Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
22 #Move On


__ADS_3

Jas*d tersebut sudah dibawa kerumah sakit untuk diotopsi dan diperiksa lebih lanjut. Felix yang melihat jas*d tersebut langsung terdiam membisu. Ia sudah tidak bisa mengenali lagi jas*d yang ditemukan oleh tim SAR. Dari postur tubuhnya, mirip sekali dengan Arshan. Hatinya jadi menciut dan beralih menjadi air mata yang mengalir deras. Ditambah ada bukti bekas jas Arshan yang sobek dan ponsel yang sudah hangua terbakar didekat jas*d tersebut.


Yolanda yang mendengar kabar Arshan meninggal langsung jatuh pingsan dan kakek pun terduduk lemas. Mereka benar-benar sangat syok mendengar kabar tersebut. Setelah Yolanda terbangun dari pingsannya. Ia meronta-ronta menangis ingin melihat jas*dnya Arshan. Namun dilarang oleh suaminya lantaran Felix takut nanti Yolanda malah tidak sanggup untuk melihatnya. Sehingga Yolan tidak bisa melihat Arshan untuk yang terakhit kalinya.


Setelah semuanya beres dan sudah dipastikan kalau jas*d tersebut adalah Arshan. Felix membawa pulang jas*d Arshan kerumah utama. Saat dibawah pulang jas*d Arshan sudah dimandikan bersih, sudah dibenahi semuanya. Jadi Felix hanya tinggal memakamkan saja, tentunya dia bawa pulang. Sepanjang jalan tak henti-hentinya Yolanda terua menangis meratau kepergian Arshan secara mendadak. Bahwa ia tak bisa melihat putranya untuk terakhir kali.


Beberapa mobil beriringan mengikuti ambulans yang membawa tubuh Arshan. Ada sekitar empat mobil hitam dan dua mobil putih. Satu mobil hitam didepan untuk memimpin jalan.


Sampai akhirnya ambulans yang membawa jas*d Arshan telah sampai didepan pemakaman. Mereka langsung membawa ke pemakaman untuk dikuburkan. Karna semuanya sudah dilakukan hanya tinggal memakamkan saja. Prosesi pemakaman pun berjalan dengan lancar tanpa kendala. Tentu banyak sekali orang yang turut hadir ke pemakaman Arshan. Banyak pula para wartawan yang ingin mengambil momen tersebut. Media pun ramai dengan kabar meninggalnya Arshan Abhimarta.


Sampai kabar tersebut sampai ditelinga Firsi. Dia sangat syok dengan kabar tersebut dan ingin memastikannya langsung ke tempat pemakaman tersebut. Sampai didepan pemakaman dia kembali dibuat syok karna kabar meninggalnya Arshan bukanlah hoax belaka melainlan kenyataan uang ada. Firsi langsung mendekati makamnya Arshan yang masih dipenuhi orang dam kerabatnya Arshan. Dia menangis disana, entah tangisan betulan atau bohong.


Firsi tidak bisa terlalu dekat, karna disana masih ada kedua orang tua Arshan. Kalau dia nekat mendekat sudah pasti dirinya akan diusir dan dipermalukam depan semua orang. Apalagi masih ada wartawan disana. Pada akhirnya Firsi hanya bisa melihat dari kerumunan orang. Sampai satu per satu dari mereka kembali pulang. Tinggal lah Yolanda, Felix, Kakek, Daniel, dan ada Erwin asistennya Felix disana, ada bi Tarmi juga.


"Arshan.......Kenapa kamu ninggalin mama sayang, mama masih ingin melihatmu dan bersama kami. Kenapa kamu pergi secepat ini, bahkan mama gak bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Kenapa kamu harus pergi dengan cara seperti ini. Hiks.....Hiks.....Ini semua gak adil untukmu!" tangis Yolanda benar-benar pecah disamping makamnya Arshan.


"Mama yang sabar ya, Arshan sudah bahagia disana. Mama ikhlasin Arshan, kasihan dia. Papa janji akan menemukan siapa pelaku yang sudah membuat putra kita meninggal. Sekarang kita pulang yuk" ajak Felix kasihan melihat istrinya yang terus-terusan menangis.

__ADS_1


Yolanda masih tetap diam ditempatnya tanpa pergerakan atau sahutan. Ia enggan untuk pergi jauh dari Arshan. Diraihnya tangan Yolanda untuk diajak pulang. Wajah Yolan langsung menoleh ke arah Felix.


"Pulang yuk, Arshan sudah bahagia disana." ucap Felix tersenyum. Ia berusaha tegar didepan istrinya. Kalau dirinya ikut terbawa suasana, bagaimana nanti istri dan orang disekitarnya. Ia harus tetap tegar dan kuat.


"Hmm...." ucal Yolanda mengangguk. Dia bangkit lalu dirangkul oleh Felix untuk pergi masuk ke dalam mobil. Daniel, Erwin dan bi Tarmi ikut pulang juga.


