
Sudah tiga hari, Shafia masih di rawat tanpa ada tanda-tanda kapan wanita kesayangan Abrisam itu sadar dari koma.
Pihak team dokter selalu mengutamakan keselamatan menantu kesayangan keluarga Qiemyl Mannaf tersebut, tidak pernah lalai memastikan kondisi Shafia yang belum juga siuman.
Setiap saat memastikan perkembangan Ibu dari si kembar yang hanya melihat buah hatinya sewaktu di susui pertama kali itu.
Menurut pemeriksaan, semuanya normal dan sehat. Hanya mungkin karena sempat terjadi pendarahan, sehingga mempengaruhi kondisi tubuh Shafia melemah.
Abrisam tidak sekali pun beranjak dari sisi istrinya, bahkan ia sampai menyerahkan semua pekerjaan kantor pada Hannif.
Semua anggota keluarga tidak ada yang melarang apalagi ikut campur, hanya karena mereka tahu seperti apa perjuangan pria itu dalam mendapatkan kepercayaan Shafia.
Adapun si kembar yang sesekali menangis karena mencari Ibu mereka, bisa kembali tenang jika sudah di letakkan tepat di atas dada Shafia sembari menyusu.
Setelah kenyang baru di angkat menuju box bayi yang letaknya berada di samping brangkar dalam kondisi sudah terlelap.
Nyonya Qiemyl sangat sedih melihat cucu menantunya belum juga ada tanda-tanda kapan akan sadar.
Rasa rindunya karena sejak mengetahui Shafia hamil tepat sembilan bulan yang lalu, membuatnya tidak kembali ke negara asal dan memilih tetap tinggal bersama cucu dan cucu menantunya tersebut. Jelas sangat terasa betapa kesunyian itu menyiksa hatinya, kala tidak melihat senyum juga mendengar candaan Shafia beberapa hari terakhir.
Aina dan Ririn selalu menjadi penyemangat wanita baya itu agar bersabar dan terus berdoa demi kesembuhan Shafia.
.
.
Usai makan malam di Restaurant dekat rumah sakit.
Semua anggota keluarga langsung berpamitan untuk pulang ke rumah setelah memastikan Abrisam baik-baik saja menjaga si kembar dan Shafia hanya seorang diri, tetapi ada dua orang perawat yang selalu siap siaga membantu.
Sepeninggalan Nyonya Qiemyl bersama yang lainnya sekitar sepuluh menit yang lalu, kini tersisa Abrisam sendiri menemani sang istri tercinta yang masih terbaring lemah di atas brangkar.
Hatinya mencelos sakit, memandangi belahan jiwanya tersebut yang masih dalam kondisi belum sadar.
"Bangun sayang," lirihnya tanpa sadar mengeluarkan cairan bening.
"Aku dan si kembar menunggumu," bisik pria itu tepat di telinga sang istri lalu berdoa meminta kesembuhan.
"Janji deh, setelah ini aku ngga mau kamu hamil lagi.
Abrisam begitu tersiksa dalam sehari saja tidak melihat senyuman istrinya.
__ADS_1
"Kamu wanita yang kuat sayang, buktinya si kembar lahir dengan sehat. Mereka sangat tampan dan kedua mata mereka pun sangat mirip dengan matamu."
"Tidurnya jangan lama-lama ya, aku ngga kuat nahan rindu."
Entah berapa lama pria itu mengajak istrinya berbicara dengan harapan akan ada keajaiban Shafia sadar.
Malam yang semakin larut, kedua mata Abrisam tidak bisa lagi terbuka dengan lebar. Ia tertidur dengan posisi duduk sembari menggenggam tangan Shafia.
Dua perawat yang masuk guna memastikan apakah si kembar tidak rewel, hanya tersenyum geli mendapati pria itu tidur tanpa mengganti pakaian lebih dulu.
"Kasihan Tuan Muda, selalu menunggu kapan istrinya sadar."
"Banyak berdoa saja, semoga besok ada keajaiban yang datang. Lagi pula, Nyonya Shafia sehat dan baik-baik saja. Mungkin dia terlalu nyaman berada dalam mimpi yang indah."
