
Firsi melihat alat yang tadi dipegangnya. Terlihat alat tersebut menunjukkan garis dua. Firsi memandangnya tidak percaya. Hatinya mulai tidak karuan. Bagaimana nanti kalau orang tuanya tau? Pasti mereka akan kecewa dan bisa juga murka dengan tindakan Firsi yang kelewat batas.
Cepat atau lambat Devon dan Elena pasti akan tau. Walau Firsi sudah menutupinya. Makin lama perutnya pasti akan semakin besar. Firsi sekarang jadi bingung harus apa. Yang pasti nanti dia akan meminta pertanggung jawaban dari Handian untuk menikahinya. Pria itu sudah janji akan bertanggungjawab dan sekarang Firsi akan menagih janji tersebut.
"Aku harus segera temui Handian. Dia harus bertanggung jawab, cepat atau lambat papa dan mama pasti tau juga. Bagaimana kalau mereka marah melihat aku hamil diluar nikah. Besok aku harus temui dia." gumam Firsi cemas sambil memegang tes peck ditangannya.
"Lagian juga kenapa waktu itu Handian gak mau pakai pengaman. Jadi kebobolan gini kan, andai dia mau pakai pasti aku tidak akan hamil. Ck! Sial banget." umpat Firsi merututi kebodohannya yang nurut saja dengan Handian kala itu.
"Pokoknya papa dan mama tidak boleh tau sebelum Handian menikahiku. Hmm aku akan menjadi nyonya setelah ini, Handian pasti menepati janjinya. Aku bisa mengikat dia dengan kehamilanku." ujar Firsi tersenyum senang, membayangkan kalau namti dia menikah dengan Handian pasti hidupnya bakalan bahagia terus.
Selesai makan malam, Verko pamit pulang kepada Zulfa dan Devon. Tak lupa dia menyalami Devon dengan sopan. Sedangkan Elena langsung masuk ke dalam kamar, dia tak nafsu melihat Zulfa dan Verko.
"Zulfa, aku pamit pulang dulu. Besok aku jemput kamu kesini." kata Verko, Zulfa hendak menolak dan langsung disahuti oleh Verko. "Gak ada penolakan, mau ya sekalian aku berangkat kerja," tambahnya.
"Ya sudah deh, besok aku ke kampus pagi." jawab Zulfa.
"Oke siap, besok aku jemput pagi. Tepat waktu tidak akan telat." kata Verko membuat Zulfa tersenyum mendengar ucapan Verko.
"Ya sudah sana pulang, udah malam ini." balas Zulfa.
"Ngusir nih," ujarnya.
"Gak lah, bukan mau ngusir. Tapi sudah malam, emangnya kamu mau pulang kemalaman dijalan." sarkas Zulfa.
"Ole deh, by." Verko menyalakan motornya lalu bersiap untuk pulang. Sebelum dia pergi, tangannya memegang tangan Zulfa lalu mengecupnya. Sontak Zulfa terkejut melihat Verko mengecup tangannya.
"Aihh, kak kalau dilihat papa gimana." ujar Zulfa menarik tangannya kembali takut dilihat oleh Devon.
"Papa kamu kan sudah masuk. Jadi tidak akan tau." sahut Verko sambil melirik ke arah pintu masuk. Tidak ada siapapun disana.
"Ya sudah aku pulang." Zulfa hanya mengangguk lalu Verko melajukan motornya meninggalkan halaman rumah Zulfa.
__ADS_1
🥀
🥀
🥀
Pagi harinya, Firsi benar-benar ke perusahaan Handian untuk meminta pertanggung jawaban pria tersebut. Dari semalam Handian dihubungi oleh Firsi, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Membalas chatnya Firsi saja tidak. Kini Firsi memasuki lift menuju lantai atas. Setelah tadi menanyakan kepada recepsionis. Ternyata Handian berada diperusahaan.
Setibanya dilantai atas, Firsi berlalu keruangan Handian. Tak lupa dia mengetuk pintu terlebih dahulu, biasanya tidak pernah. Mendengar jawaban dari dalam, Firsi langsung membuka pintu.
Ceklek.
Terlihat wajah dingin Handian, tidak seperti biasanya. Pikir Firsi yang merasa aneh dengan sikap Handian. Biasanya kalau dia menemui kekasihnya diperusahaan, pasti Handian akan senang. Tapi kali ini wajah Handian terlihat berbeda. Firsi tidak mengambil pusing, ia mendekati Handian.
"Kamu kenala dari semalam aku hubungi gak bisa. Chatku juga gak kamu bales. Kamu kenapa sayang? Ada masalah?." tanya Firsi mendekati Handian.
"Iya, masalah besar menyangkut perusahaan." jawab Handian dingin membuat Firsi bergidik ngeri melihat ekspresi berbeda dari kekasihnya.
"Iya aku minta maaf, masalah diperusahaan sangat penting. Sudah lima hari kantorku gak bisa beroperasi, sistem yang ada diperusahaan sedang diretas sama orang. Semua karyawanku gak bisa bekerja, komputernya eror semua. Mangkanya aku bingung, kalau begini terus perusahaanku bisa terancam bangkrut." jawab Handian frustasi, keadaannya sangat kacau.
