Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 36 ~ Melibatkan Proyek Besar


__ADS_3

Chayra yang tidak berhasil menyusul Abrisam memilih untuk langsung pulang dengan perasaan dongkol, ada begitu banyak cara dan pikiran licik yang terlintas di benaknya. Belum juga merasa kapok hampir di buat celaka oleh Shafia tidak membuat nyalinya menciut walau hanya sedikit saja.


Kembali lagi pada Shafia yang masih mengintrogasi kedua pria tampan yang mendapat berbagai macam pertanyaan dan tuduhan darinya. Baik Abrisam maupun Hanif tidak ada yang berani membantah akan tuduhan yang di berikan oleh gadis itu sejak tadi.


"Bagus ya kalian berdua sudah berani bermain api di belakang ku." Sarkas Shafia menatap tajam kearah Abrisam yang hanya diam menunduk


"Wah, andai aku tidak ikut ke perusahaan hari ini, mungkin wanita itu sudah melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Belum juga hilang amarah dalam hatiku padanya, dan itu apa tadi?"


Shafia benar-benar di buat jengkel dengan kedatangan Chayra di kantor suaminya, baru saja semalam dia memikirkan bagaimana caranya untuk lebih memahami Abrisam dan meyakinkan hatinya apakah sudah benar-benar memilih pria itu atau belum. Tetapi yang dia lihat sekarang justru malah menambah kekacauan dalam otaknya.


"Katakan padaku yang sebenarnya! Kalian benar-benar keterlaluan." Sentak Shafia meminta penjelasan.


Hanif lah yang akan menjawab jika keadaan sudah memburuk. (Nasib jadi seorang asisten)


"Maafkan saya, Nyonya. Bukan maksud saya membiarkan nona Chayra datang ke perusahaan. Tadi itu ada pihak klien yang sengaja datang kemari untuk bertemu secara langsung dengan Bos, mereka mengatakan jika proyek yang sedang berjalan ada sedikit masalah. Hal itu juga terdengar oleh wanita itu yang tiba-tiba sudah berada di hadapan mereka." Sahut Hanif mencoba memberi penjelasan pada Shafia


"Terus apa hubungannya dengan klien yang datang kemari? Bukankah mereka lah yang harusnya menunggu Abrisam? Kenapa malah wanita ular itu yang aku lihat tadi? Kamu tidak mungkin berdalih dengan menghilangkan jejaknya bukan?"


Hanif tercekat mendapat rentetan pertanyaan dari Shafia yang masih belum percaya akan apa yang mereka jelaskan.


"Itu karena," jawab Hanif bingung bagaimana akan menjelaskan lagi.


"Karena apa Hanif? Atau jangan-jangan itu karena kalian memang sengaja kan, membiarkannya masuk kemari?" Potong Shafia seakan menuduh


"Tidak, Nyonya!"


"Tidak, sayang!"


Kedua pria tersebut menjawab secara bersamaan pertanyaan yang Shafia lontarkan, baik Hanif dan Abrisam hanya bisa saling pandang merutuki kebodohan masing-masing.


"Ckck, bahkan jawaban kalian pun bersamaan. Bagaimana aku akan percaya begitu saja." Sindir Shafia berusaha menahan emosinya yang siap kembali meledak


"Nyonya percayalah, saya sungguh tidak tahu kalau Nona Chayra ternyata kenal dengan klien yang akan menemui Bos. Wanita itu berada di depan ruangan Bos bukan karena atas permintaan dari mereka, sebenarnya yang berada di ruang tunggu bukan hanya Nona Chayra saja melainkan ada mereka juga yang ikut menunggu di sana. Wanita itu terlalu percaya diri menunggu di depan ruangan Bos yang jelas-jelas sudah ada tempat yang kami sediakan di lantai bawah."


Mendengar penuturan dari asisten suaminya, membuat Shafia sedikit luluh dan membuang jauh pikiran negatif dalam otaknya.


"Nyonya jangan marah dulu, jika ingin menyalahkan maka saya lah yang harus di salahkan. Karena kecerobohan saya, jadinya Nona Chayra bisa masuk dengan mudah di lantai atas. Akses jalur pintas lupa di kunci, mungkin saat ada staf kebersihan yang keluar dari sana menjadi kesempatan baginya untuk naik ke atas."


