Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 35 ~ Marah


__ADS_3

Shafia membaringkan tubuhnya ke tengah ranjang selepas pulang dari makan malam yang berlangsung tidak lama.


"Aaa. Nyamannya."


Melihat Shafia yang langsung berbaring tanpa membersihkan diri terlebih dahulu membuat Abrisam menghela napas pelan.


"Kamu tidak ingin cuci muka dan sikat gigi dulu?" Tanyanya sudah duduk di sisi ranjang menghadap sang istri


"Males ah, aku capek." Sahut Shafia masih enggan untuk bangun dari pembaringan


Namun detik berikutnya dia terkejut merasakan tubuhnya seperti di angkat.


"Eehh, Bri ngapain? Cepat turunin aku mau tidur."


Abrisam tidak mengggubris ucapan Shafia yang meminta agar di turunkan, gadis itu kaget saat suaminya tiba-tiba mengangkat tubuh kecilnya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Jangan sembarangan bergerak, kamu akan membangunkan sesuatu yang sedang tertidur." Ucap Abrisam memperingatkan Shafia


Ia begitu kesulitan menahan diri untuk tidak menerkam gadis itu selama ini.


Ucapan Abrisam mampu membuat Shafia langsung diam, bukan baru ini gadis itu di ancam oleh suaminya. Mengingat sudah 3 bulan lamanya pernikahan mereka, tetapi belum pernah melakukan hubungan suami istri, tentu saja apa yang barusan di ucapkan suaminya sangat jelas mengarah kemana.


Usai mencuci muka dan lain sebagainya, Shafia kembali ke kamar. Rasa kantuk belum juga dia rasakan, beberapa hari ini terlalu sibuk mencari solusi mengenai masalah rumah tangganya, membuat hati dan pikirannya kadang sering kali bertolak belakang.


"Aku ngga mungkin cuma duduk diam saja tanpa melakukan apapun, masalah yang Abrisam sembunyikan jelas ada kaitannya dengan kejadian waktu itu." Gumamnya begitu pelan sambil menerawang jauh mencari kebenaran akan masalah rumah tangganya


Ada begitu banyak yang Shafia pikirkan, sudah satu minggu lamanya dia tidak lagi berkunjung ke Mansion Utama milik Nyonya Iriana.


Hari-harinya di gunakan hanya untuk mencari informasi mengenai latar belakang Chayra yang justru membuat kondisi fisiknya kadang sering drop akibat terlalu lelah.


Shafia sedikit demi sedikit sudah mendapatkan informasi menganai wanita yang sampai sekarang belum juga berhenti mengganggu kehidupan rumah tangganya.


Meski Abrisam selalu berkata jujur padanya, tetapi tidak menutup kemungkinan di luar sana bisa saja mereka akan bertemu atau Chayra akan bertindak nekat seperti waktu itu.


"Kalau aku sampai gegabah bisa-bisa yang ada malah rugi, kan gila namanya udah nyerahin semuanya ke Abrisam tapi entar malah runyam karena adanya orang ketiga."


"Tapi kasian juga sih suami aku kelamaan puasa, pasti rasanya ngga enak banget ya. Pas udah pengen malah aku nya yang belum siap."


"Apa aku udah berbuat dosa ya, nolak suami yang ingin meminta hak pada istrinya. Duh, napa malah mikirin ke situ sih."


Shafia terus berbicara sendiri sampai hampir waktu tenga malam, dia yang kebetulan berada di luar rumah duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan kolam renang tentu merasakan hawa dingin masuk ke permukaan kulitnya.


Abrisam sudah tidur lebih dulu akibat lelah menyusun beberapa dokumen penting yang ia terima dari sang Asisten lewat email beberapa jam lalu, pekerjaan yang mendadak membuat pria berusia 28 tahun itu akhirnya langsung terbuai mimpi usai bekerja.

__ADS_1


Hawa dingin mulai mengusik ketenangan Shafia, takut bila Abrisam akan terbangun akhirnya Shafia kembali masuk ke dalam rumah menuju lantai atas, langsung masuk ke dalam kamar ikut berbaring di samping suaminya.


.


.


Pagi sudah tiba.


Selesai melakukan sarapan, Shafia kembali ikut dengan Abrisam ke kantor. Meski berkali-kali dia menolak, bukan Abrisam namanya jika setuju dengan permintaan gadis itu.


Mobil yang membawa mereka melesat dengan kecepatan sedang menuju perusahaan, selama perjalanan tidak ada yang memulai obrolan.


Shafia begitu asik memainkan benda pipih milik suaminya yang beberapa waktu lalu masuk notifikasi dari aplikasi Watsapp, sebuah pesan yang di kirim oleh seseorang sangat Shafia kenal. Siapa lagi kalau bukan Chayra, si wanita perusak rumah tangga orang.


Setiap pesan yang di kirim oleh Chayra bukan di balas oleh Abrisam melainkan Shafia sendiri, isi dari pesan tersebut mampu membuat emosi gadis itu serasa akan meledak, tidak ada takutnya mengganggu pria yang sudah beristri.