Dalam beberapa hari tidak beroperasi membuat Handian harus menelan kerugian. Apalagi kalau sampai masalah ini tidak kunjung selesai, dia bisa gulung tikar. Tidak ada pemasukan sama sekali, bahkan sampai sekarang Alino belum bisa membetulkan sistem perusahaannya. Entah kenapa begitu sulit untuk menemukan titik perestasnya. Pelaku yang sudah meretas semua komputer yang ada.
Firsi tau sekarang kenapa Handian jarang merespon panggilan dan chatnya. Firsi jadi ragu untuk memberi tau kabar kehamilannya. Tapi dia tidak bisa diam saja, kalau dibiarkan lama. Perutnya akan semakin besar dan pasti diketahuo banyak orang terutama orang tuanya.
"Aku kesini mau memberi ini sama kamu." Firsi menyodorkan amplop putih kepada Handian.
"Apa ini?." tanya Handian bingung sambik menerima amplop putih pemberian Firsi.
"Buka saja dulu." jawab Firsi.
Lalu Handian membuka isi yang ada dalam apmlop tersebut. Saat sudah dibuka, Handian mengernyit melihat isinya. Ia mengambil dan melihatnya. Sebuah tes peck yang memiliki garis dua. Handian menatap heran melihat tes peck tersebut.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini?." tanya Handian bingung.
"Aku hamil sayang." balas Firsi tersenyum kearah Handian. Berbeda dengan Handian yang terlihat kaget dan tidak percaya mendengar perkataan Firsi.
"A-apa hamil? Gak......" ucap Handian terbata mendengar menjelasan Firsi.
"Kenapa? Bukankah ini yang kamu mau? Kamu harus bertanggung jawab Handian. Aku hamil anak kamu, aku tidak akan hamil kalau bukan kamu yang melakukannya." kata Firsi tak menyangka dengan reaksi berbeda dari Handian.
"Tanggung jawab? Jangan mimpi!! Itu pasti bukan anakku. Bisa saja kan kamu melakukannya dengan orang lain selain aku." jawaban Handian membuat Firsi marah. Ia tak menyangka Handian malah mengingkari janjinya, lantas bagaimana sekarang? Kalau Handian tidak mau bertanggung jawab sudah pasti Firsi akan menahan malu.
"Kamu tega nuduh aku seperti itu Handian? Padahal aku melakukannya pun denganmu!! Bukan dengan orang lain! Kamu yang memaksa aku untuk melakukannya dan kamu juga berjanji untuk bertanggung jawab. Sekarang aku tagih janjimu, tapi kamu malah menuduhku tidur dengan pria lain? Kamu gak ngerti perasaanku Handian!! Pokoknya kamu harus tanggung jawab. Dia darah dagingmu Handian bukan orang lain." jelas Firsi marah, ternyata Handian hanya memanfaatkannya saja.
Firsi sudah dibutakan oleh rayuan Handian. Dengan bodohnya dia percaya kalau Handian akan bertanggung jawab dan menepati janjinya. Firsi tidak menyangka kalau akan dicampakkan begitu saja, apalagi dia sedang mengandung. Ditaruh mana mukanya nanti. Kuliahnya bisa berantakan dan orang tuanya bakalan marah besar.
"Aku gak percaya, sebelumnya kan kamu bersama Arshana. Bisa saja kan itu anak dia, bukan anakku." dengan entengnya Handian berkata begitu. Padahal sudah jelas kalau dialah uang pertama kali merenggut kesucian Firsi.
"Kamu pura-pura b*go atau gimana sih. Sudah jelas kamu yang merenggut kesucianku. Matamu gak lihat apa!!." sahut Firsi murka Handian malah menyalahkannya.
"Aku gak peduli, intinya aku tidak akan tanggung jawab. Dia bukan anakku dan mulai sekarang kita putus. Kamu bukan kekasihku lagi, mendingan sekarang kamu pergi dari sini. Aku sudah muak melihat wajahmu!!." usir Handian membuat Firsi membulatkan mata tak percaya.
"Gak Handian. Kamu harus tanggung jawab, dia anakmu. Bagaimana nasibku nanti? Kamu gak boleh giniin aku." ucap Firsi memohon.
"Heh! Arshana saja bisa kamu tinggalin setelah dia meninggal. Terus kenapa aku harus kasihan melihatmu? Kamu sudah bekas orang lain!! Sekarang kamu pergi, aku tidk mau melihatmu lagi ada disini." Handian menyeret Firsi keluar dari ruangannya.
Sementara Firai memberontak tidak mau dan terus memohon kepada Handian agar mau bertanggung jawab. Walau begitu Handian tidak meresponnya dan langsung menutup pintu ruangan begitu saja setelah mengusir Firsi. Sekarang Firsi tau kalau Handian tidak benar-benar cinta padanya, melainkan hanya nafsu saja.
Percuma dia terus-terusan menggedor pintu ruangan Handian. Dia tidak akan membukanya, malah akan menguras tenaga Firsi. Dengan langkah gontai, Firsi keluar dari perusahaan Handian. Sekarang yang ada dalam pikirannya adalah nasib dia selanjutnya. Membayangkan bagaimana murka sang ayah.
...*****...
...Dukung Imeilda guys, Like dan Vote. ...
__ADS_1
...Syukron ❤...