"Tidak ada yang masuk ke lantai atas selain dari staf kebersihan, Sekertaris Bos, saya dan Bos."


Hanif sudah berusaha mencairkan suasana yang begitu mencekam, waktu mereka terbuang sia-sia hanya karena kecerobohannya sendiri.


"Sudahlah aku takan memperpanjang masalah ini, lagi pula semua yang berkaitan dengan suamiku berada dalam pengawasan ku."


Shafia tidak ingin hanya karena masalah ini sampai membuat moodnya jadi jelek.


"Aku akan tetap di sini, kalian pergilah temui pihak klien yang masih menunggu di sana."

__ADS_1


Ucapan sang istri belum membuat Abrisam segera beranjak pergi, ia takut jika Shafia mungkin masih marah.


"Ada apa, Bri?" Tanya Shafia bingung melihat kearah Abrisam


"Kamu sungguh tidak marah lagi?" Abrisam balik bertanya


"Jangan banyak bicara, segeralah temui mereka!"


Abrisam pasrah menuruti perkataan Shafia, Ia keluar dari ruangan tersebut bersama dengan Hanif menuju ruang tunggu untuk menemui pihak klien yang masih setia menunggu kedatangannya.


Sepeninggalan kedua pria tampan tersebut, tinggalah Shafia sendiri yang duduk bersandar menikmati suasana tenang walau sesaat.


Lamunannya buyar kala mendengar dering ponsel yang berbunyi di atas nakas.


"Hallo, Mah."


[Hallo, sayang. Mama ganggu kamu ngga?]


"Ngga kok, Mah. Ini Shafia lagi duduk santai ajah, Mama tiba-tiba telefon ada apa?"


[Oh, Mama kira kamu sibuk. Ngga sayang, Mama cuma kangen ajah sama menantu kesayangan Mama. Udah lama loh ngga kesini lagi, Mama jadi kesepian]


"Maafin Shafia ya, Mah. Akhir-akhir ini, Shafia sedikit sibuk. Insha Allah kalau Shafia ada waktu mau ketemu Mama sekalian kita kumpul keluarga."


[Ya udah Mama ngerti, janji ya temui Mama kalau ngga sibuk]


[Iya sayang, tetap jaga kesehatan]


Usai berbicara dengan Mama mertuanya di telefon.


Shafia kembali keluar ruangan menuju lantai paling atas di mana ruang kantor suaminya berada.


Jam yang sudah menunjukkan pukul 11 siang, menandakan jika sebentar lagi waktu makan siang tiba. Tetapi Shafia sama sekali tidak merasa lapar.


Tring


Lift yang berhenti ikut terbuka namun Shafia belum keluar juga, sampai ada suara yang menegurnya.


"Nyonya, kita sudah tiba di lantai atas." Seru seorang Staf wanita yang bertugas untuk menjaga istri dari atasannya tersebut


Lamunan Shafia ikut buyar.


"Maaf Kak, tadi aku melamun." Sahut Shafia merasa sangat canggung karena ini bukan pertama kalinya terjadi


Terlalu banyak pikiran kadang membuat fokus Shafia terbagi, beruntung ada orang lain yang menemaninya saat berada di dalam lift.


Seorang Staf wanita yang bertanggung jawab mengawasinya selalu siap siaga menjaga keamanannya, kebiasaan Shafia yang suka melamun kadang membuat Abrisam sering khawatir jika meninggalkan sang istri sendirian tanpa adanya pengawasan.

__ADS_1


Tidak ingin ada kejadian buruk yang menimpah istrinya, akhirnya Abrisam menugaskan seseorang untuk menemani Shafia jika sedang berada di perusahaan.


"Sebentar lagi Pak Presdir akan selesai meeting, Nyonya ingin apa untuk makan siang nanti?"


"Aku lagi nggabpengen apa-apa sekarang." Sahut Shafia seperti biasanya


"Kha Lasri temain aku tidur boleh?" Pintanya lagi yang langsung di iyakan oleh wanita itu.


