Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 31 ~ Apa Boleh


__ADS_3

"Masih ingin tetap pulang?" Tanya Abrisam yang langsung di balas gelengan kepala oleh Shafia


"Ngga jadi deh, lagi pula di sini juga bagus. Kamarnya sangat nyaman kaya di rumah." Jawab Shafia enggan melepas pelukannya dari sang suami


Mungkin gadis itu terlalu egois hanya mementingkan diri sendiri, beberapa hari ini memang Shafia tidak lagi datang ke kantor Abrisam meski hanya sekedar makan siang.


Padahal itu adalah tugasnya melayani dan memberikan rasa nyaman agar pria yang masih saja di hantui wanita berhati siluman itu tidak sampai di rebut paksa.


Cukup lama Shafia berdiam diri dalam dekapan hangat suaminya, mencium aroma wangi sabun yang menyeruak karena pria itu habis mandi.


Yang di khawatirkan Abrisam akhirnya datang juga, gadis itu langsung teringat akan perjanjianya dengannya waktu itu.


"Oh ya, Bri. Bagaimana dengan perjanjian kita waktu itu. Apa kamu sudah mendapatkan jawabannya?" Tanya Shafia saat melepas pelukannya dari Abrisam


Bungkam.


Pria itu belum menjawab pertanyaan istrinya yang kenapa juga harus tiba-tiba masalah itu malah muncul di otak gadis itu.


Apa yang akan ia jawab kalau ceritanya sudah mengarah ke situ.


"Bri, kok malah diam. Aku nanya loh bagaimana dengan wanita itu, kamu ngga mungkin lupa 'kan dengan perjanjian kita lalu?"


"Jangan bilang kalau kamu belum juga membuat orang itu berhenti mengganggu hubungan kita?" Tebak Shafia yang memang benar adanya karena hanya dengan melihat sikap diam Abrisam sudah membuatnya langsung mengerti.


Gadis itu memilih bangkit dari sofa berjalan ke arah balkon, untuk saat ini saja biarkan dirinya tenang walau mungkin itu terasa sangat sulit dan menyesakkan dada.


Shafia menolak sang suami yang ingin menghampirinya di balkon, gadis itu butuh ruang untuk sendiri.


"Biarkan aku sendiri Bri!"


Sebuah kalimat singkat namun mampu membuat Abrisam kalang kabut di penuhi rasa bersalah yang teramat dalam.


Bukan ini yang ia inginkan sekarang, sengaja membawa istrinya keluar rumah karena memang pria itu butuh ruang pribadi. Tetapi siapa sangka justru sang istri malah teringat akan masalah yang sampai sekarang belum juga mendapat jalan keluarnya.


Abrisam kembali masuk ke dalam kamar, bukan untuk tidur melainkan duduk diam di atas karpet bulu dengan bersandar di pinggiran tempat tidur. Matanya tetap fokus melihat kearah gadis yang begitu di cintainya, tidak pernah sekalipun terlintas di pikirannya menyakiti hati sang istri, apalagi sampai harus berbohong.


Cukup lama Shafia berada di balkon dengan pikiran yang tidak tahu apa isinya, hawa dingin mulai menusuk menembus pakaian yang gadis itu kenakan.


Di rasa sudah mulai tenang, Shafia masuk ke dalam kamar dengan langkah pelan.


Shafia terkejut saat tiba di kamar melihat Abrisam yang duduk bersandar dengan mata yang masih terbuka namun ada air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipi pria itu.


Abrisam tidak sadar dengan keberadaan istrinya, pikiran pria itu melayang kemana-mana seakan begitu banyak masalah dan sangat berat beban yang harus di tanggungnya.

__ADS_1


"Maaf--, maafkan aku. Maaf," ucap lirih Abrisam begitu sesak


"Maaf ..."


Tangisan pria itu langsung pecah kala Shafia sudah memeluk erat tubuhnya, ia begitu lemah dan lelah.


Hanya Shafia yang bisa menenangkan dan manjadi tempatnya bersandar.


"Maafkan Aku. Kamu boleh marah atau memukuli ku "


"Kamu ingin memaki atau meluapkan semua isi hati mu akan aku dengarkan, tapi hanya satu yang aku minta."


"Jangan pergi atau meninggalkan ku sendirian."


"Aku hanya punya kamu, cuma kamu tempat aku pulang."


Abrisam begitu takut jika Shafia akan pergi meninggalkannya sendirian


Baginya cuma gadis itu yang memahami dan tulus menyayanginya. Meski dulu ia pernah sekali jatuh cinta pada seorang wanita, namun itu bukanlah cinta yang sesungguhnya. Wanita yang begitu ia percaya malah berkhianat, mendekatinya hanya demi sebuah harta dan ketenaran.