Sementara kakek tidak ikut ke pemakaman karma tubuhnya yang lemah tak berdaya. Dia terdiam dalam kamar sendiri meratapi duka yang dalam atas meninggalnya Arshan, cucu yang disayanginya sekaligus pewaris tunggal kekayaannya.


Meninggalnya Arshan tidak dipublik oleh keluarga besar Abhimarta. Mereka memilih untuk merahasiakannya. Semua media dilarang untuk keras untuk mencari tau lebih dalam lagi. Kalau ada yang berani bertindak demikiam, mereka gak segan-segan untuk menjebloskan orang tersebut ke kantot polisi. Sehingga karna ancaman tersebut, para awak media pun tidak berani bertindak lebih dalam lagi. Mereka hanya mendapat informasi atas meninggalnya Arshan tidaklebih dari itu.


...******...


Tok......Tok......Tok.....


Suara ketukan pintu beberapa terdengar ditelinga Firsi, tapi ia enggan untuk membukanya. Sehingga seseorang yang mengetuk pintu itupun langsung masuk begitu saja ke kamar Firsi.


"Sayang, kamu kenapa dikamar terus sih. Ayo makan keluar, ditungguin tuh sama papa. Jangan gini ah mama gak suka, yaa mungkin saja emang kalian gak jodoh. Masih banyak lelaki diluaran sana, tidak hanya Arshan saja." ucap Elena duduk disamping ranjang Firsi.

__ADS_1


"Gak ma!! Aku hanya mau Arshan, kalau dia sudah pergi untuk selamanya maka aku tidak akan mencari lelaki lain. Arshan itu perfek ma, gak ada minesnya. Tampan, Kaya, Pintar, Cool.....Ahh pokoknya sempurna deh. Mana ada yang bisa seperti Arshan" jawab Firsi masih diposisinya tengkurap sambil wajahnya ditutupi bantal.


"Ada sayang, kamu hanya belum menemukannya saja. Cobalah cari, seperti kamu mencari cintanya Arshan dulu. Sekarang kamu mau mengharapkan Arshan bagaimana lagi? Dia sudah meninggal, gak aka bisa hidup lagi. Yang harus kamu lakukan adalah move on dan cari pasangan lain yang juga bisa menerima kamu apa adanya. Lagian keluarga Arshan juga tidak menyukaimu. Carilah pasangan yang keluarganya bisa menerimamu." balas Elena mengusap rambut Firsi.


"Aahhh mama mah banyak bicara. Kalau bicara doang aku juga bisa ma, hati mana bisa dipaksakan. Nanti saja aku makannya, mama duluan sana" kata Firsi bangkit dari tidurnya lalu pergi begitu saja ke arah kamar mandi.


"Nanti kamu nyusul ya, mama tungguin jangan lama-lama. Mama ke bawah dulu" ucap Elena sedikit mengeraskan suaranya agar Firsi mendengarnya.


Firsi yang sampai didepan pintu kamar mandi berhenti sejenam lalu menoleh ke arah Elena dan mengangguk. "Iya maaa!" jawabnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Elena pun pergi ke bawah menghampiri Devon. Sampai dibawah Devon menanyakan keberadaan Firsi. "Dimana Firsi? Apa dia gak ikut makan malam?" tanya Devon.


"Masih diatas, bentar lagi juga turun. Kasihan aku liat Firsi mas, dia nangis terus gara-gara ditinggal Arshan meninggal." ucap Elena sembari menuangkan air minum didalam gelas suaminya.


"Yaa mau bagaimana, sudah takdir begitu. Artinya mereka tidak berjodoh. Hmm, meninggalnya Arshan kok mendadak banget ya ma. Seperti ada yang aneh, gak ada loh media yang memberitakan sebab dari kematiannya Arshan. Apa keluarganya menyembunyikan penyebab kematian Arshan ya" terka Devon merasa adeh yang aneh dengan meninggalnya Arshan secara mendadak.


"Iya sih pa, mama juga ngerasa ada yang aneh gitu. Apa Arshan meninggal karna ada orang yang sengaja melakukannya ya. Mangkanya keluarga dia merahasiakan penyebab kematiannya. Mungkin sama mereka mau diselidiki dulu" balas Elena ikut memikirkan hal tersebut.

__ADS_1


"Papa pikir juga begitu, tapi ya sudah lah itukan utusan mereka gak perlu ikut campur. Dan kamu bilangin sama Firsi, beri pengertian biar gak terbawa suasana terus" ucap Devon.


"Iya pa, aku tadi juga sudah memberi dia pengertian agar mau move on. Tapi yaa dianya masih nolak, butuh waktulah pa untuk Firsi melupakan Arshan." jawab Elena. Devon pun mengangguk.


__ADS_2