Semanis Cinta SHAFIA

Semanis Cinta SHAFIA
Bab 58 ~ Masuk Pasar


__ADS_3

Setelah mobil sudah melewati gang yang di katakan Shafia, kereta besi tersebut belok kearah kanan menuju tempat yang belum di sadari Abrisam.


Keringat dingin mulai membasahi dahi Abrisam mana tahu kemana mereka sekarang, matanya terus melirik kearah luar dimana ada begitu banyak orang berlalu lalang kesana kemari sambil menenteng banyak barang, bau aneh dan sangat menyengat mulai masuk ke indra penciuman pria tampan itu.


Ingin rasanya Abrisam menangis dan memohon pada istrinya agar kembali pulang ke rumah, tapi mustahil itu terjadi.


"Parkir di depan sana ajah Paman, biar pas keluar nanti ngga susah mutar mobilnya." Titah Shafia menunjuk area parkiran mobil yang lumayan luas


Setelah mobil sudah ada di parkiran, Shafia keluar mobil lebih dulu tanpa menunggu suaminya turun.


Shafia sengaja melakukannya, dia ingin melihat bagaimana reaksi suaminya.


"Sayang, serius kita masuk pasar sekarang?" Tanya Abrisam lemas


"Katanya mau rujak, harus masuk pasar dong kalau mau beli buahnya." Jawab Shafia sambil menahan tawa


Betapa lucunya Abrisam yang memperlihatkan wajah jijik dan gelinya karena di bawa ke pasar, Shafia bisa melihat bagimana suaminya menahan diri agar tidak mual.


Wajah tampan dan tubuh yang terbilang sempurna nyatanya malah takut masuk ke area pasar, sesekali Shafia memberi hukuman suami tampannya tidak masalah kan?


"Ayo turun By! Nanti keburu buahnya habis di beli orang." Ajak Shafia dengan santainya


"Sayang ajah yang beli buahnya yaa. Aku mana kuat sama bau pasarnya." Sahut Abrisam tidak tahan


"Oh tidak bisa Hubby, sayang. Tidak ada penolakan, cepat turun!" Kata Shafia dengan nada mengancam


Sumpah demi apapun, Abrisam ingin sekali berteriak minta tolong. Ini namanya penyiksaan, teganya sang istri memberi hukuman yang tidak pernah Abrisam bayangkan sekalipun.


Melihat suaminya akhirnya turun juga dari mobil, senyum Shafia langsung terukir indah di wajah cantik alaminya.


"Nah gitu dong, dari tadi kek nurut sama istri. Kalau langsung nurut 'kan enak, aku ngga harus buang-buang tenaga segala cuma buat ancam Hubby." Sorak Shafia senang akhirnya rencananya berhasil juga


"Mari Hubby, sayang. Ikut Ummi masuk ke pasar," ajak Shafia tersenyum menyeringai.


"Tega kamu, Sha. Hukum suami sampai kayak gini," keluh Abrisam pasrah.


"Katanya sayang istri, harus nurut dong kalau istri minta sesuatu." Ledek Shafia tanpa perasaan

__ADS_1


Sebenarnya Shafia tidak tega menghukum suaminya masuk ke area pasar, tapi melihat raut wajah lelah sang Bibi akibat ulah suaminya, mau tidak mau Shafia harus memberi pelajaran pada Abrisam biar kelak tidak mengulanginya lagi.


Shafia berjalan santai menyusuri lorong pasar yang berdempet-dempetan orang lewat, hal biasa bagi Shafia bila pergi ke pasar sebab sejak usianya 10 tahun sang Ibu sering membawanya kemari.


Tangan Abrisam tidak lepas sekalipun menggenggam jemari lentik istrinya, ia yang berjalan mengekor di belakang sampai rela menahan diri untuk tidak mengamuk.


Pasalnya para ibu-ibu yang melihatnya seakan ingin mencubit dan meraih tubuh tingginya yang berjalan pelan.


"Sayang," rengek Abrisam mulai tidak nyaman.


Shafia membalikkan tubuh menghadap suaminya, betapa kagetnya istri muda itu melihat ada begitu banyak ibu-ibu mulai berdempetan di belakang suaminya.


"Eh eh, pada ngapain haa? Jangan coba-coba sentuh suami saya ya, mau saya cakar semua wajah genit kalian itu." Geram Shafia cepat menarik tubuh suaminya ke belakang tubuh langsing miliknya


Para ibu-ibu yang tadi hampir saja menyentuh tubuh Abrisam sontak menciut takut melihat aura kemarahan yang di perlihatkan Shafia.