Rasa pusing yang tiba-tiba saja menyerang membuat Shafia memilih untuk istirahat sejenak sembil menunggu Abrisam selesai mengadakan meeting.


.


.


Sementara di dalam ruangan tempat di mana meeting berlangsung hampir 3 jam lebih, Abrisam sesekali memijit pelipisnya mencoba meredakan emosi yang serasa ingin meledak.


Masalah yang berkaitan dengan pembangunan hotel beberapa bulan lalu akhirnya mendapat titik terang juga, dalang di balik lambatnya proses pembangunan tidak lain adalah orang dalam perusahaan.


"Anda yakin Tuan Ardan jika pelakunya adalah pihak dari dalam perusahaan sendiri?" Tanya Abrisam masih mencoba untuk bersikap tenang


"Saya berani menjamin Tuan Abrisam, bahkan semua bukti-bukti yang mengarah pada orang-orang itu sangatlah kuat." Jawab seorang Asisten yang mendampingi Ardan


"Aku sengaja membiarkan Nona Chayra tetap berada di sini tadi, awalnya aku pikir jika hubungan kalian sangat baik selama ini. Tapi melihat cara wanita itu menjawab membuat ku jadi curiga," timpal Ardan yang tiba-tiba menyebut nama Chayra.


"Maksud anda, kedatangannya kemari bukan sekedar ingin menemuiku saja?" Tanya Abrisam langsung


"Jangan lupa Tuan Abrisam, bukankah sebelumnya saat kita melakukan kerja sama ini, di sana juga ada Nona Chayra yang ikut bersama mu? Dan saat itu anda juga mengatakan padaku jika wanita itu bisa di percaya, anda membiarkan pembicaraan kita di dengar olehnya. Selain anda, Nona Chayra, aku dan Asisten ku, tidak ada orang lain yang tahu akan proyek ini." Terang Ardan kembali mengingatkan pertemuan mereka waktu itu


Ada benarnya juga yang di katakan oleh pria itu, selain Abrisam, Chayra dan pihak klien yang bekerja sama waktu itu, tidak ada orang lain lagi yang tahu akan kerja sama tersebut.


"Anda mungkin sengaja membawa wanita itu ikut mendengar kerja sama kita, tapi anda juga harus ingat Tuan Abrisam. Melibatkan proyek besar demi menyelidiki kasus pembunuhan saat itu akan mempengaruhi keamanan perusahaan. Bagaimana bisa anda melakukan semua ini tanpa memikirkan resikonya?"


Abrisam menyimak apa yang di ucapkan rekan kerjasamanya, mungkin ia salah telah melibatkan masalah pekerjaan dengan insiden beberapa tahun lalu yang menyebabkan nyawa adiknya ikut melayang.


Akan tetapi, jika ia tidak segera menemukan titik terang masalah itu, bagaimana ia akan terlepas dari bayangan wanita yang selalu saja menghantuinya di mana pun.


Meeting berakhir tepat jam makan siang tiba, Abrisam memerintahkan Hanif mengantar Ardan dan Asistennya sampai di lantai bawah tempat parkir. Ia memilih kembali ke ruangan setelah mendapat pesan dari sang sekertaris yang mengatakan jika istrinya sudah berada di ruangannya.


Ceklek.


Pintu ruangan di buka Abrisam dengan pelan, di dalam ruangan ia hanya melihat seorang wanita yang di beri tugas mengawasi Shafia tengah duduk sambil sesekali melirik kearah kamar dengan pintu sedikit terbuka.


"Pak Presdir sudah kembali, Nyonya sedang istitahat di dalam. Saya tadi di minta Nyonya untuk menemaninya tidur, melihat Nyonya mulai terlelap saya kembali lagi keluar." Ucap Lasri ketika melihat Abrisam sudah datang


"Terima kasih Lasri, kembalilah! Makan siang sudah tiba." Sahut Abrisam mempersilahkan wanita itu untuk pergi istirahat


Melihat wanita itu sudah keluar dari ruangan, dengan segera Abrisam masuk ke dalam kamar di mana istrinya tidur tanpa terganggu sama sekali.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2