Kedua wanita itu hanya mengganti pakaian milik si kembar serta memberikan susu yang berasal dari ASI Shafia melalui botol susu.
Beruntung bayi-bayi lucu dan menggemaskan itu tidak rewel apalagi menolak botol susu yang mereka berikan, mungkin karena merasakan itu adalah ASI milik Shafia.
Usai memastikan semuanya aman, baru lah mereka keluar dari ruangan tanpa mengganggu tidur Abrisam yang sepertinya sangat kelelahan menjaga istrinya.
.
.
Masih belum sepenuhnya sadar, karena pengaruh obat yang selalu di berikan agar wanita itu cepat sembuh dan kembali sehat.
Pandangan Shafia menyusuri setiap sudur ruangan mencari keberadaan semua orang, tetapi hanya ada si kembar yang tertidur begitu pulasnya di dalam box bayi, serta Abrisam yang duduk sembari menggenggam tangannya seolah takut kehilangan.
Pria itu tidur menyisakkan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya, dapat Shafia lihat betapa rapuhnya sang suami karena menunggu dirinya sadar dari koma.
"Hubby," panggilnya pelan seraya mengusap lembut pipi kanan pria kesayangannya itu.
"By, sayangnya aku." Ulang Shafia dengan sedikit jahil mencubit hidung mancung Abrisam agar segera bangun
Dia sangat merindukan pelukan hangat suaminya itu, sebelum pagi menyapa.
Cukup lama Shafia mengganggu suaminya dengan cara menutup hidung pria itu, akhirnya yang di tunggu bangun juga.
"By, mau peluk." Rengeknya tanpa basa basi meminta Abrisam segera naik ke atas brangkar berukuran lumayan luas tersebut
"Sayang, kamu sudah sadar?" kaget Abrisam masih belum percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
__ADS_1
"Aku ngga lagi mimpi kan?" lirihnya kembali meneteskan cairan bening.
Shafia hanya tersenyum manis, segera meraih tubuh lemah suaminya ke dalam pelukan.
"Aku kangen, Sha."
Tangis Abrisam pecah merasakan betapa ia tidak dalam keadaan sedang bermimpi melihat istrinya sudah sadar dan memeluknya penuh kasih sayang
"Aku jauh lebih kangen Hubby, loh." Kekeh Shafia berusaha meredakan tangisan pria itu
"Jangan tidur lama-lama kayak gini lagi, hmm? Aku ngga kuat sayang," pinta suami tampannya itu dengan nada melemah.
Cukup sekali Abrisam menyaksikan bagaimana istrinya terbaring koma di rumah sakit, ia berjanji tidak akan lagi membuat Shafia hamil.
Baginya memiliki dua anak kembar laki-laki sudah cukup, tidak perlu lagi mencari anak perempuan. Sebab, hanya Shafia lah satu-satunya Ratu dalam rumah yang mereka inginkan.
Pasangan suami istri tersebut memilih tidur setelah puas meluapkan kerinduan masing-masing.
Shafia begitu nyaman berada dalam dekapan hangat suaminya yang selalu membuatnya tenang dan nyaman selama ini. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Abrisam dalam hidupnya yang rasanya nyaris sempurna, karena baginya kesempurnaan itu hanya milik sang pencipta.
.
.
Pagi Tiba.
Dokter masuk ke dalam ruangan memastikan apakah Shafia memiliki kendala yang lain setelah dia sadar atau tidak.
"Semua aman ya, ngga ada yang harus di khawatirkan." Jelasnya pada semua anggota keluarga terutama Abrisam
"Sore boleh pulang, tinggal menghabiskan sisa infus yang ada."
Mereka hanya mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Masih ada pasien yang harus saya cek," pamit Dokter wanita tersebut.
Abrisam tersenyum bahagia akhirnya bisa kembali melihat senyum manis istrinya setelah kurang lebih tiga hari ia tersiksa.
Semua anggota keluarga memilih keluar sembari membawa si kembar untuk di mandikan karena sudah waktunya.
"Masih kangen, Hubby." Rengek Shafia merentangkan kedua tangannya kearah Abrisam yang tertawa
__ADS_1
"Setelah melahirkan, kenapa istriku ini semakin manja."
🍃🍃🍃🍃🍃