
Tidak ada dari kaum wanita yang tidak mendambakan ingin memiliki pasangan hidup yang baik hatinya, penyayang, setia dan tentunya sholeh.
Semua berharap mendapat yang terbaik agar kelak bisa membimbing dan melindungi, tidak berlaku kasar apalagi sampai menghadirkan orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Termasuk yang Shafia harapkan dari sosok pria tampan yang sebelumnya tidak pernah sekalipun terlintas di otaknya menjadi seorang istri dari pewaris harta kekayaan Qiemyl Mannaf tersebut.
Shafia hanya asal bicara ketika sedang kesal, namun siapa sangka kenyataannya justru di luar ekspetasi.
Mereka sampai menikah dan sekarang menjalani kehidupan rumah tangga, seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Hanya sedikit di bumbui masalah yang lumayan menguras emosi dan tenaga, namun tidak sampai membuat mereka berujung perpisahan apalagi pertengkaran yang hebat.
Pria tampan yang bernama lengkap Abrisam Mannaf, sengaja memilih pasangan hidupnya seorang gadis yang memiliki hati lembut, penuh kasih sayang, juga memiliki mental yang kuat agar bisa membantunya terbebas dari masalah yang sulit ia hadapi sendiri.
Hatinya yang lembut sangat sulit menjauhkan diri dari seorang wanita bernama Chayra, tidak tega bila sampai menyakitinya.
Dan kehadiran Shafia, bagai angin segar di kala hidup Abrisam nyaris di ambang kehancuran.
Gadis itu sangat menjaga suaminya dengan baik, tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitinya walau sehelai rambut.
Betapa beruntungnya Abrisam, di pertemukan dengan pasangan hidup yang melihatnya bukan dari harta semata, tetapi Shafia memintanya agar membuktikan ketulusannya lewat tindakan bukan sekedar janji belaka.
__ADS_1
Dulu. Hampir semua wanita yang datang padanya hanya ingin kekayaan dan sebuah nama agar bisa di kenal oleh banyak orang.
Sekarang, Abrisam telah berjanji pada dirinya sendiri akan memperlakukan Shafia dengan baik, melindunginya serta berusaha mempertahankan pernikahannya, meski di antara mereka masih ada satu wanita yang bukan dengan kekerasan agar bisa membuatnya pergi dari kehidupan mereka.
.
.
.
CUP
"Sayang," kagetnya mendapati sang istri berdiri tepat di sampingnya.
"Ngga baik melamun, By." Tegur Shafia dengan satu tangan meraih jemari besar Abrisam untuk dia genggam
"Ayo masuk kamar!" Ajaknya langsung menarik tangan suaminya dengan perlahan
Shafia tahu apa yang sedang Abrisam pikirkan. Itu sebabnya dia tidak bertanya lebih jauh dan masih berusaha tetap bersikap biasa saja, seakan tidak ada yang terjadi.
Kadang. Terlalu banyak mencari tahu, hanya akan menambah masalah yang lebih rumit lagi. Shafia jelas tidak mau, apalagi rumah tangganya baru seumur jagung.
__ADS_1
Abrisam masih diam saat tubuhnya di bawa ke atas ranjang dengan penuh perasaan oleh istrinya tersebut.
Jam masih menunjukkan pukul 3 subuh, tetapi pria itu nekat keluar dari kamar tanpa sepengetahuan istrinya.
Tidak ada obrolan atau candaan, hanya sikap lembut yang Shafia perlihatkan, membuat pria itu semakin merasa bersalah dan sedih.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, By!" tegur Shafia yang paham akan tatapan kedua mata suaminya tersebut.
"By, harus istirahat." Imbuhnya
Abrisam diam menurut, terlalu lelah sekedar buka suara.
Jelas perasaannya gelisah, memikirkan banyak masalah yang belum selesai. Tetapi, pelukan hangat dari istrinya menjadi penenang sekaligus mampu meredakan sesuatu yang mengusik pikirannya.
"Tidurlah, sayang. Semua akan baik-baik saja, hmm!" bisik Shafia pelan sembari mengusap lembut punggung suaminya
Sekesal dan semarah apapun dia, tidak akan sampai hati membuat Abrisam sedih.
Apalagi sekarang, di rumah ada anggota keluarga yang datang berkunjung. Tidak baik rasanya jika mereka sampai tahu Abrisam keluar dari kamar beberapa menit yang lalu.
Entah jawaban apalagi yang akan Shafia berikan, sementara dia tidak yakin akan penilaiannya sendiri terhadap Abrisam.
__ADS_1