Tatapan mata Shafia sesekali melirik tajam kearah suaminya yang hanya duduk diam dengan posisi memeluk Shafia yang kebetulan duduk di atas pangkuan pria itu.


Ia biarkan istrinya melakukan hal-hal yang membuat gadis itu nyaman tanpa harus ada yang di sembunyikan.


Entah apa yang di lakukan Shafia dengan terus membalas semua chat masuk dari Chayra, kadang dia tertawa dan sesekali mengumpat kesal jika ada yang membuatnya tidak suka. Bahu dan lengan Abrisam lah yang menjadi sasaran empuk gadis itu, kalau bukan di gigit ya di cubit. Beruntung Abrisam sudah terbiasa dengan kelakuan istrinya.


"Tuan muda, kita sudah sampai di perusahaan." Ucap Pak sopir mengalihkan fokus Abrisam


Abrisam keluar mobil lebih dulu membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Shafia ikut keluar dari mobil setelah pintu di buka oleh suaminya.


Mereka berjalan masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Kereta besi itu langsung naik ke lantai atas menuju ruangan di mana tempat Abrisam bekerja.


Tring


Saat pintu lift sudah terbuka, senyum Shafia yang awalnya begitu indah seketika berubah menjadi masam melihat seseorang yang berdiri tepat di depan ruangan milik suaminya.


Masih sangat jelas semarah apa gadis itu sekarang, lama-lama dia bisa menggila bahkan berlaku nekat lagi jika selalu saja ada yang datang mencari suaminya.


"Mau apa lagi kamu datang kemari? Belum cukup kah tamparan yang aku berikan waktu itu?"


Mata Shafia mentap nyalang kearah Chayra, rupanya wanita itu masih datang lagi meski sudah pernah di labrak Shafia.


Abrisam menggenggam erat tangan istrinya yang mulai melangkah menuju Chayra.


"Sayang," seru Abrisam kembali masuk ke dalam lift yang telah di buka oleh Hanif tanpa melepaskan genggaman tangannya di jemari Shafia.

__ADS_1


Beruntung sang Asisten segera datang ketika mengetahui Bosnya sudah tiba, mungkin Shafia masih sangat murka karena kejadian waktu itu.


Chayra yang baru akan menghampiri Abrisam sontak terhenti melihat pintu lift sudah tetutup.


"Abrisam."


Teriak Chayra berniat menyusul Abrisam, tetapi lift yang di naiki oleh pria itu bersama Shafia dan Asisten Hanif tidak bisa di akses sembarang orang. Hanya sidik jari Abrisam dan Hanif lah yang berfungsi pada lift tersebut.


"Sial. Aku sudah susah payah datang kemari untuk menemui Abrisam, tapi malah setan kecil itu yang bersamanya."


Umpatan demi umpatan di lontarkan Chayra karena rencananya jadi gagal, wanita itu kembali turun ke lantai bawah mencoba untuk menyusul Abrisam yang lebih dulu turun melalui lift.


Tring


Pintu lift terbuka menampakkan sosok Shafia yang masih berwajah masam, di kedua sisinya terdapat sang suami beserta Asisten Hanif yang hanya diam tanpa berani buka suara.


Bos, jika kau tidak bisa membujuk Nyonya muda. Maka jangan salahkan aku.


Isyarat Hanif melalui sorot matanya namun dengan sedikit menggunakan bahasa bibir melirik kearah Abrisam yang belum berani untuk bicara.


Jangan menatap ku seperti itu, bukankah sudah aku katakan jangan biarkan wanita itu datang lagi.


Kedua pria itu terus saja berbicara hanya dengan menggunakan bahasa isyarat, tanpa mereka sadari kini Shafia mulai menatap heran pada suami dan Asistennya.


"Apa yang kalian lakukan?"


Pertanyaan Shafia sontak membuat Abrisam dan Hanif berhenti.


"Ada apa dengan kalian, ha? Oh tunggu dulu, aku seharusnya marah sekarang."


Shafia kembali bersuara namun apa yang di ucapakannya kali ini akan menimbulkan perang perdebatan tiada ujungnya.


Seorang istri yang cantik namun akan berubah sangat galak bila ketenangannya di usik. Shafia mulai mengintrogasi kedua pria tampan yang duduk berhadapan dengannya.


Posisi mereka yang berada di ruangan privat khusus, sengaja di buat oleh Hanif sebulan yang lalu tersebut. Menjadi tempat alternatif teraman demi menghindari orang-orang tidak punya kerjaan datang ke prusahaan untuk mengganggu Bosnya.


Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti setelah itu jangan harap Shafia akan membiarkan suaminya lolos begitu saja.


Siapa suruh membangunkan Singa yang sedang tidur.


🍃🍃🍃🍃🍃


Like & Komennya jangan lupa 😁

__ADS_1


__ADS_2