
Selama cuty kuliah tidak ada yang di lakukan Shafia, selain berdiam diri dalam rumah dengan menonton TV, membaca buku, Novel, Komik serta menonton film drama kesukaannya menjadi rutinitas gadis itu selama libur.
Tinggal dua hari Shafia menikmati waktu liburnya, sekeras apapun Abrisam merayu agar ikut ke kantor tidak juga membuahkan hasil. Gadis cantik itu tetap keukeh ingin tinggal di rumah.
"Kan, tiga hari kemarin ngga ikut sayang, hari ini mau ya, ya." Rayu Abrisam lagi terus memohon
"Aku ngapain ikut kesana By, lagian nanti juga tetap di tinggal kan."
Shafia mudah bosan, itu sebabnya akan sulit mengajaknya pergi ke kantor oleh Abrisam.
"Tega kamu sama suami sendiri, aku mana fokus kerja kalau ngga ada kamu sayang." Keluh Abrisam mulai enggan pergi ke kantor
Jika sudah begini, mau tidak mau Shafia harus ikut bagaimana pun caranya.
Tukar suami boleh ngga sih? Jerit Shafia dalam hati
Keputusan terakhir adalah gadis itu harus ikut, bukan Abrisam namanya jika tidak bisa merayu istrinya.
Hanya lima belas menit perjalanan kini mobil milik Abrisam sudah tiba di lobi parkiran perusahaan, ia membukakan pinta untuk istrinya yang masih merenggut kesal.
Langkah kaki keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam lift menuju lantai paling atas, di dalam kereta besi yang masih berjalan itu tidak henti-hentinya Abrisam mengganggu istrinya agar mau tersenyum kembali.
"Iihh, udah dong By. Geli, jangan di cium mulu." Rengek Shafia berusaha mendorong kepala suaminya yang masih menempel di bahunya
"Jangan ngambek mulu dong, Sha. Kan, aku udah minta maaf. Aku janji deh, ngga akan ninggalin kamu sendirian, kemana pun aku pergi kamu boleh ikut, gimana?" Sahut Abrisam merayu istrinya
"Beneran ngga di tinggal?" Tanya Shafia memastikan
"Iya, istriku sayang."
Wajah cemberut Shafia di cium habis pria tampan yang masih saja bertingkah layaknya anak kecil, entah bagaimana jadinya jika bukan gadis itu yang menjadi istrinya.
Dari sekian banyaknya wanita yang berlomba-lomba mendekati Abrisam, tidak ada satupun yang berhasil merebut perhatiannya.
Yang membuat Shafia penasaran bagaimana bisa Chayra mengenal suaminya dan sampai saat ini pun kabarnya wanita itu masih terus memantau suaminya meski dari kejauhan.
.
.
Beberapa menit yang lalu saat sampai di ruangan milik Abrisam, tidak berselang lama pria tampan itu keluar ruangan karena ada rapat penting. Shafia yang di tinggalkan memilih untuk duduk santai di kursi kebesaran milik suami nya dengan bermain-main berputar kesana kemari.
__ADS_1
"Waahh, enak juga yaa kalau jadi Bos. Apa-apa tinggal main perintah ajah, tapi ngga enaknya juga ada, di saat banyak pekerjaan di situlah otak dan tenaga terkuras habis, capedeh."
Apa saja yang membuat gadis itu nyaman selagi bukan menghancurkan seisi ruangan maka Abrisam tidak akan melarangnya.
Memiliki istri yang masih di bawah umur 20 tahun memanglah tidak mudah di atasi, tingkah kekanakannya tetap masih ada.
Ceklek
Shafia menoleh kearah pintu yang di buka pelan, sosok yang hampir dua jam lamanya pergi meninggalkannya kini sudah kembali dengan senyum yang tidak lepas terukir di wajah tampannya.
"Lagi apa cantiknya aku?" Goda Abrisam saat tiba di ruangan, langkah kaki panjangnya mendekat kearah sang istri di sudut ruangan.
"Lagi apa sih, kok aku di cuekin?" Lanjutnya di buat penasaran dengan apa yang tengah istrinya lakukan.
Dari tempat Shafia yang masih duduk di kursi kebesaran suaminya, tampak jelas gadis itu ingin melakukan sesuatu.
"Ehemm, Tuan Abrisam. Berapa lama anda pergi rapat tadi?" Tanya Shafia dengan wajah serius menatap intens kearah suaminya.
Abrisam yang sadar berusaha menahan diri agar tidak tertawa, tingkah lucu istrinya sangat menggemaskan.
