sama kamu." Ucapnya kemudian tidak sengaja mengingat sesuatu.
"Eh. Jadi kan, bulan depan berangkat bareng?" lanjut Zoya bertanya
Shafia yang sedang minum segelas air putih langsung tersedak kala mendengar pertanyaan sahabatnya.
"Uhuk,, uhuk."
"Lagian kenapa minum ajah sampe tersedak sih?"
Gadis itu memberikan tisu pada Shafia dengan perasaan bingung.
Ada apa dengan Shafia, ngga mungkin hanya karna pertanyaannya sampai gadis itu tersedak air. Pikir Zoya
Shafia mengelap bagian atas bajunya yang terkena semburan air.
"Sorry Zoo, tadi aku kaget pas kamu nanyain soal Kuliah." Jawabnya jujur.
"Kamu juga sih, kenapa nanyain itu pas aku lagi minum." Ketus Shafia kesal
Zoya yang tidak terima di salahkan ikut buka suara.
"Lah salah aku di mana coba? Kan aku cuma nanyain soal gimana bu," protesnya tidak sampai di teruskan karena sepertinya Zoya melupakan sesuatu.
"Sorry Sha, aku lupa. Seharusnya aku ngga nanyain soal itu lagi." Sesalnya kala tahu kali ini telah salah bicara
"Ngga apa-apa, santai ajah napa. Lagian aku sebenarnya pengen bangat ikut kalian berdua, padahal kita udah sepakat buat masuk Kuliah bareng." Jelas Shafia mencoba tersenyum meski jauh di dasar hati dia pun ingin sekali pergi
"Apa ngga bisa, kalau kamu minta izin sama suami mu sekarang?" saran Zoya.
__ADS_1
"Siapa tahu ajah orang itu mau ngebolehin kamu buat tetap Kuliah."
Yang Zoya katakan ada benarnya, kenapa Shafia tidak kepikiran untuk berbicara empat mata dengan Abrisam. Lagi pula bukannya pria itu memiliki perusahaan di Negara tempat di mana dia Kuliah.
Sebuah ide muncul di otak Shafia.
"Kamu ada benarnya, Zoo. Kenapa aku ngga kepikiran yang kamu bilang tadi yaa." Ucapnya membenarkan.
"Kayaknya aku pulang kerja nanti harus ketemu sama Abrisam." Lanjutnya dengan penuh harap
Zoya hanya mengiyakan tanda setuju akan ide sahabatnya itu.
Mereka tidak lagi melanjutkan pembicaraan, sebab ramainya pengunjung yang datang di Restaurant tersebut membuat Zoya dan Shafia sangat sibuk.
.
.
#Di Tempat Lain
Tepat hari ini, genap sepuluh hari Abrisam tidak masuk Kantor.
Hanif yang merupakan Asisten pribadi Abrisam saat ini tengah di sibukkan dengan masalah yang sudah seminggu lamanya belum juga selesai.
Hilangnya Abrisam yang tidak lagi datang ke Kantor membuat Hanif semakin kelimpungan. Ingin rasanya pria itu protes dan berhenti saja menjadi kepercayaan Abrisam, tetapi karena sebuah tanggung jawab yang besar sampai membuatnya masih coba untuk bersabar.
"Aarrgh--, dasar Bos sialan." Umpatnya sangat kesal.
"Bagaimana aku akan istirahat walau sejenak jika masalahnya belum juga kelar. Kenapa Bos sampai mogok masuk kerja sih?"
"Kalau begini caranya, bukankah pria itu ingin membunuhku secara perlahan." Keluh Hanif tidak habis pikir.
Ia tidak henti-hentinya terus mengumpat kesal, rasa lelah dan stres mulai melandanya. Mengingat ada begitu banyak masalah yang harus pria itu selesaikan.
"Jika Pria itu tidak juga datang ke Kantor, jangan salahkan aku bila nanti akan me--," gumamnya terhenti kala tanpa sengaja melihat ke arah pintu yang di buka sedikit keras
"Akan apa Hanif? Sepertinya kau sedang memaki seseorang?"
DEG
Suara bariton itu mengagetkan Hanif yang ternyata perkataannya telah di dengar oleh seseorang.
Siapakah orangnya?
Tentu saja pria dingin dan keras kepala yang kemarin-kemarin bagai mayat hidup.
Yaa, Abrisam memang berniat untuk masuk Kantor. Rasa sakit dan frustasinya telah ia kesampingkan, lebih baik ia pergi ke Kantor dan bekerja dari pada berdiam diri dalam Apartement hanya membuat hati dan pikirannya semakin kacau.
Masalah rumah tangganya biar nanti di selesaikan perlahan, tanpa harus melibatkan orang lain yang tidak bersalah.
__ADS_1
Cukup Hanif jadi korban atas keegoisannya, tidak ada lagi drama mogok tidak masuk kerja.
🍃🍃🍃🍃🍃