Abrisam tidak ingin kejadian lama akan terulang kembali, jika dulu ia masih bisa bertahan karena memang cintanya pada wanita itu tidak begitu besar.


Lalu bagaimana dengan yang sekarang?


.


.


Hampir setengah jam, Shafia masih setia mendekap tubuh suaminya yang menangis.


Entah apa yang di rasakannya kala harus menahan diri saat menghadapi situasi seperti ini.


"Sudah jangan menangis lagi, aku tidak akan bertanya apapun alasannya kenapa sampai masalah itu belum juga selesai, aku tidak akan mengungkit lagi perihal cerita ini, aku masih tetap akan setia menunggu sampai batas waktu yang sudah di tetapkan."


Shafia tidak ingin membahas masalah yang sebenarnya hanya akan menimbulkan pertengkaran antara dia dan suaminya.


Biarlah untuk saat ini, Shafia akan menahan diri tidak membahasnya. Tapi jika tiba waktunya nanti suaminya belum juga berhasil menyingkirkan benalu yang sangat suka menempel itu, maka jangan salahkan gadis itu jika harus turun tangan secara langsung.


"Kita tidur ya, kamu pasti capek 'kan seharian kerja. Aku ngga mau nanti kamu tiba-tiba sakit." Rayu Shafia dengan sabar meraih tubuh sang suami agar bangkit dari duduk


"Kamu ngga marah?" Tanya Abrisam setelah tubuhnya sudah berada di atas ranjang masih dengan posisi duduk menghadap Shafia yang berdiri tepat di sisi kasur.


Gadis itu tersenyum sembari menghapus sisa-sisa kebasahan di wajah suaminya, hal yang mungkin baru pertama kali di lakukannya selama hidup.

__ADS_1


"Kenapa harus marah, hmm?" Jawab Shafia yang sudah berbaring setelah sebelumnya membiarkan kepala Abrisam berada tepat memempel di dadanya


Shafia memposisikan tubuhnya lebih tinggi dari Abrisam, agar gadis itu lebih leluasa mendekap tubuh syaminya.


"Tidurlah!" Titahnya membelai lembut rambut Abrisam


Shafia mengusap kepala pria itu dengan penuh perasaan.


Baru beberapa menit gadis itu menutup mata harus terbuka kembali karena merasakan sesuatu yang tidak nyaman.


Shafia berusaha menahan tawanya kala tahu apa yang sejak tadi mengganggu tidurnya. Ternyata pria itu tidak bisa tenang meski sudah dalam pelukan istrinya.


"Ada apa?" Tanyanya membuat Abrisam ikut mengangkat kepalanya menatap kearahnya.


"Mmm, tidak ada." Jawabnya berbohong


Jika berkata jujur bagaimana kalau istrinya itu marah.


Sebenarnya Shafia tahu apa yang sedang di pikirkan suaminya, dia hanya ingin menguji saja. Tetapi rupanya Abrisam tidak berani berkata jujur.


"Kamu mau?" Tanya Shafia langsung membuat Abrisam kaget seakan tidak percaya dengan pertanyaan sang istri yang sangat jelas ia tahu kemana arahnya.


"Apa boleh?" Jawab Abrisam balik bertanya


Shafia tidak menjawab, gadis itu malah memberikan ruang bagi suaminya pertanda iya.


Dengan cepat pria itu melakukan apa yang sangat ingin sekali di lakukannya sejak dulu, namun tidak berani karena akan sangat bahaya jika sampai melakukan tanpa mendapat persetujuan dari pemiliknya.


Abrisam bagaikan bayi yang sedang kehausan, ia hanya sebatas menyentuh bagian dua bukit kembar Shafia saja.


Gadis itu mebiarkan suaminya bermain-main di area yang mungkin kedepannya akan selalu menjadi tempat favorit pria itu.


Cukup lama Abrisam menNYesap kerikil kecil berwarna pink milik istrinya yang masih terlihat begitu kencang dan menggoda, namun sekuat tenaga pria itu menahannya agar tidak sampai melebihi apa yang di mintanya pada sang istri.


Tahan Abrisam tahan. Ingat belum saatnya kamu meminta gadis ini untuk melakukannya. Ucap Abrisam dalam hati.


Ia tidak melepas sama sekali mulutnya dari salah satu bukit kembar sang istri, sampai matanya mulai terpejam dengan perlahan menyusul Shafia yang rupanya sudah lebih dulu masuk ke dalam mimpi tanpa merasa terganggu dengan apa yang di lakukan suaminya.


🍃🍃🍃🍃🍃


Tetap selalu di ingatkan...


Like & komennya yaa jangan lupa😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2