"Hey, aku bertanya padamu. Kenapa hanya diam saja?" Lanjut Shafia kembali bertanya
"Tadi hampir dua jam lebih saya menghadiri rapat penting, apa ada yang salah Nyonya?"
Pria tampan itu melipat kedua bibirnya ke dalam agar tidak tertawa.
"Dua jam lebih ya, kamu tahu kesalahan apa yang sudah kamu lakukan?" Shafia membalikkan tubuhnya yang sebelumnya duduk di kursi dengan posisi membelakangi Abrisam.
"Tidak tahu Nyonya, memangnya apa yang sudah saya lakukan?"
Shafia hanya mengangguk tanpa bicara, sedetik kemudian gadis itu bangkit dari duduk melangkah pelan kearah Abrisam yang masih setia berdiri tegak.
"Kamu tentu tahu bukan, dua jam lebih bukanlah waktu yang singkat?" Abrisam mengangguk iya.
"Dan kamu juga tahu jika sekarang sudah waktunya makan siang?" Lagi-lagi pria tampan itu hanya mengangguk.
Shafia menarik napas dan membuangnya pelan, matanya menatap nyalang ke arah suaminya.
Satu, dua, tiga.
"Aaa, aaa, sakit sayang, jangan di cubit." Adu Abrisam memohon ampun telinganya menjadi sasaran empuk tangan Shafia
__ADS_1
"Bagus ya kamu, udah datang ke kantor jam 10 siang. Telat lima jam dari waktu yang di tentukan, sekarang saat mengadakan rapat pun kamu malah nambahin waktunya lebih lama."
Shafia sangat geram atas kelakuan suaminya terlalu semena-mena terhadap karyawannya, mengadakan rapat yang hanya satu jam saja telah di buatnya menjadi dua jam bahkan lebih. Entah apa yang pria itu lakukan sampai harus mengadakan rapat yang lumayan lama.
"Aku sudah mati kebosanan, bolak balik kamar, mengelilingi seluruh ruangan, membaca semua novel, menonton drama, tapi kamu belum juga kembali." Sentak Shafia rasanya ingin menelan hidup-hidup suaminya
"Ampun Sha, ini telinga aku bisa copot sayang kalau di tarik mulu." Keluh Abrisam memohon ampun, rasa sakit di telinganya semakin terasa.
Bukan Shafia jika mau mengalah, tidak puas menarik telinga suaminya, gadis itu beralih menggigit lengan.
"Astaga sayang udah dong, bisa sakit semua badan aku." Keluh Abrisam berusaha melepaskan diri
"Ok, ok. Aku janji ngga bakalan ulangin lagi. Beneran deh Sha, itu yang terakhir."
"Awas saja kalau sampai kamu bohong." Sahut Shafia akhirnya berhenti
Tidak ada lagi pertengkaran yang terjadi karena Shafia memilih diam dan keluar ruangan di ikuti Abrisam yang berjalan mengekor di belakangnya.
Tring
Lift sudah sampai di loby parkiran, dengan langkah kaki pelan keduanya menuju mobil yang sudah menunggu.
Kereta besi tersebut melaju dengan kecepatan sedang, suasana perkotaan yang lumayan macet mulai timbul kebiasaan Abrisam yang merenggut kesal.
Shafia yang duduk di samping suaminya membuang napas pelan sambil memejamkan matanya sejenak, pikirannya tertuju pada pesan yang tanpa sengaja beberapa saat yang lalu di bacanya.
"Habis ini mau kemana?" Tanya Abrisam saat keduanya sedang menikmati makan siang di sebuah Restaurant
Shafia menggeleng, belum juga rasa penasarannya hilang soal isi pesan tersebut.
Makan siang berlangsung tidak lama, Abrisam memilih pulang ke rumah bersama istrinya. Selama di perjalanan pulang tidak ada obrolan yang terjadi antara mereka, sikap diamnya Shafia bisa di tebak oleh Abrisam yang notabennya sangat perasa.
Sepuluh menit kemudian mobil sudah tiba di depan rumah, Shafia dengan cepat langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu suaminya.
"Ampun deh kalau punya istri yang baiknya sebentar ngambeknya tahan lama."
Abrisam ikut masuk ke dalam rumah menyusul istrinya, entah pesan apa yang tanpa sengaja di lihat oleh gadis itu sampai suaminya pun di abaikan.
🍃🍃🍃🍃🍃
Like & Komennya yuk ramaikan..😀
__ADS_1