"Jangan galak-galak dong Neng, itu kami cuma pengen pegang sedikit wajah suami Neng."


"Iya, habisnya cakep dan baru pertama kali lihat."


Beberapa ibu-ibu yang masih ingin menyentuh Abrisam terus memaksa agar Shafia memberi izin.


"NO! Jangan ada yang berani menyentuh suami saya sehelai rambut saja, enak ajah main pegang-pegang. Ini cuma punya saya seorang, kalau mau pegang noh suami kalian." Tolak Shafia mentah-mentah


"Saya cakar ya kalau sampai ada yang nekat pegang suami saya, ayo By."


Tidak ada yang berani mendekat apalagi mengikuti kemana arah pasangan suami istri tersebut pergi, aura singa betina yang pemarah membuat mereka memilih menahan diri dari pada kena amukan dan cakar.


"Untung istrinya cantik ya, tapi galak."


"Ya kali istrinya mau kita pegang-pegang suaminya sembarangan."


"Wajarlah kalau istrinya galak, orang punya suami tampan begitu."


"Tapi kok kayaknya aku lihat tadi istrinya seperti lagi hamil."


"Masa sih? Jangan asal ngomong kamu, mungkin cuma lagi naik berat badan kali."

__ADS_1


"Huuu, kamu 'kan belum pernah hamil. Mana paham yang begituan, aku ini udah punya anak tiga jadi jelas aku tahu ciri-ciri wanita yang lagi hamil."


Adu debat pasukan Ibu-ibu tukang ghibah tersebut tetap berlanjut meski orang yang mereka bicarakan sudah menghilang jauh entah kemana.


Di salah satu tenda yang menjual buah-buahan ada Shafia yang memilih dan memilah buah apa yang ingin di belinya, termasuk buah untuk di buat rujak.


"Hubby mau buah yang mana lagi? Biar aku ambilin buat stok di kulkas." Tanya Shafia pada suaminya yang sejak tadi menempel padanya tanpa mau di lepas


"Apel, jeruk sama anggur ajah." Jawab Abrisam menyebut tiga nama buah


Shafia mulai memasukan semua buah yang ingin mereka beli, usai membayar semua buah yang di pilih. Shafia berjalan pelan menuju tenda yang tidak jauh dari tenda buah, beberapa sayuran dan rempah-rempah di beli gadis itu.


"Kayaknya sudah semua, kita balik mobil yuk By." Ajak Shafia kembali menarik lengan suaminya menuju parkiran


Sesampainya di parkiran, Abrisam lebih dulu masuk dalam mobil tanpa menunggu istrinya. Rasa geli, jijik, kesal, panas dan mual bercampur jadi satu.


"Loh By, kenapa?" Tanya Shafia panik melihat keadaan suaminya yang memucat dan mual


"Rasanya ngga enak, sayang. Pusing banget, minta Paman cepat bawa mobilnya!" Jawab Abrisam dengan nada lemas


Tanpa menunggu lama lagi Shafia meminta sang sopir agar mengemudikan mobil sedikit cepat, rasa panik dan khawatir begitu jelas terlihat di wajah Shafia.


"By, jangan buat aku takut dong. Tadi baik-baik saja, kenapa sekarang malah jadi gini." Ucap lirih Shafia dengan nada ingin menangis


"Paman, lebih cepat lagi bawa mobilnya!" Titah Shafia mulai panik


Semua orang di rumah sudah di beri kabar, beruntung jam masih menunjukkan pukul 4 sore.


Lima belas menit kemudian mobil sudah masuk ke area halaman rumah, Shafia meminta tolong pada dua orang pria yang kebetulan baru saja ingin masuk ke dalam rumah.


Abrisam di bawa masuk untuk di letakkan dalam kamar, sedangkan Shafia meminta Bibi membawa semua barang belanjaan mereka ke dapur.


Dalam pikiran Shafia sekarang hanya ada suaminya, dia begitu panik melihat betapa pucatnya wajah Abrisam tadi di pasar.


Baik Nyonya Iriana, Ririn dan Aina sudah berkumpul di dalam kamar, ketiga wanita itu pun ikut di buat panik melihat kondisi Abrisam yang lemah.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2